INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Perayaan (Season 2)



Happy reading...


Ibu Mawar, ayah Zidan, dan kak Ang sangat bahagia setelah membaca isi raport Risa. Pemiliknya pun tak kalah senangnya. Usahanya belajar selama ini untuk mengikuti ulangan akhir semester tak sia-sia. Ia mendapatkan peringat satu dikelas dan berhasil naik ke kelas sebelas. Senyum bangga dan bahagia tak dapat lagi disembunyikan oleh keempatnya. Mereka berpelukan senang. Sesenang ini? Tentu! Karena ini kali pertamanya Risa mendapatkan peringkat satu, dari sd sampai kelas sembilan smp, ia selalu mendapatkan peringkat tiga atau dua.


"Nggak nyangka aku, orang yang jarang merhatiin penjelasan kakaknya tentang pelajaran sekolah bisa juga dapat peringkat satu, wow..." ejek kak Ang.


"Ihh... apaan sih kak, aku kan belajar dengan baik disekolah" sahut Risa kesal.


"Kita rayain keberhasilan kamu bagaimana? Biar tambah rame, gimana kalo kita undang keluarga besar temen-temen team indigo kamu" usul ibu.


"Setuju!" sahut Risa, kak Ang, dan ayah.


Risa langsung menyampaikan usulan ibu digrup team indigo. Kini, Chalis atau yang biasa disapa Lala sudah masuk team tersebut setelah membuka mata batinnya.


Flasback on.


"Gue takut, nggak jadi deh" ucap Chalis mulai gemetaran. Ia dan yang lain kini berada didepan rumah Adam. Tantenya Adam yang bernama tante Mirana kebetulan malam ini sedang main kerumah keponakan angkatnya itu.


"Lo dulu bilang kalau lo udah siap, kenapa sekarang malah mlempem gini si" sahut Glen.


"Berubah pikiran deh gue".


"Tapi, kalo gue nggak buka mata batin, gue nggak bisa masuk team indigo" Chalis terlihat berfikir. Dirinya memang masih suka plin-plan.


"Gue nggak maksa lo mau buka mata batin atau nggak, itu terserah lo. Kalau lo mau buka mata batin hanya dengan alasan ingin selalu bareng sama kita, tanpa lo buka mata batin dan masuk indigo team, lo bakal selalu bareng kita" ujar Adam.


"Bukan itu, alasan gue masuk indigo team, karena siapa tahu dengan kemampuan indra keenam gue yang dibuka, gue bisa bantu orang lain dan juga kalian" sahut Chalis.


"Kalau lo emang niat bantuin orang, tanpa ada kemampuan indigo pun, lo masih tetap bisa ngelakuin itu, contohnya dia" Adam menunjuk ke luar rumahnya, disebrang rumahnya lebih tepatnya. Dimana seorang lelaki muda berusia sekitar sembilan belas tahunan sedang berdiri sedikit membungkuk disamping lelaki tua renta yang memegang tongkat untuk mengimbangi tinggi badannya. Ia memberikan sebuah sterofom kepada kakek tersebut lalu pergi setelah sang kakek mengucapkan terima kasih dan membantu menyebrangkan kakek tersebut.


"Gimana lo bisa tahu kalau dia nggak punya kemampuan indra keenam?" tanya Chalis.


"Kalau dia punya indra keenam, mungkin dia akan berfikir dua kali untuk memberikan sterofom itu pada kakek tersebut. Karena kakek tersebut bukan manusia, tapi makhluk halus" sahut Wisnu.


"Kalau kakek itu hantu, terus pemuda itu nggak punya indra keenam, kok dia bisa ngasih sterofom itu".


"Apa gue begitu juga? Maksud gue, apa kakek tersebut menampakkan dirinya untuk gue lihat, gue kan nggak punya indra keenam".


"Bukan, tapi karena aku memegang pundakmu" celetuk Risa yang berdiri seraya menempelkan kedua telapak tangannya diatas pundak Chalis.


"Jadi gimana?" tanya Ais.


Chalis diam berfikir cukup lama.


"Ok! Gue udah mutusin, kalo gue bakal tetap buka mata batin, apapun resikonya. Siapa tahu, gue bisa lebih berguna jika indra keenam gue dibuka" Risa dan yang lain saling tatap sebentar.


"Baiklah. Ayo masuk, tante gue udah nunggu didalem" ajak Adam.


Mereka pun masuk, dan prosesi demi prosesi dilakukan selama beberapa jam. Hingga akhirnya, tepat pada pukul sepuluh malam, tante Mirana berhasil membuka indra keenam Chalis.


"Coba buka matamu, nak" ucap tante Mirana. Chalis mengikuti instruksi terakhir tante Mirana secara perlahan. Ia memutar pandangan ke seluruh sudut ruang tamu itu.


"Kok nggak ada hantu, tan?" tanya Chalis.


"Karena rumah ini diberi pagar ghaib, nak. Jadi tidak ada hantu dan semacamnya yang bisa masuk, mereka menunggumu untuk dilihat wujudnya diluar" Chalis berdiri dan pergi menuju pintu utama, ia langsung terjengkit kaget hingga mundur dan jatuh terduduk. Mulai dari mbak kun sampai dengan sosok tak jelas bentukannya, ia lihat.


"Ihhh.. serem.." gumam Chalis.


Flasback off.


Malamnya, semua anggota keluarga Risa dan team indigo berkumpul dihalaman belakang. Berbagai peralatan BBQ sudah siap didepan tenda. Malam ini, dihalaman belakang rumah Risa, memang dibuat seperti sedang camping. Anggana juga ikut turut serta memeriahkan malam ini.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.


Thank you All...


❣️❣️❣️❣️