
Happy Reading...!!!
Aku terbangun dan nampak beberapa orang sedang menatapku khawatir. Aku memutar netraku dan melihat sahabat-sahabatku ikut melihatku dengan tatapan khawatir. Bagaimana mereka bisa sampai di sini?
Aku mengerjap dan memegang kepalaku yang terasa begitu pusing. Dengan banyak usaha dan di bantu beberapa orang, aku terduduk lalu bersandar pada dinding.
"Ughhhh." rintihku. Aku lalu menggeleng berkali-lali untuk menghilangkan pusing.
"Jangan lakukan itu! Itu malah akan membuatmu bertambah pusing nanti ketika berhenti menggeleng." ujar seseorang. Suara Adam? Kenapa Adam rasanya selalu ada di mana-mana si?
"Kalian kok bisa ada disini?" tanyaku sambil menatap Ais dan yang lain.
"Ibu ini tadi telfon aku dan dia bilang kalo kamu hidungnya keluar darah setelah ambruk makannya kita kesini." ujar Ais sambil menunjuk ibu Ranres.
"Mimisan dan pingsan lagi?" gumamku, aku menggeleng lesu. Darahku bisa habis jika terus-terusan mimisan.
"Lalu bagaimana dengan lima pemuda yang membantuku tadi, Bu?" tanyaku menatap Ib Ranres.
"Keadaan mereka baik-baik saja, tadi izin pulang. Mereka kasih salam buat kamu, Nak."sahutnya. Aku mengangguk.
"Eummm Ibu kenal mereka atau mungkin salah satu dari mereka?" tanyaku penuh harap. Aku belum mengucapkan terima kasih pada mereka, itu buat aku ngerasa nggak enak juga nggak nyaman.
"Ibu kenal sama yang badannya tinggi terus wajahnya datar, kamu ngeh kan?" aku mengangguk "Ibu punya nomornya, kamu mau?" aku kembali mengangguk. Aku lalu mengambil hp-ku dan menyerahkannya kepada ibu Ranres.
Ibu Ranres kemudian mengambil hpku dan menyimpan nomor pemuda tadi "Namanya siapa bu?"
"Arjana." sahutnya sambil memberikan kembali hpku.
Aku menatap layar hp-ku dan tertera nama Arjana di sana. Aku mengangguk dan menyimpan kembali hp-ku.
"Terima kasih." ucapku, ibu Ranres mengangguk.
Aku melihat tatapan Rayyen yang sedikit ambigu kepadaku. Ada apa ya? Tapi, jika di perhatikan bukan hanya dia yang menatapku ambigu, teman-teman yang lain juga begitu.
Aku lalu berdiri di ikuti oleh teman-temanku. Ibu Ranres dan suaminya pun ikut berdiri untuk mengantarkanku kedepan."Kalau begitu Risa dan teman-teman pamit undur diri. Risa sama temen-temen ikut berduka cita atas kejadian yang menimpa Ibu sekeluarga, semoga jasadnya segera di temukan, kami akan membantu do'a. Ibu yang kuat, ya? Yang sabar."
Ibu Ranres mengangguk seraya tersenyum sendu, dari dalam rumah keluar Kakak Ranres yang lalu berdiri di dekat Bapaknya "Ibu berterima kasih banyak, ya, Nak Risa atas bantuan, Nak Risa dan teman-teman. Jangan lupa main-main ke sini kalau ada waktu."
"Iya, Bu. Oh iya, Kak, boleh Risa minta kontaknya Kakak?" Kakak Ranres mengangguk dan menuliskan nomornya di hp-ku.
"Terima kasih, Kak, kami pamit dulu. Assalamu'alaikum."
Aku pun keluar halaman dan berdiri di dekat sebuah mobil besar berwarna hitam.
"Lo ikut mobil aja, biar gw yang bawa motor lo." Adam berjalan menuju kearah motorku dan menyalakannya. Aku tersenyum kearah orang tua serta kakak Ranres lalu masuk kemobil bersama yang lain. Reyyan sebagai alih kemudi membunyikan klaksonnya lalu memutar mobil dan melaju pergi mengikuti Adam yang mengendarai motorku.
Sesampainya di rumah aku meminta mereka untuk mampir sebentar. Namun Zara, Reyyan, serta Adam tidak bisa mampir karena katanya ada urusan. Sedangkan Glen dan Ais dia katanya akan nginap di rumahku.
"Ya udah hati-hati di jalan, ya." kataku mengingatkan, mereka bertiga mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Mereka lalu masuk kemobil dan pergi.
"Yuk masuk." Glen dan Ais mengangguk, mereka lalu ikut masuk bersamaku kedalam.
"Assalamu'alaikum, Risa pulang!" pekiku sambil berjalan mencari orang rumah.
"Wa'alaikumsalam, Ibu didapur, Nak!" sahut ibu. Aku lalu mengajak Ais dan Glen pergi kedapur.
"Lagi ngapain, Bu?" tanyaku sambil menilik kegiatan ibu.
"Nyuci buah." ia memutar kepalanya dan berteriak senang ketika melihat dua temanku.
"Ya ampun!! Ternyata ada Ais dan Glen juga, ya." mereka berdua mengangguk dan mengambil tangan ibu, menyalaminya.
"Iya tante, kita mau nginep. Boleh?"tanya Glen. Woahhhhh sopan banget dia.
"Ya boleh dong." sahut ibu.
"Kalian udah makan belum?" tanya Ibu sambil menarik keduanya untuk duduk di kursi meja makan. Jika ada temanku yang lama tidak datang, anak sendiri pasti akan terlupakan.
"Kami sudah makan tante." sahut Ais.
"Owh begitu, ya sudah kalau kalian laper kalian masak aja sendiri ya. Sayur mayur ada di kulkas. Oh, mana belanjaan Ibu, Ris?" aku menyerahkan dua kantung kresek hitam pada Ibu yang langsung menerimanya dan membukanya di atas meja dapur.
"Mau ke mana, Bu?" tanyaku saat melihat Ibu hendak pergi ke luar.
"Mau metik sayur." jawabnya seraya berlalu.
"Metik sayur kok malem-malem, Bu? Nanti ketemu se-..... Se-serangga, Bu!"
"Ris, ikut metik sayuran, yuk." ajak Ais.
"Enggak mau." tolakku mentah-mentah.
"Ayolah Ris....."
"No! Aku mau mandi. Ayo Glen ke kamar." Glen mengikutiku seraya menjulurkan lidahnya meledek Ais.
"Ayolah Riss.... Sekali ajaaa...."
"Aku bilang enggak mau, ya enggak mau, badanku lengket, mau mandi. Mau lo gw panggilin Ana!?" mereka berdua terkesiap.
"Ana?" tegas mereka berdua.
"Gw lagi?" gumam Glen.
Aku lagi-lagi terkesiap ketika mereka berdua mengucapkan kata Ana dan Gw. Siapa Ana? Dan kenapa aku bisa mengucapkan dua gaya bahasa dan gaya bahasa gw-elo sering kali aku ucapkan tanpa sadar bukan dengan sadar, berarti itu reflek dong.
"Ah bodo amat lah!" aku menggaruk kepalaku sedikit frustasi dan berjalan cepat menuju kamar. Kudengar percakapan Glen dan Ais yang perlahan memudar.
"Nggak jadi ikut berkebun lo Ai?" tanya Glen.
"Nggak lah, kalian nggak mau." sahutnya.
Aku mandi dan berganti pakaian begitupun Ais dan Glen, mereka memakai pakaianku malam ini.
"Baju kamu bagus-bagus, Ris." puji Ais sambil memutar dirinya di hadapan cermin.
"Thanks." aku tengkurep di atas kasur dan memainkan hp-ku. Aku coba-coba untuk mengechat kontak Arjana yang di berikan ibu Ranres tadi. Aku menulis kata "Assalamu'alaikum." lalu mengirimnya.
Aku menunggu chat tersebut terbaca namun hasilnya nihil sedari di kirim tadi hanya centang satu dan belum berubah.
"Chat siapa kamu, Ris?" tanya Ais.
"Arjana."
Tok! Tok! Tok!
"Makan dulu, Ris, Ai, Glen! Ibu tunggu di bawah."
"Ya, Bu." sahutku.
"Masak apa nih?" tanyaku sambil mencium aroma-aroma enak masakan yang sudah tersanding di atas meja makan.
"Ayam goreng, cah kangkung, sambel tomat, sama ikan cue goreng."
"Wahhh... Enak-enak nih makanannya." seruku senang
"Wahhhhh enak nih makanannya." seru Kak Anggres sama sepertiku.
"Ayo makan." ajak Ibi, kami semua lalu duduk dibangku masing-masing dan makan bersama.
Setelah selesai makan, kami semua berkumpul diruang keluarga sambil menonton siaran televisi.
"Yah!" panggilku, ia pun menengok kearahku.
"Tanah yang sekarang berdiri markas IT, itu seriusan tanah Ayah, 'kan?" tanyaku dan ia mengangguk.
"Tanah itu pernah buat ngubur jenazah nggak?" Ayah langsung terkesiap dan menatapku ambigu.
"Itu tanah dulunya mau buat kebun Anggur, mana ada si buat nguburin jenazah. Ya enggak lah." sahutnya.
"Emang kenapa, Nak?" tanya Ibu menatapku meminta penjelasan.
"Tadi pagi waktu di markas kita semua, 'kan lagi kumpul-kumpul di halaman belakang, nah lagi pas duduk di halaman belakang aku lihat ada makhluk semacam Miss K nunjuk-nunjuk bagian dalam kamar mandi. Biasanya, 'kan kalau begitu dia lagi meminta pertolongan pada manusia. Dan biasanya arwah begitu muncul karena raganya atau benda-benda miliknya belum tersimpan dengan baik." tuturku.
"Lalu?" tanya ayah nampak benar-benar tidak tertarik dengan masalah ini.
"Ya maksud aku mungkin aja raganya atau benda-benda miliknya ada yang terkubur di tanah yang sekarang di atasnya berdiri markas IT." ucapku.
"Masa sih?" Aku lalu memegang tangan ayah dan memanggil Cinta, seketika ayah langsung berteriak hingga tidak sadarkan diri.
Bersambung...