INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Apa maksudnya?? (Season 1)



Sesampainya di dapur aku bertemu dengan nenek yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Habis wudhu ya nek?" tanyaku menyapa yang di jawab anggukan oleh nenek.


"Kalian mau ngapain?" tanya nenek lalu mengusap wajahnya yang masih basah.


"Mau masak mie instan" sahutku, nenek mengangguk dan pamit ke kamarnya.


Aku kemudian berjalan untuk mengambil dua bungkus mie instan, tewiko, dan alat-alat yang di perlukan untuk membuat mie instan.


"La tolong ambilin tremos itu" pintaku sambil menunjuk tremos berwarna biru dengan motif bunga anggrek berwarna merah muda.


Lala yang sedang mencuci sawi dan kol menoleh ke arahku lalu ke arah tremos biru yang ku tunjuk. Ia kemudian menghampirinya untuk mengambil tremos tersebut dan menyerahkannya padaku.


"Terima kasih" Lala mengangguk lalu melanjutkan lagi tugasnya mencuci sawi dan kol di wastafel.


Ku tuangkan air di tremos tersebut ke wadah yang sudah di siapkan lalu ku panaskan hingga mendidih.


"Ini udah siap" Lala menghampiriku lalu menyerahkan sayur sawi dan kol yang sudah di cuci. Aku mengambilnya dan kembali mengucapkan terima kasih.


Aku kemudian memasukkan sayur tersebut di susul dua mie instan dan dua telur ayam.


"Tolong ambilin garpu" Lala menurut dan mengambilkan garpu untukku.


"Makasih".


"Kamu mau di pecah apa nggak telurnya?" tanyaku sambil menatapnya yang sedang memutar indra penglihatannya.


"Ada apa?" tanyaku heran, karena Lala tak menyahut tapi malah menghampiri jendela yang tertutup korden.


"La!" Lala masih terdiam tak menyahut. Aku memutuskan untuk menghampirinya.


"La!" dia terkesiap lalu menatapku.


"Kenapa?" tanyaku mengernyit.


"Gw tadi kaya denger suara ranting patah di luar jendela ini" ujarnya sambil menunjuk jendela di hadapannya.


"Ranting patah? Aku nggak denger apa-apa kok".


"Ya iyalah lo nggak denger orang lo aja di depan kompor yang airnya blubuk-blubuk".


"Iya juga si".


"Serius deh Ris, tadi gw denger kaya suara ranting patah di luar jendela ini. Lumayan kenceng kok suaranya" aku mengernyit. Lalu ku putuskan untuk membuka korden yang menutupi jendela kaca tersebut. Ketika setengahnya sudah terbuka, tak terlihat apapun di luar sana. Hanya suara beberapa ayam yang berkokok di tambah gerimis kecil yang membuat suasana menjadi sedikit dingin.


Lala ikut membuka sedikit korden yang sedang ku pegang.


"Nggak ada apa-apa la, cuma suara ayam berkokok sama gerimis kecil".


"Iya si, tapi gw yakin banget kok sama suara itu" Lala terus keukeuh dengan pendengarannya.


"Iya aku paham, tapi di luar nggak ada apa-apa. Udah ya aku jadi merinding ini" aku terkesiap. Aku kan sedang masak mie instan, pasti sudah menjadi lurus mie yang keriting itu.


"Hati gw jadi kaya ada batu yang ngeganjel ini" aku menggeleng.


"Telornya di pecahin aja, tadi lo tanya telornya di pecahin apa nggak kan?" aku mengangguk mengiyakan lalu memecahkan satu telur yang masih bulat.


"Aku ambilin tang ya buat nyongkel batu di hati kamu biar nggak ngganjel di sana" Lala terkesiap.


"Itu kan ibaratnya" aku tertawa ketika bibirnya memanyun.


Setelah mie yang ku masak matang, aku kemudian menuangkannya di dua mangkuk dengan masing-masing satu telur. Aku kemudian mengolehnya dan membawanya ke meja makan. Lala menghampiriku dan duduk di sebrangku. Ia kemudian menikmati mie buatanku begitupun aku.


"Padahal cuma mie instan campur tewiko aja, tapi kayaknya rasanya agak beda kalau di masaknya sama Risa" aku tersenyum.


"Masa sih?" Lala mengangguk yakin.


Kami berdua menyantap mie instan tersebut hingga habis. Selesai makan, aku cuci mangkuk yang di pakai tadi di bantu Lala.


"Jam berapa La?" tanyaku sambil membilas mangkuk yang sudah di cuci.


"Nggak tau, nggak liat" sahutnya tanpa melepas fokusnya pada busa putih di tangannya.


"Coba liat, di dinding meja dapur ada jam".


"Jam setengah enam" ujarnya.


"Mandi yuk, hari ini kan jadwalnya kita piket. Nanti telat, di marahin lagi" ajakku. Aku dan Lala serta beberapa kawan-kawan yang lain jadwalnya piketnya sama yaitu di hari Selasa.


"Kamu lupa ya?" tanya Lala.


"Lupa gimana? Orang baru aja aku ngingetin kamu, berarti kan aku nggak lupa".


"Oh iyaa aku lupa...Ha. Ha. Ha" tawaku menjadi kaku. Bisa-bisanya aku lupa.


Krak...tek...


Tiba-tiba terdengar suara seperti ranting patah karena di injak oleh sesuatu di luar area jendela, di mana luar area jendela tersebut sudah pernah Lala dengar suara ranting patah. Tempat yang sama?.


"Tuh kan kedengeran lagi, pasti ada yang nggak beres nih" aku mengangguk. Kali ini aku mendengarnya dengan kedua telingaku sendiri.


"Ambil sapu, wajan, sama temen-temennya La" bisikku agar sesuatu di luar area jendela tersebut tidak mendengarnya dan malah mengetahui pergerakan atau pembicaraan kami berdua.


Lala mengangguk serius, tubuhnya bergerak mengambil peralatan rumah tangga seperti sapu, wajan, soled, dan semacamnya. Lalu menyerahkannya padaku sapu, panci, dan juga senter yang ku ambil sendiri di meja dapur, dirinya sendiri juga sudah memakai panci sebagai penutup kepala, wajan kecil yang di pegang di depan dada layaknya tameng, dan soled layaknya pistol dan sekawannya.


"Siap La?" tanyaku, Lala mengangguk.


Kami berdua berjalan perlahan menghampiri jendela tersebut. Tubuhku tiba-tiba gemetaran, bagaimana jika itu sosok poci wajah hancur, mbak kunti rambut panjang dengan belatungnya, atau om wowo besar tinggi?? Atau orang jahat yang membawa senjata tajam??.


Kami berdua sampai di depan jendela. Aku dan Lala membagi posisi tempat, Lala di bagian kiri sedangkan aku di bagian kanan dengan berbagai macam peralatan yang sudah di siapkan.


"Satu...".


"Dua...".


Ku sibak korden tersebut dan ku buka jendelanya cukup keras.


"Aduh".


Pyar!...


Suara rintihan terdengar di telingaku, tepat setelah jendela kaca tersebut terbuka. Saking kencangnya aku membuka jendela, membuat jendela tersebut pecah dan berserakan di tanah.


"La" aku menatap Lala.


Aku menyalakan senter yang ku pegang dan menyorotinya ke sumber suara rintihan tadi. Betapa terkejutnya aku ketika melihat ada seseorang dengan pakaian serba hitam seperti jubah sedang berbaring sambil memegangi jidatnya, tudung pakaian serba hitam tersebut juga menutupi sebagian wajahnya.


"Siapa lo?!" tanya Lala dengan suara lumayan keras. Aku khawatir jika manusia ini membawa senjata tajam. Dari pakaiannya saja sudah mencurigakan.


Orang tersebut berhenti merintih dan berusaha bangun.


"Nggak ada niatan bantuin gw bangun apa?" aku terkesiap.


"Banyak omong lo".


Orang tersebut membuka tudung jubah yang menutupi sebagian wajahnya. Woahhh tampan sekali dia, dia sepertinya seumuran dengan Adam.


"Siapa lo hah?!" tanya Lala kembali mengulangi pertanyaannya.


"Nama gw Dewa".


"Dewa angin apa Dewa ****** beliung?" Lala kemudian tertawa.


"Dewa Putra Mahkota, bukan Dewa yang lo sebutin tadi!" balasnya menyentak.


"Enak aja lo bentak-bentak gw!" balas Lala.


"Udah! Stopp!!" jika tidak di pisahkan mereka pasti akan terlibat adu mulut. Memang ya Lala itu suka sekali mencari masalah, nggak main-main cari masalahnya, sama orang baru di kenal aja langsung di ajak adu mulut sama dia.


"Kamu siapa? Dan kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyaku sambil menatap wajah tampannya.


"Nama gw Dewa Putra Mahkota, gw di sini lagi memantau ayah gw. Dia sekarang mau beraksi di rumah ini. Ini rumah lo tinggal?" aku mengangguk dengan pertanyaannya.


"Maksud kamu ayah kamu beraksi itu gimana?" tegasku belum paham dengan apa yang di maksudnya.


"Apa lo nggak tahu kalau sekarang komplek ini itu lagi marak pencuri uang, tapi yang nyuri bukan orang melainkan tuyul?" aku menggeleng.


"Ah gak update lo" sindirnya.


"Tugas sekolah ku lebih penting daripada cari tahu tentang pencurian uang yang di lakukan oleh tuyul itu. Selagi keluargaku masih ayem tentrem, kenapa aku harus cari tahu tentang tuh pencuri" sahutku santai sambil menaikkan dua alisku berkali-kali.


"Rumah lo itu adalah sasaran pencuri malam ini" ujarnya.


"Ini udah pagi!" seru Lala dengan suara tinggi.


"Gw juga tau!".


"Tapi keluargaku nggak ada ribut apa-apa tuh malam tadi?" tanyaku heran. Bukan ingin di curi si, katanya malam tadi rumahku adalah sasaran pencuri itu, tapi kenapa malam tadi masih aman-aman aja??.


"Berarti gw berhasil nggagalin rencananya malam ini dan bentar lagi gw bakalan jadi sasarannya" ujar Dewa.


Berasambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.