
Selesai makan malam kami semua berkumpul di ruang tamu.
"Tante buatin cemilan dulu ya?" tanpa menunggu jawaban dari siapapun, ibu bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan camilan. Ibu memang suka seperti itu.
"Ayah ke kamar dulu ya anak-anak. Mau ngurusin pekerjaan kantor, kalian silahkan ngobrol-ngobrol sambil tunggu cemilan yang mau di buat ibu" ayah kemudian berjalan menuju kamarnya.
Ting...
Notif hpku berbunyi menandakan sebuah pesan telah masuk ke dalamnya. Aku mengangkat benda pipih tersebut lalu membukanya dan melihat notif dari siapa itu.
"Grup sekolah?".
Aku membuka grup sekolahku dan sebuah pesan yang di kirim oleh pak Jio tertera di layar ponselku. Tertulis sebuah kalimat yang berbunyi.
"Anak-anak, untuk hari selasa besok seluruh siswa siswi SMK Kembang Mas di liburkan, karena bapak ibu guru ada acara".
"Ra! La! Liat deh. Besok kita libur, baru aja infonya masuk" ujarku sambil menyodorkan ponselku yang tertera info libur di layarnya.
"Iya aku udah tau" sahut Zara dan juga Lala bersamaan.
"Oh ya aku lupa".
"Lo besok libur dek?" aku mengangguk.
"Bagaimana kalo besok kalian ke rumah kakak buat bantu kakak nyelesain masalah ini, apa kalian bisa?" aku menatap Zara yang langsung mengangguk.
"Bisa, jam delapan kita otw ke rumah kakak ya bareng kak Ang" ujarku.
"Iya" sahut kak Bay.
"Aku ke dapur dulu ya, mau bantu ibu bikin camilan".
"Aku ikut" ujar Lala.
"Aku juga" sahut Zara.
"Ya sudah ayo" kami bertiga kemudian berjalan beriringan pergi ke dapur untuk membantu ibu masak yang kedua kalinya.
"Ibu mau masak apa?" tanyaku sambil menilik berbagai macam sayur dan buah yang ada di atas meja bahkan ubi berukuran lumayan besar pun ikut bercampur di sana.
"Jamur goreng crispy, bola ubi isi gula merah, sama stick ubi" sahut ibu lalu mengambil ubi tadi dan mengupasnya kemudian di cucinya di wastafel.
"Ris kamu tolong buka bungkus jamur enoki itu ya terus kamu potong akarnya kalo udah kamu cuci" aku yang mendengar ibu menyuruhku kemudian mengambil dua bungkus jamur enoki di atas meja dan melakukan apa yang sudah di ucapkan oleh ibu.
"Kita bantu apa tante?" tanya Lala.
"Oh ya Lala sama Zara tolong rebus ubi ini ya".
Kegiatan memasak berlangsung lumayan lama, tapi cukup menyenangkan dengan di iringi canda dan tawa yang sering kali di lontarkan oleh Lala. Selesai membuat camilan, ibu menyuruhku untuk membawa piring lebar yang di atasnya terdapat jamur enoki goreng dan saus di mangkuk berkuran kecil. Sedangkan Lala dan Zara membawa bola ubi isi gula merah dan stick ubi.
"Itu buat siapa bu?" tanyaku ketika ibu juga menyiapkan tiga menu camilan malam ini di piring yang tidak terlalu besar.
"Ayah sama nenek" aku mengangguk lalu mengajak dua temanku membawa bawaannya ke ruang tamu.
"Nanti kembali lagi ya buat ambil minumannya" ujar ibu yang langsung saja aku anggukan.
"Wahhh bau-baunya enak nih, pasti calon istri gw yang masak" ujar kak Anji sambil senyum-senyum.
"Enak aja calon istri lo. Gak sudi gw kalo lo jadi adek ipar gw" sergah kakakku. Aku kemudian meletakan piring yang ku bawa di susul Lala dan Zara, lalu kembali lagi ke dapur untuk mengambil minuman.
Ternyata ibu sudah menyiapkan enam gelas dengan teko kaca besar di atas nampan berwarna biru. Ku bawa nampan tersebut ke ruang tamu. Sedari tadi aku tidak melihat Raihan, kemana dia? Apa jangan-jangan tertinggal di mobil.
"Eh Ra kamu liat Raihan nggak?" tanyaku sambil meletakan nampan tersebut ke atas meja. Ku ambil satu gelas untuk ku tuangkan air di dalam teko kaca tersebut akan tetapi aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh tenganku. Ketika ku lihat, aku terkejut ketika tangan kak Anji lah yang menyentuh tanganku. Dia menatapku dalam ketika aku juga menatapnya, segera ku tarik tanganku ketika kak Ang berdehem keras.
"Pergi aja lo sana. Kayaknya dari tadi gangguin adek gw mulu" sinis kak Ang.
"Nggak sengaja Ang" sahut kak Anji.
"Kayaknya Raihan ketinggalan di mobil deh Ris" sahut Zara. Ku dudukan pant*tku sambil menyomot bola ubi isi gula merah dan segelas air merah. Ini seperti marjan. Dan memang benar, ketika ku minum air tersebut rasanya memang rasa marjan. Ini adalah marjan rasa kesukaanku, tapi aku lupa apa nama marjan ini.
"Ya udah aku ke mobil dulu ya. Kasian si Raihan kalo di mobil terus" aku meletakkan gelas yang ku pegang kemudian berjalan keluar.
"Kak kunci mobil" pintakku sambil menyodorkan telapak tanganku. Kak Ang kemudian memberikan barang yang ku minta.
"Buat apa?".
"Kunci mobil".
"Gembok ban mobilnya masih di halaman kan?" kak Ang mengangguk. Walaupun mobil tersebut milik kak Ang, tapi aku sangat menyayanginya. Karena mobil tersebut pernah menjadi barang bersejarah dalam hidupku, setiap malam sebelum tidur aku selalu memastikan bahwa ban mobil sudah di gembok dan mobil sudah terkunci.
Ku buka pintu mobil dan melihat Raihan sudah tertidur di atas jok tengah sambil menggenggam arum manis nya.
"Raihan" bisikku dengan suara yang ku lembut-lembutkan. Dia terkesiap.
"Hantuuu cina!!" pekiknya sambil terus bergerak-gerak.
"Heiii ini aku, Risa! bukan hantu cina" ujarku menenangkannya.
"Ishh kamu ternyata Ris. Kamu kenapa si ko ninggalin aku di sini?" keluhnya.
"Ya udah sekarang kan udah di buka, yuk masuk" ajakku. Dia kemudian melompat turun, ku tutup pintu mobil dan menguncinya hingga berbunyi yang membuat Raihan melompat terkejut.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Kaget". aku menggeleng. Aku kemudian berjalan mengambil gembok ban dan menggemboknya dengan benar.
Aku mengajak Raihan masuk dan menyuruhnya duduk ketika sampai di ruang tamu. Raihan menurut dan duduk di samping Zara.
"Kamu mau?" tawarnya pada Zara.
"Enggak, makasih. Makan kamu aja" Raihan mengangguk dan mencoba membuka bungkus arum manis tersebut.
"Bisa nggak?" Raihan menggeleng, aku meminta arum manis tersebut dan membukanya.
"Kok bisa?" aku mengendikan bahu.
"Itu kok arum manisnya ngambang?" tanya kak Anji.
"Siapa bilang ngambang, orang lagi di pegang pocong kok" sahutku santai. Ku lihat Cinta melompat ke arahku.
"Sini Cin!" kak Anji dan kak Bay menoleh ke belakang.
"Siapa lagi?" tanya kak Anji.
"Pocong juga".
"Itu siapa?" tanya Cinta namun dari nada bicaranya sepertinya dia tidak suka dengan kehadiran Raihan.
"Temen baru kamu" Raihan mendongak dan menggoyangkan badannya seperti biasa.
"Apa tuh?" tanya Cinta.
"Salam perkenalan. Karena nggak bisa pakai tangan, jadi pakai badan aja" Cinta mengernyit.
"Kenalan gih".
Mereka berdua berkenalan dengan menyebutkan nama masing-masing. Setelah berkenalan, Raihan mengajak Cinta untuk duduk di sampingnya dan di tawarinya arum manis miliknya.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.