
"Udahlah, Da.. kamu nggak usah cemburu sama kakak kamu".
"Gimana nggak cemburu coba? Orang kamu tanya-tanya dia dimana, emangnya kamu pernah tanya aku dimana?" kesal Adam. Dimanyunkanlah bibirnya itu.
"Buat apa aku tanya-tanya kamu ada dimana, karena tanpa aku tanya pun aku sudah tahu kamu ada dimana" ucapku santai.
"Emang dimana?" tanya Adam. Aku menatapnya lalu menempelkan ujung jari telunjukku tepat ditengah-tengah dada.
"Disini, dihati aku" aku tersenyum membuat Adam mengembangkan seyum lebar.
Adam turun dari kasur dan menghampiriku. Ia duduk disampingku yang sudah merubah posisi dari berbaring menjadi duduk.
Tiba-tiba, Adam menempelkan bibirnya tepat di pipiku kananku. Ia lalu melepaskannya namun bibirnya masih terasa sangat dekat dengan pipiku. Ia berbisik disamping ditelingaku.
"Kamu juga akan selalu ada dihati aku. Maaf atas sikap cemburu ku tadi, San..." aku menyentuh kedua pundak Adam lalu mendorongnya pelan. Aku merinding seketika setelah ia berbisik pelan didramatisir.
"Hiiii... merinding aku" aku menggerakan tubuh dan kepalaku cepat seperti seekor bebek yang baru keluar dari air.
"Kamu kira aku setan, huh" aku menghela nafas.
"Nggak usah marah, nggak ada guna nya" aku beranjak turun dari kasur untuk menyusul bu Nem didapur.
"Kamu mau kemana?" aku berhenti dan putar balik.
"Dapur, bantuin bu Nem".
"Kamu jaga Riskha aja ya.." Adam mengangguk. Aku melanjutkan jalan menuju dapur.
***
Pov Author.
Selama Risa didapur membantu bu Nem, selama itu juga Adam tiduran diatas kasur menemani Riskha.
Tiba-tiba, Riskha terbangun lalu menangis kencang. Adam langsung kelabakkan saat Riskha menangis. Sebisa mungkin ia berusaha menenangkan Riskha.
"Aduh... kok nggak mau diem sih.. kamu kenapa sih?" gerutu Adam. Ia akhirnya memutuskan untuk keluar kamar menemui bu Nem dengan berlari. Ia mengatakkan bahwa setelah Riskha bangun ia langsung menangis.
"Mungkin dia lapar" sahut Risa. Adam mengendikan bahunya. Bu Nem langsung membuatkan sebotol susu yang tadi dibeli sebelum pulang. Setelah selesai membuat susu, ia pergi ke kamar diikuti Adam dan Risa dibelakang.
Bu Nem langsung menghampiri Riskha dan menggendongnya. Menimangnya seraya meminumkan susu. Tapi, Riskha menolak. Ia tarik susu botol tersebut lalu menangis lagi.
Tanpa mereka sadari, bahwa yang membuat Riskha menangis adalah adanya makhluk serupa mbak kun yang merayap dilangit-langit kamar. Makhluk tersebut menggerakan kepalanya membuat rambut panjangnya bergoyang-goyang. Rambutnya sangat panjang, bahkan sampai menyentuh lantai. Risa yang melihat itu langsung angkat bicara.
"Bu Nem, itu rambutnya kena lantai".
Bu Nem menoleh ke belakang, depan, dan sisi kanan serta kiri. Ia mengernyit bingung masih dengan menimang Riskha. Begitupun dengan Adam, ia juga mengernyit. Bukan karena tidak melihat adanya rambut tersebut, melainkan karena menurutnya rambut bu Nem pendek dan juga dikucir. Sampai sepinggang saja tidak rambut bu Nem mana mungkin bisa mengenai lantai. Lagi pun, jika diperhatikan rambut itu terlihat kotor dan kumal. Mana mungkin rambut bu Nem seperti itu. Adam mulai menyisir pandangan dari ujung rambut tersebut sampai pertengahan.
"Perasaan nggak enah nih" batin Adam.
Ia kembali menyisir pandangan pada rambut tersebut. Ia seketika terjengkit kaget sampai reflek mundur.
"Ada apa Dam?" tanya Risa panik. Ia masih mengira bahwa rambut yang mengenai lantai tersebut adalah rambut bu Nem.
Adam tidak menjawab. Ia bergerak maju secara perlahan dengan ekspresi menahan kaget. Pandangan matanya ia buat seolah-olah ia belum menyadari kehadiran makhluk rambut panjang tersebut. Jika kalian tahu makhluk yang rambutnya amat sangat panjang, yang bersarang dirambut Gaeun Lee. Sahabat Hari Koo di Shinbi House. Kira-kira seperti itulah rambutnya.
Ia merayap di langit-langit kamar bu Nem juga dengan bantuan rambutnya yang bercabang panjang.
Segera Adam menarik tangan bu Nem. Saat setetes cairan kental hitam pekat jatuh dari mulut makhluk tersebut. Cairan tersebut mengenai lantai lalu pudar dan hilang tak berbekas. Adam membawa bu Nem berdiri disamping Risa.
Gerutu Adam didalam hatinya seraya mengamati pergerakan makhluk rambut panjang tersebut. Tidak terlalu mengerikan wajah dan kondisi tubuh makhluk tersebut, hanya saja.. rambutnya yang panjang kumal dan kotor serta dari mulutnya yang selalu mengeluarkan cairan hitam pekat. Membuat siapa saja enggan melihatnya.
"Dam.. gimana nih" Adam menoleh ke arah Risa yang sedang memutar-mutar gagang pintu.
"Kenapa?".
"Nggak bisa dibuka".
"Ada apa ini?" tanya bu Nem gelisah. Riskha yang ada digendongannya semakin keras menangis.
"San.." Adam mengisyaratkan lewat mata pada Risa untuk membuat pingsan sementara bu Nem dan Riskha. Akan terlalu ribet jika sampai bu Nem menyaksikan ini semua. Cukup lama bagi Risa untuk memingsankan bu Nem dan Riskha. Kefokusannya berkali-kali terganggu karena lesatan sinar dan cairan hitam pekat yang berasal dari Adam dan makhluk rambut panjang itu.
"Aduh... maaf ya Riskha... maaf banget... maafin kakak" Risa bersiap-siap dengan telapak tangan kanannya.
Plak!
Huaaaa...!!
Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi kanan Riskha. Bukannya pingsan, Riskha malah semakin keras menangis. Bu Nem sudah mampu Risa pingsankan. Tapi si Riskha cukup merepotkan dan membuat kewalahan serta kebingungan melanda sosok Risa.
"Pakai cara lembut, San.. jangan ditampar, bukannya pingsan malah tambah nangis Riskha nya" ujar Adam.
"Iya, maaf.. salah server" Risa menyentuh kening Riskha dan berusaha fokus sekuat tenaga. Hingga akhirnya, ia pun bisa fokus dan membuat Riskha tidur. Pingsan lebih tepatnya. Bu Nem dan Riskha hanya bisa bangun jika Risa sudah mengizinkan.
Salah satu cabang rambut panjang makhluk yang masih asik ditempatnya, bergerak menutupi pintu dan jendela. Dari luar terdengar gedoran pintu dan teriakan kak Rasya.
Di luar pintu. Kak Rasya berdiri khawatir seraya menggedor-gedor pintu bersama seorang lelaki tua yang memakai sorban dikepalanya dan memegang tasbih di tangan kanannya.
"Tenang, den Rasya.. saya akan mencoba" lelaki tua yang memakai sorban itu menempelkan telapak tangannya yang berkalung tasbih kayu.
Pintu seketika terbuka. Rambut panjang kumal nan kotor si makhluk tadi patah berkeping-keping. Lelaki tua bersorban yang kerap disapa kyai Mur itu membulatkan matanya.
"Astagfirullah.."
Kyai Mur segera merapalkan do'a-do'a yang membuat makhluk tersebut berteriak kencang lalu hilang. Kak Rasya berlari menghampiri adiknya lalu memeluknya erat. Diputarlah tubuh Adam sampai kak Rasya merasa puas karena tidak ada luka apa-apa ditubuh Adam.
"Gw nggak papa kak" Adam mendorong tubuh kakaknya.
Kyai Mur mengajak Adam, Risa, dan kak Rasya keluar. Ia sudah membuat pagar ghaib di kamar bu Nem. Di luar, ia mengatakkan bahwa Adam dan Risa sedang dalam bahaya. Banyak orang mengincar nyawanya. Apalagi Risa memegang buku batu suci yang menjadi titik mula nyawa mereka diincar. Tapi disisi lain, mereka juga mendapatkan banyak bantuan. Ada banyak orang dan makhluk ghaib yang membantu, menjaga, dan melindungi mereka berdua.
Kegelisahan diwajah Risa sudah tidak dapat lagi ia pendam. Ia khawatir akan nyawanya yang menjadi incaran. Ia belum ingin mati sebelum bisa membahagiakan kedua orang tua dan kakak angkatnya.
"Kalian tenang saja, berdo'a lah... ada banyak orang dan makhluk ghaib yang menjaga kalian".
Setelah itu kyai Mur pamit pulang, begitupun dengan Risa. Adam mengantar Risa pulang lalu pulang kerumah dan menjelaskan tentang art baru dan makhluk tadi.
Setelah dirasa kakaknya paham. Ia pergi ke kamar bu Nem untuk menghapus ingatan tentang kejadian tadi, begitupun dengan Riskha.
Pov end Author.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Terima kasih.