INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Kematian Ayu (Season 1)



Aku bangun dan menatap balkon. Matahari sudah mulai memunculkan sinar orens indahnya. Sudah sore ternyata. Lala pun sudah tidak ada di sisiku, begitupun Anggana. Kemana mereka?.


"Ris! Temen-temen di ruang tamu" seru Lala di luar.


"Aku akan pergi mandi".


"Baiklah, gw turun dulu ya" aku menjawab 'iya' dari dalam. Setelah itu pergi mandi.


Selepas mandi dan mengenakan pakaian. Aku turun ke bawah, tepatnya ke ruang tamu.


"Langsung berangkat?" tanyaku saat masih berada di tangga.


"Langsung aja, ini udah jam lima soalnya" sahut Zara.


"Kalau begitu, aku pamit ke kamar sebentar. Mau ambil tas" aku berlari menaiki tangga menuju kamar dan bergegas mengambil tas dan mengecek apakah semua barang yang aku butuhkan, ada di sana. Setelah di cek, aku membawa tas tersebut dan turun menemui teman-teman.


"La! Kamu ikut tidak?" tanyaku.


"Gw nggak ikut Ris, mau nemenin nenek sama Anggana".


"Jaga nenek baik-baik ya, kalo ada apa-apa langsung kabarin aku aja" pesanku yang langsung mendapat anggukan dari Lala yang sedang menggendong Anggana.


"Nenek mana?" tanyaku lagi sambil memutar netra mencari nenek.


"Ada apa nak?" suara lemah lembut itu bertanya menyahut pertanyaanku.


"Nek, Risa ada acara sama temen di luar. Risa nanti nginep di rumahnya temen Risa, kalau ayah sama ibu pulang dan tanya dimana Risa, nenek jawab aja kalo Risa nginep di rumah temen. Risa pergi dulu ya nek, Assalamualaikum" ucapku kemudian menyalami tangan rentanya dan pergi ke luar untuk mengenakan sepatu.


"Hati-hati di jalan nak. Untuk yang bawa mobil, nyetirnya jangan meleng" pesan nenek.


"Iya nek" sahut kami semua.


"Hati-hati ya, semoga lancar semua" aku mengangguk. Lalu pergi menyusul teman-teman yang sudah masuk ke mobil.


"Zara udah cerita semuanya ke gw. Nanti kita amanin dulu pembantu ibu nya Ayu, setelah itu kita pancing ibu nya Ayu. Maaf Ris, kita harus jadiin lo umpan" ucap Adam membuatku tersentak.


"Apa kalian sudah memikirkannya dengan benar?" tanyaku ragu. Aku tidak apa-apa jika di jadikan umpan, hanya saja... aku takut jika gagal. Aku tidak ingin mati karena jadi tumbal.


"Sudah, kamu percaya aja sama kita. Nanti kita pakai jasa polisi lagi untuk lebih aman. Setelah kita mengamankan pembantu ibu nya Ayu, kamu masuk ke ruangan yang biasanya ibu nya Ayu gunain untuk ritual. Nanti kita sergap ibu nya Ayu dari belakang" jelas Zara.


Sesampainya di depan pagar rumah Ayu, pagar langsung di buka oleh dua satpam yang berjaga. Mobil di lajukan masuk ke halaman. Setelah itu, kami semua turun dari mobil.


"Masuk" ucap Ayu. Kami semua menurut dan mengikuti langkahnya. Kami semua di bawa masuk ke lantai dua.


"Bagian kanan untuk laki-laki, bagian kiri untuk perempuan" ucap Ayu. Aku merasa sedikit aneh pada Ayu, kenapa wajahnya pucat? Gaya bicaranya pun terkesan kaku jelas. Ayu adalah seseorang yang konyol, bicaranya lemes dan pudar. Tidak terlalu jelas, dia juga suka berbicara yang tidak perlu. Tapi Ayu yang sekarang aku lihat berbeda sekali dari Ayu yang tadi aku jumpai di sekolah.


"Silahkan masuk. Kalian lihat-lihat dulu tempatnya, jika tidak suka dan tidak nyaman dengan satu tempat. Kalian boleh memilih tempat yang lain. Gw pergi ke bawah dulu, gw akan menyiapkan makan malam buat kalian semua" lanjut Ayu. Aku harus hati-hati dengan nya. Sepertinya dia bukan Ayu, tapi sosok yang menyamar menjadi Ayu.


"Makasih ya yu" ucap Ais. Ayu mengangguk kemudian pergi ke bawah.


"Kalian lihat sesuatu yang aneh kan?" ucap kami semua bersamaan. Bahkan Ais yang sempat mengucapkan terima kasih pun ikut bertanya.


"Kalian ngerasain?" tanyaku. Mereka semua mengangguk serempak.


"Kita harus hati-hati, sepertinya ada kebocoran di sini" ucap Rey.


"Benar" sahutku setuju.


"Kalau begitu sekarang bagaimana?" tanyaku khawatir. Jika sudah begini, rencana pasti akan di rubah kan?.


"Ada perubahan rencana?" tanyaku.


"Gw ke kamar mandi dulu ya" izin Glen. Di lantai dua ini, memang tersedia dua kamar mandi.


"Ayu... hiks... Ayu!!" teriak Glen dengan menahan suaranya supaya tidak terdengar begitu jelas.


"Ada apa sama Ayu?" tanyaku panik.


"Di kamar mandi!" kami semua pergi ke kamar mandi dan terkejut bukan main saat melihat Ayu tergantung di langit-langit dengan sower disisi tali yang menggantung Ayu masih menyala. Air dari sower tersebut membasahi seluruh tubuh Ayu hingga membuat tubuh Ayu pucat sepucat-pucatnya.


Aku terduduk lemas menatap Ayu yang masih tergantung.


"Turunkan dia" titahku.


Setelah Ayu di turunkan. Aku mengecek nadinya, berharap ada keajaiban bahwa Ayu masih bisa di selamatkan. Namun sayang, keajaiban itu tidak berpihak padanya. Ayu sudah tiada.


Aku menangis sesegukan sambil memeluk tubuh dingin Ayu.


"Kita harus segera selesaikan ini supaya dapat dengan cepat menguburkan jenazah Ayu" ucap Adam.


"Biasanya, di ruangan ritual itu ada sebuah media yang di gunakan untuk membangkitkan makhluk yang meminta tumbal. Kita harus hancurkan tempat tersebut supaya makhluk tersebut tidak bisa bangkit" ujar Ais.


"Benar. Kalau begitu, kita cari tempat ritual tersebut. Jenazah Ayu, kita taruh di salah satu kamar terlebih dahulu" sahutku mencoba tegar melihat jenazah Ayu yang sangat pucat.


Setelah itu, kami berdua turun ke lantai satu dan berpencar untuk mencari tempat ritual tersebut. Aku yang katanya Ayu adalah target tumbal malam ini, di temani Zara, Adam dan Wisnu dalam berpencar. Sedangkan Ais dan Glen berdua saja.


"Coba kita ke sana" ucapku sambil menunjuk sebuah pintu di bawah tangga.


Aku memanggil Ais dan Glen sebelum membuka pintu tersebut.


Krietttt....


"Aih ngilu" gumam Ais.


Setelah pintu tersebut terbuka lebar. Hanya nampak kegelapan di dalam sana.


"Ada senter nggak ya?" gumamku.


"Nih" ucap Glen sambil menyodorkan sebuah senter kepadaku.


"Dapet dari mana?".


"Di lantai dua, banyak tadi".


Aku menerima senter tersebut dan menyalakannya kemudian mengarahkannya pada kegelapan di dalam sana. Sebuah tangga berkarat nampak dalam jangkauan mataku. Sepertinya ini ruang bawah tanah.


Aku mencoba menuruni tangga tersebut dengan hati-hati karena kondisi tangga yang sudah berkarat dan berlumut.


Setelah aku turun dan sampai di bawah dengan selamat, teman-temanku ikut turun menyusulku.


"Pintu?" gumamku saat melihat sebuah pintu dengan engsel berwarna emas dan daun pintu kayu di hadapanku.


Aku berjalan mendekati pintu tersebut dan membukanya.


"Altar?" gumamku terkejut saat melihat sebuah meja yang di lapisi kain merah dan berbagai macam benda di atasnya. Seperti kendi, air yang bertabur bunga mawar. Sedangkan di samping meja tersebut, ada sebuah kasur berukuran kecil yang hanya muat untuk satu orang dewasa. Kasur tersebut juga di selimuti kain merah.


"Akhirnya.... orang yang tante tunggu-tunggu datang juga" ucap seseorang di belakang kami.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.