
Happy Reading...
Hari demi hari berlalu begitu cepatnya, tak terasa waktu sudah semakin mendekati awal masuk sekolah kembali.
Di rumah Chalis. Rumah megah nan mewah itu kini berisi ketegangan di ruang keluarga. Di mana Chalis, kedua orang tua serta kakeknya duduk berkumpul.
"Lala udah muak sama semua ini, sekarang mama cerita sama Lala. Apa hubungan mama sama Rio".
"Mama nggak ada hubungan apa-apa sama dia, nak".
"Jangan bohong, ma. Nambahin dosa".
Mama Chalis hanya bisa menghela nafas berat. Mungkin hari ini, semuanya harus tahu semua kejahatannya di masa lalu.
"Tapi, mama nggak mau buat kamu terluka dengan cerita ini, nak".
"Lala sudah terluka, ma. Mama nggak mau cerita sama Lala dan menyembunyikan semuanya selama ini, mama nggak bertanggung jawab, gimana pun mama udah berbuat salah. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab, ma".
Mama Chalis memang belum bercerita apapun padanya pasal hubungan mamanya dengan Rio, namun Chalis sudah menduga semuanya dan yakin betul bahwa dugaannya benar adanya.
"Mama... Akan cerita".
Flasback on.
Waktu itu, di gudang pengolahan kentang yang letaknya tidak jauh dari sebuah villa. Mama Chalis berdiri di dekat kuali yang sedang dalam mode on memasak kentang-kentang yang sudah dikupas, bersama anak tirinya ia pergi ke sana.
"Kamu hanya akan membuat ayah menderita, sayang.. Mama ingin buat kamu melupakan semua rasa sakit kamu, dan pergi untuk selamanya dari hadapan kami" mama Chalis entah dengan jiwa waras atau tidak memasukkan anak tirinya itu ke dalam kuali yang sedang panas-panasnya seperti memasukkan kentang. Rio, nama anak tirinya, ia meronta meminta tolong seraya merintih kesakitan. Kulit tubuh dan wajahnya sudah melepuh. Mama Chalis tersenyum miring menyaksikan hal tersebut dan meninggalkannya begitu saja.
Setelah itu ia mengumumkan bahwa gudang akan vakum selama beberapa bulan, setelah gudang beberapa bulan vakum, ia membukanya lagi dan berkata pada semua karyawannya untuk tidak menggunakan kuali utama. Kemudian ia pergi meninggalkan villa.
Flasback off.
Air mata Chalis terjun dengan derasnya sampai sesegukan.
"Ma-mama ha-harus tang-tanggung ja-wab.." mama Chalis mengangguk lalu bergerak untuk memeluk anaknya yang langsung menghindar dan pergi meninggalkannya. Chalis pergi dengan perasaan campur aduk menuju markas team Indigo untuk menenangkan diri. Setelah tenang ia kemudian menghubungi teman-temannya dan menceritakkan semuanya.
Sedangkan di rumah, mama Chalis juga sedang menangis menyesali perbuatannya. Ia memutuskan untuk pergi bersama suaminya ke villa, sedangkan kakeknya ia titipkan pada tetangga. Ia membiarkan dulu Chalis untuk menenangkan diri setelah dirayu oleh suaminya.
"Assalamu'alaikum, kek Subroto!!".
Pintu villa terbuka, nampak wanita cantik berhijab yang memandang sinis ke arah mama Chalis. Mama Chalis langsung bersujud dengan memeluk kedua kaki wanita berhijab tersebut yang tak lain adalah Vlin. Mama Chalis terisak meminta maaf. Vlin pun menahan tangisnya dan berusaha untuk menahan kobaran api di dalam dadanya, ia meraih kedua pundak mama Chalis dan membawanya berdiri.
"Mama minta maaf, Lin.. Mama minta maaf.. Mama akan bertanggung jawab, Lin..".
"Terlambat, ma".
"Kenapa baru sekarang minta maaf, ma? Mama tahu nggak? Karena perbuatan mama... Papa setres lalu meninggal! Kakek dan aku juga sama setresnya! Kita nggak nyangka, wanita yang kami anggap bidadari kedua setelah bunda Vlin, ternyata pembunuh adik kandung Vlin!!!" Vlin jatuh terduduk sambil menangis terisak.
"Emang nggak ada bidadari kedua setelah bunda Vlin! Cuma dia wanita yang memang menyayangi kami setulus hati! Pergi, ma!".
"Lin... Jangan gitu, sayang.. Bicara baik-baik ya" kakek Subroto membantu Vlin berdiri dan menenangkannya.
"Kek..." Vlin memeluk kakeknya erat masih dengan menangis terisak.
"Kamu masuk dulu ya, tenangin diri kamu, biar kakek yang bicara" Vlin mengangguk dan meninggalkan kakeknya bersama mama Chalis dan suaminya.
"Mau kamu apa, Lis?" tanya kakek Subroto.
"Aku kesini mau minta maaf, kek. Aku mau tanggung jawab" mama Chalis, atau yang kerap yang disapa Lisna itu kembali bersujud, namun kini di depan kaki kakek Subroto.
"Apa kamu yakin dengan itu? Kamu mendekam di penjara, Lis" Lisna mengangguk yakin. Kakek Subroto menghela nafas berat lalu membawa Lisna dan suaminya ke gudang pengolahan kentang.
Di depan kuali utama yang dulu menjadi kuali pengolahan kentang, Rio berdiri menatap mama tiri dan kakeknya serta seorang lelaki yang berdiri di samping mama tirinya. Air matanya luruh begitu saja menatap mama tirinya yang menangis sampai sesegukan meminta maaf di depan kuali, lebih tepatnya di depan Rio tanpa ia sadari.
Di markas team Indigo. Chalis kini berada di pelukan Glen, tangisnya sudah mereda. Ia memutuskan untuk pulang diikuti teman-temannya, sesampainya di rumah ia tak melihat ada kedua orang tua ataupun kakeknya, ia pun pergi ke rumah tetangga dan menemukan kakeknya disana.
"Mama sama papa ke mana, kek?" tanya Chalis lembut.
"Tadi katanya mau ke... Vi.. lla" sahut kakek yang sembari mengingat-ingat.
"Villa?" kakek mengangguk. Chalis pun bergegas ke rumahnya dan mengambil kunci mobil, ia lemparkan kunci mobil tersebut ke arah Zara.
"Lo setir".
Zara menerima kunci tersebut lalu masuk ke mobil dan duduk dibelakang kemudi, Chalis duduk disampingnya, sedangkan Glen, Ais, dan Risa duduk di kursi kedua dan ketiga. Untuk Adam dkk, mereka menaiki mobil yang dipakai untuk ke rumah Chalis tadi.
Jam demi jam berlalu, dengan kekuatan yang lumayan tinggi kedua mobil tersebut berpacu menyalip mobil demi mobil di jalan raya. Untungnya tidak ada razia selama perjalanan berlangsung, hingga akhirnya mereka tiba di villa lebih cepat dari sebelumnya. Chalis bergegas menghampiri Vlin yang sedang duduk termenung di teraa villa.
"Kak.." sapa Chalis pelan, Vlin menoleh dan menatap tajam Chalis.
"Kamu anaknya mama Lisna?" Chalis mengangguk.
"Anak pembunuh! Ngapain kamu ke sini?!" bentak Vlin. Chalis tersentak dan pelupuk matanya mulai tergenangi air.
"Pergi kamu! Dasar anak pembunuh!".
"Halah..."
"Lin! Jaga emosi kamu!" tiba-tiba dari belakang kakek Subroto datang dan membentak Vlin.
Vlin mendengus kesal lalu berjalan masuk ke dalam villa.
"Maafin cucu saya ya, nak" ujar kakek Subroto.
Chalis hanya tersenyum menanggapi.
Risa mengernyit menatap ke belakang Lisna. Ia kemudian menghampirinya dan memanggil Rio.
"Kamu bisa bantu aku? Aku ingin berbicara dengan mama?" Risa nampak berfikir sebentar.
"Wudhu gih" ujarnya kemudian seraya memerintahkan empat kawan laki-lakinya. Setelah mereka berwudhu, Risa kemudian memfokuskan diri untuk mempertemukan Lisna dengan Rio.
"Rio...!!" Lisna bergegas memeluk Rio tanpa memperdulikan kondisi tubuhnya, tiba-tiba saja kondisi tubuh Rio yang semula penuh luka melepuh kini terhapus begitu saja, seolah luntur. Ia kini memakai pakaian serba putih, ia tersenyum ke arah Lisna.
"Mama minta maaf, Ri... Huhuhuhu... Mama minta maaf, mama menyesal, karena harta mama kalap".
"Yang penting mama udah ngakuin kesalahan mama, Rio maafin mama" Rio membalas pelukan Lisna kemudian melerainya.
"Aku ingin bicara dengan kakakku, apa kakak keberatan?" tanya Rio seraya menatap Risa.
"Enggak, silahkan. Kami masih kuat, omongkan apa yang perlu".
Rio mengangguk dan berjalan diikuti Risa yang langsung menyentuh tangan Vlin untuk mempertemukannya dengan Rio, sedangkan Lisna sudah berada di dalam pelukan suaminya.
"Kakak minta maaf, kakak belum bisa jadi kakak yang baik untuk kamu. Kakak nggak bisa jagain kamu, maafin kakak dek" Rio tersenyum manis sambil mengangguk.
"Kakak jangan nangis deh, nanti imutnya ilang" Vlin sedikit cemberut menerima respon adiknya.
"Hehe.. Okh-okh, Rio maafin, kalau gitu Rio pergi dulu ya.. Semoga di atas sana Rio bisa bertemu ayah bunda" Vlin mengangguk lalu melepas genggaman tangannya dari tangan Rio.
Pertemuan antar dunia itupun selesai. Risa akhirnya jatuh terduduk karena kelaparan dan kehausan.
"Terima kasih, kak atas bantuannya. Maaf udah ngerepotin" Risa tersenyum sambil mengangguk.
"Sama-sama, tenang-tenang ya disana" lirih Risa karena sudah hampir tidak bisa lagi menahan rasa sakit diperutnya. Rio memeluk Risa lalu pamit.
"Tadi katanya baik-baik aja, giliran udah selesai malah mau pingsan. Masih bisa nahan nggak? Kita cari tempat makan disini" seru Adam seraya membantu Risa berdiri.
"Waktu tadi kan dibantu kalian, waktu udah selesai kalian udah nggak bantuin ya udah nggak baik-baik aja. Ngomong-ngomong emang ada tempat makan disini?" Risa celingukan memutar netra menatap sekitar villa.
"Nanti dicari".
"Kalian laper ya? Apalagi Risa, kakak tadi udah masak, makan bareng yuk" ajak Vlin.
"Ngerepotin nggak, kak?" tanya Reza.
"Enggak kok, kakak malah seneng bisa makan rame-rame, yuk".
Mereka pun saling tatap sebentar dan memutuskan untuk ikut Vlin masuk ke villa, namun tidak dengan Chalis dan kedua orang tuanya. Vlin yang tadi mengundur diri menjadi berjalan dibelakang anak-anak menoleh ke belakang, ia menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Mari makan" ajaknya lembut.
Chalis hanya diam. Lisna dan suaminya pun sama responnya dengan Chalis.
"Maafkan Lin sudah kasar dengan mama, maafkan kakak sudah kasar sama kamu Chalis. Kakak tadi terbawa emosi".
"Kakak maafin aku?" tanya Chalis.
"Kamu nggak salah apa-apa".
"Masuk yuk, kita makan".
Chalis mulai beranjak dan menghampiri Vlin, ia kemudian memeluk Vlin dan berjalan masuk ke villa mendahuluinya.
"Mama minta maaf, Lin".
"Rio saja bisa maafin mama, masa Lin enggak".
"Masuk yuk, ma, om, kita makan".
Lisna dan suaminya berjalan beriringan masuk ke dalam villa menyusul yang lain. Acara makan-makan berlangsung selama beberapa waktu, setelah ashar akhirnya mereka pamit pulang.
Bersambung...
Baca cerpen author yuk 'Dia Idolaku'.
Thank You All....
❣️❣️❣️❣️