
Happy Reading…!!!
Pov Anggres.
Aku melajukan mobilku menuju kampus. Aku ingin bertanya tentang Bay, siapa tahu ada yang tahu tentangnya. Aku tidak percaya begitu saja jika Bay sudah meninggal, karena tidak mungkin jika orang tua Bay atau teman-teman yang lain tidak mengabari hal itu kepadaku sedangkan kedua orang tua Bay dan kebanyakan teman-teman kampus tahu bahwa aku dan Bay adalah teman dekat bahkan bisa di bilang sahabat karib.
Aku memarkirkan mobilku di parkiran kampus khusus roda empat. Aku lalu turun dan berjalan menuju kelasku sambil membawa tas hitam polos.
"Hai.. Broo, baru dateng lo?" sapa Anji, dia adalah salah satu teman dekatku yang sangat menyebalkan. Dia sangat suka menggoda wanita-wanita yang ditemuinya dan memacarinya lalu ketika bosan dia akan meninggalkannya. Maka dari itu aku berusaha untuk menjauhkan Risa dan teman-teman perempuannya dari buaya darat sepertinya. Orang tidak bisa menduga, 'kan, kapan sifat asli manusia bahkan sahabat dekatnya keluar?
"Mata lo buta ya?! Ya iyalah gw baru dateng orang gw baru nyampe di sini!" ujarku kesal dengan sedikit meninggikan suara.
"Ya elah kaga usah ngegas juga kali." ia merengut dan memanyunkan bibirnya. Menjijikan sekali dia jika seperti itu.
Aku berjalan meninggalkannya, ia berteriak dan berjalan cepat untuk mengimbangi langkahku.
"Woi!! Ang!! Jalannya biasa aja kali, masuk kelasnya masih dua jam lagi." ujar Anji, aku lalu berhenti dan melihat jam tanganku. Sekarang pukul setengah sepuluh... Jika waktu masuk masih dua jam lagi berarti masuknya jam setengah dua belas? Syukurlah gw masih punya waktu buat nyelidikin tentang Bay.
Aku berjalan menuju kantin diikuti Anji di belakang yang berjalan sambil menyapa genit wanita-wanita yang ditemuinya.
Sesampainya di kantin, aku lalu memesan minuman untuk melepaskan dahaga.
"Gw gak dipesenin Ang?" tanya Anji, aku menyelis.
"Pesen aja sendiri!" sentakku.
Setelah minumanku datang, aku menatap serius Anji dan memulai pembicaraan. Mula-mula dia bersikap konyol, dengan menjulingkan matanya dan mengembalikannya seperti semula, mencubit pipinya dan menariknya perlahan lalu melepaskannya dengan mengucapkan "Bung... Bung... bung." berulang kali. Hingga akhirnya aku membentaknya karena tak tahan dengan tingkahnya.
"Anji serius dong!" keluhku. Dia mengangguk dan menyangga dagunnya dengan kedua telapak tangannya.
"Gw mau tanya.. Bay udah berangkat belum?"
"Belum." dia menggeleng.
Apa bener ya.. Pocong yang di kata Risa sama Glen tadi pagi itu Bay??
"Gw juga mau tanya itu sebenernya sama lo.. Ehhh ternyata lo juga tanya itu sama gw... Gw kira dia berangkat bareng lo, tapi ternyata enggak. Berarti dia gak berangkat, 'kan, karena dia itu bukan anak ngaret. Walaupun jam masuk kelas masih lama, tapi dia pasti datang dua jam sebelum kelas mulai." ujar Anji. Aku berfikir untuk mengajak Anji pergi kerumah Bay.
"Nji... Gimana kalo kita kerumah Bay aja buat mastiin keadaannya?" tanyaku, dia mengangguk setuju. Aku lalu berjalan dengannya menuju parkiran tempat dimana aku memarkirkan mobilku. Masih ada waktu... Karena jarak dari kampus sampai dengan rumah Bay itu tidak sampai satu km.
Setelah kami berdua masuk ke mobil dan memasang sabuk pengaman, aku segera melajukan mobilku menuju rumah Bay.
"Tumben lo khawatir sama dia?" tanya Anji memecahkan keheningan.
"Gw kapan si gak perhatian sama sahabat gw sendiri?" tanyaku balik, dia menengadah.
"Lo pernah gak khawatir sama gw lagi pas gw sakit."
"Alasannya adalah karna gw udah tau kalau lo sakitnya cuma pura-pura dan.. Emangnya lo sahabat gw?" dia menatapku.
"Jadi gw bukan sahabat lo?" aku mengendikan bahu. Dia seperti menahan air matanya, apa dia akan menangis. Padahal kan aku hanya ingin mengerjainya.
Ting tong... Ting tong... Ting tong... Ting tong... Ting tong... Ting tong... Ting tong... Ting tong... Ting tong... Ting tong.
Anji memencet bel berulang kali dengan gemas. Aku pun yang ikut gemas dengan tingkahnya menepuk keras tangan Anji hingga bel berbunyi terus menerus tak mau berhenti.
"Hayoooo lohhhhhh Ang.. Gak mau berhenti tuh belnya." Anji menunjuk-nunjukku setelah melepaskan pelukan tangannya pada bel tersebut.
"Apaan si!" aku menepis tangannya.
Disaat bel tersebut masih berbunyi, keluar seorang lelaki berpakaian putih dengan tongkat hitam ditangannya, dia juga mengenakan topi. Satpam?
Lelaki tersebut berjalan kearah kami berdua yang langsung berdiri sigap. Dia lalu membuka gerbang dan memukul bel tersebut hingga bertambah rusak dan sudah tidak terdengar lagi suaranya. Dia menatap kami berdua.
"Kalian itu kenapa gak sabaran banget sih?" tanyanya.
"Lah.. Orangnya aja nggak keluar-keluar, ya siapa juga yang sabar." sahut Anji.
"Kamu itu kalau ditanyain nyaut aja."
"Paman kan tanya."
"Paman!! Paman!! Sejak kepan saya nikah sama bibi kamu!??" mereka berdua malah lanjut berdebat.
"Udah stoppp!!!! Paman, om, mas, tante, apalah itu. Saya Anggres, temennya Bay. Om tahu, 'kan? Ya pastinya tau lah, ya. Jadi begini saya kesini mau bertemu dengan Bay, apa Bay nya ada dirumah?" aku melerai perdebatan mereka berdua dan bertanya pada pak satpam.
"Owh den Anggres to, iya den Bay nya ada dirumah tapi.. Dia lagi sedih." jawab pak satpam tersebut.
"Sedih? Sedih kenapa?" tanyaku.
"Sebaiknya den Anggres sama kamu lintah batu, masuk saja kedalam dan bertemu sendiri dengan den Bay." ucapnya sambil menunjuk Anji ketika mengucapkan kata lintah batu.
Kami berdua pun masuk dengan didampingi pak satpam, saat kami berada di ruang keluarga. Kami bertiga bertemu dengan kedua orang tua Bay.
"Anggres sama Anji, ya?" tanya ibu Bay sebelum pak satpam memperkenalkan kami berdua.
"Iya tante." sahutku dianggukan Anji.
"Kalian mau ketemu Bay?" kami mengangguk.
"Dia di kamar.. Tapi jika dia sudah menyuruh kalian untuk keluar, sebaiknya kalian keluar saja, ya." ucap ayah Bay. Aku dan Anji mengangguk walaupun bingung.
Kami berdua digiring kembali kekamar Bay, sesampainya di depan pintu kamar Bay. Pak satpam tersebut meninggalkan kami berdua setelah mengatakan bahwa aku dan Anji datang untuk bertemu dengan Bay dan diizinkan masuk oleh Bay. Aku dan Anji masuk dan menutup kembali pintu kamar. Bay dirumah? Bahkan dia sedang duduk di balkon? Lalu pocong yang dikatakan oleh Glen?? Nama mereka berdua sama.
Kami berdua saling tatap sebelum berjalan menuju Bay yang sedang duduk di balkon menatap langit.
"Duduk." kami berdua duduk di bibir ranjangnya. Seprei kasur nya terasa dingin seolah tak tersentuh beberapa waktu.
"Ada apa sama elo?" tanyaku perlahan. Dia berbalik.
Bersambung...