
Seperti saat-saat yang kemarin. Setiap pukul tujuh ke atas, pedagang kaki lima mulai memasang gerobaknya, berkeliling di sekitar taman dan juga komplek.
Pandangan mataku tertuju pada sebuah gerobak yang bertuliskan 'batagor enak'. Aku picingkan mata untuk melihat lebih jelas gerobak tersebut. Ow...!! Sepertinya niatku untuk membeli batagor disana aku cabut.
"Masih ada aja ya.. zaman gini, pakai begituan" ujar Adam. Aku mengangguk masih dengan mengamati gerobak tersebut. Makhluk yang digunakan pedagang batagor itu serupa... tuyul.. atau mungkin.. alien-alien yang sering digambarkan dengan satu mata, dua mata, tiga mata, sampai sepuluh mata, memiliki antena, warna nya hijau, dan kepalanya yang besar. Mirip sih makhluk itu dengan tuyul ataupun alien. Mata nya ada tiga, punya antena, warna nya hijau, kepala nya juga besar, tapi pakai popok.
"Aku baru pernah lihat makhluk begitu, kira-kira cara ngenyangin perut nya, minum darah istri pedagang batagor itu apa nggak ya" gumamku.
"Nggak tahu, aku juga nggak tahu makhluk itu golongan alien atau tuyul. Jadi nggak bisa mastiin" sahut Adam dengan suara rendah.
"Cari makanan yang lain aja San, jijik aku kalau harus kesana" ujar Adam kemudian. Aku menatapnya lalu mengangguk. Ku putar netra untuk mencari gerobak-gerobak kaki lima yang tidak memakai penglaris sesat seperti itu.
Hingga mataku berhenti saat melihat sebuah gerobak sederhana yang bertuliskan 'bubur ayam pak Karso' di depannya. Aku mengajak Adam menghampiri gerobak tersebut setelah memastikkan apakah dia memakai penglaris sesat atau tidak.
"Pak!" seruku. Bapak bubur ayam menoleh dengan wajah datar nya. Bukan cuma datar, tapi menurutku.. juga pucat. Ok, perasaanku mulai mengatakan bahwa dia bukan manusia. Aku amati seluruh tubuh nya. Oh shitt!! Fikss!! Ini si bukan manusia. Pantesan dari tadi gerobak ini sepi-sepi aja walaupun bapak nya udah teriak-teriak. Lah orang dia makhluk halus.
"Tolong... beli dagangan saya.." celetuk bapak tersebut dengan suara sengau dan serak. Seperti seseorang yang sedang atau habis menangis.
"Tolong..."
"Beli aja San, ni uang nya" bisik Adam seraya memberikan uang seratus ribuan.
Aku menyerahkan uang tersebut. Tapi bapak nya menolak. Ia menggeleng lemah lalu menunjuk panci besar yang berisi sesuatu berwarna putih. Aku mendekati nya. Eumm... bau nya bukan lagi bau sedap bubur putih yang penuh dengan rempah-rempah, melainkan bau busuk dan anyir. Panci tersebut juga isinya belatung-belatung kecil bercampur darah dan tanah. Perutku langsung bergejolak melihatnya.
"Beli dagangan saya, uang nya kasih istri saya" ujar bapak bubur ayam. Aku tersentak. Aku menoleh pada Adam yang diam memperhatikan.
"Baik pak, saya beli dagangannya. Rumah istri bapak ada dimana ya?" tanya Adam setelah diam cukup lama.
"Kenapa kamu tanya-tanya rumah istri saya?!" tanya balik bapak bubur ayam dengan nada lumayan tinggi. Alis nya juga sedikit memberikan ekspresi menekuk.
"Untuk memberikan uang pembelian, kata bapak tadi beli dagangannya dan uang nya kasih istri bapak. Kalau saya tidak tahu dimana rumah istri bapak, bagaimana saya bisa memberikan uang tersebut?" heran Adam. Ia mengernyit sangat. Heran agaknya.
"Owh... bilang dong kalau untuk memberikan uang pembelian. Maaf ya.. saya kadang lupa. Saya juga takut kalau kamu mau ngrebut istri saya" ujar bapak tersebut masih dengan wajah datar nya. Tangan-tangan remuk nya bergerak mengambil sterofom dan memasukkan bubur serta bumbu-bumbu lain layaknya membuat bubur ayam asli. Hanya saja sekarang, semuanya sudah tergantikan dengan benda dan makhluk-makhkuk kecil mengerikan. Kerupuk nya menjadi kulit ular kering. Sambal nya menjadi darah. Sedangkan untuk seledri menjadi rerumputan segar. Apa ada toilet?? Aku ingin muntah.
Bapak bubur ayam mengambil satu lagi sterofom dan melakukan hal yang sama. Setelah selesai ia menyerahkan dua bungkus sterofom yang sudah dibungkus plastik kepadaku. Aku menerimanya dengan tangan bergetar.
"Mari saya antar menuju rumah saya" ucap bapak tersebut seraya mendorong gerobaknya. Aku dan Adam mengikuti dari belakang. Bubur ayam mengerikan didalam sterofom yang aku bawa dengan plastik masih aku pegang dengan tangan gemetaran.
"Kok tumben ya Dam.. orang-orang nggak merhatiin kita?" tanyaku berbisik.
"Aku tutup pandangan mereka" aku terperangah.
"Kamu bisa?" Adam mengangguk.
"Ajari aku.." ucapku memelas.
"Ajari nggak yah... cium aku dulu baru aku ajari" sahut nya jahil.
"Dasar! Pengambil kesempatan di dalam kesempitan!" bentakku tertahan.
"Cium dulu ya..."
"Enggak mau!".
"Nanti nggak aku ajari lhoh..."
"Bodo amat".
Cup
Sial!! Dia menciumku lagi.
"Nanti aku ajarin" ujar Adam lalu terkekeh.
"Inih mah namanya nyium aku bukan nyium kamu" sahutku sebal seraya mengusap pipi kiri.
"Kamu kan nggak mau cium aku, ya udah sebagai ganti nya aku cium kamu" aku diam dengan perasaan sebal-sebal suka. Suka? Entahlah.. aku juga tidak tahu kenapa perasaan suka menyelip tatkala ia menyiumku.
Kami terdiam sepanjang jalan menuju rumah bapak bubur ayam. Cukup lama kami berjalan sampai rumah ku pun terlwati. Di depan rumah ada ibu, ayah, dan kak Ang yang sedang kebingungan.
"Kok mereka juga nggak lihat aku si?" kesalku merengek pada Adam.
"Iya lah, kan seluruh penghuni komplek ini aku tutup mata nya biar nggak lihat kita" sahut Adam dengan santai nya.
"Nanti kalau aku pulang dimarahin gimana? Terus aku njelasinnya gimana? Nanti kalau dicecar berbagai pertanyaan gimana? Contohnya.. kamu kok jogging nggak bilang? Kamu bareng Adam? Ngapain aja kalian? Berangkat jam berapa jogging nya? Kalian gandengan tangan? Kok lama banget si jogging nya?" cerocos ku panjang lebar. Berbagai pertanyaan yang terlintas dikepalaku saat memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh ayah, ibu dan kak Ang saat aku pulang nanti. Tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutku, sampai-sampai aku kehabisan nafas.
"Aku udah bilang sama ibu kamu kalau aku ke rumah kamu tadi mau ngajak kamu jogging" ujar Adam yang membuatku seketika menghembuskan nafas lega.
"Kalian ribut romantis mulu" celetuk bapak bubur ayam.
"Hah?" desahku seraya mendongak menatap punggung bapak bubur ayam.
"Kalian pacaran?" tanya bapak bubur ayam.
"Belum!" sahutku reflek dengan nada sedikit tinggi.
"Belum" sahut Adam.
"Kenapa belum?".
"Kan Adam belum nyatain perasaannya" sahutku reflek. Lagi!.
"Sedang berusaha".
"Semoga jadian ya. Bisa bertahan sampai pelaminan dan membina hidup baru dengan baik sampai ajal menjemput" ucap bapak bubur ayam.
"Amin".
"Amin".
Dua kali ucapan dan dua kalimat do'a. Aku dan Adam jawab secara bersamaan. Aku menyahutnya reflek, tapi sadar. Tiba-tiba aku geli sendiri dengan jawabanku.
Kami bertiga diam lagi sepanjang perjalanan. Apa sejauh ini rumahnya? Sepanjang jalan aku hanya tengok kanan, atas, bawah dan depan, tidak berani tengok kiri karena disanalah Adam berdiri menatapku. Pikiranku kembali penuh dengan jawaban-jawabanku tadi.
"Sudah sampai".
Aku memandang rumah sederhana yang sangat asri dipandang mata. Menyejukkan. Di sisi jalan terdapat sawah yang padi nya masih hijau. Pohon mangga dan rambutan berjejer rapi di satu sisi jalan. Bersebrangan dengan pesawahan yang masih menampilkan kehijauannya.
"Mari masuk".
Aku dan Adam mengikuti langkah bapak bubur ayam. Hembusan angin membuat rambutku meliuk-liuk karena karet jepang yang aku gunakan sudah putus.
"Ketuk pintu nya" ujar bapak bubur ayam. Ia berdiri di sisi kiri kami. Aku mulai mengangkat tangan mengetuk perlahan.
"Assalamualaikum.." seruku.
"Lembut banget suara kamu, perasaan tadi bentak-bentak" celetuk bapak bubur ayam.
Aku terkekeh mendengar celetukannya. Tak lama, pintu terbuka. Nampak wanita yang lebih tua dari nenekku. Ia memakai scarf di leher dan juga kepalanya. Scarf tersebut sudah nampak kusut.
"Kalian siapa ya?" tanya nya.
"Perkenalkan bu, nama saya Risa. Ini teman saya Adam. Kami datang kesini untuk memberikan uang pembelian bubur ayam suami ibu" aku menyalami tangan ibu tersebut. Adam juga melakukan hal yang sama.
Ibu tersebut membelalakan matanya lalu mengajakku masuk. Pintu lalu ditutup. Kudengar suara rintihan. Setelah izin, aku buka pintu dan melihat bapak bubur ayam sedang duduk seraya memegangi kening nya.
"Ya Allah pak, mari saya bantu" aku membantu bapak bubur ayam berdiri lalu menyuruhnya masuk terlebih dahulu. Ibu tadi menyuruh kami duduk.
"Saya buatkan minum dulu ya".
"Tidak usah bu, terima kasih, kami hanya sebentar disini" ibu tersebut mengangguk dan pergi duduk dihadapan ku dan juga Adam.
"Nama saya bu Painem. Panggil saja saya bu Nem" bu Nem menjeda ucapannya. Menghela nafas lalu dihembuskan perlahan "suami saya meninggal karena kecelakaan. Ditabrak lebih tepat nya. Saya ikut menjadi korban pada kecelakaan tersebut, tapi luka yang saya alami tidak parah, hanya lecet. Pelaku bertanggung jawab, ia membawa kami ke rumah sakit, membiayai pengobatan dan mengganti rugi kerusakan gerobak serta bahan-bahan jualan. Setelah dibawa keruang UGD, beberapa jam kemudian saya terima kabar nyawa suami saya tidak tertolong".
Aku dan Adam diam mendengarkan setiap kata dari cerita bu Nem dengan baik.
"Tadi.. kalian kesini karena apa?" tegas bu Nem.
"Untuk memberikan uang pembelian bubur ayam suami bu Nem" aku menceritakkan perlahan tentang kejadian tadi. Hingga bisa kami sampai disini.
"Ya Allah.. pak.."
"Bu Nem ingin bertemu dengan suami?" tanyaku lembut.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Terima kasih.