INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Makam Gisa (Season 1)



Setelah teman-teman dan kak Ang datang, ayah ibu serta nenek juga sudah siap. Kami semua berangkat. Aku, ayah, ibu, nenek, Zara, Glen, Ais dan Chalis menaiki mobil kak Ang sedangkan yang lain menaiki mobil Indigo Team.


Perjalanan memakan waktu cukup lama. Kadang mobil berhenti untuk berganti supir begitupun supir mobil Indigo Team.


Setelah sampai dipintu masuk komplek yang Adam beri tahu. Kami semua turun dan memutuskan untuk berjalan, mobil diparkirkan di tempat parkir khusus yang sudah disediakan.


"Rumah nya Gisa dimana Dam?" tanyaku menatapnya sekilas.


"Dulu nomor 55".


Kami terus berjalan menyusuri jalanan komplek yang mulus tanpa ada lubang dan semacamnya. Rumah-rumah yang berjejer di sisi kanan dan kiri kebanyakan tingkat dua, tatanan pohon hias di teras atau halaman rumah juga tertata rapi entah dari letak posisi nya atau dari bentuk pohonnya. Rumah-rumah yang berjejer di komplek ini, walaupun ada yang tidak bertingkat. Tapi terlihat sangat megah dan luas. Warna cat yang dipilih juga kebanyakan hitam atau abu-abu dengan perpaduan warna lain yang membuat rumah tersebut tampak minimalis namun elegan.


"Ini rumahnya, nomor 55" Adam berhenti lalu menunjuk sebuah rumah berlantai dua dengan warna abu-abu dibagian depannya.


Aku membuka pagar yang tingginya mungkin dua kali lipat tinggi tubuhku.


Kriet...


"Auhhh... ngilu" keluh Glen, Ais, dan Chalis. Aku meringis mendengar deritan pagar ini saat dibuka, mereka bertiga menutup telinga nya sambil meringis juga.


"Assalamualaikum!!" teriakku lantang sambil mengetuk pintu.


"Assalamualaikum..." teriak Ais.


"Waalaikumsalam" pintu terbuka setelah terdengar sahutan salamku dan juga Ais. Nampak wanita seusia ibu yang memakai kardigan rajut dan celana kulot putih menatap kami semua dengan mata sayu nya. Ia menatapku dan memperhatikanku secara detail. Pelupuk matanya tiba-tiba tergenangi air, ia memelukku sambil menyebutkan nama 'Gisa'. Apa dia menyangka bahwa aku Gisa?.


"Gisa! Ini kamu sayang? Kamu kenapa baru pulang? Mama nungguin kamu pulang! Kamu kangen sama kamu!".


"E-eee ta-tante" sapaku ragu. Wanita yang memelukku lantas melepaskan pelukannya dan menatapku.


"Ada apa sayang? Kamu laper ya?" aku menggeleng kaku lalu menatap kawan-kawan, ayah, ibu, nenek serta kak Ang.


"Sa-saya bukan Gisa tante" wanita dihadapanku mengernyit.


"Kamu Gisa, anak mama. Kamu emang Gisa".


Ia memutar pandangan dan berhenti menatap Adam.


"Adam?" Adam mengangguk.


"Ini Gisa kan?" Adam menggeleng.


"Bagaimana bisa? Ini wajah Gisa! Kamu jangan ngada-ngada Dam!" bentak wanita ini.


"Tante Via.. Gisa sudah meninggal, dia kakaknya Gisa. Namanya Risa" jelas Adam pelan.


"Meninggal? Gisa meninggal? Jangan sembarangan ngomong kamu Dam! Gisa nggak akan ninggalin tante! Ini bukti nya! Dia ada disini!" wanita yang dipanggil tante Via oleh Adam terus meninggikan suaranya.


"Tapi tan-.."


"Nggak ada tapi-tapian! Dia emang Gisa, anakku" potong tante Via membentak.


Seorang lelaki muda seusia kak Ang keluar dari rumah.


"Maaf, kalian siapa ya?" tanyanya. Ia menatapku dalam sesaat sebelum akhirnya memutar pandangan.


"Saya Risa, ini teman-teman saya, ini ibu, ayah, dan nenek saya. Saya datang kemari ingin menjelaskan sesuatu dan mencari keberadaan makam adik saya, Gisa" jelasku membuat lelaki ini menatapku lekat.


"Maksudnya bagaimana ya?".


"Oh maaf, mari masuk dulu, tidak enak bicara sambil berdiri seperti ini apalagi di luar" kami semua masuk ke dalam. Tante Via memeluk ku dan mencium ku terus menerus. Matanya berbinar senang dengan kehadiranku.


"Silahkan duduk, saya akan membuat minuman sebentar di dapur" ucap lelaki tadi. Aku mengangguk melepas kepergiannya.


"Jadi... kamu kakak nya Gisa?" aku mengangguk.


"Bagaimana saya bisa percaya?" aku menghela nafas.


"Apa ucapan saya terlihat tidak meyakinkan?" dia terdiam.


"Dia memang benar kakak nya Gisa kak. Gisa dan Risa terpisah saat di pasar malam" sahut Adam.


"Pasar malam?" Adam mengangguk.


"Apa Gisa pernah mengatakan namanya?" tanyaku yang membuat lelaki dihadapanku ini mengangguk.


"Siapa?".


"Gisa Ayu Pratama".


"Pratama adalah marga yang diberikan oleh ibu Mawar dan Ayah Zidan saat Gisa masih dalam asuhan mereka, aku dan Gisa diberikan marga yang sama karena kami saudara, lebih tepatnya kembar. Tapi aku lahir duluan" jelasku.


Lelaki dihadapanku mengangguk-anggukan kepalanya "saya pertama kali pertemu dengan Gisa juga saat dipasar malam. Baiklah.. saya akan mencoba percaya dengan kalian, tapi jika kalian berbohong dan hanya mengaku-aku...".


"Kami siap menerima konsekuensi nya" potong ku dan Adam bersama.


"Lalu sekarang apa?" tanya nya.


"Tolong tunjukkan dimana letak makam Gisa" pintakku.


Lelaki tersebut mengangguk dan bersedia membawa kami ke TPU dimana jenazah Gisa dimakamkan.


"Kami sekeluarga bersama polisi dan tim forensik masih melakukan pencarian. Bahkan kami juga memanggil detektif untuk membantu. Tapi, sampai saat ini belum ada kabar apa-apa" ujar sang lelaki.


Aku, ayah, ibu, nenek dan kawan-kawan hanya terdiam memandang nisan almarhumah Gisa. Aku menaburkan bunga lalu berdoa.


Selesai berziarah. Aku dan yang lain pergi menuju wc umum untuk berwudhu.


"Nama kakak Reja" ucap lelaki tadi seraya mengulurkan tangannya. Aku menyambut uluran tangannya.


"Arisa".


"Nama kita hampir sama kak" seloroh Reza.


"Siapa namamu?" tanya kak Reja.


"Reza".


"Wahh.. iya, jangan-jangan kita jo-".


"Jangan semuanya disangkut-pautkan dengan jodoh, mana mau aku jadi jodoh nya kak Reja. Kita kan sama-sama cowok" potong Reza kesal.


"Hehe".


"Kak...".


Bersambung...


Author beberapa hari yang lalu bikin cerpen, cerpennya author ikut serta kan ke lomba cerpen baru-bari ini di desa berkabut. Buat yang minat, silahkan mampir. Pencet hati dan tulis komentar nya jangan lupa ya...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.


Terima kasih.