INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Terjawabnya misteri kolam renang sekolah (Season 1)



"Batu suci adalah batu yang mendiami tubuh keturunan asli ratu Ila dan Ratu Nami. Batu suci tersebut terbelah menjadi kedua karena ternyata kedua ratu tersebut melahirkan anak dengan jenis kelamin yang berbeda. Dan kalianlah anak tersebut, batu suci itu membuat kalian memiliki bau darah dan aura yang sangat berbeda dari manusia pada umumnya bahkan dari teman-teman kalian yang juga indigo" jelas mbak Gege.


"Kalau ratu Ila dan ratu Nami melahirkan anak dengan jenis kelamin yang sama, berarti batu suci tersebut tidak terbelah?" tanya Adam.


"Yup, betul sekali".


"Siapa yang keturunan asli ratu Ila dan ratu Nami?" tanyaku penasaran.


"Risa keturunan kedua ratu Ila sedangkan Adam keturunan ketiga ratu Nami. Kakak kalian sekarang sudah bersatu untuk memperebutkan batu suci didalam diri kalian, walaupun mereka tahu bahwa merebut batu suci yang sudah menyatu dengan darah pemiliknya adalah sesuatu yang sangat susah atau bahkan tidak mungkin".


"Bagaimana dengan kakak keduaku? Apa ia juga menginginkan hal yang sama dengan kakaku yang pertama?" tanya Adam. Mbak Gege menggeleng.


"Justru ialah yang akan menjadi tameng kalian berdua. Sekarang ia sedang dilatih supaya menjadi lebih kuat, kakak Risa sekarang sudah melahirkan keturunan mereka berdua yang akan menjadi musuh kalian berdua".


"Ihhhh.... masa harus musuhan sama keponakan sendiri si" keluhku.


"Memang, dan keturunan kakak kalian akan tumbuh berbeda dengan anak-anak lain. Pertumbuhannya lebih cepat, di alam sana ia baru berusia empat belas tahun, tapi di alam ini dia sudah berumur enam belas tahun. Keturunan kakak kalian berjumlah tiga orang, namanya Nano, Tri dan Via".


Nafasku langsung tercekat saat nama tiga orang yang disebutkan oleh mbak Gege adalah nama orang yang sudah membunuh adikku, Gisa.


"Ris! Lo kenapa?" tanya Adam panik.


"Nano, Tri, dan Via adalah nama tiga orang yang sudah membunuh adikku, Gisa" seketika darah di dalam tubuhku mendidih.


"Gisa? Oh iya Gisa. Ia adikmu Ris" air mataku kembali mengalir.


"Gisa dibunuh oleh mereka untuk mengurangi jumlah lawan. Tapi, saat kalian kelas tiga SMA nanti, Gisa akan lahir kembali" jelas mbak Gege.


"Reinkarnasi?" ucapku dan Adam bersamaan.


"Iya".


Lagi-lagi pikiranku melambung tidak jelas. Bagaimana jika cinta antara Adam dan Gisa terjadi lagi, sekarang ada aku di sini. Apa jika waktu itu datang, semua yang Adam ucapkan tentang sayang nya padaku akan musnah? Bagaimana juga cinta Gisa lupa ingatan tentang lalu mencintai Adam dan berusaha menyingkirkanku. Apa aku bisa melewati itu.


"Kapan aku bisa bertemu dengan ibuku?" tanyaku.


"Suatu saat nanti, waktu tidak menjanji, tapi pasti ada saatnya" ucap mbak Gege.


"Kalian harus banyak-banyak berlatih, entah itu dari ilmu beladiri atau menggunakan kekuatan dalam" ujar mbak Gege.


"Sekarang kalian tidur, sudah malam. Saya akan berjaga" ucap mbak Gege lalu kembali dalam kondisi seperti semula.


Aku turun dari bed dan duduk di kursi. Entah kenapa jika sudah membahas tentang Gisa dan Adam, rasanya aku ingin menjauh dari Adam untuk sementara atau bahkan selamanya.


.


.


.


.


.


Waktu terus berlalu. Mas Gege sekarang menjadi penjaga setiaku dan Adam, ia selalu bersamaku atau dengan Adam sesuai perintah. Ia juga selalu menuruti kemauanku. Teman-teman indigo team ku sudah tahu akan hal ini. Mereka semua tercengang tidak percaya, terlebih Reyyan. Hari ini, Adam sudah boleh pulang dan aku sudah masuk sekolah.


Misteri tentang kolan renang sekolah yang meminta nyawa ke sembilan belas masih aku telusuri, Lala yang sukanya tertidur di sekolah kini lebih suka menahan kantuk daripada harus mengalami mimpi yang sama setiap harinya. Tapi ternyata, mimpi buruknya itu bukan hanya terjadi jika ia tertidur di sekolah saja, tapi di rumah. Detik terus bergerak mendorong menit dan jam mendekat pada tanggal sembilan belas. Mimpi yang Lala alami semakin mengerikan, penampakan yang ia lihat di mimpi juga semakin beraneka.


Ia lebih sering menginap kerumahku ataupun kerumah kawan yang lain. Aku dan yang lain sama sekali tidak ada yang keberatan, kami memahami kondisinya. Kedua orang tuanya pun bingung dan gelisah dengan mimpi yang terus-terusan terjadi pada anaknya.


"Gw tadi ngomong sama kepala sekolah. Ternyata bener, dulu, ada orang yang meninggal di sini, jasadnya dikuburin didasar kolam renang" ucap Reza terengah-engah.


"Dia, huftt cape banget gw. Setuju, kalo kita ngadain penggalian di dasar kolam. Hari ini juga" tambahnya.


"Jangan-jangan pelakunya pak Tarta, gw denger dari desas-desus siswa siswi kalo dulu sampai saat ini sekolah kita selalu menang jika ada lomba renang, jangan-jangan pak Tarta mengadakan perjanjian dengan makhluk kolam renang supaya setiap lomba bisa menang. Dan makhluk kolam renang tersebut meminta hanya sampai sembilan belas korban karena ia meninggal di umur sembilan belas tahun" ujar Rey.


"Jadi mata telinga kita aja lo Rey" ucap Reza.


"Sialan lo!" umpat Rey.


"Semua alat-alat yang diperlukan sudah ada di area kolam renang, yuk capcus" ajak Reza sambil menarik tangan Rey. Zara akan berjalan, tapi aku menarik tangannya. Aku mengajaknya untuk mengamati gerak-gerik pak Tarta, jika mencurigakan kami akan mengamankannya.


Dan benar saja, Pak Tarta kini sedang di dalam sebuah ruangan yang hanya ada dirinya dan seorang perempuan berwajah seram. Aku dan Zara mengamatinya.


"Bagaimana ini? Kolam renang akan digali?" keluh pak Tarta.


"Jika kau menginginkan lomba tahun ini menang, maka kau harus memberiku tumbal. Jika sampai tanggal sembilan belas, rencanamu akan gagal. Aku tidak apa-apa jika belum tanggal sembilan belas sudah diberi tumbal" ucap makhluk di hadapannya.


"Siapa? Siapa yang akan aku jadikan tumbal?".


"Terserah" makhluk itu lantas pergi menghilang bersama kepulan asab abu arang.


Aku dan Zara menyergah pak Tarta saat ia keluar ruangan. Ucapannya tadi sudah aku rekam untuk menjadi bukti kejahatan dan kecurangannya. Apa dia menganggap remeh anak-anak tidak bisa berenang hingga memakai bantuan makhluk jahat.


"Hei! Sejak kapan kalian disini?" tanya pak Tarta gugup.


"Sejak bapak berbicara dengan makhluk kolam renang" sahutku yang membuat pak Tarta terbelalak dan membentakku.


"Ra! Ikat aja" Zara menuruti perintahku dan langsung mengikat pak Tarta. Kami membawanya ke tepi kolam renang, disana sudah ada pak kepala sekolah bersama guru-guru yang lain serta siswa siswi sekolah yang akan mendengarkan bukti tadi dan juga penjelasan dari pak Tarta sendiri.


"Kami menemukan tulang belulang manusia pak bu!!" teriak salah seorang yang ikut bekerja sama menggali dasar kolam renang.


Ia membawa tulang belulang tersebut ke atas dan menunjukannya pada kami semua.


"Jelaskan pak!" ucap pak kepala sekolah dengan wajah memerah menahan amarah.


"Jelaskan!".


"Ya, saya dalang di balik semua kejadian tumbal di kolam renang ini. Saya melakukan perjanjian dengan makhluk kolam renang. Setiap satu tahun sekali, saya akan memberikan tumbal kepadanya supaya setiap sekolah kita mengadakan atau mengikuti lomba renang akan menang. Dan bulan ini, saya harus memberikan tumbal keterakhir, ke sembilan belas. Saya sudah menargetkan Lala, tapi karena Risa yang sudah menghancurkan rencanaku, maka dialah tumbalnya" teriak pak Tarta menatapku tajam. Ia tertawa seperti orang dalam gangguan jiwa.


Aku merasakan ada hembusan angin yang sangat kencang di belakangku, saat aku menoleh aku melihat mas Gege sedang menghajar makhluk kolam renang.


"Heh! Kamu itu masih kecil, saya itu lebih tua dari kamu. Kamu itu harusnya ngalah dan sadar diri!" ucap mas Gege meninggi sembari melayangkan sinar-sinar merah.


"Diam! Tua mudanya bukan penghalang untuk kami bisa senang, kami kan menolong manusia".


"Menolong embahmu!" karena kesal mungkin, mas Gege memutar telapak tangannya dan mendorongnya hingga mengenai jantung makhluk kolam renang. Makhluk tersebut tersungkur dan terbaring seperti tak bernyawa. Maksudku, mati untuk yang kedua kalinya. Mas Gege membawa makhluk tersebut dan berdiri disampingku.


"Gila kamu Ta! Saya bayar kamu untuk mendidik anak-anak. Kalo gini namanya kita curang Ta!" bentak pak kepala sekolah.


Pak Tarta dibawa kerumah sakit dan di cek kejiwaannya. Selesai pengecekan, aku mendapat kabar bahwa pak Tarta mengalami gangguan kejiwaan.


Mas Gege melepaskan peganganya pada makhluk kolam renang. Makhluk tersebut seketika mengeluarkan cahaya dan melayang di atas tubuh yang tadi dipegang oleh mas Gege.


"Terima kasih Risa, kau sudah menolongku dari jeratan manusia serakah sepertinya. Terima kasih, aku minta maaf dan minta tolong kebumikan jasadku dengan baik. Aku sudah tidak memiliki orang tua, selama ini pak Tarta lah yang membiayai sekolahku, tapi ia menjadi gila semenjak aku meninggal. Hingga akhirnya ia memasukanku dalam roh jahat yang meminta tumbal" jelasnya.


Aku mengangguk dan tersenyum senang. Akhirnya misteri ini terjawab. Sudah tidak ada lagi korban yang berjatuhan akibat dijadikan tumbal, sudah tidak ada lagi tangis sedih orang tua karena anaknya meninggal menjadi tumbal. Semoga sekolah ini menjadi lebih baik lagi tanpa ada yang bersekutu dengan jin untuk memuaskan diri.


Bersambung...


Akhirnya yah, terjawab juga misteri kolam renang itu. Lala selamat dan pak Tarta akan mendekam di rumah sakit jiwa.


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.


Terima kasih.