INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Tanggung jawab Rasdan (Season 1)



Masih Pov Glen


Aku dan Andre turun dari mobil. Ais aku suruh untuk berada di dalam mobil menjaga Rasdan.


"Assalamualaikum!!" teriakku sambil mengetuk pintu berulang kali.


"Waalaikumsalam" pintu terbuka. Nampak wanita setengah baya yang mengenakan jilbab padahal sedang mengenakan daster berlengan pendek, bertanya padaku.


"Adek siapa ya?".


"Saya temen jauh Cinta bu" sahutku sekenanya.


"Bu! Saya ingin menceritakan sesuatu tentang pelaku kejadian tabrak lari yang membuat Cinta meninggal" air mata ibu setengah baya di depanku mulai mengalir. Kehilangan buah cinta memang sangat sulit untuk diikhlaskan. Luka yang tertoreh karena kelakuan pelaku mungkin masih begitu membekas di hati ibu Cinta.


"Saya sudah menemukan pelakunya" ibu Cinta terkesiap, menatapku penuh tanda tanya.


"Ndre, bawa dia" Andre mengangguk patuh. Titahku bak titah raja yang mutlak untuk dilaksanakan. Ia bergegas pergi ke mobil dan membawa Rasdan yang kedua tangan dan kakinya diikat.


"Lhoh, nak Rasdan? Anaknya juragan kopra?" tanya ibu Cinta terkejut sambil menunjuk Rasdan yang berusaha untuk menjaga keseimbangan.


"I-iya bu, saya Rasdan Malik, anak nya juragan kopra. Maafin saya bu, maafin saya yang tidak langsung bertanggung jawab setelah menabrak anak ibu" Rasdan menjatuhkan lututnya hingga mengenai lantai bersih itu. Kepalanya di tundukan tanda dia memang benar-benar menyesal karena kelakuannya.


"Waktu itu... waktu itu saya sedang terburu-buru bu, saya sudah di tunggu oleh rekan bisnis saya di ladang kopra milik bapak. Saya takut telat bu, jadinya saya nggak sempet nolongin anak ibu. Sekarang dimana Cinta bu? Saya mau bertanggung jawab dengannya dan meminta maaf secara langsung padanya" tangis Rasdan. Ibu Cinta dengan sifat keibuannya yang pasti tidak tega melihat Rasdan berlutut segera meraih pundak Rasdan dan membawanya berdiri. Di dudukanlah Rasdan disalah satu dari lima kursi yang mengerubungi meja bulat di tengahnya.


"Cinta sudah meninggal, nyawanya tidak tertolong karena darah yang keluar sangat banyak" ucap ibu Cinta tanpa menatap Rasdan yang terbelalak. Air mata kembali mengalir dari keduanya.


"Maafin aku bu..." gumam Rasdan.


"Saya siap masuk penjara demi mempertanggung jawabkan kesalahan saya bu" lanjutnya.


"Serius kamu Dan?" Rasdan menoleh, mengangguk yakin tanpa bersuara. Mungkin isak tangisnya sudah dapat menggambarkan betapa menyesalnya dia saat ini. Penyesalan memang selalu datang belakangan.


"Lo mau lihat Cinta Dan?" tanyaku.


"Mau, bagaimana caranya?".


"Mas..." bulir bening itu mengalir membasahi pipi pucat Cinta. Rasdan ikut menangis, ia melompat menghampiri Cinta. Aku berhenti memegang lengan Rasdan dan membuka ikatan di kedua tangan dan kaki Rasdan. Membiarkan sekejap dia memeluk Cinta sebelum masuk ke penjara.


"Cinta!" Rasdan langsung memeluk Cinta. Tak ia pedulikan sosok yang sedang di peluknya.


"Maafin mas, maafin mas cin" Cinta mengangguk.


"Nggak papa mas, asal mas mau bertanggung jawab sama kesalahan mas".


"Pasti, mas pasti akan bertanggung jawab cin".


Rasdan memeluk Cinta beberapa saat. Hingga akhirnya aku melepaskan peganganku pada lengannya tas dasar perintahnya. Ia menyuruhku untuk mempertemukan Cinta dengan ibunya untuk yang terakhir kalinya.


"Cinta! Tenang-tenang di sana ya nak" ibu Cinta menangis sesegukan memeluk anaknya yang berbalut kain putih berbentuk seperti lontong.


"Iya bu, ibu baik-baik ya di sini. Do'a in Cinta supaya tenang dan bisa menjalani kehidupan Cinta di alam selanjutnya dengan baik" ibu Cinta mengangguk.


Pertemuan mereka berakhir. Cahaya menyilaukan muncul berpendar seiring Cinta yang berjalan mundur seolah tertarik atau menghampiri cahaya tersebut.


Aku membawa Rasdan masuk ke mobil. Ibu Cinta ikut ke kantor polisi untuk menyerahkan Rasdan.


Pelaku tabrak lari yang membuat korban kehilangan nyawanya dapat diancam pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).


Rasdan akan mendekam bertahun-tahun di penjara mempertanggung jawabkan perbuatannya. Setelah pulang dari kantor polisi. Aku mengajak ibu Cinta jalan-jalan sebentar dan pergi makan ke restoran. Setelah itu, aku mengajaknya berbelanja dan menyuruhnya untuk membeli apapun yang dia mau. Aku ingin membuat bahagia hatinya yang sedang di rundung duka.


"Sudah nak Glen, sudah cukup. Ini terlalu berlebihan, ibu sudah cukup".


"Enggak papa bu, kalau ada yang perlu ibu beli lagi juga nggak papa kok" ucapku tersenyum hangat.


Aku membawanya menuju tempat sembako dan peralatan rumah tangga, pakaian dan sebagainya. Aku juga membelikannya sebuah kulkas bergaransi untuk mengawetkan bahan-bahan makanan yang di beli untuk dua minggu kedepan.


"Makasih, alhamdulillah. Ibu dapet banyak rezeki hari ini, terima kasih, terima kasih nak Glen, nak Ais, nak Andre" ucap ibu Cinta senang. Setelah puas berbelanja, aku membawa ibu Cinta pulang. Diikuti sebuah pick up yang mengangkut barang-barang belanjaan ibu Cinta. Setelah semuanya diturunkan dan di bawa masuk. Aku, Ais dan Andre pamit pulang.


jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Terima kasih.