INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Luka (Season 2)



Happy Reading...


Rey yang melihat Glen jatuh pingsan segera mengambil tindakan. Ia membawa Glen ala bridal style menuju UKS, raut panik nampak jelas di wajahnya, apalagi tubuhnya sangat merasakan tubuh Glen terasa sangat dingin. Setelah sampai di UKS, ia segera membaringkan Glen di atas bed dan memanggil Dokter yang bertugas di UKS. Setelah Dokter tiba, Rey dan yang lain menyingkir sebentar untuk membiarkan Dokter memeriksa kondisi Glen. Beberapa saat kemudian, Dokter mengatakan bahwa Glen kekurangan darah, kelelahan, dan juga mengalami tekanan mental.


"Sebaiknya dibawa ke rumah sakit supaya mendapatkan penanganan yang lebih intensif" kata Dokter.


"Baik, Dok, terima kasih" sahut Rey.


"Glen, kita langsung ke rumah sakit aja, 'ya?" tanya Rey, Glen menggeleng.


"Nanti aja kalau udah kelar sekolah".


"Tapi, kondisi lo it-" Glen memotong ucapan Rey dengan gelengan beserta senyuman, ia meyakinkan Rey bahwa kondisinya baik-baik saja sampai sekolah selesai.


"Ya udah kalau gitu gue tinggal dulu, 'ya?" Glen mengangguk. Rey kemudian bersama yang lain meninggalkan UKS, namun tidak dengan Reza, ia menghampiri Glen dan terdiam untuk beberapa saat. Glen yang melihat Reza masih terdiam, akhirnya angkat bicara.


"Kenapa nggak ke kelas? Lo khawatir sama kondisi gue? Gue nggak apa-apa, kok. Atau ada yang mau lo omongin sama gue? Sesuatu penting?" Reza menatap wajah Glen lalu menunduk lagi.


"Lo kenapa sih, Za? Aneh banget, ke kelas gih, pelajaran kedua udah dimulai pasti. Nanti lo dihukum kalau sampai telat masuk".


"Gue... Mau ngomong sama lo" Reza mulai mencoba bicara.


"Ya? Penting kah?" Reza mengangguk.


"Ya, gue dengerin".


"Gue..." tiba-tiba tubuh Reza bergetar dan keringat dingin membasahi tubuhnya.


"Lo??".


"Guee... Gue minta maaf, gue ngomong ini bukan di waktu yang tepat, tapi gue udah nggak tahan buat ngomong ini ke elo. Gue... Gue... Aduhh... Gue... Gue suka sama lo, Glen" jujur Reza.


"Hah? Suka? Sama gue? Nggak salah lo?".


"Nggak, nggak salah, gue emang suka sama lo udah dari lama".


Tanpa mereka sadari, Ais sedang berdiri di samping pintu UKS memperhatikan mereka, mendengarkan dengan seksama apa yang mereka perbincangkan. Setelah mendengar ketegasan Reza mengatakan rasa sukanya pada Glen, ia bergegas pergi, hatinya terasa sakit bagai luka yang kembali tergores. Ia pergi ke kamar mandi dan terdiam di depan kaca besar di wastafel. Ia menangis tanpa suara disana.


"Aku nggak nyangka, cintaku bertepuk sebelah tangan, sakit banget rasanya, tepukan cintaku belum terbalas... Huwaaa..." gumamnya sendu.


Sedangkan di UKS, Reza masih berdiri di samping Glen sembari menunggu apa yang akan dikatakannya.


"Gue maklum sama perasaan lo, kita temenan udah lama, kita juga lawan jenis. Wajar jika muncul perasaan suka di hati lo ke gue, tapi maaf, Za, gue nggak bisa balas rasa suka lo. Maaf banget, yah? Plisss setelah ini lo jangan marah ke gue, apalagi sampai ngambek" Reza membeku di tempat, hatinya kini menangis, namun wajahnya masih dibuat setegar mungkin.


"Gue... Gue nggak mungkin lah marah apalagi sampai ngambek ke elo, kalau gitu gue pergi dulu, assalamu'alaikum" Reza bergegas pergi meninggalkan Glen, ia pergi menuju ke kamar mandi, bukan ke kelas. Ia ingin membilas wajahnya, ia ingin terbangun dari mimpi buruknya.


"Patah hati itu ternyata sakit.." gumamnya.


...----------------...


Di kelas, Chalis berkali-kali menatap pintu masuk, ia penasaran ke mana Reza pergi dan kenapa Ais pergi lama sekali. Hingga akhirnya tindakannya tertangkap oleh guru mapel.


"Kamu niat mengikuti mata pelajaran saya tidak? Jika niat, fokus! Apa yang menarik dari pintu kelas sehingga kamu lihat berkali-kali?, jangan memancing rasa penasaran murid lain yang sedang belajar! Kalau saya lihat lagi kamu tidak fokus dengan pelajaran saya! Kamu akan mendapatkan hukuman meminta foto dan tanda tangan kakak kelas tercuek di sekolah ini, lalu meminjam pulpen dan selembar kertas untuk kamu tulis nama kamu, tanda tangan kamu, nomer hp kamu dan alamat rumah kamu yang lalu kamu berikan kepada kakak kelas tercuek itu dan kamu harus bilang terima kasih beserta salam setelah itu. Paham kamu?!" Chalis mengangguk kaku mendengar penuturan satu guru ini.


Pelajaran pun kembali dimulai, Chalis mencoba fokus namun rasa penasarannya mengalahkan titik fokusnya, akhirnya saat akan mendekati akhir pelajaran, ia menoleh ke arah pintu. Sialnya, dia malah melihat penampakan seorang siswi yang gantung diri di dekat pintu kelas yang dekat dengan papan tulis, perut siswi tersebut lumayan besar, ia memakai seragam sekolahnya, yang lebih mengerikannya lagi, kedua bola matanya melotot lebar dan lidahnya terjulur keluar, air liurnya menetes berkali-kali mengenai lantai dibawahnya.


"Lala!" Chalis mengumpati dirinya sendiri di dalam hatinya.


"Mampus!".


"Hukuman akan segera kamu jalankan. Datang ke ruangan saya, lima menit lagi" guru fisika itu pun keluar kelas, teman-teman Chalis langsung meledeknya dan menakut-nakutinya. Lima menit kemudian, ia pergi ke ruangan guru fisika itu.


"Apa kata kuncinya?" tanya guru fisika tersebut.


"Kata kunci satu, saya datang kesini untuk menagih hukuman saya karena tidak mematuhi peraturan tidak tertulis mata pelajaran guru fisika" mati-matian Chalis menahan malu karena para guru yang seruangan dengan guru fisika itu memperhatikannya, belum lagi dengan para siswa siswi yang penasaran, mereka rela menahan keram demi bisa melihat aksi memalukan Chalis lewat kaca jendela. Akhirnya mereka yang mengintip pun mendapatkan hukuman untuk skor jam dua puluh lima kali.


Kembali ke guru fisika, ia tersenyum lebar mendengar kata kunci satu yang keluar dari mulut Chalis. Jika berurusan dengan guru fisika yang satu ini, ada beberapa kata kunci yang musti dihafalkan, salah satunya adalah kata kunci satu (menagih hukuman karena melanggar peraturan tidak tertulis), kata kunci dua (menyetorkan tugas tidak tepat waktu, dan rela mendapatkan hukumannya).


"Bagus.. Bagus.. Hukuman diberikan, silakan dilaksanakan, jika sudah lapor saya, 'ya? Hukuman harus dilaksanakan hari ini, paham?" Chalis mengangguk mengerti dan izin keluar ruangan. Baru dua langkah berjalan, sepasang kaki hitam, penuh luka bakar dan kukunya yang panjang melintang di jalan membuat Chalis terjatuh, saat Chalis menatap sepasang kaki tersebut. Ia bergidik dan bergegas meninggalkan ruangan.


"Perasaan daritadi ketemu yang serem-serem mulu... Kapan ketemu cowo gantengnya? Oh yah, di mana gue harus cari Kak Aler (cowok tercuek di sekokah), 'ya? Dia sukanya ada di mana, 'ya?" gumam Chalis seraya mengamati sekitar.


"Tanya Mini kali , 'ya? Siapa tahu dia tahu" gumamnya lagi seraya berjalan menghampiri Mini, adik kelasnya yang bertubuh pendek.


"Mini!" panggilnya, Mini menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Chalis, ia berhenti dan menanyakan keperluan Chalis padanya.


"Gue mau tanya, lo tahu Kak Aler nggak?" Mini nampak diam berfikir.


"Kak Aler itu yang cuek, tinggi, putih, ketua tim basket, kelas 12 IPS 3, bukan?" Chalis mengangguk semangat. Mini ikut mengangguk seraya tersenyum.


"Udah, Min ngomongnya?" Mini mengangguk.


"Tadi Kakak tanyanya tahu Kak Aler nggak, 'kan? Ya, aku jawab, aku tahu, tadi ciri-cirinya udah aku sebutin tanda aku tahu Kak Aler" tutur Mini.


"Ya elah, Min. Kalau itu gue juga tahu, maksud gue.. Lo lihat Kak Aler di mana nggak?" Mini mengangguk-anggukan kepalanya.


"Tadi aku lihat di lapangan, lagi main basket".


"Owh okh, makasih, pergi dulu, assalamu'alaikum" Mini menjawab salam Chalis kemudian masuk ke kelasnya.


Sesampainya di lapangan, karena kondisi di lapangan yang sangat silau, Chalis menjadi memicingkan matanya untuk mencari keberadaan Aler.


"Nggak ada? Tadi kata Mini disini" gumamnya masih dengan memantau lapangan.


"Kak? Cari siapa?" seseorang menyapa di belakangnya, Chalis menoleh dan melihat dua siswi adik kelasnya menatapnya heran. Tanpa Chalis tahu, salah satu dari mereka sedang menuangkan air di lantai di sekitar Chalis berdiri.


"Cari Kak Aler" sahut Chalis jutek, ia begitu memendam kesal pada dua siswi adik kelasnya itu, berkali-kali mereka mengerjainya bahkan sampai masuk UKS.


"Owhh... Tadi kita lihat dia lagi di kantin".


"Serius?" mereka berdua mengangguk.


"Ya udah, gue pergi dulu, assalamu'alaikum, oh ya makasih infonya. Ngomong-ngomong kejahilan kalian ke gue kali ini nggak berhasil, gue nggak kepeleset tuh" Chalis berjalan dengan riangnya melewati air yang sudah dituangkan ke lantai oleh salah satu adik kelasnya tadi.


"Ihhh... Kok gagal sih" mereka kesal karena aksinya gagal dan memutuskan untuk mengikuti Chalis supaya mereka bisa mengerjainya lagi. Namun, baru satu langkah maju, mereka jatuh terduduk di atas lantai basah akibat ulah mereka.


"Inikah yang dinamakan senjata makan tuan?" seorang lelaki yang juga sering menjadi korban kejahilan mereka berdua, berjalan melalui mereka dengan meledek tanpa ada niat sedikitpun untuk membantunya.


"Woii! Bantuin dong!".


"Ogah!".


Chalis yang masih bisa mendengarkan suara adik kelasnya itu tersenyum miring. Sesampainya di kantin, ia bergegas mencari Aler.


"Ketemu!" ia berjalan menghampiri Aler yang tengah makan di pojok depan sebelah kiri, lagi-lagi sial menimpanya, segelas air putih yang dibawa oleh siswa kelas 11 IPA 1 tumpah di atas sepatunya.


"Eh lo! Lo kalau jalan lihat-lihat dong! Bisa lihat nggak si lo?! Apa lo buta?!" lelaki yang suka membela Chalis datang dan marah-marah pada siswa yang telah menumpahkan minuman di atas sepatu Chalis.


"Apaan si, Nan, udahlah nggak usah marah-marah gitu, cuma kena sepatu aja.. Bisa dikeringin nanti" sela Chalis.


"Tapi sepatu lo basah, kaki lo pasti dingin".


"Udah si, gini doang".


"Pembelanya dateng nih! Eh lo, La! Lo nggak usah manja deh! Gitu doang pake dipermasalahin, pake panggil pembelanya lagi! Basah dikit doang tinggal dijemur sebentar juga kering. Kelan sampai gemeteran nih" teman siswa tadi datang menghampiri dan membelanya yang sudah gemetaran karena dibentak oleh pembela Chalis, Nanda.


"Dengerin gue baik-baik, 'ya anak kelas 11 IPA 1, terutama lo" Chalis menunjuk teman Kelan, siswa yang tidak sengaja menumpahkan minumannya ke sepatu Chalis.


"Selamat siang, Kak. Langsung saja, 'ya? Saya Lala, dari kelas 11 IPS 1, dapat hukuman dari guru fisika untuk meminta foto dan tanda tangan kakak, lalu meminjam pulpen dan selembar kertas untuk saya tulis nama, tanda tangan, nomer hp dan alamat rumah saya yang lalu saya berikan kepada Kakak. Tanda tangannya di kertas ini, ini pulpennya. Saya mohon kerja samanya supaya hukuman saya cepat selesai dan saya bisa mengeringkan sepatu saya dilapangan sebelum kelas kembali dimulai supaya hukuman saya tidak menumpuk" tutur Chalis panjang lebar seraya menyerahkan buku fisika dan sebuah pulpen. Tak lupa, ia juga mengeluarkan hp-nya.


Tanpa mengatakan apa-apa, Aler langsung mengambil buku dan pulpen itu untuk ia tanda tangani, setelah selesai ia langsung memberi isyarat untuk berfoto bersama.


Selesai itu, Aler memberikan selembar kertas dan sebuah pulpen yang ia simpan di sakunya pada Chalis. Chalis pun langsung menuliskan semua yang diperlukan dan memberikannya pada Aler beserta pulpen yang ia pinjamkan.


"Terima kasih, selamat siang" Chalis mengambil buku, pulpen, dan hp-nya lalu bergegas pergi dari sana. Orang-orang berada di kantin daritadi memperhatikan Chalis dan Aler, setelah Chalis menghilang di balik pintu, mata mereka beralih menatap Aler. Tak lama setelah Chalis pergi, Aler pun ikut pergi setelah membayar pesanannya.


...----------------...


Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, siswa siswi berbaris rapi untuk keluar dari kelas, termasuk Risa dkk, kecuali Ais dan Reza.


Sampai di depan gerbang, Risa menelfon Kakaknya untuk mengantarnya ke rumah sakit. Ang yang mendapat perintah dari Risa untuk membawa dirinya ke rumah sakit tanpa mendengarkan kalimat selanjutnya langsung mematikan telefonnya dan tancap gas menuju sekolah Risa.


"Kamu kenapa, Dek? Kenapa minta diantar ke rumah sakit?" tanya Ang dengan wajah paniknya.


"Ini nih, kalau nggak dengerin dulu penjelasan aku, aku minta diantar ke rumah sakit buat nemenin Glen, dia sakit" sahut Risa.


"Owhh... Eh, iya, wajahnya Glen pucat pasi gitu, ya udah ayuk buruan" Risa dibantu Zara membawa Glen masuk ke dalam mobil.


"Chalis, ikut nggak?" teriak Risa dari dalam mobil.


"Enggak, Ris, nanti gue nyusul, gue pulang dulu".


"Okh, duluan, 'ya semua, assalamu'alaikum" mobil pun melaju menuju rumah sakit terdekat, tak lama setelah itu ojol yang dipesan Chalis datang, Wisnu, Rey, dan Adam pun menuju ke parkiran.


"Baru sadar gue, Wisnu sama Ais ke mana?" tanya Rey saat mereka bertiga sudah di dalam mobil.


"Udah pulang duluan kali" sahut Wisnu.


...----------------...


Di rumah Aler, pukul tujuh lewat dua puluh lima pm


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!" seru seorang pemuda di kamarnya.


"Aler, kamu udah makan malam belum?" Aler menoleh dan melihat ibu tirinya tengah menatapnya hangat, namun Aler justru menatapnya jengah.


"Nggak usah sok peduli" Aler mengatakannya dengan wajah datar.


Ibu tirinya itu menghembuskan nafas beratnya dan air mata pun membasahi pipinya.


"Kamu belum makan malam, 'ya pasti? Makan malam dulu, yuk bareng sama mama, papa, juga Alen" Aler diam tidak menanggapi.


"Nanti maag kamu kambuh loh kalau telat makan" lanjutnya.


"Gue bilang nggak usah sok peduli, pembunuh! Keluar dari kamar gue sekarang!" bentak Aler hingga membuat ibu tirinya sedikit terkejut. Sudah biasa ia dipanggil pembunuh sejak ia mengatakan semuanya kepada Ayah Aler bahwa ia yang menabrak Ibu Aler, namun dia tidak sengaja dan sudah membawanya ke rumah sakit. Entah apa yang ada dalam benak Aler, mungkin ia belum mengikhlaskan kepergian Ibunda.


"Mama.. Tunggu dibawah, kalau kamu belum turun jam delapan nanti, Mama anter makanannya ke sini" ibu tirinya itu menutup pintu dengan hati yang terasa sangat sakit. Namun, ia masih tetap berjuang membuat hati Aler terbuka untuk menerima kehadirannya dan memaafkan kesalahannya.


Sesampainya di ruang makan, Nina (ibu tiri Aler) duduk sambil tertunduk lesu, air matanya kembali turun. Suaminya hanya menghela nafas berat karena sudah tahu apa yang membuat Nina menangis.


"Mama kenapa nangis?" Alen (Adik Aler) bertanya pada Nina seraya mengunyah makanannya. Nina mengusap air matanya dan tersenyum menatap Alen.


"Mama... Enggak kenapa-kenapa, Sayang. Kamu lanjut aja, 'ya makannya?" Alen mengangguk dan melanjutkan makannya, begitupun Nina. Tepat pada pukul delapan, Aler belum juga turun untuk makan malam, akhirnya dengan persiapan jiwa dan raga, Nina pergi ke kamar Aler untuk mengantarkan makan malamnya.


"Nin" baru sampai ditangga, suaminya memanggilnya, Nina menoleh dan tersenyum.


"Aku aja, 'ya yang nganter?" Nina menggeleng.


"Ini tanggung jawab aku" Nina kemudian melanjutkan jalannya, sesampainya di depan pintu kamar Aler, ia mengetuknya sebanyak tiga kali.


"Masuk!" jawaban dari dalam kamar. Nina dan suaminya masuk ke kamar Aler, Aler menoleh dan menatapnya masih tidak suka.


"Ini makan malam kamu, Mama taruh sini, di makan, 'ya?" Nina menaruh makanannya di atas meja kecil di samping tempat tidur Aler.


"Makan aja sendiri, siapa tahu belum kenyang, gue udah kenyang liat sandiwara Nyonya Nina" Nina menelan ludahnya bersamaan dengan air matanya yang perlahan kembali membasahi pipi.


"Buka mata kamu, Aler! Lihat semua kebaikan yang Mama Nina lakuin ke kamu! Lihat semua perhatian yang ia berikan padamu! Semakin lama kamu semakin ngelunjak dan kasar sama dia! Coba buka mata dan hati kamu! Buang jauh-jauh perasaan benci kamu sama Mama Nina, dia udah ngakuin kesalahannya dan bertanggung jawab! Dia juga udah berusaha waktu itu buat nyelametin nyawa Bunda! Tapi takdir berkata lain. Lalu ini takdir yang Tuhan tuliskan untuk keluarga kita, coba lihat sisi positif Mama Nina" kata Ayah Aler (Elven) panjang lebar, dari perkataannya yang sering menggunakan tanda tinggi menandakan ia sudah kelewat emosi.


"Gara-gara Ayah nikah sama dia" Aler menunjuk Nina dengan kontak matanya, "Beberapa temen Aler ngehina dan ngejek Aler di sekolah. Mereka bilang 'Aler punya ibu tiri pembunuh, parahnya lagi ibu tirinya itu yang ngebunuh Ibu kandungnya, miris banget hidupnya Aler, seatap sama pembunuh Ibunya sendiri' " sambungnya seraya menirukan hinaan dan ejekan yang terkadang ia terima dari teman-temannya, perlahan nada bicaranya melemah.


"Ja-jangan lupa... Kamu makan, makan ma-malamnya" Nina menggigit bibirnya dan meninggalkan kamar Aler, disusul oleh Elven, Aler tersenyum miring seraya mendengus. Air matanya tumpah saat itu juga. Ia menatap makanan yang dibawa oleh Nina, air matanya menjadi semakin deras kala itu.


Di kamar Nina dan Elven, ia menangis sesegukan dipelukan Elven. Hampir satu jam ia menangis, setelah tenang ia mencoba berbicara.


"Aku kepikiran buat pisah sama kamu, aku gagal buka hati dia untuk menerima kehadiran dan memaafkan kesalahanku, aku juga membawa kesedihan di hidup Aler. Aku nggak mau masa-masa mudanya penuh dengan kekangan" kata Nina, Elven membulatkan bola matanya dan mencekal kedua pundak Nina.


"Pisah? Sama aku? Kamu gila? Kamu mikir nggak? Kalau kita pisah, bukankah lebih banyak cemoohan yang bakal kita terima, yang bakal Aler terima dan yang bakal Alen terima. Kamu pasti bisa buka hati Aler, ada aku disini, aku akan bantu kamu semampuku buat Aler bisa buka hatinya untuk kamu".


"Tiaa... Aku minta maaf, Tiaa.. Aku minta maaf. Maafin aku atas semua kesalahanku" gumam Nina yang kemudian membuat Elven memeluknya.


...----------------...


Di rumah sakit.


"Udah malem nih" kata Zara.


"Iya" tiba-tiba ada yang menyahut perkataannya.


"Dingin, 'ya? Ac nyala?" Zara melihat ke tempat ac.


"Mati kok" katanya kemudian.


"Berarti bukan dari ac" suara itu muncul lagi.


"Siapa si yang nyahutin perkataan aku daritadi?".


"Aku".


"Siapa?".


"Aku... Aku... Aku... Aku... Zara... Aku... Zara... Zara... Zahra... Azara... Zara... Aku... Zahra... Azara... Hihihihi... Itu namaku" sosok perempuan yang berjalan ngesot di bawah Zara tersenyum menyeringai kearahnya. Dari seragamnya, bisa dilihat bahwa dia seorang suster. Di kedua saku bajunya, terdapat akat suntikan dan alat-alat kedokteran lainnya. Rambut, pakaian, dan tubuhnya terlihat nampak sangat acak-acakan, kaki kirinya hancur.


"Astagfirullah hal 'adzim" Zara terlonjak kaget hingga reflek mengangkat kakinya ke sofa.


"Takdirku begitu mengenaskan, meninggal dalam kondisi yang begitu mengerikan. Seandainya aku lebih hati-hati waktu itu" kata hantu tersebut sedih.


"Aku boleh curhat nggak sih? Masalah percintaan" Zara mengangguk perlahan, kasihan juga rasanya jika ucapan hantu tersebut tidak ditanggapi.


"Jadi, dulu sewaktu hidup aku punya temen laki-laki namanya Aldo. Sebelumnya, aku enggak tahu kenapa dia perhatian dan baik banget sama aku, hingga akhirnya saat aku pulang dari kantor, sebelum aku kecelakaan, dia bilang sama aku. Dia cinta sama aku, dia memendam rasa itu udah dari awal kita ketemu pas SMP, kurang lebih dua belas tahun. Aku nangis waktu itu, dia tanya, aku mau nggak jadi pacarnya. Aku pun jawab aku mau, malam harinya waktu aku mau pergi ke supermarket. Aku kecelakaan hingga akhirnya aku meninggal, aku sempet denger dia ngomong di makam aku, 'seandainya aku lebih cepat ngomong ini ke kamu'. Dari sini, aku jadi suka nasehatin para makhluk, kalau suka sama seseorang jangan dipendam-pendam lebih lama, takutnya itu akan menimbulkan kekecewaan, orang yang kita suka jadi tahu terlambat" tutur hantu itu.


"Owhh... Gitu" hantu itu mengangguk.


"Nama kamu siapa tadi?".


"Zahra Azara".


"Ra!".


Zahra dan Zara menoleh bersamaan.


Bersambung...