INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Buah Simili (Season 2)



Happy Reading...


Dokter yang ditunggu-tunggu keluar dari dalam ruang IGD. Tanpa diperintah, Rayhan dan Rano langsung berdiri berhadapan dengan dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi kaki adik saya, dok?" tanya Rayhan mendesak.


"Luka di kaki pasien tiba-tiba menghilang saat saya bersama suster akan mengeceknya" jelas singkat dokter tersebut. Ber name tag, Sriwan yang tertempel dibagian dada kanan jas putih ala dokter yang dikenakannya.


"Kenapa begitu?" tanya Rano penasaran.


"Entahlah, saya juga tidak mengetahuinya. Tapi, setelah saya cek dan melakukan penelurusan lebih jauh, memang tidak ada bekas luka di kaki pasien, kakinya baik-baik saja, tidak ada yang aneh".


"Kalau begitu saya permisi, tuan boleh melihat pasien setelah ia dipindahkan ke ruang perawatan, mari.." dokter Sriwan kemudian pamit pergi yang dibalas anggukan oleh Rayhan dan Rano.


"Rumor yang beredar, kalau hantu angkot ngapa-ngapain manusia, lukanya emang bakal hilang dengan sendirinya. Tapi, ada efeknya, yaitu pegal dan kaku di area luka. Katanya sih suruh dibawa ke ustadz untuk dibersihkan" ucap Rano. Rayhan diam mendengarkan, beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah berada di ruang perawatan Irel. Bukan menghilang ala jin botol, tapi mengikuti para suster yang membawa bed Irel ke ruang perawatan yang kebetulan jaraknya tidak sampai beratus-ratus meter. Masih satu lantai juga.


"Mas... kaki aku mas..." rengek Irel tiba-tiba setelah ia terbangun dari tidurnya. Ia menggenggam erat lengan kakak tirinya itu yang khawatir akan kondisinya.


"Mas... kenapa kaki aku pegel sama kaku ya mas? Kaki aku kenapa mas? Apa kaki aku di amputasi mas? Mas... jawab! Apa kaki aku di amputasi?" desak Irel seraya menggoyang-goyangkan lengan Rayhan.


"Irel, tenang dulu... kaki kamu nggak di amputasi kok" Rayhan mencoba menenangkan adik tirinya itu.


"Tapi, kenapa rasanya pegel sama kaku gini, mas? Kenapa? Apa kaki aku nggak bakal berfungsi lagi mas?" perlahan tapi pasti, bulir bening yang sangat berharga di mata Rayhan jatuh membasahi pipi Irel secara bertubi-tubi, bahkan beberapanya tersedot masuk ke mulut lalu tertelan dan terciptalah rasa asin bersamaan dengan ingus yang mulai meleleh. Berabagi pikiran negatif di otak Irel muncul tiba-tiba dan dalam jumlah yang begitu banyaknya.


"Astagfirullah... istigfar, Rel! Luka di kaki kamu udah hilang, nanti kakak Rano jelasin kenapa kaki kamu pegal dan kaku".


"Huhuhu... kak Rano... kaki aku bisa sembuh kan?" Rano berdehem panjang seraya mengamati wajah Rayhan yang memberikan instruksi untuk mengangguk saja supaya adiknya merasa tenang dan aman. Mungkin dengan itu, dia bisa diajak berbicara dengan baik dan di bawa ke pak ustadz untuk dibersihkan. Huh... lagi-lagi, mungkin!. Tapi, semoga saja, itu harapan keduanya, Rayhan dan Rano lebih tepatnya.


Rano lalu menjawab sesuai apa yang dia tahu tentang kejadian yang barusan dialami oleh adik tiri sahabatnya itu. Irel terdiam dan mendengarkan dengan seksama penjelasan Rano.


"Mereka meninggal karena apa kak?" tanya Irel penasaran. Terabaikan lah sesaat rasa pegal dan kaku di kakinya.


"Katanya kecelakaan tunggal".


"Di mana kejadiannya?" Rayhan mulai nimbrung karena ia juga merasa penasaran. Reno menatap Rayhan dengan pandangan mengejek atau entah apa, sulit untuk digambarkan. Intinya hatinya berkata 'tumbenan lo mau nimbrung ke hal-hal beginian, perasaan lo anti banget deh'.


"Wehhhhh.... malah nglamun, mana ekspresinya gitu banget lagi sama gue!" Rayhan menoyor kepala sahabatnya itu hingga mengubah ekspresinya.


"Ishhh... apaan si lo!".


"Di mana kejadiannya?" Rayhan mengulang pertanyaannya.


"Iya-iya, nih gue jawab! Kecelakaannya terjadi di terowongan Bulan".


"Itu nggak jauh dari rumah sakit ini kan?" Rano mengangguk mendengarkan. Sedangkan, Irel? Ia hanya diam menyimak percakapan dua lelaki dihadapannya, ia tidak tahu sama sekali dengan berita itu ataupun terowongan Bulan.


"Apa karena angkot tersebut kecelakaan di terowongan ya? Jadi, tadi Irel merasa lagi di terowongan".


"Mungkin" sahut Rano.


"Bahaya nih kalau gini terus" gumam Rayhan, namun masih bisa di dengar oleh kedua orang yang dia sayang.


"Tapi, kita nggak bisa ngapa-ngapain, Han" timpal Rano.


"Iya juga sih".


"Eh.. Ir! Gimana sama urusan sekolah kamu?" tanya Rayhan penasaran. Pusing juga ternyata memikirkan hal yang mesti dipecahkan jika informasinya baru setengah.


"Ya gitu..."


"Ihh kamu mah kalau di tanya ngasih penjelasannya enggak jelas! Namanya juga penjelasan, ya harus jelas dong!".


"Hehe, iya-iya, besok kalau ayah sama ibu sempet, Irel mau ke sekolahnya buat daftar".


"Kamu mau daftar di sekolah mana?" tanya Rano.


"SMK BANGSA".


"Bukannya itu SMK yang ada team indigonya?" gumam Rano.


"Maksudnya?" tegas Irel dan Rayhan bersamaan, saat itu pula perut Rano berdenting. Otaknya mengirimkan sebuah sinyal bahwa perutnya lapar. Mungkin sebentar lagi cacing-cacing di perut akan bergerak memakan ususnya bila ia sampai melewatkan sarapannya.


"Gue laper, gue keluar dulu yah mau beli makan. Kalian mau makan apa?" Irel dan Rayhan mendengus kesal, lalu satu persatu dari mereka menjawab pertanyaan Rano sesuai makanan yang mereka inginkan saat ini.


"Okh! Gue keluar dulu yah..." Rano pergi meninggalkan mereka berdua yang saling tatap penuh tanya.


"Kamu tahu nggak, Ir?" Irel menggeleng.


Dibalik semak-semak setinggi dada orang dewasa, tiga orang yang berparas tampan dan cantik berjongkok mengamati apa yang ada di depannya setelah insiden kecil yang menurut Wisnu sangat menyebalkan. Ya, mereka bertiga adalah AWA, atau singkatannya adalah Adam, Wisnu, dan Azahra.


"Itu cuma semak sama buah blackberry! Dan kamu bilang pohon buahnya warna emas bentuk mawar? Itu emas? Kamu buta warna? Itu mawar? Kamu buta buah atau bunga?" kesal Zara.


"Itu salah kalian berantem terus dan dipanggil nggak nyaut-nyaut, kalau pake cara tadi pasti berhasil, dan kan? Berhasil! Seneng gue!" Zara kembali menoyor kepala sahabatnya.


"Wisnu nggak ngada-ngada, gue lihat mawar mekar kelopaknya emas, cuma tumbuhnya di tanah kayak bunga raflesia" ucap Adam yang sontak saja membuat kedua temannya berhenti berkelahi.


"Itu portal nyokap kandung lo, Dam?" sekarang gantian, Adam lah yang menoyor kepala Wisnu.


"Astagfirullah! Kalian kenapa sih suka banget noyorin kepala gue?! Dendam?!".


"Portal bunda cuma ada di kamar gue, pula warnanya bukan emas, tapi merah, bentukannya juga kayak bunga sepatu. Beda kali sama yang ini!" tegas Adam.


"Iya juga si, tapi kan siapa tahu aja" Adam menyelis lalu menatap lagi bunga berkelopak emas di depannya.


"R-!".


Wisnu dan Adam melihat ke tempat di mana Zara ikut berjongkok, namun sudah tidak ada lagi raga dan jiwanya disana. Mereka berdua lalu menatap bunga yang jaraknya ada sekitar dua meter dari mereka berdua, dan ya! Zara disana.


Mereka berlari menghampiri Zara yang sudah bersiap akan memetik kelopak demi kelopak bunga di hadapannya.


"Jangan, Ra! Kita nggak tahu bunga itu berbahaya atau enggak!" cegah mereka berdua seraya menarik mundur Zara dengan menarik kedua lengan Zara. Sesaat setelah itu, langit tiba-tiba mendung, petir menyambar di mana-mana, sebuah siluet berbentuk genderuwo datang membelakangi mereka.


"Ada perlu apa kalian kemari?!" tanya siluet tersebut dengan suara berat dan seraknya.


"Mau ngambil buah Simili!" sahut Zara tanpa takut. Sebenarnya dua lelaki disisinya juga tidak takut, tapi hanya waspada. Bertindak gegabah bukanlah hal yang suka terjadi pada Adam dan Wisnu.


"Cih! Kamu datang ke sini akan mengambil buah itu seolah-olah tempat ini adalah milikmu! Tempat ini tempat khusus! Dan asal kalian tahu saja, hanya orang-orang khusus yang bisa masuk ke sini! Tapi, kenapa kalian bisa semudah itu memasuki tempat ini?! Siapa kalian?!".


"Gitu ya? Anda ingin perkenalan? Jika ingin, perkenalkan.. saya Zara, ini dua sahabat saya, Adam dan Wisnu. Anda pasti tahu kan mana yang Adam dan mana yang Wisnu. Jika anda saja tahu keberadaan kami di mana sedangkan saya rasa, yakin malah, anda sedang membelakangi kami bertiga" sahut Zara.


"Berani kamu sama saya?!" geram siluet tersebut.


"Anda bukan tuhan ataupun orang tua saya, untuk apa saya takut dengan anda? Lagian saya juga tidak melihat wajah anda, kalau hanya lihat bulu hitam lebat, tubuh tinggi, gemuk, gede, gitu.. saya sudah biasa".


"Hohohohohoho....!!!!" siluet tersebut menjelaskan rupanya dan menunjukkan wajahnya. Seperti kingkong, tapi terkesan baby fice. Ketiga manusia lawan bicaranya tersentak dan menahan tawa. Gemas adalah kata yang tepat untuk menggambarkan ekspresi mereka bertiga tatkala melihat wajah siluet tadi, bukan takut.


"Aduh.... gemesin banget mukanya, walaupun kaya kingkong" Zara mendekati makhluk besar di depannya dan menjembil pipinya, mengusap bulunya yang sangat halus dan lembut.


"Aduhh.... enak banget, anda mau tidak bulunya saya cukur?" tanya Zara masih dengan mengusap-ngusap lembut bulu makhluk tersebut.


"E-eh.. untuk apa?".


"Jadi bahan selimut atau syal".


"Ti-tidak! Tidak mau!" makhluk besar itu bergerak menjauh dan akibatnya Zara tersungkur ke tanah.


"Astagfirullah, sakit" Wisnu berjalan menghampirinya dan membantunya berdiri.


"Saya benar-benar merasa harga diri saya jatuh karena perempuan ini, cepatlah selesaikan urusan kalian disini dan pergi dari sini, lagian ini juga bukan tempat yang baik untuk kalian bertiga. Sering ada manusia-manusia serakah yang mencari buah Simili untuk kepentingan pribadi" ujar makhluk tersebut. Siapa sih namanya?.


"Tadi anda belum memperkenalkan diri lhoh?" tekan Zara.


"Oh ya, perkenalkan.. nama saya King the Dark, panggil saja Dark".


"Raja gelap?" reflek, ketiga manusia lawan bicaranya mundur dan memasang postur tubuh siap waspada.


"Hahahaha... kalian jangan takut kepadaku, walaupun namaku mengandung arti raja gelap, tapi aku baik kok, nama itu disematkan karena aku lahir di puncak malam kegelapan".


"Benarkah?" tanya Adam memastikan. Dark mengangguk yakin.


"Kalian ada keperluan apa kemari? Cepatlah! Saya merasakan hawa yang tidak enak mendekati kita!" tanya Dark.


"Buah Simili" sahut Wisnu cepat. Dark lalu memetik beberapa kelopak mawar disampingnya dan memberikannya dengan tergesa-gesa pada Wisnu, Adam, dan Zara lalu menyamarkan wujud buah Simili tersebut.


"Pergilah ke air terjun, dan ucapkan 'saya meminta bantuan, Bidari. Tolong bukakan pintu gerbang air terjun ini, orang-orang jahat sedang mendekat ke sini'. Cepatlah!" Dark bahkan sampai membalikan tubuh mereka bertiga dan mendorongnya untuk menuju ke air terjun. Sesampainya di air terjun, mereka bertiga mengucapkan apa yang disuruh oleh Dark. Air terjun tiba-tiba terbuka dan mereka tertarik ke dalamnya.


Bersambung...


Thank You All....


❣️❣️❣️❣️


Mau author update? Like, hadiah, vote, and komennya jangan lupa!!! *maksa sedikit, wkwk.