INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Lyly dan pak Ridwan (Season 1)



Brak...


Aku yang sedang membereskan buku di meja seketika terkesiap saat mendengar suara buku yang jatuh. Aku segera berlari kecil menghampiri suara buku yang jatuh itu dan segera mengembalikan ketempatnya. Tapi belum sempat buku tersebut aku letakkan ditempatnya, aku melihat separuh wajah pucat dan kelopak matanya yang merah. Aku terperanjat hingga buku yang aku pegang tadi terlepas sedangkan aku jatuh terduduk.


"Hai? Kamu bisa melihatku?" tanya pemilik wajah tadi dengan hanya memperlihatkan kepalanya dari balik rak.


Aku diam.


"Masa sih kamu nggak bisa lihat aku? Tadi aja kamu sampai kaget" gumam pemilik wajah sambil mengamati mataku.


"Lhoh kok bayangan aku nggak ada dimanik mata kamu?" ucap pemilik wajah terkejut.


"Kamu kan hantu, mana bisa kelihatan di manik mata aku" sahutku reflek, setelah sadar aku segera menutup mulutku dengan kedua telapak tangan.


"Nahh... kan bener, kamu emang bisa lihat aku".


"Enggak!" sahutku reflek lagi.


"Jangan bohong".


"Enggak bo- ok! Ok! Aku bisa lihat kamu" ujarku kesal akhirnya. Kalau aku bohong sama dia, aku dapet apa? Bukannya selamat malah nambah dosa, belum lagi kalau dia minta tolong.


"Yeayyy!! Bantuin aku ya?? Plisss... gampang kok bantuin aku nya, kamu cuma perlu temuin aku sama ayah aja. Aku mau ngomong sama dia" nah kan bener dia minta tolong.


"Ayah kamu siapa?" tanyaku mencoba berdiri.


"Pak kepala sekolah ini" aku terkejut.


"Masa sih? Kamu ngaku-ngaku ya? Pak kepala sekolah perasaan nggak punya anak perempuan".


"Ishhh... ya nggak lah, kamu kan baru kelas sepuluh. Sok tahu banget jadi orang!" sentaknya.


"Lah kan aku sering main kerumah pak kepala sekolah, ya tahu lah".


"Kamu ngapain kerumah ayah aku? Jangan-jangan kamu pelakor ya? Kamu ganjen ya sama ayah aku? Jangan-jangan kamu ud- awww" aku segera menendang kakinya sebelum ucapannya makin tidak jelas.


"Sembarangan kalo ngomong! Aku ke rumah bapak kamu itu sama temen gak cuma sendiri, lagian aku kesana juga buat ngerjain tugas atau silaturahmi" kesalku.


"Ayah bukan bapak!".


"Sama aja!".


"Emang kamu mau ngomong apa sama ayah kamu?" tanyaku penasaran.


"Pengin tahu aja kamu! Pokoknya kamu tinggal temuin aku sama ayah. Yaaaa..... plisss.... ya...." rengeknya semakin menjadi-jadi.


"Berisik lah!" bentakku.


"Lhoh Ris, saya kan belum ngomong apa-apa?" aku menoleh ke sumber suara. Nampak pak kepala sekolah yang sedang berdiri sambil mengernyit heran.


"Eh... pak? Kapan dateng?" tanyaku gugup.


"Baru aja, kamu ngomong sama siapa?" tanya nya sambil celingak-celinguk. Padahal ada anaknya yang cuma ngeluarin kepalanya dari balik rak. Kalau pak kepala sekolah lihat gimana ya?.


"Sama anak bapak".


"Anak saya? Anak saya kan... sudah meninggal" aku menoleh ke pemilik wajah pucat dengan kelopak mata merah semerah darah.


"Iya pak, maksudnya sama arwahnya" pak kepala sekolah yang setahu aku namanya pak Ridwan terkejut.


"Serius kamu? Dimana dia? Dimana dia sekarang? Dimana Lyly" pak Ridwan mulai menangis.


"Eh! Emang nama kamu Lyly?" tanyaku sedikit berbisik.


"Namaku bukan Lyly, tapi Lylyana. Biasanya dipanggil Lyly sama ayah".


"Owh...berarti bener dong kamu anaknya" gumamku sedikit terkekeh merasa malu.


"Ya iyalah, masa aku bohong".


"Pak Ridwan! Anak bapak ada disamping saya, dia cuma ngeluarin kepalanya dari balik rak. Kayaknya badannya ada di balik rak ini deh pak" ucapku sambil menunjuk rak disisi kananku.


"Anak saya badan sama kepalanya kepisah? Kok bisa? Waktu meninggal kan cuma nadinya yang dipotong, kok saat jadi arwah badan sama kepalanya kepisah?" tanya pak Ridwan bingung. Ini pak kepala sekolah sama lemotnya kaya anaknya.


"Bukan pak! Maksud saya, nembus gitu, nembus. Kalo hantu dan semacamnya kan bisa nembus, nah si Lyly cuma ngeluarin kepalanya. Kepalanya nembus gitu, nembus di rak. Aduh.... pusing saya pak jelasinnya, sini pak saya kasih lihat. Tapi jangan pingsan ya pak. Maaf nih pak pegang-pegang" aku memegang tangan pak Ridwan dan menyuruhnya untuk melihat rak disisi kanan.


"Ly-lyly?".


"Kyaaaa!! Tangannya!! Tangannya!! Tangannya mau putus!!" teriakku heboh sambil jingkrak-jingkrak dan menutupi kedua mataku dengan telapak tangan.


"Nak! Nak Risa! Tenang!" ucap pak Ridwan menenangkan sambil menyentuh pundakku.


"Tangannya Lyly pak! Tangannya Lyly lebih serem dari wajahnya, mau putus pak" ucapku ngeri.


"Iya, Lyly meninggal karena bunuh diri dengan memotong urat nadinya, tapi ia kelewatan. Ia menekan pisau yang digunakan untuk bunuh diri lebih dalam hingga darahnya cepat habis dan luka yang ditimbulkan lebih dalam, akhirnya tangannya jadi kaya gitu, mau putus" jelas pak Ridwan.


"Bapak tahu kejadiannya?" pak Ridwan mengangguk.


"Saya melihatnya, melihat detik-detik Lyly memotong urat nadinya dan juga meregang nyawa. Saat saya berlari untuk menghentikannya, ia menodongkan pisau yang dipegang olehnya. Saya kira karena saya menurut, Lyly akan berhenti melakukan aksinya. Tapi ternyata itu malah membuat Lyly makin menggila" tambahnya.


"Gila kamu Ly" ucapku pada Lyly.


"Jangan ngatain anak saya Ris" ucap pak Ridwan dengan nada datar. Aku tersenyum kecut, kaku dan malu yang menjadi satu perpaduan yang tidak diinginkan kehadirannya.


"Maaf pak".


"Bisa pertemukan saya dengan Lyly lagi Ris?" aku menarik nafas dalam-dalam lalu mengangguk. Tatap wajahnya Ris, jangan tangannya.


Aku memegang kembali tangan pak Ridwan. Ia segera memeluk anaknya sembari terisak, begitupun Lyly.


"Maafin Lyly yah, Lyly nglakuin ini semua karena nggak tahan dengan ucapan anak-anak" ucap Lyly.


"Apa yang anak-anak ucapkan Ly? Apa? Bilang sama ayah, biar ayah keluarkan mereka dari sekolah".


"Temen seangkatan Lyly bilang kalau setiap Lyly naik kelas dan mendapatkan peringat satu umum itu karena Lyly anak kepala sekolah, mereka bilang kalau ayah nyuap mereka, mereka selalu mengatakan itu setiap kenaikan kelas. Lyly sakit hati yah, hingga akhirnya Lyly bunuh diri".


"Astaga nak... kenapa kamu nggak bilang dari dulu tentang ini? Kamu bisa cerita dulu sebelum mengambil keputusan".


"Maaf yah, Lyly minta maaf. Ayah nggak usah keluarin mereka dari sekolah karena nggak ada guna nya, Lyly sekarang udah meninggal yah".


"Maaf menyela pembicaraan Lyly dan pak Ridwan, bagaimana kalo Lyly diberi lima puluh soal tersulit kelas sepuluh untuk dikerjakan dalam kurun waktu satu jam. Nanti semua guru, staf, penjaga sekolah serta murid-murid dan pak Ridwan tentunya akan ikut memperhatikan saat Lyly mengerjakan. Nanti saya yang akan jadi saksinya, bahwa sebelum dimulainya acara. Pak Ridwan tidak memberikan suap apapun pada siapapun, setuju?" usulku.


"Setuju" sahut Lyly dan pak Ridwan bersamaan.


Akhirnya pak Ridwan mengumumkan pada seluruh guru, staf, penjaga dan murid-murid sekolah ini untuk berkumpul. Glen, Ais, Zara, Lala, Reza, Rey, Adam dan Wisnu sempat bingung dengan acara dadakan seperti ini. Setelah aku menjelaskan pada mereka, mereka akhirnya paham dan setuju dengan tindakanku.


Pak Ridwan juga menjelaskan acara yang akan berlangsung khususnya pada kakak kelasku, kelas sebelas. Siswa siswi kelas sebelas yang menyaksikan acara tercengang saat pulpen diatas meja yang disediakan mulai bergerak.


"Saya Risa, siswi kelas sepuluh yang akan menjadi saksi bahwa sebelum dimulainya acara ini, pak Ridwan selaku ayah Lyly dan kepala sekolah ini, tidak melakukan suap apapun dan pada siapapun!" seruku.


"Satu..."


"Dua..."


"Nyalakan pengatur waktunya!!" seruku lantang.


Pulpen diatas meja mulai bergerak mencoret dan menuliskan jawaban demi jawaban lima puluh soal yang tertulis. Saat lembar coret untuk soal matematika sudah habis, aku memberikan lembar yang baru. Tepat pada lima puluh lima menit lima belas detik, Lyly berhasil menyelesaikan lima puluh soal tersebut. Jawaban dicek, semuanya benar. Siswa siswi kelas sebelas semuanya tercengang tidak percaya. Mereka menunduk saat pak Ridwan menghampiri mereka.


"Pikirkan dulu apa yang akan kalian katakan sebelum diumbar, manusia diciptakan dengan otak untuk berfikir. Jika kalian menyebarkan berita hoaks sampai membuat korbannya meninggal karena depresi, saya tidak akan segan untuk mengeluarkan kalian dari sekolah" ucap pak Ridwan.


"Ba-ba-baik pak, ka-kami minta maaf" ucap siswi berambut panjang lurus.


"Saya maafkan. Ingat ucapan saya tadi, jika ada dari kalian yang menyebarkan berita hoaks, saya tidak akan segan untuk mengeluarkan kalian dari sekolah. Biarkan sekolah ini memiliki siswa siswi yang sedikit karena kebanyakan dikeluarkan oleh saya, asal siswa siswi tersebut berakhlak dan dapat diajari dengan baik. Jika ada dari kalian yang menerima kabar apapun, saring terlebih dahulu sebelum disharing!!" ucap pak Ridwan dengan lantang mengingatkan murid didiknya.


"Baik pak!!" sahut semuanya termasuk aku.


"Risa, saya minta tolong untuk pertemukan saya dengan Lyly untuk yang terakhir kalinya" aku mengangguk dan memegang tangan pak Ridwan. Ia segera memeluk anaknya dan mengucapkan salam perpisahan.


"Baik-baik ya Ly, semoga kamu tenang disana. Ayah akan kirim doa sebanyak-banyaknya" Lyly mengangguk. Ia kemudian berpelukan dengan pak Ridwan lalu memelukku dan mengucapkan terima kasih.


"Sama-sama" cahaya putih silau berpendar, Lyly perlahan tapi pasti memasuki cahaya tersebut hingga cahaya tersebut perlahan mulai hilang.


"Terima kasih nak Risa" aku mengangguk. Setelah pak Ridwan mengucapkan terima kasih padaku, ia membubarkan acara dan berterima kasih juga atas kehadirannya. Aku dkk kembali ke perpus untuk melanjutkan membereskan buku disana.


Bersambung...


Pesannya pak Ridwan ada baiknya untuk diterapkan tuh, karena berita hoaks lambat laun pasti akan memberikan dampak buruk pada korban ataupun pelaku.


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.


Terima kasih.