INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Villa kebun kentang #part 1 ( Season 2)



Happy Reading...


Hari demi hari terlewati, saat itu juga ingatan Ais kembali pulih. Dirinya tak lagi menganggap Reza adalah kekasihnya, ia menjadi merasa malu sendiri saat diceritakkan oleh Reza apa saja kelakuannya padanya saat Ais amnesia.


Hari ini, team Indigo berkumpul di markasnya. Hanya bercanda dan sesekali menjahili teman yang lain.


"Ke villa yuk" ajak Glen penuh semangat.


"Villa mana?" tanya Risa seraya mengepang rambutnya sendiri.


"Villa Kebun Kentang, nggak jauh kok letaknya dari sini. Katanya tempatnya tuh bagus banget, kita disana juga bisa diajari oleh petani kentang, bagaimana cara manennya, apanya yang harus di petik sampai cara mengolahnya. Villanya juga sedengan, menyatu dengan alam, disana juga katanya ada air terjunnya, beberapa meter dari villa" jelas Glen.


"Kayaknya bagus" sahut Adam seraya mengacau polah Risa mengepang rambutnya.


"Sejak kapan sih kamu suka sama rambut aku?!" kesal Risa yang akhirnya memutuskan untuk menjauh, namun Adam mengikuti. Hingga akhirnya ia pergi ke dapur dan mengancamnya dengan sebuah terong. Adam tentu langsung mundur, cowok tampan, mampan, dan dingin itu ternyata mempunyai suatu kejadian yang berhubungan dengan terong hingga membuatnya trauma.


Dulu, saat ibunda Adam sedang memasak di dapur, terong yang dipegang ibunda Adam tiba-tiba melayang hingga mengenai kepala Adam dan hancur berkeping-keping. Beberapa detik kemudian Adam jatuh pingsan dengan darah yang mengalir dari hidungnya.


"Kok ngancamnya pake terong sih?" Adam masih beringsut mundur lalu setelah dekat dengan Wisnu, ia bergerak seribu kaki duduk didekat Wisnu.


"Cih, cowok kayak lu ternyata bisa juga takut terong" seloroh Reza.


"Jadi, gimana nih? Pada mau nggak jalan-jalan ke villa, besok?" semuanya mengangguk menjawab pertanyaan Glen.


...----------------...


Pagi yang cerah, semoga menjadi awal kebaikan perjalanan mereka dalam mencari tempat refreshing. Semuanya sudah siap, peralatan yang perlu di bawa sudah masuk ke bagasi mobil.


Setelah berpamitan, mereka pun akhirnya berangkat, perjalanan memakan waktu yang tidak terlalu lama. Namun, dibilang sebentar pun tidak benar.


Beberapa kali berhenti di rest area, untuk sekedar makan berat dan minum serta istirahat. Dan ini, untuk ketiga kalinya mereka berhenti di rest area.


"Glen, sebenarnya bagi lo... Waktu yang lama itu berapa si? Kita udah duduk di mobil selama berjam-jam, dan belum sampai juga..." keluh Rey.


"Cuma tujuh jam kok, kita baru jalan lima jam. Sejamnya nggak bisa istirahat kita, jadi puas-puasin disini ya.. Kalau menurut google dan juga temen gue yang pernah kesana, sejam dari rest area ini itu tinggal tanjakan berkelok-kelok" sahut Glen.


"Kasian supirnya, gue gantiin ya, Dam" Rey menoleh ke arah Adam yang sedang menikmati chikinya.


"Nggak usah, gue masih sanggup".


"Aku ke kamar mandi dulu ya?" Risa pergi melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di rest area bersama Glen dan Zara.


Beberapa bilik air tersedia, sebelah kanan bilik air untuk perempuan dan bilik air sebelah kanan untuk laki-laki. Risa masuk ke stap kedua bilik air perempuan dari yang paling pojok. Suasana disana cukup mencekam. Saat Risa sedang menuntaskan hajatnya, Zara dan Glen sudah selesai dan menunggu Risa di depan pintu masuk kamar mandi.


"Huhuhuhuhuhu... Hiks... Huhuhuhuhuhu".


Selesai menuntaskan hajat, ia langsung bergegas keluar dan menuju Zara serta Glen berada. Namun, pemilik suara tangisan itu malah memanggilnya dengan lirih dan penuh penghayatan.


"Kak..." Risa hendak menoleh, namun ia takut bahwa memang benar hantu yang akan ia lihat.


"Kakak..." suara itu memanggil lagi. Risa pun menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dan berbalik dalam kondisi mata terpejam.


"Kakak jangan tutup mata, nanti nggak bisa lihat tubuh aku yang seksi dan proporsional kata cowok-cowok lhoh kak.." Risa tersenyum kecut mendengarnya. Ia buka satu matanya, kurang jelas, akhirnya ia buka kedua matanya yang semula terpejam, tiba-tiba sebuah wajah menyeramkan sudah berada dalam jarak yang sangat dekat dengan wajahnya hingga Risa berteriak lalu terjatuh. Ia berjalan menghindari hantu tanpa busana itu dengan mengesot.


"Kakak cocok jadi suster ngesot, hihihihihi" hantu itu mendekatinya dengan kecepatan setan, tapi saat itu juga Glen dan Zara datang karena teriakan Risa yang sangat kencang. Hantu itupun menghilang. Risa dibawa ke mobil yang mulai meninggalkan rest area ketiga dan ditenangkan.


...----------------...


Satu jam, benar satu jam setelah rest area ketiga. Jalanan berkelak-kelok dan naik-turun mulai menjadi makanan orang yang hendak menuju villa. Sebelah kanan adalah jurang yang tertutupi kabut, udara menjadi sangat dingin saat memasuki kawasan villa. Jantung berdebar-debar bak akan dinikahkan. Do'a tak putus-putusnya di panjatkan.


Beberapa menit berlalu, mobil rombongan team Indigo pun kini sudah sampai di depan sebuah villa yang di cat seperti kulit kentang. Kedua daun pintunya pun digambari sebuah kentang besar.


Mereka turun dan disambut dengan seorang pak penjaga yang sudah berumur lanjut, berjenggot putih, dan bertubuh lumayan bungkuk. Ia tersenyum, namun senyumnya agak aneh, seperti menahan sesuatu yang harus dikeluarkan segera namun tak bisa. Akhirnya, ia hanya mengucapkan dua kata boomerang, 'hati-hati'.


Rombongan team Indigo sempat bingung, tapi karena sang kakek juga pandai mengalihkan topik pembicaraan dan bercanda, rombongan team Indigo pun menjadi lupa akan hal tersebut, lupa tak selalu permanen ya.. Lupa yang kini rombongan team Indigo alami adalah lupa tidak permanen. Di mana, apa yang baru diucapkan oleh pak penjaga, kini terngiang lagi di otak mereka. Berputar seolah ingin mencari tempat untuk selalu berada di dalam otak mereka dan mengingatkan untuk selalu berhati-hati.


'*Hati-hati'


'Hati-hati'


'Hati-hati*'


...----------------...


Keesokan paginya, mereka bersembilan pergi jogging, mengelilingi villa dan kebun kentang yang luasnya berhektar-hektar selama beberapa saat. Setelah selesai jogging, mereka pergi ke air terjun untuk bermain air sebentar. Setelah puas di air terjun, mereka kembali ke villa dan pergi mandi.


Dan kini, mereka sedang berada di gudang pengolahan kentang. Berbagai teknik diajarkan supaya mendapatkan hasil yang maksimal. Dan dari sinilah, keanehan-keanehan mulai terjadi. Mereka bersembilan setiap malam selalu mendapat mimpi tentang sebuah kuali yang berisi banyak kentang di gudang pengolahan kentang. Di dalam mimpi, mereka juga melihat ada anak kecil yang berdiri di depan kuali tersebut, tubuhnya sangat mengerikan, melepuh seolah terkena air panas, nanah dan darah mengalir keluar dari mana-mana.


Mimpi tersebut terjadi berulang kali, hingga Chalis dikabarkan hilang. Ais saksi matanya, ia sempat melihat Chalis berjalan keluar rumah, karena saat itu masih sore, ia membiarkan salah satu sahabatnya itu untuk keluar, tak ada sedikit pun curiga di dalam pikirannya. Namun, sore sudah berganti malam, Chalis tak kunjung pulang. Ais pun menceritakannya kepada teman-temannya, mereka memutuskan untuk mencari Chalis. Ada info dari tetangga, dan sebuah berita yang beredar di daerah setempat.


Bersambung...


Baca cerpen terbaru author yuk, judulnya 'Dia Idolaku'.


Thank You All...


❣️❣️❣️❣️