
Happy Reading....
"Ya Allah... lindungilah perjalanan kami, dari awal hingga akhir. Permudahkanlah segala rintangan yang akan kami lewati kelak di dalam hutan tersebut... amin"
Begitulah kiranya do'a yang mereka bersembilan panjatkan sebelum memulai langkah menuju perbatasan hutan dan desa.
"Ini masuknya gimana?" tanya Glen.
"Biasanya cuma masuk aja, kaki kanan dulu sambil ngucap salam" sahut Vinula.
Glen pun mencoba apa yang diucapkan oleh Vinula. Namun yang ada, dirinya malah terpental ke belakang.
"Masuk rumah lewat pintu, kalau pintunya ke kunci ya nggak bisa masuk. Mungkin gerbang hutan Lereng ini seperti itu, gerbang ini terkunci layaknya pintu rumah yang dikunci. Untuk membukanya kita membutuhkan kunci barulah salam. Coba gunakan kunci waktu itu, Lis" ujar Wisnu panjang lebar.
"Biasanya tidak seperti itu" timpal Vinula.
"Itu cuma analisis gue aja".
Chalis mencoba melakukan apa yang diperintahkan oleh Wisnu. Glen lalu mencoba masuk. Berhasil!. Yang lain pun akhirnya mengikuti.
Sepanjang satu kilometer berjalan, perjalanan masih mulus aman terkendali. Belum ada hewan ataupun clue yang muncul.
Hingga...
Suara racauan kera tiba-tiba terdengar, sesaat setelah Chalis menginjak benda panjang berbulu coklat yang melintang di jalan setapak yang sedang mereka bersepuluh lewati. Oh! Ini masalah! Mulanya hanya terdengar satu racauan, namun lambat laun.
oekk... hugh... uu..uuu..
"Si-Arghhh!! Kalau jalan liat-liat dong Lis, segala ekor monyet lo injek, marah kan pemilik ekornya. Akh! Elu mah!" geram Rey. Ia tahu bahwa Chalis lah pembuat onarnya, karena ia berjalan dibelakang salah satu sahabatnya itu dan sempat melihatnya menginjak sebuah benda panjang melintang berbulu coklat, lalu.. setelah itu, buahhh!! Ricauan suara monyet terdengar bersahutan. Apesnya lagi! Benda yang ternyata diinjak oleh Chalis tadi adalah ekor raja monyet. Pemimpin monyet di hutan Lereng yang memiliki kemampuan gigitan dan cakaran seperti racun sianida, atau mungkin lebih parah.
"Gu-gue nggak tahu, i-itu ekor monyet".
"Gimana nih, Vi?" tanya Risa.
"Biasanya kalau gini dilemparin buah Simili aja" sahutnya ketakutan. Walaupun sudah berkali-kali berjumpa dengan monyet tersebut, bahkan ada salah satu dari mereka yang dijadikan hewan peliharaan raja. Tapi tetap saja, gigitan dan cakarannya dapat membuat orang lumpuh dalam hitungan detik atau langsung menemui ajalnya.
"Buah Similinya di mana?" tanya Reza.
"Jauh dari sini, kayaknya satu-satunya cara lari dulu deh sambil cari pohon itu".
"Ya udah, nungguin apa? Ayok lari" Adam bergegas menggandeng tangan Risa dan berlari yang kemudian diikuti oleh kawan-kawannya serta Vinula. Monyet-monyet tersebut meracau, dan tak lama kemudian dengan lincah mereka yang jumlahnya dua kali lebih banyak dari team Indigo berayun sambil terus meracau di dahan pohon dan akar-akar pohon yang menggelantung seperti ular. Mungkin untuk beberapa monyet-monyet tersebut, untaian benda panjang berwarna hijau yang terkadang coklat itu. Bukanlah akar pohon, melainkan memang sosok ular yang sedang mengintai mangsanya. Tujuh dari jumlah kawanan monyet tersebut berlari menghindar dari kejaran ular yang mereka cengkram tadi tubuhnya seraya meracau seolah-olah racauan mereka adalah teriakan minta tolong pada kawannya. Beruntung bagi mereka bertujuh, ke lima kawannya mau membantu dengan mengejar lalu menghempaskan si ular. Setelah selesai semua, mereka berhenti. Sudah jauh dari pimpinan mereka, karena mereka berlari dengan arah berlawanan. Hingga akhirnya, istirahatlah yang mereka lakukan.
Kembali ke team Indigo, masih ada rasa syukur yang mereka ucapkan walau sedang dikejar-kejar monyet yang marah. Karena jumlah monyet tersebut tak lagi sebanyak tadi, hanya tinggal delapan ekor saja.
"Kyaaaa... baju aku! Baju aku! Baju aku ditarik-tarik..!! Huaaaa.... tolong..." keluhan bercampur teriakan dari Chalis terdengar lebih keras dari yang lain. Pemimpin monyet tersebut berhasil menyobek kain baju Chalis hingga terlihat compang-camping bagian belakangnya. Sedikit goresan luka cakaran pun ia dapatkan. Akibatnya, rasa pusing dan lemas mulai ia rasakan.
Jika cakaran atau gigitan yang didapatkan sudah parah, korban bukan hanya merasa kesakitan, tapi halusinasi tingkat tinggi. Racun dari monyet tersebut yang diperoleh dari cakaran atau gigitan juga dapat menyerang saraf otak secara cepat.
"Adududuhhh... punggung gue perih, kepala gue pusing, badan gue lemes.." keluh Chalis.
"Iya.. gue juga pengin main kok.. main yuk.. hhehehe... nggak... pergi! Kamu nakal!" racau Chalis. Terkadang ia tertawa dan terkadang ia menangis.
"Lis... yang kuat ya..." gumam Rey.
"Ada goa! Kita sembunyi disana untuk sementara!" seru Vinula seraya menunjuk sebuah goa. Ia lalu mengambil beberapa ranting yang ada di tanah dan melemparkannya secara bertubi-tubi ke arah beberapa monyet yang masih mengejar.
"Saya perlambat gerakannya, kalian percepat lari masuk ke goa, saya akan menyusul, jika saya selamat..." ujar Vinula.
"Kamu nggak bisa sendiri, aku bantu" Risa melepas genggaman tangan Adam dan berlari untuk membantu Vinula.
"Jangan nekat, nyai! Saya tidak mau membahayakan nyai! Ikutlah dengan yang lain!".
"Enggak! Aku mau bantuin kamu!.
Karena kengeyelannya, ia terkena cakaran salah satu monyet. Beruntung! Bukan pimpinannya yang menyakar dan tidak terlalu dalam juga, walaupun begitu, ada sedikit rasa pusing dan lemas ditubuhnya.
"Sudah berkali-kali gue ingatkan untuk jangan menjadi gadis yang ngeyelan, tapi tetap saja.. lo nglakuin itu, dasar!" dengan bersusah payah, Adam menyeret Risa ke dalam gua. Ia lalu keluar setelah memastikan Risa aman untuk membantu Vinula.
"Akh... sakit..." rintihan itu terdengar memilukan di telinga Adam, ia bergegas membawa Vinula masuk dengan menggendongnya ke tempat di mana semuanya berkumpul.
Para monyet-monyet tersebut terlihat kebingungan. Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali.
"Apa, apa penawarnya, Vi?" tanya Adam tergesa-gesa.
"Di tas, tas saya. Ambil kapas basahnya lalu bersihkan lukanya, setelah itu.. auh... teteskan o.. obat merahnya. Itu untuk luka saya dan luka nyai Risa, untuk luka nyai Chalis. Perlu diobati dengan buah Simili, buah tersebut biasanya tumbuh didekat air.. air.. terjun.. Mawar..." jelas Vinula.
"Air terjun Mawar ada di mana?" tanya Zara.
"Itu masalahnya, saya lupa tempatnya".
"Aduh... ya udah kalau gitu, kami cari saja sendiri. Rey, Reza, Glen, sama Ais yang baik-baik aja tolong obatin Vinula, Risa, sama bersihin lukanya Chalis. Aku, Adam, dan Wisnu akan pergi mencari buah Simili" ucap Zara terburu-buru. Ia khawatir nyawa ketiga temannya tidak terselamatkan, apalagi Chalis. Luka dan halusinasinya cukup parah.
"Baiklah, cepatlah kembali" sahut Glen.
"Aku pergi dulu, San. Bertahanlah... aku akan segera kembali" bisik Adam tepat ditelinga kanan Risa, Risa tersenyum menanggapi bisikan tersebut.
Zara, Adam, dan Wisnu kemudian pergi meninggalkan goa. Mencari air terjun Mawar guna mengambil buah Simili. Tentunya, dengan ke hati-hatian dan perjuangan penuh. Sesekali berhenti untuk meminum air sungai dan memakan buah-buahan yang mereka jumpai.
Bersambung...
Thank You All...
❣️❣️❣️❣️
Ceritanya masih seru nggak nih? Kalau masih.. dukungannya yahh jan lupa, hehe. Semoga tambah seru ya ni cerita.