
"Nggak nyangka kalau kakak kelas kita seperti itu" ucap Reza.
"Husttt!! Udah nggak usah dibahas" seruku sambil menempelkan ujung jari telunjuk ke bibir.
"Eh.. itu buku apaan Ris?" tanya Zara.
"Buku?" aku mengernyit.
"Iya buku, tuh ditangan kamu" ucapnya lagi sambil menunjuk tanganku menggunakan pandangan matanya. Aku melihat tanganku yang sedang menggenggam sebuah buku bersampul beludru berwarna merah yang ditengahnya ada gambar teratai yang terbelah.
Aku meletakkan buku tersebut diatas meja panjang perpus supaya kawan-kawan bisa melihat. Aku dkk memutuskan untuk duduk-duduk sebentar sambil menunggu waktu istirahat selesai. Saat acara tadi, waktu yang digunakan tidak memakai waktu istirahat, malahan setelah acara selesai. Waktu istirahat ditambah.
"Kok teratai nya kebelah?" tanya Ais.
"Mana aku tahu, emang begitu kali dari sana nya" sahutku.
"Baa!!" aku tidak berteriak, hanya saja degup jantung ku jadi terpacu lebih cepat. Kutolehkan kepalaku kesamping untuk menengok siapa yang sudah mengageti aku dkk.
"Hai?".
"Mas Gege?" makhluk disampingku mengangguk.
"Genderuwo yang kepalanya suka jatuh ya?" tanya Ais.
"Iya" sahut mas Gege.
"Kenapa kepalanya suka jatuh si mas?" tanya Reza.
"Karena biar ada angin yang masuk ke tubuh saya dengan cepat, maklum... tubuh saya dipenuhi rambut tebal, jadi angin susah untuk masuk, saya kan juga ngrasain gerah".
"Baru tahu aku" gumam Ais.
"Mas Gege ngapain disini?" tanya Adam.
"Ya karena saya bosan berkeliling, duduk sambil membaca buku mungkin enak. Sekolah ini serem ya? Banyak hantunya, tapi tadi saya nemu yang cakep tahu, seksi pula" ucap mas Gege.
"Matanya jangan jelalatan mas, mas dikirim kesini kan untuk jagain aku sama Adam, bukan cari jodoh" ujarku terkekeh geli.
"Yeee... kan siapa tahu kalau saya dipertemukan dengan jodoh saya disini".
Aku menggeleng sambil mendengus senyum.
"Mas! Mau tanya, mas tahu buku ini nggak?" tanya Adam sambil mengangkat buku tadi dan menunjukan sampulnya.
"Lhoh buku batu suci?" mas Gege terkesiap lalu menutup mulutnya rapat-rapat.
"Batu suci ada bukunya?" tanyaku heran.
"Ada, ini dia bukunya. Buku ini yang Nano, Tri dan Via incar selain kalian. Buku ini berisi semuanya mengenai batu suci" jelas mas Gege.
"Batu kan biasanya bentuknya lancip, lonjong, bulat, dan semacamnya. Tapi... ini kok bentuknya teratai mas?" tanya Adam.
"Iya, batu suci memang digambarkan dengan bentuk teratai supaya tidak dapat dengan mudah dipercaya oleh orang-orang bahwa buku tersebut adalah buku yang sangat spesial" sahut mas Gege dengan menekan kata 'sangat'.
"Nih ya, Adam sama Risa kan pemilik batu suci. Jadi... buku ini harus tetap ada disalah satu antara kalian, jika buku ini berada dikalian berdua, maka teratai ini akan menyatu dan membuat gelombang yang dapat menghancurkan apapun yang ada disekitarnya" jelas mas Gege.
"Kalau kalian pengin buat gelombang untuk menghancurkan sekitar, Adam pegang yang potongan teratai warna hitam sedangkan Risa pegang potongan teratai yang warna putih".
"Tapi sebaiknya kalian bersatu jika dalam kondisi terdesak saja dan membutuhkan pertolongan buku ini, karena kekuatan menghancurkannya bisa lebih kuat dan berbahaya tiga kali dari granat M67" tambah mas Gege.
"Wahhh cocok banget dah mas Gege ini sama namanya, Gege" sahut Reza sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Pokoknya kalian harus sangat hati-hati dengan buku ini dan jaga baik-baik apalagi saat Nano, Tri dan Via sudah masuk kesekolah ini. Mereka dapat mengendus bau darah Adam dan Risa dalam jarak dua kilometer" ucap mas Gege sambil membuka buku yang dipegang oleh Glen.
"Buset dah, jauh bener sampe dua kilometer. Anj*ng pelacak milik polisi kayaknya juga nggak sampai sebegitu jauhnya" ucap Reza.
"Ya... begitulah" sahut mas Gege.
Bel masuk kelas berbunyi, aku membawa buku tersebut diantara dua buku lain yang menutupi buku tersebut. Jangan sampai ada yang melihat. Buku ini tampak mencolok jika didekatkan dengan buku-buku lain. Setelah sampai dikelas. Aku segera memasukkan buku tersebut kedalam tas.
Tes..
Tes..
Tes..
"Apa nih?" aku membaui cairan merah diatas meja yang terjatuh dari langit-langit.
"Ihhh darah" aku segera mengusapkan ujung jari telunjukku pada meja.
"Kenapa si Ris?" tanya Lala yang mungkin merasa kurang nyaman karena pergerakanku sedangkan kondisi dalam waktu mengerjakan soal ulangan harian. Waktu sebentar lagi habis, untung saja aku juga sudah menghabiskan lembar jawab yang semula kosong dengan jawaban.
"Ini lhoh, ada darah netes dari langit-langit" ucapku sembari menilik darah tersebut. Setelah dicek lebih dalam, ternyata dibeberapa tetesan lain, ada benda putih yang menggeliat. Belatung!!.
Lala menengadah, menatap langit-langit.
"Nggak ada apa-apa" sahutnya berusaha tenang walaupun wajahnya sudah nampak gelisah. Ia melanjutkan mengerjakan soal tadi hingga selesai.
"Penasaran nih" aku mencoba menengadah pelan-pelan.
"Kyaaaaaa!! Hantu!! Setan!! Demit!!" teriakku ketakutan. Teman sekelas yang sudah tahu aku memiliki kemampuan indra keenam langsung ikut berteriak dan berdiri dibelakangku.
Makhluk ghaib yang sekarang sedang merayap dilangit-langit sambil membawa seonggok daging merah mentah penuh darah digiginya. Kuku-kuku tangan dan kakinya hitam dan panjang. Rambutnya seperti tarzan. Perutnya kurus, bahkan sampai tulang diarea perutnya terlihat. Bagian yang lain pun sama, sama-sama kurusnya.
Makhluk tersebut menyeringai sekilas padaku sebelum akhirnya pergi keluar jendela.
"Udah pergi" ujarku yang membuat helaan nafas lega terdengar dari hidung siswa siswi dibelakangku. Bahkan saking dekatnya hidung mereka dileherku, aku sampai bisa merasakan hembusan nafasnya.
"Khem!!" seru Adam, Zara dan Wisnu.
Semua siswa siswi dibelakangku langsung kembali ke tempatnya.
"Ceritain Ris gimana bentukannya" pinta Lala.
"Bentuknya tuh kaya manusia si, cuma badannya kurus tak tertolong, rambutnya kaya tarzan, kuku tangan dan kaki nya panjang, gigi nya gigit seonggok daging merah mentah penuh darah. Sebelum dia pergi, dia sempet menyeringai sama aku" jelasku menceritakkan bagaimana bentuk makhluk tadi sembari membatin 'semoga dia tidak terpanggil' berulang kali.
"Serem pasti ya" aku mengangguk. Tak berapa lama, guru yang memberikan tugas ulangan harian itu datang dan memintaku untuk mengumpulkan jawaban dari setiap anak. Saat aku berhenti dimeja Adam, ia berbisik padaku.
"Ini khusus dari gw" aku mengernyit sambil menarik lembar jawaban miliknya.
"Terima dong" ucapnya memelas sambil menyodorkan sebuah amplop kecil.
"Terlalu kekanak-kanakan" ujarku menarik amplop tersebut dan memasukannya di saku baju lalu beralih ke anak lain untuk mengambil lembar jawaban.
Setelah selesai, aku memberikan lembar jawaban tersebut pada bu guru yang sedang duduk memainkan handponenya.
"Hari ini kalian pulang awal, bu guru sama pak guru ada acara. Hari ini tidak ada tugas, jangan lupa belajar supaya pintar" kami semua mengangguk lalu berdo'a sebelum pulang. Bu guru lalu keluar sambil membawa lembar jawaban tadi diikuti kami semua.
Aku pulang bersama Zara. Yang lain katanya ingin pergi jalan-jalan dulu. Aku memesan taksi, setelah taksi sampai, aku dan Zara masuk dan taksi pun melaju.
"Tadi kayaknya Adam kasih sesuatu ke kamu" ucap Zara.
"Iya, dia kasih amplop".
"Gaji kamu?" tanya Zara.
"Sembarangan! Bukanlah, coba kita baca ya" aku mengambil amplop tersebut dan membacanya bersama dengan Zara lewat batin.
Tertulis diselembar kertas.
'Nanti malam gw kerumah lo buat ngajak lo dinner. Baju yang nanti lo pakai, khusus dari gw, tapi nyusul. Dandan yang cantik ya, jangan kecewain gw'.
Perasaanku mulai tak tenang. Tanganku mulai kedinginan. Aku gugup, aku belum pernah dinner sebelumnya. Bagaimana jika dinner pertamaku ini malah mengecewakan Adam.
"Cieee... cieee.. yang diajak dinner, dandan yang cantik Ris. Atau... apa perlu aku dandanin?" tanya Zara sedikit meledek.
"Enggak! Enggak, enggak usah, makasih tawarannya" tolakku cepat.
"Aduh... gw belum pernah dinner lhoh Ra, dinner itu ngapain si?" tanyaku gugup.
"Ya kali kamu nggak tahu".
"Makan aja kan ya?" Zara mengendikan bahu.
"Nggak tahu, orang aku belum pernah dinner" ucapnya lalu tertawa.
"Yahhhh Zara mah!!" seruku kesal. Setelah taksi ini sampai didepan rumah Zara, ia turun dan mengingatkanku untuk dandan secantik mungkin. Aku mengangguk lalu menyuruh pak supir untuk melajukan taksinya kerumahku.
Sesampainya didepan rumah, aku turun dari taksi setelah membayarnya lalu berlari masuk kerumah sambil berteriak memanggil nama ayah dan ibu. Setelah sampai diruang keluarga, aku baru ingat bahwa mereka ada urusan pekerjaan diluar kota. Sial!.
Aku berganti berteriak memanggil nama nenek dan kak Ang.
"Nenek!! Kak Ang!!".
"Astaga Risaa!! Ada apa denganmu?? Apa kamu ingin melukai gendang telinga nenek??" tanya nenek kesal sedangkan kak Ang yang berdiri disampingnya hanya menatapku heran dan penuh tanda tanya.
Aku menggeret mereka menuju ruang keluarga dan mendudukannya.
"Ada apa?" tanya nenek.
"Risa... Risa... Ri-"
"Ditanya kenapa malah cuma sebutin nama!" potong kak Ang.
"Gugup kak" sahutku sambil memilin ujung kaus yang aku kenakan.
"Emang gugup kenapa kamu?" tanya nenek.
"Risa... diajak... dinner" ucapku akhirnya dengan perasaan malu tak menentu.
"Apa?!" tegas nenek dan kak Ang dengan ekspresi terkejut luar biasa.
Bersambung...
Waduh...! author juga ikutan kaget lhoh sama kaya nenek dan juga kak Ang denger Risa diajak dinner sama Adam. Kok tumben banget sih ya si tembok kulkas ngajakin Risa dinner, mana malem-malem lagi.
Oh iya author lupa, kalau siang jadinya bukan dinner ya, tapi minder. Ehh... emangnya vampir? Minder kalau siang-siang, wkwk. Becanda.
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.
Terima kasih.