
Istirahat pertama. Aku, Glen dan Zara pergi ke ruang ganti. Ais dan Lala tidak ikut karena lapar dan ingin makan di kantin. Sedangkan untuk yang laki-laki memang sengaja tidak aku izinkan untuk ikut.
"Tunggu bentar ya.." aku masuk ke ruang ganti yang tempo hari menjadi ruang ganti aku, Lala dan Zara.
"Dimana ya?" gumamku sambil mencari-cari kalung liontin Raihan.
"Eum... kayaknya ini" aku mencoba meraih sebuah kalung ditempat dulu Raihan muncul.
"Kok ada kucing nya?" gumamku heran.
"Cing" sapaku pada kucing orens tersebut. Sang kucing menoleh menatapku.
"Lepas cing, ini punya temen aku" aku memegang tubuh si kucing dan menariknya supaya kalung Raihan dapat terlepas dari gigitannya.
"Ngeong... grrrr".
"Ehh.. cing, cing jangan gitu dong cing. Ini kalung nya punya Raihan, Raihan itu temen aku. Mohon pengertiannya ya cing. Ini kalung nya mau dikasih ke pacarnya cing. Plisss ya cing" gumamku memelas berharap kucing tersebut dapat memahami ucapanku dan melepaskan kalungnya.
"Ris! Lo lama banget sih?! Lo baik-baik aja kan?!" seru Glen dari luar.
"Iya Glen! Bentar! Ini ada kucing! Aku baik-baik aja kok" balasku memekik.
"Kucing apa?!".
Aku membawa kucing tersebut keluar dan menunjukannya pada Zara dan Glen.
"Nggak mau dia lepas kalungnya" keluhku kesal.
"Ngeong.. ngeong ngeong grrr ngeong ngeong!!" Glen menirukan suara kucing tanpa intonasi alias datar sambil melakukan gerakan aneh yang tidak aku pahami sama sekali.
"Ngapain si Glen?" tanyaku heran.
"Nyoba komunikasi sama si kucing" ia melanjutkan lagi kegiatannya.
"Nggak bakal ada guna nya kalau begitu Glen, bawa aja kucing nya terus masukin tas buat umpetin kalung nya karena si kucing nggak mau lepas kalung itu" usul Zara.
"Tas gw? Kalau dia pup gimana?" tanya Glen setelah menghentikkan aksi konyol dan tidak berfaedah nya.
"Pempesin aja kalo gitu, beli sana di koperasi" sahut Zara santai kemudian berjalan menghampiri kucing tersebut dan mengelus bulu nya.
"Koperasi mana ada jual pempes!" seru Glen kesal.
"Waktu istirahat kayaknya masih ada sedikit, kamu ke warung sana buat beli pempes" ujarku.
"Kelamaan, nih udah bisa dilepas kalungnya" ucap Zara sambil mengangkat kalung tersebut dan menunjukannya pada kami berdua.
"Ni kucing kita bawa aja nanti kerumah, siapa tahu dia temennya si Raihan. Nanti kita lepas aja nggak usah dibawa masuk kelas, terus pas pulang kita panggil dia" ujar Glen lalu menyerahkan kalung tersebut padaku. Aku menerimanya dan memasukkannya ke saku baju.
"Nah bener tuh, aku setuju" seruku.
"Tadi gw denger Glen ngikutin suara kucing, Anggana kesini?" Lala tiba-tiba datang dan bertanya disusul Ais yang sibuk memakan cilok.
"Kamu nggak lihat ada kucing orens disini La?" tanyaku. Lala menggeleng.
"Emang ada kucing disini?" tanya nya.
"Ada, warna orens" sahut Zara.
"Enggak tuh, enggak lihat gw".
"Berarti itu kucing arwah" sahut Ais.
"Serem nggak kucing nya?" tanya Lala.
"Enggak" sahutku, Glen, Zara dan Lala bersamaan sambil menggeleng berkali-kali.
"Kalian kenapa kesini?" tanya Glen.
"Wahh.... kita dikhawatirin Ris, Glen" seru Zara dengan senyum mengembang dan alis mengangkat namun kesannya lebih ke datar.
Bel masuk berbunyi. Kami semua kembali ke kelas bersama kucing orens yang tidak mau lepas dari Zara.
Pelajaran demi pelajaran aku lewati dengan baik, hingga bel pulang berbunyi. Aku dan anak-anak lain berhamburan keluar kelas setelah menyalami bu guru. Aku dan kawan-kawan berkumpul didepan gerbang sekolah.
"Kita mau kemana nih? Markas atau rumah Risa?" tanya Reza.
"Ke markas aja, sekarang Raihan tinggal disana" sahutku.
Semuanya mengangguk setuju dan memutuskan untuk pulang sendiri-sendiri. Aku menaiki angkutan umum sendiri juga. Sesampainya dirumah aku segera mandi dan makan siang lalu pergi tidur.
Sore hari nya aku bersiap dan melajukan sepeda motor ku ke markas. Kalung liontin Raihan sudah aku masukkan ke dalam tas selempang miniku.
Setelah sampai didepan gerbang, aku turun untuk membuka nya dan memasukkan motorku. Ternyata markas masih sepi, teman-teman belum ada yang datang.
"Hihihihhihi... ih... kamu jeng.. kalo ngomong bisa aja".
"Hihihihi... masa sih".
"Iya jeng".
Omongan dan tawa lima tante kun yang berkumpul di pohon samping markas menjadi lagu soreku dimarkas.
"Tante.." sapaku pada mereka berlima.
"Ehhh... Risa, kok sendiri? Mana yang lain?" tanya tante Putri, ia adalah ketua perkumpulan kunti sekomplek, ia juga satu-satu nya kunti yang paling dekat denganku.
"Siapa dia jeng?" tanya temannya sambil mencolek bahu tante Putri.
"Dia anakku..." mataku membola "maaf-maaf bukan anakku maksudnya, dia manusia yang dekat denganku. Namanya Risa".
"Cantik jeng, jadiin mantu aja" aku mengernyit mendengar ucapan teman tante Putri yang lain.
"Dia udah punya pacar jeng-jeng.." sahut tante Putri sambil tersenyum menatapku. Pacar? Aku punya pacar? Siapa?.
"Kamu kok sendiri Ris?" tanya tante Putri mengulangi pertanyaannya tadi.
"Iya tante, kayaknya Risa kegasikan datangnya".
"Tante sama temen-temen ngganggu kamu nggak nih?" tanya tante Putri.
"Enggak tante, enggak ngganggu, lanjut aja".
"Baiklah kalau begitu" mereka berlima melanjutkan lagi kegiatannya.
"Ris!" seru seseorang dibelakangku. Tunggu.. tunggu.. seseorang? Sepertinya sehantu lebih tepat untuk pemilik suara yang memanggilku tadi.
Aku menoleh.
"Ini Han kalung nya" aku mengambil kalung liontin dan menyerahkannya pada Raihan.
"Kenapa dikasih aku? Aku ya enggak bisa megang lah, kamu pegang aja. Nanti kamu kasih ke Ana saat aku udah ngomong".
Aku mengangguk lalu menyimpan lagi kalung tersebut kedalam tas.
"Risa !! We come !!".
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Author selalu menerima bunga dan kopi dari kalian.
Terima kasih.