
Happy Reading...!!!
"Gw pulang dulu, ya."izin Reza seraya berdiri dan merapihkan pakaiannya.
"Mau ngapain?"tanya Reyyan.
"Gw mau nemenin Bunda pergi belanja." sahutnya.
"Dihhh eluu udah gede masih aja ngikut emak pergi belanja." ledekku.
"Bukan gjtu, sebagai cowok sejati, gue harus bisa lindungin Bunda gue. Dia pernah di jambret sewaktu pergi ke pasar."
"Kenapa nggak ke supermarket atau swalayan atau mall aja si? Kan Bunda lo kaya." tanya Reyyan.
"Bunda gue lebih suka belanja di pasar, kalau lagi kondisi tertentu aja dia pergi ke tiga tempat yang lo sebutin tadi. Ya udah kalau gitu, gue pamit dulu, ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Wisnu sama Adam kemana? Glen, Ais juga?" tanyaku sembari celingak-celinguk mencari keempat kawanku.
"Kayaknya di halaman belakang." sahut Reyyan. Aku lalu menatapnya dan berjalan menuju halaman belakang. Sesampainya di sana aku langsung berjalan kearah mereka dan ikut bergabung.
"Tahu nggak?" aku menatap wajah mereka satu persatu. Zara juga hadir disana, ia sudah bangun dari pingsannya tadi.
"Nggak."sahut mereka kecuali Wisnu dan Adam.
"Emang apa?" tanya Glen. Aku menatapnya sebentar lalu menceritakkan kejadian tadi pagi.
"Parah nggak?" tanya Glen. Nampaknya dia khawatir.
"Nggak." aku menggeleng. Ia lalu menghela nafas, merasa lega atas jawabanku.
Tiba-tiba tubuhku terpaku, dua puluh jari jemariku terasa begitu dingin sedangkan punggungku terasa panas.
"Sa? Lo kenapa?" tanya Reyyan. Aku masih bisa mendengar suaranya. Namun pandanganku perlahan mulai terlihat kabur, aku bahkan sudah tidak kuat menahan berat tubuhku sendiri kini. Hingga akhirnya semua pandanganku menjadi gelap dan tubuhku ambruk di lantai.
...----------------...
Aku terbangun diruangan bernuansa putih, ranjang yang kutiduri berderit ketika aku berusaha untuk bergerak. Aku yakin kini aku pasti berada di klinik kesehatan. Aku merasakan ada benda berat yang menindih perutku dan ketika aku menengok aku melihat sebuah tangan sedang berada diatas perutku dengan bagian lengan satunya yang ia gunakan sebagai bantal.
"Adam?" gumamku kaget. Ia bergerak dan mengerjap beberapa kali sembari menatapku.
"Udah sadar lo?" tanyanya dingin. Tak ada raut khawatir disana, aku dapat melihatnya. Karna aku tahu khawatirnya bukan diwajah melainkan dihati, aku sempat mendengar suaranya sebelum aku benar-benar ambruk diatas lantai. Dia adalah manusia terdingin yang pernah aku lihat selama ini, namun aku tahu dia aslinya adalah sosok laki-laki yang perhatian dan penyayang. Ekspresinya sangat sulit untuk ditebak. Entah karena dianya yang pintar menyembunyikan ekspresi atau akunya saja yang b*d*h.
Aku menatapnya membuatnya mengernyit tipis. Dia menepukkan tangannya di hadapan wajahku membuatku terkesiap dan mengerjap beberapa kali. Aku membuat suasana ini menjadi semakin aneh.
"Kamu, 'kan liat mata aku udah buka mata, kenapa pake tanya udah sadar apa belum." dia mengernyit dan nampak kesal dengan ucapanku.
"Ditanya malah nyolot."aku terkesiap. Kok malah dibilang nyolot si?.
"Lo liat sekarang jam berapa?" tanyanya, aku lalu memutar mataku untuk mencari jam dinding.
"Nggak ada jam, emang jam berapa?"tanyaku polos membuatnya mengarahkan layar hp-nya yang menyala dan memperlihatkan apa yang ada di sana. Aku justru fokus dengan walpaper yang Adam gunakan bukan pada jam yang ia tujukan. Aku melihat foto seorang gadis tengah berdiri dengan drees putih dan rambutnya yang tergerai sepanjang pinggul. Namun sayangnya dia malah membelakangi kamera dan menghadap kearah danau yang berwarna semu biru. Siapa dia?
Adam lalu menarik kembali hp-nya dan menatapku intens.
"Lo yang kenapa liat hp gw sampe sebegitunya." ujarnya dengan ekspresi datar bahkan sedikit alisnya pun tak berubah posisi.
"Foto siapa yang lo jadiin walpaper Dam?" tanyaku membuatnya memandang layar hpnya. Entah kenapa aku dapat melihat kesedihan di dalam matanya. Seperti kesedihan seseorang yang di tinggal pergi.
"Dam."sapaku dengan suara rendah. Ia terkesiap dan langsung menyahuti pertanyaanku tadi.
"Bukan siapa-siapa." ia beranjak dan sepertinya hendak pergi dari ruangan ini. Aku mencekal tangannya dan saat itu juga Adam berhenti melakukan berjalan. Ia menoleh kearahku lalu ketanganku yang mencekal tangannya. Aku melepaskan genggamanku ketika menyadari tatapannya. Ia pasti merasa risih, karena setahuku ia jarang sekali bersentuhan dengan perempuan.
"Maaf." ia tak menjawab dan malah melanjutkan kembali jalannya. Aku tak bisa berkata, mulutku tiba-tiba menjadi bisu sementara saat ia menatapku.
Aku sebenarnya ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padaku. Namun sepertinya tidak tepat jika harus menanyakan itu pada Adam, lebih baik kutanyakan saja nanti pada yang lain.
Pintu berderit tertutup ketika Adam telah keluar dari ruangan serba putih ini digantikkan dengan Glen, Ais, dan Zara yang berebut untuk masuk.
"Gw dulu!"pekik Glen.
"Aku dulu lah, kamu kan lebih tua dari aku seharusnya kamu ngalah sama aku."sahut Ais.
Sedangkan Zara berjalan mundur dan membuka satu pintu lagi yang berada disamping Ais dan Glen. Pintu ruangan yang kutempati ini memang memiliki dua daun pintu.
"Ribet banget."Zara menyelonong masuk dan menanyai kondisiku.
"Bagaimana?"aku mengendikkan bahuku.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tak mengingat apa-apa setelah aku merasa tubuhku ambruk."tanyaku sembari menatapnya.
"Kamu pingsan, hidungmu mengeluarkan darah, kamu juga berkeringat tadi. Kata dokter kamu tidak apa-apa, tidak ada yang salah dengan seluruh anggota dan organ tubuhmu."sahutnya membuatku mengernyit. Hidungku mengeluarkan darah? Berarti aku mimisan. Aku juga berkeringat? Ohhh...ya!!! Aku ingat.
"Ra aku ingat..." aku menatapnya, ia mengernyit dan bertanya apa.
"Sebelum aku ambruk, aku lihat makhluk semacam Miss K disamping pintu kamar mandi. Dia kaya nunjuk-nunjuk bagian dalem kamar mandi gitu. Mukanya serem banget, energi yang dikirim dia juga negatif." terangku, ia lalu berfikir sambil menatapku.
"Ahhhhh akhirnya bisa masuk juga."aku mendengar suara Ais yang mendesah lega ketika ia bisa masuk dan menemuiku.
"Lagian elu yang kecil bukannya ngalah sama gw malah bentak-bentak bikin ribut sampe dimarahin ob rumah sakit." balas Glen. Ais dan Glen memang perempuan yang paling sering bertengkar di team kami. Mereka sifatnya cenderung tidak suka mengalah satu sama lain. Tapi sifat tersebut akan hilang ketika mereka berhadapan dengan anggota team yang lain termasuk aku dan Zara.
*Zara adalah panggilan untuk Azahra, Ais untuk Aisyah, Glen untuk Glenca, Ris/Sa panggilan untukku, Rey untuk Reyyan, Nu untuk Wisnu, Dam untuk Adam, dan Za untuk Reza.
"Brisik! Bisa diam gak?"geram Zara sambil menyelis menatap Ais dan Glen yang masih ribut.
"Iya.. Iya maaf." sahut mereka berdua.
"Pasti ada sesuatu dikamar mandi."ucap Zara.
"Sesuatu gimana?" tanyaku belum paham sembari berusaha untuk duduk. Ais dan Glen yang melihatku langsung berlari kearahku dan membantukku duduk. Zara juga memposisikan bantal supaya nyaman untuk di sandari. Aku benar-benar diperlakukan layaknya orang sakit berat.
"Nggak tahu juga sih." sahut Zara setelah aku mendapatkan posisi yang nyaman untuk duduk sambil menatapku.
"Kalian lagi ngomongin apa sih?" tanya Glen. Aku dan Zara saling melempar pandang sebentar lalu menatap Glen dan aku menceritakkan apa yang kulihat tadi.
"Mungkin kaya yang dulu-dulu." sahut Ais. Membuatku serta Zara mengernyit. Sedangkan Glen hanya mengangguk setuju mungkin dia sudah tahu bahwa kalimat inilah yang akan diucapkan oleh Ais.
Bersambung...