INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Main ke rumah mbak Sekar (Season 1)



Terdapat beberapa pesan dari mbak Sekar, saat aku buka. Pesan tersebut tertulis.


Mbak Sekar


💬Assalamualaikum


💬Apa kabar?


💬Kamu nggak jadi kesini ya?


Aku tiba-tiba merasa bersalah saat membaca pesan singkat ketiga.


Aku membalasnya.


Risa


💬Waalaikumsalam. Kabar aku baik mbak, mbak gimana?. Maaf ya mbak aku nggak jadi ikut acara tahlilan almarhum Ranres, beberapa hari yang lalu aku masuk rumah sakit.


Pesan langsung terbaca.


Mbak Sekar


💬Kabar mbak kurang baik karena nggak ketemu kamu. Owalah, masuk rumah sakit. Ya enggak apa-apa Ris, sekarang kamu udah baik beneran kan?.


Risa


💬Hahaha mbak bisa aja. Alhamdulillah kondisi Risa udah baik beneran mbak.


Mbak Sekar


💬Ya udah kalau gitu, kalau ada waktu main-main ya kesini. Mbak kangen nih, mbak ada acara mendadak, udah dulu ya chat-tannya. Assalamualaikum.


Risa


💬Iya mbak, waalaikumsalam.


Tepat selesai aku chat-an dengan mbak Sekar. Bus datang.


.


.


.


.


.


Sampainya dirumah aku bergegas mandi dan makan siang. Perutku terasa sudah mulai sakit.


Ku buka tudung saji diatas meja, nampak opor ayam dan telur balado yang masih mengepulkan asap. Aku segera mengambil piring dan sendok lalu mengisinya dengan nasi dan lauk. Aku memakannya dengan lahap hingga perutku terasa sakit saat digerakan.


"Nek, Ntar sore Risa mau main kerumah temen ya" izinku masih duduk di kursi.


"Iya! Pulang sebelum maghrib" sahut nenek dari dapur.


"Ok".


Dengan perut kekenyangan, aku berjalan menuju wastafel untuk mencuci piring.


"Nek! Dimana minyak kayu putihnya?" tanyaku sedikit memekik.


"Disamping tv!"


"Enggak ada".


"Coba cari dibuplet".


Aku mencari minyak kayu putih sesuai perintah nenek.


"Oh iya udah ada!" teriakku. Saat aku berdiri, aku melihat nenek sedang berdiri disampingku sambil menutupi telinganya.


"Eh nenek".


"Iya nenek, kamu itu nggak tahu apa lupa si kalo nenek udah tua, jangan teriak-teriak didekat nenek kalo nggak mau telinga nenek dipasangi erplug" ucapnya seraya duduk menyalakan televisi dan menikmati siaran.


"Risa kan nggak tahu kalo nenek ada disamping Risa, maaf nek" aku ikut duduk disamping nenek dan membuka sedikit baju yang menutupi perutku. Ku usap perut tersebut menggunakan kayu putih. Beberapa menit kemudian setelah mengusapkan minyak kayu putih pada perut, perutku mulai terasa lebih enak.


"Nenek maafin".


"Sponsbob aja nek" ucapku menyarankan.


"Apa tuh sponsbob?" tanya nenek sambil mengganti-ganti gelombang.


"Itu lhoh nek, spons yang hidup didalam laut, yang punya banyak lubang ditubuhnya, yang warna nya kuning, yang jadi sahabatnya petrik star si bintang laut, tetangganya squidward si gurita, koki nya tuan krab si kepiting, yang masak krabby patty" jelasku panjang lebar tentang sponsbob.


"Hahaha itu kok si spongebob bisa kebelah gitu?" tawa nenek sambil menunjuk spons kuning yang terbelah menjadi empat bagian.


"Sponsbob nek, bukan spongebob" koreksiku.


"Iya itu".


Aku mengambil hp dikamar dan membawanya menuju ruang keluarga. Nenek sudah mulai menyukai kartun sponsbob, sedangkan aku mulai bosan dengan kartun tersebut. Aku membuka grup indigo team dan memberi tahu bahwa aku akan pergi ke rumah mbak Sekar sore nanti. Zara, Glen dan yang lain memutuskan untuk ikut.


Sore harinya, aku sudah rapih dengan balutan celana jeans dan hodie abu-abu, tak lupa bandana dari Adam juga menghiasi kepalaku. Setelah teman-teman datang, aku pamit pada nenek. Perjalanan kali ini bukan menggunakan mobil indigo team, tapi mobil yang dipinjam Glen dari dealer mobil milik bunda nya dan mobil milik Adam. Laki-laki berada dimobil Adam sedangkan yang perempuan dimobil bunda Glen.


"Sejak kapan bunda kamu punya dealer Glen?" tanyaku penasaran.


"Belum lama, baru satu tahunan".


"Itu lama Glen".


Sesampainya didepan pagar rumah mbak Sekar, aku mengucapkan assalamualaikum yang bersahut-sahutan dengan yang lain sampai pintu terbuka.


"Ehh.. Risa dan kawan-kawan, mari masuk" ucap mbak Sekar setelah membuka pagar.


"Ada siapa dirumah mbak?" tanyaku.


"Nggak ada siapa-siapa Ris, ayah ibu lagi pergi" aku mengangguk lalu duduk lesehan dilantai beralaskan karpet beludru.


"Uuuuu... lembut banget" ucap Ais sambil menggosok-gosokkan pipinya ke karpet.


"Norak banget si lu! Emang dirumah lu nggak ada karpet begini?" geram Glen sambil mencubit pinggang Ais.


"Ada".


"Udahlah! Jangan norak deh, dirumah lo kan ada".


"Udah nggak papa Glen, kalau Ais suka ya biarin aja. Aku juga suka nggosok-nggosokin pipi aku ke karpet kok kalau lagi bosen" sergah mbak Sekar membuat Ais tersenyum penuh kemenangan.


"Maaf ya mba, temen aku emang gini" ucap Glen.


"Nggak papa. Oh iya, kalian tunggu bentar ya, mbak mau ambil camilan sama bikin minuman dulu" mbak Sekar berlalu ke dapur. Aku yang tidak ingin merepotkan mbak Sekar menyusulnya dan membantunya didapur.


"Makasih Ris".


"Iya mba" aku membawa nampan berisi minuman ke ruang tamu. Sedangkan camilannya nanti akan dibawa oleh mbak Sekar.


"Nanti malam ada pasar malam di pusat kota lhoh, kalian tahu nggak?" tanya mbak Sekar menatap kami semua.


"Tahu mbak, tadi dikasih tahu sama tetangga" sahut Zara.


"Nanti malam kalian kesana?" tanya nya lagi.


"Kalau gw si pasti, iya nggak Ai?" sahut Glen.


"Tadi kayak denger suara lalat, kamu denger nggak Ris? Mbak denger nggak?" aku dan mbak Sekar menggeleng bersamaan setelah saling tatap.


"Ini lhoh mba, Ris lalatnya" ucap Ais sambil menggerakan bola matanya ke kiri. Dimana Glen sedang duduk menatapnya kesal.


"Enak aja lo ngomongin gw lalat!" Glen menarik rambut Ais hingga Ais berteriak memenuhi ruang tamu.


"Udah! Jangan berisik! Sadar diri, kalo lagi dirumah orang" sela Zara.


Mbak Sekar hanya menggeleng melihat aksi Ais dan Glen.


"Jadi.. nanti malam kalian ke pasar malam nggak?" tanya mbak Sekar lagi.


"Iya" sahutku menatap yang lain yang langsung menganggukkan kepala.


"Wahhh kayaknya bakal seru nih, nanti malam ketemuan disana ya" kami semua mengangguk.


Waktu yang tersisa sebelum maghrib tiba kami habiskan untuk berbincang-bincang ringan dengan mbak Sekar. Ternyata dia orangnya asik.


"Mbak, kami pamit pulang dulu ya, sudah sore" pamitku dianggukan yang lain.


"Nggak nanti aja selesai maghrib?" tanya mbak Sekar seolah tak rela kami pulang.


"Aku udah janji sama nenek kalau mau pulang sebelum maghrib, nanti kan ketemu lagi di pasar malam" ucapku.


"Ya udah deh".


"Pamit dulu ya mba" mbak Sekar mengangguk.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.


Terima kasih.