
Aku tarik slang yang biasanya digunakan untuk menyirami tanaman sampai air dari slang tersebut membasahi mawar putih pemberian seorang kakek di taman beberapa hari yang lalu.
"Sehat-sehat ya Mawar sayang, tumbuh yang lebat, yang banyak daun dan juga bunga nya, duri nya juga di banyakin aja. Biar tangan orang-orang usil yang berusaha mengambil mu dariku tidak bisa melakukannya" gumam ku senang seraya mengamati pohon mawar ku yang mulai menampakkan kuncup mawar putih.
"Seger nggak?" ku terus sirami pohon mawar ku hingga ia basah sepenuh nya dan berganti ke pohon yang lain.
Saat sedang asik-asik nya menyirami, kantung kemih ku terasa penuh. Aku segera menaruh slang dan mematikan kran lalu berlari menuju kamar mandi di lantai satu.
Selesai menuntaskan hajat, aku berniat kembali lagi ke halaman untuk melanjutkan kegiatan. Tapi, langkahku terhenti tatkala mendengar suara kran air yang menyala di kamar nenek sedangkan pintu kamar nya tertutup. Kran air nyala? Nenek sedang di kamar mandi kah? Tapi kok tidak terdengar suara gebyuran dan semacamnya? Apa mungkin sudah selesai mandi nya dan ia lupa mematikan kran nya?. Segala macam dugaan memenuhi ruang kepalaku hingga aku memutuskan untuk memastikan dengan mengetuk pintu kamar nenek.
"Nek!".
Tidak ada sahutan. Sunyi.
"Nek! Nenek!".
Masih sama.
"Nek! Buka pintu nya nek! Nenek baik-baik aja kan?".
Lagi-lagi hasil sama yang aku dapatkan. Tidak ada sahutan nenek dari dalam kamar nya, hanya suara kran air yang masih menyala. Perasaanku mulai tak tenang, lagi-lagi pikiran negatif berhasil mengambil alih pikiranku.
"Ada apa Ris?" aku menoleh ke sumber suara. Dimana ibu sedang mengernyit menatapku yang berdiri dengan bantuan ayah.
"Nenek! Nenek nggak nyaut-nyaut waktu aku ketuk pintu nya!" ucap ku panik.
"Mungkin nenek lagi tidur pulas" sahut ayah.
"Tidur pulas? Mana mungkin, dengar itu. Suara kran yang menyala deras" sangkalku.
"Tenang Ris, jangan panik, coba ketuk lagi" ucap ibu. Aku menurutinya dan mengetuk pintu sekali lagi. Hasil nya sama lagi, aku memandang ibu dan ayah yang saling pandang sambil mengernyit.
Ibu maju dan mencoba mengetuk pintu. Hasil nya sama lagi...
"Ada yang nggak beres" gumam ayah. Aku mengangguk setuju.
"Coba buka pintu nya" ucap ayah. Aku menuruti perintahnya. Gagang pintu sudah ku genggam dan siap ku tekan ke bawah untuk membuka pintu.
"Nggak bisa" keluhku panik, air mata mulai menggenangi pelupuk mata. Ku coba lagi dan lagi membuka pintu tersebut dengan menggerak-gerakan gagangnya.
"Sepertinya dikunci dari dalam, biasanya nenek tidak melakukan ini. Coba kamu pergi ke buplet, terus cari kunci cadangan di laci nya" ujar ibu mulai sama panik nya denganku. Aku bergegas pergi menuju buplet dan membuka-tutup sejumlah laci yang ada. Hingga mataku menatap gerombolan kunci yang diikat menjadi satu dengan lonceng sapi yang menjadi bandul nya.
"Ketemu!" seruku senang lalu berlari menuju ayah dan ibu.
Ku serahkan kunci tersebut kepada ibu yang langsung menerimanya dan memilih salah satu kunci. Tangannya mulai gemetaran. Satu persatu kunci ia coba masukkan ke dalam lubang pintu, namun belum ada yang berhasil membuka pintu nya.
"Coba ayah, ibu tangannya gemetaran gitu" ibu memberikan kunci nya kepada ayah yang langsung mencoba salah satu kunci ke lubang pintu.
Klek..
Kami bertiga tersenyum senang penuh syukur, akhirnya kunci bisa dibuka. Ayah lalu mengantongi kunci-kunci tersebut dan membuka pintu. Tidak ada nenek diatas ranjang ataupun di kursi goyang. Aku menilik pintu kamar mandi yang tertutup.
Aku lantas menghampirinya dan mencoba membuka pintu kamar mandi. Sial...! Susah lagi. Entah dikunci, kekunci atau dikunciin. Atau malah macet, pintu kamar mandi tak dapat dibuka.
"Susah lagi yah" keluhku.
Ayah menghampiriku dan mencoba membuka pintu tersebut.
"Iya susah".
"Coba pakai kunci-kunci yang tadi" usul ibu. Ayah mengambil kunci-kunci tadi dan mencoba memasukannya ke dalam lubang pintu. Nihil! Tidak ada yang dapat membuka pintu tersebut.
"Coba kamu cari!" ucap ibu padaku.
"Kelamaan bu, Risa takut ada apa-apa. Dobrak saja yah.." sahutku. Ayah mengangguk setuju dan langsung bersiap-siap untuk mendobrak pintu. Setelah pintu didobrak, pintu yang terbuka. Nampak nenek bersender di tembok dengan darah yang menempel di sana, mengalir di lantai bersamaan dengan air kran dan juga di kepala nenek yang rambut nya sudah berwarna putih.
Setelah di bawa keluar kamar. Nenek mencegahku saat akan melakukan panggilan pada pihak ambulans. Ia menyuruhku untuk mendekat, ia memelukku. Hawa dingin langsung merasuk ke tubuhku.
"Salim nak" ucap nenek lirih. Sangat lirih.
Aku menyalami tangannya bersamaan dengan bulir bening dari mata yang mulai mengalir. Aku cium punggung tangannya cukup lama. Karena usapan lembut di rambutku, aku mendongak dan melepaskan cium ku pada punggung tangan nenek yang terasa begitu dingin.
Ibu dan ayah secara bergantian mengambil tangan nenek dan mencium punggung tangannya.
"Ang.. Anggres.." aku segera menelfon kak Ang dan menyuruhnya pulang. Aku memberi tahu di telfon bahwa nenek menginginkan kak Ang. Kak Ang awalnya bingung, tapi karena aku bentak. Akhirnya ia menurut dan bergegas pulang. Setelah kak Ang pulang, ia langsung bersimpuh disisiku dan menangis memeluk nenek.
"Salim Ang.." kak Ang mencium punggung tangan nenek lumayan lama. Sepertiku.
"Ang, Ris kalian yang akur ya, jaga ibu dan ayah. Nenek sudah dipanggil sama Allah untuk kembali ke sisi nya. Anggres sama Risa belajar yang rajin ya..? Buat nenek bahagia. Kejar selalu impian kalian, nenek akan mendukung nya selagi itu positif. Kamu War, jangan suka judes sama suami kamu, kamu juga Dan, jangan suka marah-marah sama istri kamu. Kalian saling menjaga ya.. dan kasih semangat dalam hal-hal positif. Saling mengingatkan jika ada yang salah belok dalam perjalanan hidup, nenek mau tidur dulu..." ujar nenek lirih, ia kemudian tersenyum dan menutup matanya. Ayah mengecek nadi dan leher nya.
"Innalillahi wa innaa ilaihi raajiuun" ucap ayah lemah. Aku, ibu, dan kak Ang turut mengucapkan kalimat tersebut. Aku dan kak Ang langsung menangis sekencang-kencang nya sambil memeluk jenazah nenek.
Dengan tangan bergetar, aku menghubungi teman-teman. Aku masih menangis sesegukan. Hingga voice note yang aku ucapkan menjadi terdengar tidak jelas. Semua teman-teman memberikan respon yang sama, tersentak tidak percaya.
Beberapa jam setelah siaran kematian nenek, rumah ini mulai penuh dengan karangan bunga dari teman atau rekan kerja ayah dan ibu di kantor. Kursi-kursi plastik berwarna hijau berjejer memenuhi halaman dan teras rumah. Teman-teman dan para guru di sekolah juga sudah mulai berdatangan.
Setelah jenazah nenek dimakamkan. Ia dibaringkan diatas tikar. Tubuhnya ditutupi dengan jarik coklat bermotif entah apa itu aku tidak tahu, yang jelas ukirannya tertata rapi dan indah di pandang mata. Sedangkan wajahnya di tutupi kain transparan berwarna putih.
Prosesi pemakaman berjalan lancar, hingga jenazah nenek yang sudah berbalut kain kafan dimasukkan ke dalam keranda yang sudah dikerudungkan kain hijau dengan tulisan arab disisinya dan rangkaian bunga-bunga diatasnya. Kak Ang, kak Anji, kak Bay bersama ayah menggotong keranda yang berisikan jenazah nenek menuju TPU komplek yang jaraknya lumayan jauh.
Aku dan kawan-kawan serta para guru dan ibu-ibu komplek mengikuti dari belakang. Ibu tidak ikut, karena ia sedang haid.
Liang lahat sudah terlihat menganga lumayan dalam siap diisi jenazah nenek. Perlahan tapi pasti, jenazah nenek di keluarkan dari keranda di taruh di dalam liang. Kayu-kayu mulai dipasang disusul tanah yang akan menimbun kayu tersebut dan juga sebuah papan nisan putih. Aku, kak Ang dan ayah menabur bunga mulai dari kelopak mawar diatas gundukan tanah yang masih basah.
"Bau apa nih?".
"Iya, bau apa ya?".
"Wangi banget".
"Jangan-jangan ini aroma yang ditimbulkan dari si jenazah karena jenazah dulu sewaktu hidup sering berbuat baik".
"Kayaknya deh".
"Wangi banget ya".
Semerbak wangi yang begitu menyengat menyeruak masuk ke lubang hidungku. Membuat orang-orang mulai berbicara dengan bisik-bisik.
"Sudah-sudah, mari kita do'akan beliau. Semoga diampuni segala dosa-dosa nya dan dilapangkan kubur nya" ucap pak ustadz memimpin doa.
Selesai do'a, semuanya bubar termasuk pak ustadz yang memimpin do'a tadi. Aku, kak Ang, ayah dan teman-teman serta para guru masih berada disekitar makam.
"Pulang yuk Ris, Ang" ajak ayah.
"Risa masih ingin disini" sahutku.
"Tapi-".
"Risa masih ingin disini" sergah ku mengulangi kalimat awal.
"Ya sudah kalau begitu, ayah sama yang lain pulang dulu. Sebaiknya kamu cepat pulang" aku diam tidak membalas ucapan ayah. Ayah, teman-teman, para guru dan kak Ang mulai berjalan meninggalkan pemakaman, kecuali dia.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Terima kasih.
Ini hari senin lhoh guyss, dukungan vote nya jangan lupa yaaa... biar thor +semangat😁❣️