
Happy Reading...
"Bunda? Kenapa Bunda bentak Glen?" tanya Risa panik.
"Sekarang dia bukan Glen, dia sedang dibawah kendali Nino! Keponakan kamu yang pertama itu" sahut Ratu.
"Nino?".
"Iya".
Risa menatap Glen yang langsung berubah ekspresi menjadi Glen pada biasanya, ia menatap Risa.
"Ris?? Kamu percaya sama omongan dia? Aku Glen, Ris! Aku Glen! Bukan Nino keponakan kamu!" katanya.
"Aku tahu kamu bukan Glen, aura kamu bukan aura Glen".
"Hahahahaha... Aku tahu kamu akan mengatakannya, Risaaaa...." Glen berjalan mendekati Risa dan mulai mengangkat tangannya perlahan.
"Katakan di mana kamu menaruh buku dan batu itu?!!" Glen menaruh tangannya di samping kanan kiri leher Glen dan mencengkramnya dengan kuat.
"Gila kamu Nin! Kamu mau nyekik tante kamu!" Ratu mulai mengeluarkan kekuatannya untuk menarik kekuatan Nino yang berdiam diri di tubuh Glen.
"Arrrggghhhh... Jangan paksa aku!!".
"Berisik!!" bentak Ratu seraya menguatkan kekuatannya.
"Akkkhhhh.. Sakit.." keluh Risa seraya memegang tangan Glen berusaha melepaskan cengkramannya pada lehernya.
"Astagfirullah.. Bunda lupa!" Ratu tiba-tiba menghentikan aksinya dan meminta maaf pada Risa.
"Kenapa.. Bunda?" tanya Risa dengan bersusah payah.
"Gini.. Kalau Bunda narik paksa Nino kuat-kuat, jika posisinya masih mencengkram lehermu, tangannya malah akan semakin menguat di lehermu, jadi gampangannya energi yang Bunda keluarkan untuk narik Nino keluar dari tubuh Glen, akan menyalur ke tubuh Glen. Terutama bagian tubuh yang mengenai kamu" tutur Ratu.
"Pantesan.. Makin kuat.. Uhukk".
"Risa?!" tiba-tiba Zara datang dari luar kamar bersama dengan Wisnu.
"Za-Ra?" Risa menatap sayu Zara seraya tersenyum penuh harap.
"Glen?" Wisnu menatap Glen dengan terkejut.
"Dia sekarang bukan Glen, dia kini sedang dalam kendali Nino" sahut Ratu.
"Nino? Nino..." Wisnu nampak berfikir akan apa yang Ratu ucapkan, lalu tak lama kemudian ia membelalakan matanya.
"Nino itu? Yang punya niat mau ngambil buku dan batu suci?!" sergah Zara.
"Iya! Sebaiknya kalian cepat tolong Risa" tekan Ratu.
"Glen!" bentak Wisnu.
"Wisnu..?".
"Mempan" gumam Zara.
"Keluar lo Nino!".
"Urusan gue belum kelar disini, berikan dulu buku dan batu suci itu, baru gue akan pergi".
"Pergi".
"Enggak".
"Ra.." Wisnu memberi kode pada Zara dengan lirikan matanya, Zara menanggapinya dengan wajah datar dan terkesan santai, tanpa Nino sadari tangannya telah dilepaskan oleh Zara dari leher Risa, sedangkan Risa langsung jatuh terduduk.
"Ratu?" Wisnu menatap Ratu seperti menyuruhnya untuk menggunakan kekuatannya menarik kekuatan Nino di tubuh Glen.
"Ok" Ratu pun menjalankan bagiannya.
"Arrrgghhhh... Awas kaliannn!!" tiba-tiba asap berwarna ungu keluar dari tubuh Glen dan menguap dari detik ke detik, bersamaan dengan keluarnya asap tersebut, tubuh Glen terjatuh di depan Risa dan langsung pingsan.
"Buatkan teh hangat, dan minumkan pada Glen setelah dia sadar nanti. Jangan diberi minyak kayu putih untuk menyadarkannya, biarkan saja, dia sedang mengumpulkan energinya selagi pingsan. Karena selama dalam kendali Nino, energi kehidupannya telah diserap banyak oleh Nino. Kalau untuk Risa nanti buatkan teh hangat juga, tapi langsung diminumkan. Paham, Zara, Wisnu?" papar Ratu.
"Paham, Ratu" sahut mereka berdua, setelah itu Ratu pun pergi.
"Coba cek dulu peti di kolong kasur" bisik Risa pada Zara. Zara mengangguk dan mengecek peti di kolong kasur, ia buka dengan sandi yang sudah Risa beri tahu.
"Masih ada" ucapnya.
"Ok, makasih" sahut Risa, sedangkan Wisnu mulai membantunya berdiri setelah membaringkan Zara di atas kasur.
Tanpa Risa dan Zara tahu, ada orang lain yang memperhatikan mereka, tak lama kemudian orang itu pergi.
"Gue keluar dulu sebentar" ujar Wisnu kemudian berlari keluar kamar.
...----------------...
Di rumah Adam.
"Kamu kenapa, Dam?" tanya Rasya.
Adam menoleh dengan alis berkerut namun wajahnya masih terkesan datar.
"Kenapa sih?" Rasya duduk di depannya dan menyangga dagunya menatap Adam penuh tanya.
"Nggak apa-apa, Bang, gue pergi dulu, assalamu'alaikum" Adam tanpa memperdulikan wajah penasaran Kakaknya langsung melenggang pergi menuju mobilnya, tak lama kemudian ia kembali ke dalam, ia mengambil kunci mobil di meja dekat Kakaknya dan kembali menuju mobilnya di halaman.
"Assalamu'alaikum!!" teriak Adam yang membuat terkejut Kakaknya dan langsung Rasya menjawab salam Adam.
"Perasaan gue nggak enak" gumamnya sambil menyetir mobil menuju rumah Risa.
Sesampainya ia disana, ia bertemu Wisnu yang sedang berdiri di teras depan. Nampak dari matanya ia sedang was-was memperhatikan sekeliling.
"Assalamu'alaikum, ngapain, Nu?" salam Adam seraya bertanya. Wisnu lalu menatap Adam dan memperhatikannya sebentar.
"Gue tadi ngerasa ada orang yang lari keluar rumah" ujarnya kemudian.
"Risa mana?" tanya Adam tak lagi memikirkan jawaban Wisnu.
"Di dalem, lemes badannya".
"Lemes kenapa?".
"Lo nggak mau liat kondisi dia dulu?".
Adam seketika langsung berlari ke dalam dan menuju kamar Risa, disana ia menemui Risa dan Glen tengah berbaring berdampingan dengan Zara yang duduk di tepi kasur samping Risa seraya membantunya meminum teh yang berada digenggaman Risa, Adam pun bergegas menghampiri Risa setelah mengucapkan salam.
"Adam?" Risa menatap Adam seraya tersenyum.
"Istirahat, 'ya?" Risa mengangguk perlahan.
"Aku keluar dulu sebentar sama Zara" Risa mengangguk lagi, setelah itu Adam pun menarik keluar Zara untuk berbincang bersama Wisnu.
Di ruang tamu Adam langsung menanyakan apa yang terjadi dan Zara serta Wisnu langsung menjawabnya secara bergantian.
"Nino?".
"Iyaaaa, Ninooo" tegas Zara.
"Gue khawatir ada orang yang masih se-grup dengan Nino sudah tahu keberadaan peti buku dan batu suci.
"Maksudnya?" tanya Zara dan Adam bersamaan.
"Tadi, waktu Ara ngecek peti di kolong kasur Risa, gue ngerasa ada orang di balik pintu kamar dia".
"Masa sih?" tanya Zara.
"Lo nggak percaya?" tegas Wisnu.
"Kalau gitu kita harus pindah lokasi peti itu, cepat atau lambat orang itu pasti akan datang untuk mengambil peti itu" ujar Adam.
"Setuju" sahut Zara dan Wisnu bersamaan.
"Ciyeeeeeee" ledek Adam dengan ekspresi datarnya yang justru membuat Zara tertawa.
...----------------...
Di rumah Ratu, yang ia tinggali beserta suami dan anak-anaknya.
"Arggghhh!! Maafin Nino, Bunda.. Nino gagal ngambil buku itu dengan cara tadi" katanya lemas.
"Sudah! Tidak usah dipikirkan, tidak penting juga, sekarang kita fokus saja untuk memikirkan cara kedua" sahut Ratu.
"Via!" panggil Ratu.
"Ke mana Via?" tanya Ratu seraya menatap satu persatu wajah orang yang berada disekitarnya, semuanya mengendikan bahu tanda tak tahu.
"Dasar anak kurang ajar! Dia selalu melarikan diri setiap akan membicarakan cara untuk mendapatkan buku dan batu suci itu!! Ada apa dengan dia?" geramnya.
"Sepertinya Kak Via sudah terpengaruh dengan Risa dan teman-temannya Bunda" akhirnya Tri berani angkat bicara.
"Maksud kamu?".
"Kemarin aku dan kak Nino melihat dia sedang berada di dekat Risa dan teman-temannya itu seperti ingin mengatakan sesuatu" lanjutnya.
"Owhhh... Begitu, 'ya? Apa dia ingin pindah kubu?".
"Tri dan Nino, kalian amati terus gerak-gerik Via seraya memikirkan cara berikutnya, Bunda dan Kanda juga akan memikirkannya. Oh ya.. Pulanglah dengan membawa Via ijut serta, atau jika tidak, hukuman yang akan kalian dapatkan" Tri dan Nino mengangguk paham kemudian izin pergi.
"Kita harus cari Kak Via, aku juga ingin minta maaf dengannya" kata Tri seraya berjalan beriringan dengan Nino, Nino yang juga berjalan disampingnya hanya diam tidak menanggapi.
...----------------...
Di sebuah kursi taman, Via duduk termenung seraya menatap langit malam yang gelap gulita, tidak ada bulan atau bintang yang menyinarinya.
"Gue harus gimana? Apa gue kasih tahu Bunda, ya? Tapi... Itu salah, gue nggak mau ikutin jejak jahat Bunda, Kanda, Kak Nino, juga Tri" gumam Via.
"Gue harus gimana, 'ya?".
"🎶Abdi teh ayeuna gaduh hiji boneka
Teu kinten saena sareng lucuna
Ku abdi di erokan, erokna sae pisan
Cing mangga tingali boneka abdi🎶".
Tiba-tiba terdengar lantunan lagu 'Boneka Abdi' dari atas Via, suaranya terdengar sangat merdu dan pelan sampai membuatnya terkesan memiliki aura mistis, setelah lagu tersebut dinyanyikan beberapa kali. Lalu terdengar tawa dan bisikan suatu ajakan untuk bermain.
"hayu urang maén, hayu" lalu dua baris lirik terakhir kembali terdengar.
"🎶Ku abdi di erokan, erokna sae pisan
Cing mangga tingali boneka abdi🎶".
Via kemudian dengan perlahan menengadahkan kepalanya, seorang anak kecil tengah tengkurap di atas sebuah dahan pohon di atas Via yang terlihat sudah rapuh, kedua bola matanya hilang dan meneteskan cairan hitam yang mengenai wajahnya yang terbalur bedak, bibir dan ujung bibirnya juga terdapat cairan berwarna merah kehitaman.
"Hihihihihi... hayu urang maén (mari main)" ajaknya, tak lama setelah itu terdengar patahan dahan pohon yang disinggahi anak tersebut yang reflek membuat Via menghindar, setelah Via menghindar kemudian dahan pohon tersebut patah menimpa kursi taman yang didudukinya tadi, bersamaan dengan itu anak kecil tadi menghilang. Via spontan jatuh terduduk menatap dahan pohon tempat anak tadi singgah yang sudah merusak kursi taman yang didudukinya dengan ekspresi terkejut.
"Bu-bukan manusia?".
"Via?" seseorang memanggilnya.
"Via?" orang tersebut memanggilnya lagi seraya menepuk pundaknya.
Via yang tersadar pun segera menoleh ke sumber suara, namun yang dilihatnya adalah wajah rusak parah, kedua ujung bibirnya terangkat hingga memperlihatkan giginya yang hitam dan tajam.
"Viaaa..." ia memanggilnya dengan sangat lembut, kemudian mendekatkan wajahnya.
"Viaaa!!" Via tersentak dan mengedipkan matanya, apa yang ia lihat tadi telah berubah menjadi wajah adiknya, Tri. Via menoleh ke samping kiri Tri, ada Nino. Dia segera menjauh dan mencoba berlari meninggalkan mereka. Namun, lengannya berhasil dicekal oleh Tri.
"Pergi!" bentaknya histeris, Via merasa ketakutan dan tubuhnya gemetaran.
"Via tenang?! Kamu kenapa sih?!" tanya Nino dengan suara tinggi. Via pun terdiam dan tubuhnya melemas, ia memikirkan apa yang terjadi.
"Aku enggak apa-apa" katanya kemudian, Tri dan Nino saling berpandangan untuk beberapa saat, kemudian kembali menatap Via. Ada raut tidak percaya dan curiga di wajah mereka.
"Kenapa?" tanya Via.
"Lupain itu, gue mau minta maaf sama lo" ujar Tri.
"Ya".
"Ikut kita pulang sekarang, ada yang perlu dibicarakan dengan Bunda dan Kanda" ajak Nino.
"Aku enggak mau. Kalian pulang sendiri saja".
"Kenapa gitu?".
"Aku lagi pengin sendiri".
"Nggak bisa, Kak. Kita harus pulang bareng lo, kalau enggak kita bisa dihukum" ujar Tri.
"Aku enggak mau pulang!" Via melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Tri dan Nino.
"Kak Via!".
"Via!".
Tri dan Nino meneriakan Via dengan panggilannya masing-masing, berharap Via akan berhenti berjalan dan ikut dengan mereka, namun yang ada malah Via yang terus berjalan tanpa memperdulikan teriakan mereka.
"Kita mau ke mana? Kita belum bisa pulang jika Kak Via belum ikut" tanya Tri.
"Ke rumah temen Kakak" sahut Nino.
...----------------...
Keesokan harinya di rumah Risa, sudah terjadi keributan kecil akibat teriakan Ang.
"Assalamu'alaikum! Owh... Bagus, 'ya? Baru ditinggal sebentar udah kelewatan?! Bawa cowo ke rumah pagi-pagi" kata Ang seraya menatap satu persatu Adam, Wisnu, dan Risa.
"Kami hanya jaga keamanan aja, Kak, nggak ngapa-ngapain kok" sahut Wisnu.
"Modus".
"Iya" ceplos Adam.
"Adam?!" Ang melirik Adam dengan mata tajamnya.
"Enggak, Kak".
Ang kemudian duduk di dekat Wisnu dan dengan sigap Risa menyiapkan roti beserta selai kesukaan Kakaknya itu.
"Rumah aman?" tanya Ang.
"Aman" sahut Adam dan Wisnu.
"Bagus, Kakak pekerjakan kalian jadi satpam rumah aja, 'ya?" tawar Ang seraya menyantap rotinya.
"Enggak, Kak, terima kasih atas tawarannya. Saya lebih baik jadi pengisi hatinya Risa saja, daripada jadi satpam rumah" sahut Adam yang langsung membuat Risa tersedak, ia segera mengambil minumannya dan meminumnya hingga rasa sakit akibat ia tersedak sedikit mereda.
"Maksudnya apa tuh? Risanya mau dilamar apa gimana?" tanyal Zara.
Bluss..
Wajah Risa seketika merona, wajahnya memanas dan memerah seketika. Ia bergegas pergi ke wastafel dan membilas wajahnya.
"Whoaaa... Ada yang merona tuhh.." ledek Zara.
"Udah-udah, sekarang diselesain aja makannya, kalian harus berangkat sekolah juga, 'kan?" kata Ang yang mendapat anggukan dari Zara dan yang lain.
"Risa udah makannya?!" tanya Zara.
"Udah!" Risa kemudian berlari menuju kamarnya untuk mengambil tas dan kembali lagi menemui teman-teman dan Kakaknya.
"Glen izin aja, 'ya? Nanti kita yang buat suratnya" ujar Risa.
"Gue sekolah aja" Risa menempelkan punggung tangannya di dahi Glen.
"Panas, Glen! Kemarin malam enggak, luh. Ke dokter aja, yuk, enggak usah sekolah" panik Risa.
"Panas dikit doang, nanti gue ketinggalan pelajaran, udah gue berangkat aja. Nanti anterin gue ke rumah, 'ya, Kak Ang?" Ang mengangguk.
"Ta-".
"Enggak apa-apa, Risa.. Panas dikit doang, nanti kalau gue udah nggak kuat, gue ke UKS" Risa menghela nafasnya dan mengangguk setuju.
...----------------...
Di sekolah, pelajaran berlangsung seperti biasanya. Risa berkali-kali menatap Glen untuk melihat kondisinya, setiap kali Risa menatap Glen, Glen akan membalasnya dengan senyuman tipis. Perlahan-lahan wajah Glen mulai memucat, tangannya yang sedang menulis mulai melemas. Bel istirahat pun berbunyi, Risa segera menghampiri tempat duduk Glen dan mengecek kondisinya lebih intens.
"Panas banget!! Ke UKS aja yuk sekarang" ujar Risa panik.
"Kuat jalan enggak, Glen?" tanya Zara.
Glen mengangguk lemas, dengan dibantu Risa dan Zara, Glen berjalan perlahan menuju UKS yang jaraknya lumayan jauh dari kelas mereka. Belum sampai di pertengahan jalan, tiba-tiba Glen jatuh pingsan.
Bersambung...