
Happy Reading...
"Ternyata ada juga ya, yang tidak terkena mantra kakek. gucop!" kakek tersebut mengacungkan ibu jari tangan kirinya. Ia lantas berubah menjadi dirinya yang sebenarnya. Yang sudah tidak memiliki kedua bola mata dan seluruh giginya. Sedangkan yang lain, masih utuh, hanya saja tubuhnya sangat kurus hingga menampakkan tulang-tulang yang menyangga tubuhnya.
"Good job kek, bukan gucop" koreksi Zara. Walau ketakutan melanda, rasa kasihan akan hantu kakek dihadapannya membuat perasaan takutnya perlahan mereda. Teringat akan kakeknya yang meninggal karena kekurangan gizi, waktu itu krisis ekonomi keluarga Zara benar-benar berada dipuncaknya. Saat itu juga, sang kakek sedang dalam masa membutuhkan asupan gizi yang memadai untuk kesehatan tubuh dan tulangnya. Hingga tiga hari berlalu, masih saat keluarga Zara mengalami krisis ekonomi. Kakek Zara meninggal dunia, menyusul istrinya yang telah pergi lebih dulu darinya.
"Kamu tidak lagi takut dengan kakek, nduk?" tanyanya.
"Enggak, kek. Kakek mau ke mana?".
"Kakek tidak ada tujuan, nduk. Kakek disini karena terkunci tanpa sengaja. Kakek hanya mau mengingatkan, sebaiknya... sebelum terlambat, kalian pergi dari sini. Ini bukan desa Lawang, tapi desa Mati. Disini hanya berisi segala macam makhluk tanpa raga, dengan berbagai bentuk dan kekuatan energinya. Kakek tidak mau ada korban lagi, nduk".
"Kakek ngomong apa sih? Kan sudah jelas di gapura tadi tulisannya 'Selamat Datang Didesa Lawang', terus gimana bisa ini bukan desa Lawang? Kami kena sihir atau bagaimana?" tanya Ais sedikit ngegas.
"Betul, kalian terkena sihir. Malam nanti, adalah malam 'tumbal'. Dimana akan ada manusia yang terjerat didesa ini, lalu tidak bisa keluar dan ditumbalkan".
"Aduh..." semuanya menoleh ke sumber suara. Di mana terduduk Rey yang merintih kesakitan.
"Lu kenapa Rey?" tanya Wisnu seraya membantu Rey untuk berdiri.
"Gue mau keluar, tapi malah kepental".
"Bahaya, kalian sudah ditargetkan.. bahaya... bahaya.. bahaya.. aduh.. bagaimana ini?" kakek tersebut berjalan mondar-mandir dengan telapak tangan kirinya yang menempel di pelipis.
"Dia kan nggak punya mata, kok bisa mondar-mandir gitu si?" tanya Ais berbisik pada Chalis yang berdiri disampingnya.
"Instingnya kuat kali" sahut Chalis asal.
"Lalu bagaimana kami keluar dari desa ini, kek?" tanya Risa yang mulai dilanda kegelisahan.
Kakek tersebut menghentikkan kegiatan mondar-mandir tidak berfaedahnya dan menatap Risa yang tadi bertanya. Ia terdiam sebentar, lalu menatap serius semuanya.
"Hanya ada satu cara".
"Apa itu kek?" tanya mereka bersembilan serempak.
"Patuhi semua peraturan dan pantangan yang ada didesa ini".
"Apa peraturan dan pantangan didesa ini kek?".
"Jangan pergi keluar rumah setelah adzan maghrib-"
"Didesa ini ada adzan kek? Bukannya ini desa isinya arwah?" sela Ais penasaran.
"Desa ini isinya makhluk halus yang beragama islam, setiap waktu sholat. Akan ada pemuda yang mengumandangkan adzan di masjid desa ini. Pokoknya desa ini berjalan seperti desa pada umumnya. Jangan menyela, nduk. Nggak sopan".
"Owh.. begitu, iya maaf kek".
"Lalu, jangan pernah berdua-an jika tidak memiliki hubungan sah, hubungan sah yang dimaksud adalah hubungan suami-istri. Jaga ucapan dan tingkah laku. Sapalah mereka yang melewati kalian. Bantulah mereka yang membutuhkan bantuan. Dan! Jangan pernah memasuki kawasan hutan Lereng. Akan ada pagar yang membatasi antara desa dan hutan itu. Jika kalian sampai melewatinya. Kami tidak bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi nanti. Karena kami sudah memperingati".
Team Indigo menenggak ludah bersamaan mendengar penjelasan sang kakek.
"Maaf kek, mau tanya" ujar Risa.
"Apa nduk cantik?".
"Maaf lagi sebelumnya kek, kami kan masih manusia. Makanan kami jelas berbeda dengan makanan makhluk halus. Bagaimana dengan itu? Kami tidak akan memakan makanan kalian kan?".
"Hahahahaha... nduk cantik lucu juga, tentu tidak. Akan ada manusia utusan yang menyediakan makanan kalian. Kalian makan sehari tiga kali, sarapan, makan siang dan makan malam".
"Maaf kek, saya mau bertanya. Apa kami akan disini selamanya?" tanya Rey.
"Tidak, kalian akan keluar jika urusan kalian sudah selesai".
"Ur-".
Ucapan mereka terpotong saat kakek tersebut izin pergi dengan cepat dan menghilang secepat izinnya.
Serempak, mereka bersembilan menoleh ke sumber suara. Nampak wanita muda berusia sekitar delapan belas tahun yang berpakaian ala dayang-dayang keraton pada zaman dahulu.
"Owh.. maaf, saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Vinula, saya adalah salah satu dayang didesa ini, yang melayani para pendatang. Saya tidak jahat kok, jadi tenang saja. Jika kalian tidak percaya, kalian bisa melihat punggung saya. Jika ada tanda kupu-kupu berwarna emas, maka saya asli baik. Jika kalian berfikir 'mungkin saja itu buatan'. Kami para dayang didesa ini tidak bisa membuat kupu-kupu emas dipunggung. Kalaupun bisa, tak akan sebagus itu hasilnya. Karena kami yang memiliki tanda itu adalah utusan raja desa. Jika kalian berfikir lagi 'minta bantuan saja pada teman untuk menggambarkan tanda itu'. Kami lagi-lagi tidak akan bisa melakukannya. Karena kami sudah pernah mencoba, saya meminta bantuan kepada teman saya untuk menggambarkan tanda itu. Saat akan menggambarkan, tangan teman saya langsung keluar darah dan pegal-pegal. Jika kalian ber-".
"Stop!!" seru mereka bersembilan serempak.
"Hehe, kepanjangan ya.. intinya saja Vinula, dayang khusus kalian. Mari.. saya antar ke vila, pakai kuda ya? Kalian bisa mengendarai kuda kan?" mereka bersembilan menggeleng serempak.
"Kalian tidak pernah les mengendarai kuda ya?".
"Kalau begitu saya pamit pergi dulu, mau ngomong sama prajurit. Kalau kalian tidak bisa mengendarai kuda dan perlu bantuan, dah".
Vinula menghilang dalam kejapan mata. Sekembalinya ia, datang bersama sembilan orang. Empat orang laki-laki, dan lima orang perempuan.
"Yang laki-laki sama laki-laki, yang perempuan sama perempuan" ujar Vinula.
Perjalanan menempuh waktu setengah jam, itu karena mengendarai kuda. Jika tidak, satu jam adalah waktu yang harus mereka tempuh. Sesampainya divila. Vinula mengajak mereka masuk dan berkeliling. Ditunjukanlah kamar yang dihuni mereka selama berada didesa Lawang.
"Bagus ya... dekornya ala-ala kerajaan gitu" puji Ais.
"Terima kasih, silahkan memberikan rate. Disini" Vinula menunjukkan sebuah benda yang menempel di tembok, berbentuk persegi panjang.
"Caranya?" tanya Ais.
"Klik saja tombol bulat merah ini, lalu tulis nama lengkap, nyai. Lalu klik lima bintang, jika suka sekali. Empat bintang, jika suka. Tiga bintang, jika lumayan suka. Dua bintang, jika tidak suka. Dan, satu bintang, jika jelek. Itu rate untuk dekor kamar. Dekor kamar akan berunah setiap tiga hari sekali".
"Waw...." Ais langsung meng-klik lima bintang.
"Setiap kamar berbeda dekor, jika ingin pilih dekor. Bisa klik tombol hijau ini, dan tuliskan dekor seperti apa yang kalian inginkan. Setiap kamar akan memiliki 'Tulbe' sendiri-sendiri" Vinula menunjuk benda yang menempel di tembok tersebut.
"Apa ada yang ingin ditanyakan?" tanya Vinula ramah. Kerongkongannya seolah selalu terisi oleh air, daritadi ia berbicara panjang lebar dan hanya direspon pendek oleh kami, dia tidak terlihat sulit berbicara. Begitulah yang ada dipikiran sebagian team Indigo tentang Vinula.
"Tidak ada, Vinula. Terima kasih" ujar Risa mewakili.
"Baiklah, kalau begitu saya tinggal. Selamat istirahat" Vinula kemudian hilang entah kemana.
"Ini desa tapi fasilitasnya udah kaya di kota-kota elit ya?" gumam Chalis.
"Iya" sahut semuanya setuju.
...----------------...
Sore berganti malam. Makan malam sudah disiapkan oleh utusan raja. Chef khusus. Dimeja makan, Zara tiba-tiba menggebrak meja dan matanya terbelalak. Membuat semuanya ikut terbelalak kaget.
"Hush... Zara, kamu tadi nggak inget sama ucapannya kakek yang nggak punya mata? Jaga tingkah laku" ujar Risa.
"Maaf, maaf. Aku baru ingat, dimana mobil kita?" Adam ikut membelalakan matanya.
"Selamat malam, nyai dan prabu" sapa Vinula tiba-tiba.
"Vinula..." geram mereka tertahan.
"Maaf mengagetkan dan mengganggu waktu makan malam kalian, saya hanya ingin memberi tahu bahwa mobil nyai Zara dan prabu Adam sudah ada diparkir-an" jelas Vinula.
Vinula mengajak mereka menuju parkiran dan menunjukkan kedua mobil mewah yang ditaburi bunga melati dan mawar.
"Mobilnya meninggal?" celetuk Ais.
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Hayoo.... siapa yang belum baca cerpen author. Nggak maksa buat baca si, cuma mau ngingetin aja. Buat yang suka cerpen dengan genre romantis, kalian bisa baca cerpen author. Dukungan cintanya jangan lupa ya. Cerpen yang 'Salahkah Aku Jatuh Cinta?'. Cerpen yang lain juga boleh kalau kalian ada waktu.
Thank You All....
❣️❣️❣️❣️🇲🇨🇲🇨