INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Masak mie instan campur tewiko (Season 1)



Kami ber lima masuk ke rumah dan memutuskan untuk pergi tidur.


"Nanti kalau lo mau ke kamar mandi atau sholat subuh atau apa gitu, gw bangunin ya. Pokoknya jangan tinggalin gw sendiri" aku mengangguk kemudian menarik selimut dan berbaring di susul Lala yang memeluk tubuhku.


.


.


.


.


.


Kringggg....


Aku mengerjap sambil menggeliat di atas kasur. Kumatikan alarm yang terus berdering sambil berusaha mengumpulkan nyawa yang masih di awang-awang. Beberapa menit kemudian, setelah nyawa terkumpul aku membangunkan Lala dengan menggoyang-goyangkan pelan lengannya. Usaha membangunkan Lala pertama gagal, Lala tak kunjung bangun. Tak pantang menyerah aku mencoba kembali untuk membangunkan Lala, hasilnya sama seperti usaha pertama. Masih berjuang untuk membangunkan Lala, aku menggoyang-goyangkan badannya lumayan keras, untuk usaha ketiga. Tapi tetap, Lala tak kunjung bangun. Apa dia pingsan?.


Aku menyerah dan memilih untuk meninggalkannya saja, sekedar cuci muka lalu berwudhu dan sholat itu tak apa-apa kan?. Kasian juga kalau mau di bangunin terus-terusan, semalam saja dia sudah terbangun tiga kali karena ikut aku ke kamar mandi dan ambil minum. Sebenarnya aku tak membangunkannya apalagi mengajaknya, tapi mungkin gerakan ranjang akibat pergerakanku semalam menyadarkannya dan memilih untuk mengikutiku walaupun kantuk sedang hebat-hebatnya menerjang.


Aku beranjak dari duduk dan pergi ke kamar mandi. Aku selalu memakai alarm untuk membangunkanku sholat Subuh, karena biasanya telingaku itu tak mendengar azan subuh. Waktu terenak saat tidur itu menurutku adalah dari jam satu dini hari sampai jam lima pagi. Jadi jika bangun pukul setengah lima pagi untuk sholat subuh, jika tak di bangunkan maka aku akan meninggalkan sholat dua rakaat tersebut.


Aku berdo'a terlebih dahulu sebelum masuk kekamar mandi. Ketika masuk kamar mandi, kita sebagai umat islam di wajibkan untuk berdo'a terlebih dahulu karena kamar mandi adalah tempat favoritnya para jin dan setan. Selesai berso'a, kulangkahkan kaki kiriku terlebih dahulu di susul kaki kanan. Aku menjalankan rutinitasku setiap bangun pagi untuk sholat subuh, yaitu membersihkan wajah lalu berwudhu. Sebelum berwudhu pun aku berdo'a terlebih dahulu.


Selesai membersihkan wajah dan berwudhu aku keluar kamar mandi dan berdo'a kembali. Lalu kembali ke kamar dan melaksanakan sholat subuh. Jujur saja, sholat subuh itu adalah sholat yang paling menantang bagiku, karena di sela-sela enaknya tidur aku harus terbangun untuk melaksanakan sholat subuh. Tapi walaupun begitu, aku tetap melaksanakannya dengan ikhlas dan hanya mengharap ridho Allah. Semoga saja pagi ini akan menjadi pagi yang lebih baik daripada pagi-pagi di hari kemarin.


Ku gelar sajadah biruku dengan motif ka'bah di sana. Lalu ku pakai mukenah putih polosku dan melakukan gerakan awal sholat setelah membaca niat hingga salam. Ku tengadahkan kedua telapak tanganku, berdo'a dan meminta perlindungan dari Allah swt. Selesai berdo'a ku raih al-qur'an ku dan ku buka di bagian yang sudah ku tandani dengan tali berwarna merah yang pada dasarnya sudah ada di al-qur'an tersebut. Ku baca al-qur'an tersebut dengan di awali ta'awud terlebih dahulu. Selesai membaca halamannya, ku tutup al-qur'an bersampul warna emas itu dan ku kecup bagian depannya.


Ku lepas mukenahku dan ku lipat sajadahku. Ku tengok Lala yang masih tertidur pulas di atas kasurku.


"Baru jam lima...mau ngapain ya? Kalau lanjut tidur, pasti ntar pagi di ceramahin sama ibu" tiba-tiba sebuah ide muncul di otakku.


Ku raih ponselku dan ku nyalakan data selulernya. Lalu aku pergi ke play store, untuk mencari aplikasi baca dan membuat cerita yang bagus. Setelah menemukannya, aku segera mendownloadnya.


"Lama banget" keluhku ketika melihat aplikasi yang ku download baru mencapai delapan puluh persen.


"Nahhh selesai" selesai menginstal, aku segera masuk ke aplikasinya dan membuat akun di sana. Selesai membuat akun, aku kemudian membuat sebuah cerita yang idenya tiba-tiba terlintas begitu saja.


"Oh yah...aku kan belum siapin covernya. Ah udah lah nggak papa, aku buat bab satunya dulu nanti baru buat covernya".


Selesai membuat bab satu, aku kemudian pergi ke aplikasi pencarian foto untuk mencari suatu foto yang dapat di jadikan cover ceritaku. Setelah menemukan yang pas dengan kemauanku, ku edit foto tersebut dan ku pasang menjadi cover ceritaku.


"Okh tinggal nunggu selesai di review" aku keluar dari aplikasi tersebut dan pergi ke whatsapp.


"Arjana sama mbak Sekar?" gumamku ketika ada beberapa pesan dari dua orang ini.


Chat dari Arjana.


💬"Waalaikumsalam".


💬"Siapa?".


Aku kemudian membalas pesan singkatnya dengan menyebutkan namaku. Ketika ku lihat di bawah namanya di samping tiga tombol kanan atas ternyata dia sedang online. Aku jadi deg-deg an untuk membalas pesannya ketika melihatnya online. Setelah terketik, dengan jari tangan yang mulai mendingin entah apa sebabnya, aku kirimkan pesan tersebut.


Aku keluar dari kontaknya dan mengeklik nama mbak Sekar di sana. Ada lumayan banyak pesan darinya dan ketika aku buka ada beberapanya yang kalimatnya begitu panjang.


Chat dari mbak Sekar.


💬"Assalamualaikum Risa, ini mbak Sekar. Mbaknya Almarhum Ranres".


💬"Mba mau bilang terima kasih sama Risa. Karena atas bantuan Risa, sore hari kemarin jenazah adik mbak di temukan. Alhamdulillah jenazah adik mbak sekarang sudah di makamkan, acara pemakaman berjalan lancar".


💬"Sekarang sudah mulai tahlilan, semoga almarhum Ranres tenang. Kalau Risa mau ke sini untuk ikut tahlilan, pintu rumah mbak terbuka luas buat Risa".


💬"Sekali lagi terima kasih, maaf juga baru ngabarin soalnya kemarin masih berduka. Sekarang sudah mendingan".


Aku tersenyum lega. Tiba-tiba hawa dingin menyerang tengkuk dan siku tanganku. Segera aku usap bagian tubuhku yang tiba-tiba terasa merinding. Aku menengadahkan kepalaku dan memutar indra penglihatanku untuk mencari sosok yang membuatku merinding.


"Ranres?" aku terkejut ketika Ranres sudah berdiri di hadapanku memancarkan senyum manisnya dan pakaian koko serba putih dengan peci putih bertabur pernak-pernik kecil di sekitarnya yang menutupi sebagian rambutnya.


"Terima kasih kak Risa, berkat kak Risa Ranres sekarang sudah tenang dan bisa menjalankan kehidupan Ranres di alam selanjutnya" ujarnya lalu mendekatiku dan memelukku.


"Sama-sama dek, Kak Risa itu hanya manusia yang di jadikan perantara dari Allah untuk membantu Ranres" aku membalas pelukan Ranres. Mataku sedikit buram karena air yang menggenang di pelupuknya. Sudah tak tahan untuk menahannya, akhirnya air mataku jatuh membasahi pipi.


"Kak Risa jangan nangis" aku tersenyum lalu mengusap air mataku yang bahkan sudah membasahi leherku.


"Kakak do'ain Ranres ya supaya Ranres bahagia di sana. Ranres pamit dulu, waktu Ranres sudah habis. Dadahh" tubuh Ranres terangkat di barengi cahaya putih yang menyilaukan mata, cahaya tersebut seolah-olah akan menghisap Ranres. Tapi aku tahu bahwa itu adalah pintu yang akan muncul ketika arwah yang berada di dunia sudah menyelesaikan semua urusannya.


"Dadah" gumamku.


Aku mengambil hpku yang sempat aku lepaskan saat memeluk Ranres tadi. Ku buka chat dari mbak Sekar yang sudah aku baca.


💬"Waalaikumsalam mbak Sekar. Iya mbak sama-sama, Risa itu hanya perantara yang di kirimkan oleh Allah untuk membantu. Alhamdulillah kalau Almarhum Ranres sudah di makamkan. Maaf mbak, Risa nggak hadir saat acara pemakaman. Kalau Risa sudah nggak sibuk, Risa pasti ke rumah mbak Sekar buat ikut acara tahlilan".


💬"Tadi Risa baru aja perpisahan sama Ranres mbak. Dia bahagia karena bisa melanjutkan perjalanannya dengan tenang. Mbak jangan sedih lagi ya".


Aku membalas pesannya dengan kalimat panjang sebanyak dua kali. Bahagia sekali rasanya bisa membantu orang dengan kemampuan ku yang terkadang membuatku menjerit ketakutan.


Aku keluar dari kontak mbak Sekar karena pesan yang aku kirimkan baru centang satu. Keluar dari kontak mbak sekar, aku masuk ke kontak Arjana.


💬"Risa?".


Hanya begitu pesannya. Dia terkesan dingin.


💬"Iya. Aku yang waktu itu minta bantu energi ke kamu sama empat temen kamu di rumah Ranres".


Pesan terbaca dengan cepat setelah aku mengirimkannya. Secepat ini? Belum ada satu detik pesanku terkirim, dia sudah membacanya. Apa dia sedang memantengi chatku??.


💬"Owh".


💬"Aku mau bilang terima kasih banyak".


💬"Sama-sama".


Aku baca pesannya dan chat pun berakhir di situ. Niatku kan memang hanya ingin berterima kasih padanya.


krikk...


krikk...


krikk...


Bukan suara jangkrik asli melainkan suaraku sendiri. Aku biasanya melakukannya untuk menghilangkan bosan. Terdiam bingung sambil berfikir akan melakukan apa karena bermain hp terlalu lama membuat mataku menjadi sakit. Hingga sebuah ide menyapa otakku.


"Masak mie instan enak kali yah" aku beranjak dan melangkah menuju pintu, namun langkahku terhenti ketika Lala bergerak hingga ranjang berderit dan mengerjap sambil mencari titik fokus.


"Risa kan?" aku mengangguk.


"Mau kemana?".


"Dapur".


"Ikut" Lala beranjak, dengan rambut acak-acakannya dia berjalan menghampiriku sambil berusaha mengumpulkan nyawanya.


"Kamu ngapain ikut? Kalau masih ngantuk lanjut tidur aja" dia menggeleng.


"Lo mau ngapain ke dapur?".


"Masak mie instan" matanya membulat sempurna, dia segera mengucek dan membersihkan area matanya.


"Campur telor, sawi, sama kol?" aku mengangguk. Sepertinya tiga bahan campuran mie instan yang di sebutkan oleh Lala masih ada di kulkas.


"Mana sisir?" aku menunjuk meja belajarku. Lala mengikuti arah telunjukku. Ia kemudian mengambil sisirku dan menyisiri rambutnya hingga beberapa helainya terjatuh ke lantai. Selesai menyisiri rambutnya ia mengajakku pergi ke dapur.


"Semangat bener kamu denger mie instan campur tewiko" aku menggeleng berkali-kali sambil berdecak menatapnya.


"Apa tuh tewiko?".


"Telor, Sawi, Kol".


"Ah bisa aja lu. Iya dong mie instan campur tewiko itu adalah makanan yang paling mcuah" Lala menyatukan ujung kelima jari tangannya dan menempelkannya pada bibirnya yang memanjang dua centi lalu melepaskannya.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.