
Happy reading...
Pagi sudah pukul sembilan. Risa masih anteng diatas bawah selimutnya. Suara kicauan burung menambah suasana pagi ini menjadi begitu meriah. Saking meriahnya, sampai membuat Risa enggan terbangun.
Setelah pengambilan raport kemarin. Sekolah Risa libur seperti biasa, libur akhir tahun setelah ulangan akhir semester. Hal ini menjadikan Risa menjadi enggan bangun pagi, mandi pagi, dan sarapan. Ya... gadis itu memang hanya bangun dan mandi pagi serta sarapan ketika akan bersekolah atau ada hal-hal yang sangat penting.
Hingga sebuah ketukan. Oh ralat! Gedoran, kata yang lebih tepat untuk menggambarkan suara 'tuk tuk tuk' dibalik pintu kamar Risa. Siapa lagi jika bukan ibu . Ia tidak ingin anak angkatnya itu menjadi malas saat libur.
Di luar kamar Risa, tepatnya dibalik pintu kamar Risa. Ibu menggerutu didalam hatinya. Ia juga menerka-nerka bagaimana kondisi kamar Risa karena Risa masih belum bangun pukul sembilan pagi.
"Risa!!! Bangun nak!!! Sekolah!!!" teriak ibu berbohong sambil terus menggedor-gedor pintu kamar Risa. Berharap, anaknya itu akan cepat bangun.
Satu menit...
Tiga menit...
Lima menit...
Ohh...!! Ibu mulai kesal. Ucapannya tidaklah manjur. Ia memutuskan untuk langsung membuka pintu kamar Risa.
"Kok nggak bisa?" gumamnya heran. Gagang pintu kamar Risa tidak mau terbuka, walaupun ia sudah berusaha sekuat tenaga.
"Sejak kapan dia suka kunci pintu kamar" batin ibu. Ia tidak lagi kesal, melainkan heran. Anak perempuannya itu tak pernah sekalipun mengunci pintu kamar. Dan pagi ini, apa yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Terjadi!.
"Risa...!!"
Tidak ada sahutan.
Ibu memutuskan untuk turun ke bawah dan menghampiri suami serta anak laki-laki nya.
"Yah, Ang" keduanya menoleh mendengar panggilan ibu.
"Ada apa? Lahh.. Risanya mana?" tanya ayah.
"Nahh.. itu, pintu kamar Risa dikunci".
"Nggak biasanya Risa kunci pintu kamar" timpal kak Ang.
"He'eh, kayaknya ada yang nggak beres deh yah" ibu mulai khawatir akan terjadi apa-apa dengan putrinya.
"Ada kunci cadangan?" tanya kak Ang.
"Ada, tapi ibu lupa ditaruh di mana".
"Dobrak aja kali" usul Ayah.
"Ehhhh... jangan, itu pintunya kuat tahu. Nanti kalau kalian dobrak, tubuhnya malah pada sakit" cegah ibu seraya mengepakkan kedua tangannya saat ayah dan kak Ang akan berjalan menuju kamar Risa.
"Pake gregaji aja" usul ibu.
"Berisik" sahut kak Ang.
"Terus gimana?".
"Pake obeng" kak Ang kemudian berlalu menuju gudang yang letaknya ada dipekarangan rumah. Ia kembali lagi dengan membawa obeng jenis flathead ditangan kanannya.
kak Ang bergegas menuju lantai dua, di mana kamar adiknya ada disana. Sesampainya didepan pintu kamar Risa, ia segera melancarkan aksinya. Gayanya membuka pintu terkunci itu seperti seorang maling yang terekam kamera cctv. Hal itu membuat ayah angkat bicara.
"Mirip maling beraksi, kamu ikut ekstra maling Ang?"
Selesai diucapkannya kalimat itu, ayah langsung mendapatkan jitakan maut dijidat oleh istrinya. Ia segera mengusap titik dimana jitakan itu dilancarkan. Sakit. Adalah kata pertama yang diucapkan oleh ayah.
"Sembarang kalo ngomong!".
Didalam kamar. Perawan dibawah selimutnya mulai sayup-sayup membuka mata. Menggeliat seraya mengumpulkan nyawa. Lalu turun dan menggerakan kunci yang masih berada dilubangnya tanpa ia sadari, saat itu kak Ang sedang melepaskan obeng flathead nya dilubang kunci tersebut. Pintu terbuka.
Ayah, ibu, dan kak Ang serta Risa bertatapan cengo. Mereka terdiam cukup lama. Risa mengucek matanya ala-ala bocah lima tahun yang baru bangun tidur.
"Kenapa kumpul didepan pintu kamar Risa?" tanya Risa dengan suara setelah bangun tidur.
Ibu berdehem.
"Rapih" gumam ibu.
"Bu, ayo turun" ajak kak Ang, sedangkan ayah sudah turun sedari tadi. Ibu mengangguk dan mengikuti langkah anak laki-laki nya.
Tanpa mereka ketahui. Sesosok makhluk serupa manusia biasa namun sudah beda alam sedang tertawa cekikikan karena tingkah jahilnya berhasil ia laksanakan dengan baik. Saat sedang asik-asiknya tertawa. Gege datang menepuk pundak makhluk tersebut.
"Lo ngapain hah?" tanya Gege sangar. Ia berkacak pinggang seraya mengamati tubuh makhluk dihadapannya.
"Bukannya elo yang mati dirumah sakit karena sesak nafas ya?" terka Gege. Makhluk didepannya mengangguk. Ia masih belia. Usianya sekitar tiga belas tahunan.
"Nama lo Hanar kan?" makhluk didepan Gege mengangguk lagi.
"Ngapain lo disini hah?!" bentak Gege.
"Main.."
"Mainan itu ditaman bermain atau kalau nggak dipasar malam, bukan dikamar nona Risa!".
"Main.."
"Yehhh... dinasehatin malah cuma ngomong main.. main.. doang, huh" gerutu Gege.
Makhluk didepan Gege yang dipanggil Hanar oleh Gege menarik tangan besar Gege seraya mengucapkan satu kata, yaitu
"Main.."
"Gue nggak mau main sama lo" tolak Gege dengan angkuhnya. Berharap sang anak akan merengek mengajaknya bermain.
"Main.." Hanar melepaskan pegangannya pada tangan Gege seraya berlalu dan duduk diatas kasur Risa sambil bergumam kata 'main' terus menerus.
Gege terkesiap. Ia mendengus kesal. Harapan tak sesuai kenyataan. Ia berdiam diposisinya untuk beberapa saat. Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka. Risa berdiri diambang pintu kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang menutupi atas buah dadanya hingga lutut. Ia segera menyilangkah kedua tangannya dan berjalan miring layaknya kepiting ditembok.
"Mas Gege ngapain disini?" tanya Risa.
"Tuh! Ada bocah asing!" tunjuk Gege dengan matanya. Risa mengikuti pandangan Gege, dan melihat seorang anak laki-laki belia sedang duduk menyangga dagu denan lutut kanannya yang ditekuk bersama dengan lutut yang satunya. Kedua telapak tangannya saling berkaitan didepan pergelangan kaki. Ia masih bergumam kata 'main'.
"Aduhh.... ini cowok-cowok kenapa malah pada nongkrong dikamarnya Risa sih? Keluar dulu napa, Risa kan mau pakai baju".
"Heh tong, keluar yok, nona Risa mau pake baju" ajak Gege.
"Main.."
"Nona Risa, dia dari tadi ngomong gitu terus" rengek Gege kepada Risa yang dipanggilnya nona. Itu karena, Risa adalah anak dari ratu yang sudah memberinya titah.
"Namanya siapa mas?" tanya Risa seraya menatap Hanar.
"Hanar".
"Owhh.. Hanar, nama yang bagus. Hanar baik.. yang ganteng.. kakak Risa mau pakai baju, Hanar keluar dulu ya sama mas Gege. Nanti kita mainan bareng" rayu Risa. Hanar membelalakan matanya menatap tak percaya Risa atas ucapannya. Setelah kematiannya, sekitar tiga bulan yang lalu. Ia menjadi arwah yang meminta 'main' bareng bersama kepada manusia atau makhluk sesamanya yang ia temui.
Karena seumur hidupnya, ia tidak bisa bermain puas karena penyakit asma akut yang dideritanya. Ia tidak bisa kelelahan. Sedikit lelah, asmanya kambuh. Sedangkan saat itu, permainan sepak bola, bulu tangkis, dan sebagainya yang membutuhkan kegesitan yang membuat lelah adalah permainan yang sedang sangat trend dikomplek tempat tinggalnya. Namun sayang, ia tidak bisa ikut bermain bersama yang lain, karena permainan itu akan membuatnya ngos-ngos an dan mengambuhkan penyakitnya.
Hal itu membuat Hanar diolok habis-habisan, teman-temannya tidak ada yang tahu bahwa Hanar menderita penyakit asma akut. Hingga akhirnya, ia meninggal dirumah sakit karena asma nya kambuh. Ia memaksakan diri untuk ikut bermain sampai ia kelelahan dan mulai kejang-kejang saat dilapangan.
"Beneran kak?" Risa mengangguk sambil tersenyum.
"Aku tunggu ya kak, jangan bohong ya.." Hanar turun dari kasur dan menggandeng lengan Gege, mengajaknya keluar dari kamar Risa. Setelah kepergian mereka berdua, Risa bergegas memakai pakaian dan turun ke bawah untuk sarapan, atau makan siang. Entah mana kata yang tepat untuk menggambarkan kegiatan memakan nasi dan lauk saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.
"Kamu tumben ngunci pintu?".
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
***Thank You All...
❣️❣️❣️❣️***