INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Memulai perjalanan dengan basmallah (Season 1)



Sambil menunggu Lala membeli siomay, aku duduk memperhatikan para manusia yang sudah mulai berlalu lalang begitupun pedagang kaki lima. Hingga akhirnya mataku tertuju pada sebuah gerobak berwarna coklat bertuliskan 'bubur ayam lezat', aku akhirnya menghampiri penjual bubur ayam tersebut dan berniat membelinya karena kelihatannya rasanya sama seperti slogan yang di gunakan. Kepulan asap dari nasi yang sudah menjadi lembek itu menciptakan aromanya sendiri.


"Beli satu ya pak!" ujarku.


"Siap, neng!" sahut bapak tersebut kemudian mengambil satu kotak sterofom berukuran sedang lalu mamasukkan dua centong kecil bubur, ayam suwir, daun bawang, bawang goreng, kecap, dan kuah santan. Sedangkan untuk sambal dan kerupuk nya di pisah dan di bungkus dalam dua plastik berukuran sedang dan kecil. Selesai meracik bubur ayam pesananku, bapak tersebut kemudian membungkusnya dan menyerahkannya kepadaku.


"Berapa pak?" tanyaku sambil menerima pesananku.


"Delapan ribu, neng" aku merogoh saku bajuku dan mengambil uang sepuluh ribu lalu menyerahkannya kepada bapak tersebut.


"Kembaliannya buat bapak aja, saya pergi dulu ya pak. Terima kasih" ujarku menolak sambil mendorong tanganku ketika bapak tersebut akan memberikan uang kembalian. Setelah mengucapkan terima kasih, aku lalu melenggang pergi menghampiri Lala yang sedang duduk di bangku taman.


"Beli apa Ris?" tanyanya sambil melihat plastik putih yang ku bawa.


"Bubur ayam" sahutku, aku meletakkan plastik tersebut ke atas bangku dan mengambil sterofom serta sambal dan kerupuk.


"Kamu mau?" tawarku pada Lala.


"Enggak, makasih. Gw makan temennya cilok aja" aku menggeleng.


Selesai memakan bubur ayam yang ku beli, aku mengajak Lala untuk pulang.


"Gw boleh petik bunga di sini nggak?" tanya Lala sambil mengamati tangkai bunga mawar putih di hadapannya.


"Ambil aja, asal motong nya bener" sahutku sambil berjalan menghampirinya. Bagus juga bunga mawar putih ini.


"Pak, maaf mau tanya. Bunga di taman ini boleh di ambil tidak ya?" tanyaku pada seorang kakek tua renta yang melewati kami berdua. Kakek tersebut menoleh ke arahku.


"Neng mau bunga mawar putih ini?" tegas kakek tersebut, aku mengangguk sebagai pertanda jawaban iya.


"Boleh, mari saya antarkan" ujarnya.


"Antar kemana?" tanya Lala.


"Ke tempat bibit segala macam bunga yang di tanam di sini" sahut kakek tersebut.


"Mari..." kakek tersebut berjalan entah kemana, kami berdua hanya bisa mengikutinya.


"Wahhhhhh" aku terperangah ketika melihat berbagai macam jenis bunga mulai dari mawar sampai tulip di sebuah ruangan yang sangat besar.


"Beberapa bunga di sini niatnya akan di tanam di komplek satu dan dua" ujar kakek tersebut sambil memperhatikan bunga mawar putih di hadapannya sama seperti kami berdua.


"Ini untuk kalian, jaga baik-baik bunga ini. Rawat dan sayangi bunga ini sama seperti kalian merawat dan menyayangi diri kalian sendiri, mereka juga makhluk hidup. Jangan biarkan serangga kecil seperti ulat dan belalang menggigiti daun, kelopak, atau mawarnya" kakek tersebut memberikan masing-masing satu pot berukuran sedang yang sudah di tanami bunga mawar putih untuk kami berdua dan juga sebuah pesan.


"Terima kasih kek, kami berdua akan berusaha untuk merawat dan menyayangi nya sepenuh hati. Kalau begitu kami berdua permisi pulang" kakek tersebut mengangguk. Kami berdua melangkahkan kaki keluar ruangan dan pergi pulang sambil membawa pohon bunga mawar putih kecil. Belum berbunga, namun sudah cukup indah. Daun nya tergoyang karena hembusan angin, angin tersebut tidak kencang, namun cukup menyejukkan. Aku jadi tidak sabar menunggu pohon ini berbunga, pasti akan sangat indah di pandang mata. Semoga berbagai macam serangga pengganggu pohon bunga dapat bertoleransi dan mencari makanan lain.


Sesampainya di rumah, aku terkejut ketika halaman rumah ini sesak dengan banyaknya mobil di sana, ada sekitar tiga mobil yang terparkir di halaman. Dua di antaranya adalah milik 'IT' dan juga kak Ang. Yang satu.... mobil siapa itu? Aku tidak pernah melihatnya.


"Halaman rumah lo kenapa jadi kayak forum mobil gini Ris?" Lala berdecak.


"Iya nih, kayaknya kalau semuanya di jual bakal dapat banyak uang kita" aku tertawa kecil mendengar ucapanku sendiri kemudian berjalan masuk melalui celah yang masih ada di susul Lala.


"Hati-hati bawa pohon bunga mawarnya ya La" ujarku mengingatkan.


"Iya".


"Nah, ini dia orangnya. Dari mana aja si? Ko lama banget?" tanya Glen. Setelah keluar dari celah mobil tadi, aku baru bisa bernafas lega.


"Ehhh...." aku terkejut ketika teras rumahku ternyata banyak orang.


"Aku sama Lala baru pulang jalan-jalan" ujarku.


"Kalian udah mandi belum?" tanya Zara. Aku dan Lala saling pandang lalu menggeleng.


"Ya udah gih mandi, kita berangkat setelah kamu siap" ujar Zara.


"Lala mau ikut, boleh?" tanyaku.


"Boleh" sahut Zara.


"Ya udah sana mandi, kita tungguin" aku mengangguk. Aku dan Lala meletakkan terlebih dahulu pot pohon bunga mawar yang kami pegang sebelum masuk, setelah meletakannya kami berdua izin mandi dan meminta semuanya untuk menunggu.


"Kamu mandi nya, di kamar mandi kamar aku nanti aku mandi di kamar mandi kak Ang" ujarku yang segera Lala anggukan.


"Oh iya kamu pakai saja handuk punyaku, dia di gantung di gantungan belakang pintu" lagi-lagi Lala mengangguk.


"Satu lagi!, nanti kamu kalau mau pakai baju. Pakai aja baju aku, ada di lemari ya. Yang di gantung! Karena itu sudah di setrika, kalau yang di bawah, belum di setrika, masih lecek" ujarku untuk yang ke tiga kalinya, Lala sepertinya sudah kesal denganku karena tidak menyelesaikan ucapanku sekaligus dan malah di potong-potong. Ia menghampiriku dan menatapku kesal.


"Iya gw mandi di kamar mandi, kamar lo. Gw juga pakai handuk lo, terima kasih untuk itu semua. Dan gw...pasti pakai baju, tapi...gw udah bawa baju sendiri buat ngikut ntar lo pergi. Jadinya...gw nggak pinjem baju lo buat hari ini, baju yang gw pinjem kemarin malam. Gw balikin besok-besok, kalau udah di cuci dan juga udah kering plus di setrika!" ujar Lala dengan banyak penekanan di setiap katanya.


"Hehehe" aku hanya bisa terkekeh mendengar ucapannya. Sebenarnya dimana ya salahku itu??.


"Sekarang kita harus cepat-cepat mandi Risaku, sayangku. Kita udah di tungguin di bawah" aku tersentak, aku lupa jika teman-teman sedang menunggu di bawah. Aku kembali ke kamarku dan mengambil pakaian yang ingin ku kenakan nanti, lalu kembali lagi ke kamar kak Ang.


.


.


Selesai mandi, ku kenakan pakaian yang ku ambil tadi. Baju T-Shirt putih pendek, di balut jaket jeans lengan panjang di padukan dengan rok plisket hitam dan bandana hitam polkadot merah adalah outfit ku hari ini tak lupa sepatu kets putih hadiah dari ibu. Selesai mengenakan outfit hari ini. Aku berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar kak Ang. Tapi, langkahku terhenti ketika melihat ada sebuah botol kaca di atas meja. Aku berjalan mendekati botol kaca tersebut dan mengambilnya lalu mengamatinya sambil sesekali di putar botol tersebut.


"Baunya enak" gumamku ketika mencium bau parfum tersebut. Parfum ini memang lebih ke laki-laki, tapi baunya masih cocok untukku.


Pzzz


Pzzz


Pzzz


Aku menyemprotkan parfum tersebut sebanyak tiga kali di berbagai posisi tubuhku.


"Hahahahaha" aku tertawa, tapi bukan tawa biasa. Aku tertawa jahat yang justru terdengar aneh karena aku tidak bisa melakukannya.


"Ekspetasi memang tak sesuai realita. Kiranya bisa tawa jahat kaya yang di film-film, ehhh...malah jadi kaya orang keselek" gumamku. Aku kemudian tersenyum berfikir untuk mengabaikan tawaku tadi dan mencium tubuhku sendiri.


"Wangii" aku kemudian meletakan parfum tersebut dan keluar kamar.


"Hai La? Udah siap?" sapaku bertanya ketika berpapasan dengan Lala yang sudah rapih dan juga wangi. Kemeja merah dengan corak kotak-kotak serta rok tutu hitam dan bunny hat yang melekat di kepalanya, menambah manis Lala. Tapi... wangi ini... aku seperti mengenalnya... aku mengernyit. Ini kan??.


"Kamu pakai parfum aku ya?!" tanyaku tiba-tiba ketika sedang mengamati penampilan Lala. Lala terkesiap.


"Eh..hehe iya Ris, abisnya wangi. Thanks ya" aku melongo. Sewangi ini dia memakai parfumku, sudah habis berapa banyak botol? Aku memang memilik stok parfum yang ku sukai, baunya seperti buah jadi aku menyukainya. Ada sekitar empat botol yang belum ku buka.


"Habis berapa banyak?" Lala menggeleng.


"Nggak banyak kok, gw cuma nyemprot lima kali".


"Ehh..."


Aku pasrah dan memilih berjalan ke kamarku untuk mengambil tas levis biruku. Ku masukan, ponsel, charger, headseat, pulpen, buku catatan kecil, makanan ringan, serta jarum pentul di dalam kotak. Tak lupa, aku juga memakai gelang tali berwarna hitam dengan logo kepala singa di tengahnya. Walaupun sederhana, namun gelang tersebut sangat berarti bagi anggota IT. Karena gelang tersebut menjadi bukti bahwa kami adalah satu keluarga dalam sebuah team.


Menurutku, bukanlah benda yang menjadi bukti sayang kami pada sesama, tapi karena apa yang kami lakukan setiap waktunya pada yang lain. Kekuatan hati dan persahabatan, lebih dari segalanya. Tapi, walaupun begitu aku tetap memakai gelang ini dan menyayangi benda ini layaknya aku menyayangi sahabat dan keluargaku. Aku lalu keluar dan mengajak Lala kebawah.


"Hai? Lama tidak?" tanyaku setelah menyapa mereka semua.


"Banget!" balas Reza dengan nada yang cukup tinggi.


"Bau ini...lo pake parfum gw ya dek?" tanya kak Ang. Aku mengangguk sambil meringis.


"Gak ngomong" gumamnya. Ya...aku hanya bisa meringis malu sambil menggoyang-goyangkan badan saja.


"Ya udah yuk buruan berangkat, lumayan jauh soalnya kalo dari sini ke rumah kak Bay" aku mengangguk mendengar ucapan kak Ang.


"Sesuai perencanaan, untuk perempuan, nanti di mobil merah punya aku. Sedangkan yang laki-laki pakai mobil kak Ang" ujar Zara sambil menunjuk mobil merah di halaman. Jadi itu miliknya??.


"Sejak kapan kamu punya mobil?" tanyaku heran.


"Baru dua bulan yang lalu" sahut Zara.


"Bu! Yah! Nek!" ayah dan ibu berjalan dari dalam dengan membantu nenek.


"Kami berangkat dulu ya. Assalamualaikum" ujarku lalu mengambil tangan mereka bertiga dan menyalaminya satu persatu. Hal itu juga di lakukan oleh kak Ang, dan yang lain.


"Iya, hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut. Berdo'a dulu" aku mengangguk kemudian.


"Yuk jalan" ajakku yang segera mereka semua anggukan.


"Risa duduk di samping aku ya, nanti Ais, Glen dan Lala duduk di kursi tengah atau belakang. Bebas" ujar Zara ketika kami berlima menghampiri mobilnya.


"Di mobil ada camilan nggak?" tanya Glen.


"Banyak" sahut Zara.


Kami semua masuk begitupun rombongan laki-laki. Jumlah mereka lebih banyak, untung saja mobil kak Ang besar dan dapat menampung banyak orang. Zara dan kak Ang secara bersamaan memencet klakson mobil kemudian memundurkan mobilnya perlahan secara bergantian untuk keluar halaman.


"Ya!" sahut ayah, ibu dan juga nenek di depan pintu. Setelah kedua mobil yang akan di gunakan pergi ke rumah kak Bay ini sempurna keluar halaman. Mobil di lajukan kembali dengan di pimpin kak Ang.


"Jangan lupa basmallah" ujarku mengingatkan.


"Iya" sahut mereka semua kemudian mengucapkan basmallah.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.