INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Awo (Season 1)



Aku menyentuh tangan bu Nem hingga ia dapat melihat makhluk disisi nya. Ia segera memeluk suami nya dengan tangis yang mengiringi.


"Ibu jaga diri baik-baik ya, maafin bapak tidak bisa memenuhi janji bapak pada ibu" ucap bapak bubur ayam.


"Nggak usah mikirin janji pak. Bapak tenang-tenang ya disana, ibu akan jaga diri baik-baik disini dan akan selalu do'a in bapak" sahut bu Nem seraya mengusap air matanya.


"Kalau begitu bapak pergi dulu. Terima kasih Risa, Adam".


Aku mengangguk seraya tersenyum lalu melepas sentuhanku pada tangan bu Nem.


"Ini uang nya bu" Adam menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada bu Nem.


"Banyak banget den" ujar bu Nem seraya mengambil dan mengamati uang tersebut.


"Nggak apa-apa bu. Owh iya bu, ibu disini tinggal sama siapa?" tanya Adam.


"Berdua, sama anak saya".


"Saya lagi cari-cari pekerjaan untuk memenuhi kebutuha hidup" lanjut bu Nem.


"Anak ibu usia nya berapa?" tanyaku.


"Tiga tahun".


"Lhah? Masih kecil bu".


"Iya".


"Ibu mau bekerja sebagai art tidak?" tanya Adam.


"Apapun saya lakukan asal itu halal".


"Dirumah saya kebetulan sedang membutuhkan art, ibu boleh bekerja disana. Saya dan teman saya, pulang dulu untuk mengambil mobil supaya ibu bisa dengan mudah membawa barang-barang dan juga anak ibu" ujar Adam.


"Terima kasih" ujar bu Nem. Kami berdua mengangguk lalu pamit pulang.


Sesampainya di rumahku. Aku dan Adam beristirahat sebentar sambil menceritakkan kejadian dari awal akan jogging hingga aku dan Adam sampai di rumah bu Nem kecuali saat Adam menciumku.


"Terus nanti jadi mau ke rumah bu Nem lagi?" tanya ibu. Uhhh... syukurlah.. ibu, ayah dan kak tidak menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sempat aku pikirkan.


Aku menoleh ke Adam, ia tersenyum miring menanggapi tatapanku. Aku mendengus kesal melihat senyumnya.


"Aku ngikut Adam bu" sahutku.


"Udah kayak pasangan baru nikah aja kamu, mau dibawa kemana ngikut suaminya. Terus Adam suaminya, hahahaha" celetuk kak Ang yang langsung membuatku tersedak ludah sendiri.


"Khem.. apaan si?!" sentakku kesal setelah menenggak jus yang dibuat oleh ibu.


"Nanti jadi Dam kerumah bu Nem lagi?" tanya ibu menatap Adam.


"Jadi tante".


"Aku ikut nggak Dam?" tanyaku tanpa Adam.


"Terserah?".


"Kok terserah si?" heranku.


"Ya terus gimana? Nanti kalau aku bilang kamu ikut, kamu kecapean, nanti kalau aku bilang nggak ikut, kamu ngrengek pengin ikut, ya jadinya terserah kamu aja mau ikut apa enggak" sahut nya santai.


"Ishhh... bu, yah, Risa boleh ikut Adam? Bosen dirumah" izinku.


"Boleh" sahut ibu lalu dianggukan ayah.


Setelah mendapat izin, aku pergi mandi dan bersiap-siap. Selesai itu aku turun menemui semuanya dan pamit berangkat. Untuk menuju rumah Adam dari rumahku menggunakan motor scoopy hitam milikku nanti nya scoopy ku akan ditaruh di garasi rumah Adam dan berangkat menuju rumah bu Nem menggunakan mobil.


"Aku mandi dulu" ucap Adam kemudian berlalu menaiki tangga dan hilang di tikungan.


"Hei Ris, disini juga kamu" aku menoleh dengan ekspresi sedikit terkejut. Kak Rasya berdiri memandangku sambil tersenyum. Tangannya memegang sebuah gelas yang berisi air berwarna orange.


"I-iya kak".


"Lagi ngapain?" tanya kak Rasya seraya berjalan kearahku dan duduk di hadapanku.


"Nungguin Adam kak".


"Kamu sama Adam pacaran?".


Lagi-lagi karena pertanyaan itu aku tersedak ludah sendiri. Kali ini terasa lebih sakit.


"E-enggak kak" sahutku menahan sakit di tenggorokan.


"Minum nih, belum kakak minum kok" ia menyodorkan gelas yang dibawanya tadi. Aku menatap gelas tersebut lalu berganti menatap kak Rasya.


"Serius, belum kakak minum".


"Ma-makasih" aku menerima gelas tersebut dan meneguk air nya. Setelah dirasa mendingan, aku taruh gelas tersebut di atas meja.


"Kamu serius nggak pacaran sama Adam? Tapi kok kayaknya deket banget gitu" selidik kak Rasya dengan pandangan mata mengintimidasi.


"I-iya kak, se-serius, aku nggak pacaran sama Adam".


Mataku membelalak lebar mendengar ucapannya itu yang terdengar begitu santai dan keluar begitu saja.


"Khem!" kami berdua menoleh ke sumber deheman yang lumayan keras. Adam berdiri dengan gagahnya.


"Lo mau kemana dek?" tanya kak Rasya.


"Mau jemput art baru kita".


"Lo udah nemu?".


"Kalo gw belum nemu, mana mungkin gw jemput orang nya beg*!".


"Nggak usah ngegas dong, nanti kalau pacar lo takut sama lo gimana? Terus minta putus, terus lo sakit hati, terus lo nangis-nangis, ngurung diri dan mencoba bunuh diri" seloroh kak Rasya.


"Yuk Ris, abaikan saja manusia satu ini" Adam menggandeng tanganku dan menarikku keluar rumah.


"Cieeeeee....."


"Hati-hati woiii bawa calon adik ipar!!" teriak kak Rasya dari dalam rumah. Suaranya yang keras membuat teriakannya masih dapat aku dengar walaupun aku sudah berada di halaman.


"Kayak bau sate" gumamku. Aku menoleh ke sisi kanan. Tidak ada apa-apa, atas dan bawah pun sama juga. Tapi, saat aku menoleh ke sisi kiri.


"Wuaaaaa!! Genderuwo!!" pekikku kencang seraya melompat mundur menghindari makhluk berbadan gemuk penuh bulu. Tinggi nya mungkin sama denganku.


"Jangan berisik" Adam segera membekap mulutku seraya berbisik tepat disamping telinga.


Aku menarik tangannya yang membekap mulutku.


"Dia siapa?!" tanyaku sambil menunjuk makhluk tadi dengan nada sedikit tinggi.


"Dia Awo".


"Siapa Awo".


"Anaknya om Wowo".


"Siapa lagi om Wowo?".


"Suaminya tante Wiwi".


"Tante Wiwi siapa?.


"Ihhhhhhh..... tante sama om jangan tanya jawab terus dong. Aku perkenalkan diri aja ya. Haloo.. namaku Awo Gondo. Aku adalah saudara kembar dari Awi Gondo. Aku anaknya papa Wowo dan mama Wiwi" sela makhluk tadi yang mengaku sebagai Awo.


"Kamu keturunan makhluk apa?" tanyaku.


"Genderuwo".


"Kok matamu nggak merah? Badannya juga nggak tinggi? Makan sate pula" heranku seraya mengamati daging tusuk yang dipegang Awo.


"Kenapa mataku nggak merah? Karena aku lagi nggak dikegelapan. Kenapa badanku nggak tinggi? Karena aku dalam masa pertumbuhan. Makan sate? Aku kan anak genderuwo gaul. Bikin sendiri lhoh sate nya, daging nya dari tikus got." jelas nya panjang lebar dan kalimat saat menjelaskan tentang sate yang dimakannya langsung membuat perutku perang.


"Eummhhh.. apa harus tikus got?" tanyaku menahan muntah.


"Enggak si, kan apa yang ada aja" sahutnya seraya menarik daging dari tusukan dan mengunyah nya seolah penuh kenikmatan.


"Enak?" tanyaku lagi.


"Enak banget".


"Oh iya, kamu panggil nya jangan tante ya.. tapi kakak" ujarku mengingatkan.


"Enggak mau".


"Kenapa?".


"Kan aku panggil om Adam juga om, lahh.. tante pacar nya, jadi aku panggil tante. Kalau aku panggil om Adam, om. Masa panggil tante, kakak. Rasanya om Adam jadi kaya abg tua yang suka membawa wanita ke rumah nya".


"Sembarangan!" sentak Adam kesal.


"Dih! Tahu-tahu nya kamu sama abg tua, jangan-jangan kamu keturunan abg tua ya?" terkaku dengan wajah jijik yang dibuat-buat.


"Ishhhhh tante mah jahat, mama.... Awo dibilang anak abg tua... mama... huaaaaa... tante ini jahat.. pacar nya om Adam jahat maa... huaaaa" Awo melemparkan sate yang dipegang nya dan berlari menuju pohon mangga yang sangat besar disamping rumah Adam. Ia berlari sambil menangis dan mengatakan bahwa aku jahat. Sudah dibilang pacar nya Adam, di cap jahat pula. Haduhhhhh.


"Eh-eh.. kamu kenapa sayang? Kok nangis? Coba bilang sama mama siapa yang jahat?" ucap lembut seorang genderuwo yang turun dari pohon mangga sambil berjalan menghampiri Awo.


"Dia ma.. tante itu.. pacar nya om Adam.. dia bilang kalau Awo anak abg tua" Awo menunjukku membuat mama nya ikut menatapku. Mama Awo menggendong Awo dan berjalan menghampiriku.


"Ma-maaf ya bu" ujarku meringis.


"Nggak usah minta maaf, emang bener kok kalau dia anak abg tua, eh salah bukan abg tua, tapi genderuwo playboy, hahaha" tawa mama Awo.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.


Terima kasih.