
Happy Reading…!!!
"Yang kayak dulu-dulu gimana?" tanyaku. Aku itu mungkin emang dasarnya hidup dengan otak dangkal dan pelupa, maka dari itu aku sering menanyakan hal-hal yang bersangkutan. Akan tetapi aku juga memiliki daya ingat yang lumayan pada memori yang memiliki kesan tersendiri untukku.
"Mungkin di dalam kamar mandi itu ada hal-hal yang bersangkutan dengannya." sahut Ais "Kayak misalnya raganya terkubur di tanah yang sekarang berdiri kamar mandi, atau ada benda-benda miliknya yang belum tersimpan dengan baik dan ikut terkubur didalam tanah tersebut." sambungnya.
"Tapi itu, 'kan tanah milik Ayah aku, masa ada orang yang nguburin jenazah tanpa sepengetahuan pihak yang bersangkutan."ujarku membuat ais mengendikkan bahunya.
"Itu, 'kan cuma spekulasi aku doang."
"Tapi kenapa energi yang dikirim dia negatif, ya?" tanya Glen. Aku mengernyit.
"Gimana kamu bisa tahu kalau energi yang dia kirim itu negatif?" tanyaku. Sekarang dia yang mengernyit.
"Kan tadi lu yang cerita, gimana sih? Ogeb banget jadi orang." aku terkekeh.
"Kalau seandainya apa yang dikatakan Ais tadi benar tentang raganya atau benda-benda miliknya yang terkubur ditanah yang sekarang berdiri kamar mandi. Mungkin energi negatif yang dikirimnya karena dia merasa kesal." ujar Zara. Dia itu suka sekali berspekulasi dan aku malas sekali jika harus memutar otak tentang dunia perhantuan. Itu lebih menakutkan dari pada masuk ruang BK.
"Bisa jadi..."
"Kita sediliki dulu gimana?" usul Glen. Apa yang dia maksud itu selidiki?.
"Se-seklidiki eh selidikli e gimana si? Susah amat bilang gitu doang." geram Ais.
"hustttt udah-udah lama-lama ngomongnya pada nggak bener." kataku.
Tiba-tiba pintu terbuka dan aku melihat seorang wanita cantik tengah berjalan menuju kearah kami berempat. Sesampainya dia di tempatku, dia menyuruh Zara, Ais, dan Glen untuk keluar karena dia akan mengecek kondisi terkini tubuhku.
Dia menyuruhku untuk berbaring karena tadi sedang bersandar. Aku menuruti kemauannya, ia lalu mengecek suhu tubuhku, bola mataku dan detak jantungku. Darah dari hidungku pun sudah mengering. Pingsan, mimisan, dan berkeringat adalah efek ketika aku merasakan energi negatif dari makhluk yang kulihat.
"Kondisi kamu sudah membaik, hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang. Jika kamu merasa pusing, segera datang kesini. Supaya lebih cepat mendapatkan penanganan." ujarnya sambil tersenyum. Kulihat nama Dr. Detar di tanda pengenalnya. Nama yang cantik secantik wajahnya.
"Baik dok, terima kasih." aku membalas senyumannya. Ia lalu pergi dan ketiga temanku kembali masuk.
"Hari ini aku sudah boleh pulang, jangan kasih tahu Ibu, Ayah, Nenek sama Kakakku, ya." pintaku sambil berusaha bangkit di bantu mereka.
"Iya." sahut mereka bertiga. Aku mengangguk.
"Nenekmu kapan balik?" tanya Glen. Jiwa keponya pasti sedang meronta-ronta sekarang.
"Minggu kemarin." terangku membuatnya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ini."sahut Zara seraya memberikan hp-ku.
"Kalau motor lu udah di bawa pulang sama Rey." timpal Glen.
Aku berjalan dibantu dengan Ais dan Zara yang memapahku dari sisi kanan serta kiri sedangkan Glen pergi membukakan pintu.
Diluar aku melihat Reyyan, Wisnu dan Adam sedang duduk di kursi tunggu. Mereka bertiga menatapku serentak ketika menyadari kehadiranku.
"Gimana keadaan lo?" tanya Reyyan.
"Sudah lebih baik."
"Alkhamdulillah kalau gitu."
"Makasih, ya, Rey udah bawain pulang motorku." Rey mengangguk.
Aku dan keenam temanku pergi keluar klinik dan memesan dua taksi, setelah taksi tersebut sampai kami semua membagi dua kelompok, kelompok perempuan menaiki taksi pertama sedangkan kelompok laki-laki menaiki taksi kedua.
"Jalan Kenanga, Komplek ke-3, Nomor 20." ucap Zara.
"Kita ngapain ke markas, 'kan motorku udah di rumah?" tanyaku.
"Buat pulihin kondisi kamu."
"Nanti kalau aku pulang orang rumah pasti kepo kenapa motorku pulang cepet akunya terlambat."
"Nanti kita tanya Rey, alasan apa yang dia kasih buat orang rumahmu."
"Ini Indigo Team, ya?" tanya pak supir.
"Lhoo bapak tahu kami?" aku menatapnya yang kebetulan duduk disampingnya.
"Pasti dong, Bapak, 'kan salah satu fans kalian."
Bersambung...
Wahhhh... Indigo Team ternyata punya fans juga, ya, author ada ga nih?