INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Pagelaran tarian daerah Indonesia #part 1 (Season 2)



Happy Reading...


Senyum merekah nampak di wajah kak Ang. Ia mengamati dari atas sampai bawah tubuh lelaki dihadapannya.


"Aku Arjana kak, bukan pocong nyamar" ujar Arjana saat mengetahui arti pandangan kak Ang. Kak Ang terkekeh kecil kemudian, ia lalu menyuruh kedua orang tuanya untuk keluar.


"Serius dia bukan pocong?" tanya ibu seraya melirik Arjana dari atas sampai bawah


"Serius, bu" sahut kak Ang.


"Pocong-pocong dibawah gimana?" tanya ibu lagi


"Sudah beres, tante" sahut Arjana.


"Owh... makasih, untung kamu dateng, kalau enggak... beuh...".


"Kalau kita bicara dibawah, aman nggak?" tanya ayah.


"Aman, om" sahut Arjana.


"Ya sudah, mari ke lantai satu. Biar enakkan ngobrolnya sambil duduk" ajak ayah. Mereka berempat pun akhirnya turun ke lantai satu. Tatapan miris langsung nampak di wajah kak Ang, ibu, dan ayah.


"Dasar pocong kurang ajar! Datang ke rumah orang, sudah tidak salam, diberantakin lagi ruangannya" gerutu ibu seraya membereskan barang-barang yang berpindah tempat dan barang-barang yang sudah tidak berbentuk lagi dilantai.


"Bagaimana kalau kita ngobrol di luar saja, suasana disini sepertinya sedang kurang kondusif" bisik ayah. Dua lelaki lawan bicaranya mengangguk serempak setelah saling pandang. Mereka bertiga lalu keluar dan mulai berbincang, sedangkan ibu, tambah menggerutu karena tidak dibantu.


"Nama kamu siapa, nak?" tanya ayah.


"Arjana, om".


"Kamu temennya Ang? Kenal di mana? Kok nggak pernah main? Sudah lama kenal?".


"Ish... ayah! Tanya nya jangan beruntun gitu dong!" sergah kak Ang.


"Iya, om. Saya temannya kak Ang, kenal waktu saya bantuin kak Ang beberapa bulan yang lalu, saya lagi banyak urusan, makanya jarang main. Kenal udah lama" sela Arjana.


"Owh... gitu, sering-sering main ke sini ya? Biar Ang nggak kelayapan terus, kalau main sama adiknya, cek-cok terus adanya. Oh iya, ngomong-ngomong tentang pocong-pocong tadi, itu gimana ngelawannya?".


"Baca do'a aja om" sahut Arjana jujur.


"Kak Ang punya adik?" batin Arjana.


"Wahhh... keturunan ustadz ya? Pinter ngusir setan?".


"Bukan juga, om. Saya dulu waktu ngaji pernah diajarin do'a do'a pengusir setan".


"Kapan-kapan ajari, om ya?" pinta ayah.


"Insyaallah, om".


"Owh.. iya om, saya pamit pulang dulu ya. Sudah malam. Assalamualaikum. Mari, om, kak.." Arjana kemudian berlalu pergi. Tinggallah sepasang anak-bapak diteras rumah yang kemudian ditarik masuk seraya dijewer oleh sang ratu pertama (ibu).


"Bantuin!".


...----------------...


Arjana, yang tengah berjalan pulang. Memutuskan untuk kembali lagi ke rumah ibu Mawar. Untuk beberapa saat, ia terdiam di depan pagar, memandang rumah yang megah di depannya.


"Rumah ini terasa berbeda dengan rumah yang lainnya, ada apa ya?" gumamnya. Ia lalu membuat pagar ghaib yang langsung mengelilingi rumah tersebut.


"Semoga pagar ghaib buatanku, dapat berguna untuk beberapa waktu" gumamnya lalu berjalan meninggalkan tempat. Tanpa ia sadari, sepasang mata tengah mengawasinya dalam kegelapan. Matanya bersinar bak sebuah cahaya rembulan, namun sayang.. cahaya matanya yang indah, mampu membuat siapa saja terjerat dalam mantranya. Mantra yang membuat siapa saja yang terkena akan menjerit kesakitan.


"Pelindungnya semakin banyak, aku harus waspada.. aku harus bisa mendapatkan buku, kunci, dan kedua anak batu suci tersebut" gumamnya seraya menyeringai. Ia kemudian berlari pergi, meninggalkan sekelabat bayangan hitam yang sempat dilihat oleh kak Ang, dan bersamaan dengan itu. Perasaannya mulai tak tenang.


"Ada apa ini? Kenapa hatiku menjadi merasa tak tenang? Ada apa denganmu, Risa?" kak Ang menutup jendelanya dan memutuskan untuk pergi tidur. Didalam mimpinya, ia bertemu dengan dua wanita cantik yang sangat mirip dengan Risa dan Adam.


"Hai, Ang.." sapa salah satu dari mereka.


"Siapa kalian?" tanya Ang dengan pandangan terkesima.


"Aku ratu Nami, dan ini sahabatku, ratu Ila. Salam kenal, mungkin kami asing bagimu. Tak apa, lambat laun, kamu akan mengetahui kami berdua lebih jauh. Kami hanya ingin mengenalkan diri untuk kali ini, supaya kamu tidak akan kaget saat mendengar nama kami lagi. Bantu kami, jaga Risa dan Adam. Jangan sampai mereka jatuh ke tangan yang salah" ujar ratu Nami panjang lebar.


Setelah kalimat panjang itu, kak Ang terbangun. Sebuah gelang dengan kelopak mawar merah dan putih yang menyatu seperti warna bendera Indonesia, sudah menyatu dengan pergelangan tangannya.


"Ratu Nami? Ratu Ila? Siapa sebenarnya mereka berdua? Kenapa Ratu? Dan... apa hubungannya dengan Risa dan Adam?" gumam kak Ang.


...----------------...


"Aku bosan, tak ada hal yang bisa kita lakukan selain, makan, mandi, tidur, dan memikirkan tentang kunci batu suci" keluh Chalis.


"Nyai Chalis, apa anda perlu hal yang menyenangkan?" tanya Vinula yang muncul tiba-tiba disamping Chalis. Sontak, Chalis langsung berteriak dan menelan permen yang baru dimasukkannya ke dalam mulut.


"Akh... kerongkonganku" keluhnya kesal.


"Hei, Vinula! Bisa tidak! Jika datang! Jangan... akh... sakit..! Ja-jangan, tiba-tiba!" bentak Chalis seraya mengusap lehernya yang terasa aneh.


"Ma-maaf, itu kebiasaanku, coba nyai minum dulu" sahut Vinula seraya mengambil gelas berisi jus dan memberikannya pada Chalis, Chalis langsung menerimanya dan meminumnya hingga habis.


"Jus apaan nih?" tanya Chalis.


"Hah? Wortel? Wortel mentah?".


Vinula mengangguk pelan dan pasrah.


"Di cuci nggak?" Vinula mengangguk.


"Oh.. syukurlah, aku kira tidak di cuci" gumam Chalis.


"Bagaimana dengan tenggorokan nyai? Sudah mendingan kah?" tanya Vinula ragu.


"Oh, sudah. Tadi kami bilang apa?".


"Yang mana, nyai?".


"Yang tentang hal yang menyenangkan".


"Owh... iya nyai, siang nanti, akan ada pagelaran tarian daerah indonesia, di aula desa. Nyai hendak hadir?".


"Pagelaran tarian daerah Indonesia? Apa yang memainkan para arwah?".


"Iya".


"Bagaimana itu? Dijamin asyik?" Vinula mengangguk.


"Hemmm... okelah, aku mau.. daripada duduk terus disini".


"Dimana yang lain?" tanya Chalis seraya celingak-celinguk.


"Mereka ada di halaman belakang, sedang berkebun" Chalis melongo.


Mereka berdua kemudian pergi ke halaman belakang. Alangkah terkejutnya Chalis, sebuah kebun buah dan sayur serta bunga terpampang jelas dihadapannya. Mereka lalu menghampiri Risa.


"Lo lagi ngapain?" tanya Chalis.


"Makan cakwe".


"Cakwe nya mana? Oh, maaf.. maksudnya lo nanem apa? Hehe" kekeh Chalis saat menyadari tatapan Risa.


"Cabai, bantuin dong".


"Apa?".


"Bantuin!".


"Iya, maksudnya gue disuruh bantuin apa?".


"Owh.. tolong ambilin pupuk".


"Di mana?".


"Warungnya pak Haji".


"Jauh amat".


"Ini pupuknya, nyai" Vinula memberikan sebuah karung goni yang berisi pupuk kepada Risa.


"Nah.. ini gercep".


"Makasih, Vi" Vinula mengangguk.


"Lah, kan lo nggak ngasih tahu gue di mana letak pupuknya" bela Chalis kepada dirinya sendiri.


"Kalau orang disuruh, dicari dulu baru tanya kalau nggak ketemu di tempat biasanya".


"Emang di mana tempat biasanya".


"Di depan halte bus, diem ah! Sana ke tempat lain aja, ganggu aku kamu tahu nggak!" kesal Risa.


"Dih! Kenapa jadi marah-marah sendiri si dia" gumam Chalis.


"Biasa, lagi kedatengan tamu" ujar Glen.


Chalis mengangguk dan memutuskan untuk membantu mereka di kebun. Setelah hari semakin siang, mereka pergi istirahat dan mandi. Sebagian ada yang memasak, hasil dari kebun belakang rumah.


"Kalian udah tahu kalau siang ini ada pagelaran tarian daerah Indonesia di aula desa ini?" tanya Chalis.


"Udah!" sahut semuanya serempak.


"Oh iya, Vinula.."


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.


Thank You All...


❣️❣️❣️❣️