INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Bertemu Rasdan (Season 1)



"Ada apa si?" tanya kak Ang sambil mengucek matanya, persis dengan bocah lima tahun yang baru bangun tidur.


"Enggak ada, cuma lagi ngobrol aja" sahutku sambil terkekeh.


"Kak, aku nggak mau lepas pandang dari Adam. Aku mau mandi di kamar mandi sini aja, kakak nanti pulang dan kembali ke sini sambil bawain aku beberapa stel baju ya" pesanku yang langsung mendapat anggukan dari kak Ang.


.


.


.


.


.


Pov Glen.


Hari ini, dengan langkah malas tak pasti aku berjalan keluar rumah. Berhenti sejenak menatap hujan yang mulai menderas sebelum berangkat ke sekolah.


"Belum berangkat Glen?" tanya bunda.


"Belum bun, Glen bolos sekolah aja boleh nggak bun?" tanyaku memelas pada bunda.


"No!" bunda menggerakan jari telunjuk nya ke kanan dan ke kiri.


"Ada mobil Glen, kamu bisa dianter ayah. Kamu nggak bakal kehujanan, apa kamu nggak mikir betapa semangatnya anak-anak pelosok yang berangkat ke sekolah? Melewati segala rintangan dan bertaruh nyawa melewati derasnya sungai yang banjir. Kamu yang bisa pakai mobil buat berangkat sekolah, nggak perlu hujan-hujanan, jas hujan dan payung ada, kamu harusnya tetap bersyukur dengan kondisi seperti ini" nasihat bunda.


"Oh ya, gimana kabarnya Risa?" tanya bunda.


"Udah sadar bun, cuma Adam yang belum. Dia belum mau masuk sekolah, katanya dia mau temenin Adam sampai sembuh" sahutku mengingat bagaimana memelasnya Risa kala itu pada Zara supaya dapat bertemu dan menemani Adam di ruangannya.


"Kamu banyak-banyak do'a in mereka Glen" lanjut bunda.


"Iya bun".


"Berangkat yuk nak" ajak ayah yang keluar dari rumah sudah dengan pakaian rapih kantornya.


"Yuk" aku pamit pada bunda dan mengikuti ayah yang masuk ke mobil.


Ayah memencet klakson beberapa kali saat mulai melajukan mobilnya, bunda di teras berdadah menatap kepergian kami berdua.


Sesampainya di depan gerbang, aku pamit pada ayah dan berlari cepat menembus derasnya hujan menuju teras sekolah dan berlari menuju kelas. Aku mengambil hoodie yang sengaja aku taruh di tas tadi sebelum berangkat dan memakainya. Cukup dingin udara pagi ini.


Ais, Zara, Reza dan Reyyan mulai berdatangan dengan pakaian dan rambut yang lumayan basah.


"Kalau nggak demi bisa buat orang tua bahagia. Rasanya ogah banget gw sekolah" ucap Reza.


"Bener" sahutku setuju.


"Eh Glen, tentang plat mobil yang menabrak Cinta. Kamu ingat kan?" aku mengangguk. Memperhatikan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Ais.


"Aku lihat plat mobil itu di bengkel yang tadi kelewatan saat aku berangakat sekolah!" sambungnya semangat.


"Serius?" Ais mengangguk yakin.


"Pulang sekolah nanti, kalau udah nggak hujan. Kita cek kesana yuk, buat pastiin. Aku gemes sama pelaku nya" ucap Ais. Aku mengangguk setuju. Aku dan Ais harus menjebloskan pelaku tabrak lari ke penjara.


"Tapi Risa nggak usah di kasih tahu. Kita jalanin rencana ini berdua aja" bisik Ais. Aku lagi-lagi hanya bisa mengangguk setuju.


Pelajaran pertama dimulai di lanjut pelajaran kedua dan ketiga setelah melewati dua kali istirahat, kelas akhirnya selesai. Hujan pun seolah mendukung kegiatan yang akan aku dan Ais lakukan, cahaya matahari mulai menyinari bumi. Mendung dan gelapnya awan perlahan sudah mulai hilang.


"Semoga ini menjadi awal yang bagus" gumamku lalu menggandeng tangan Ais keluar sekolah. Taksi, adalah kendaraan yang akan kami berdua gunakan menuju bengkel tujuan. Semoga mobil tersebut masih ada di tempat.


"Berhenti pak!" mobil taksi berhenti di depan sebuah bengkel yang cukup besar. Di depannya terparkir berbagai macam jenis kendaraan, mulai dari sepeda, motor, mobil dan truk. Pandangan mataku berhenti pada sebuah mobil a*anza hitam dengan plat nomor R453AN.


"Itu mobilnya" ucapku, Ais mengangguk. Kami berdua dengan tampang yang di buat biasa saja, berjalan masuk ke bengkel.


"Selamat siang mba, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu orang yang sepertinya adalag pegawai bengkel ini.


"Siang mbak, saya ingin bertemu dengan pemilik mobil itu" sahutku sambil menunjuk mobil yang membuatku datang kemari.


"Owh, pemiliknya ada di cafe seberang mbak. Mau saya panggilkan?" tawar mbak pegawai ramah.


"Oh tidak perlu, saya saja yang akan menghampiri nya langsung" tolakku ramah.


"Saya temannya" sahutku ogah-ogahan. Ya kali gw mau temenan sama pelaku tabrak lari temen gw. Batinku.


"Owh, baiklah, kalau begitu saya permisi. Apa ada yang perlu saya bantu lagi?" aku menggeleng sambil tersenyum simpul. Seperginya mbak pegawai, aku mengajak Ais pergi ke cafe seberang. O'onnya Ais, dia malah bertanya apa aku dan dirinya akan pergi nongkrong-nongkrong.


"Ya enggaklah beg*, gw mau ketemu sama pemilik mobil a*anza hitam di bengkel" sarkasku kesal. Aku menarik tangan Ais menuju cafe.


"Maaf mbak, saya mau tanya. Apa disini ada yang namanya Rasdan?" tanyaku pada salah satu pelayan cafe. Aku tahu nama Rasdan dari plat mobil a*anza hitam tadi.


"Ada apa lo tanya temen gw?" sergah salah satu pengunjung cafe. Badannya tinggi, wajahnya cukup tampan. Ia berdiri da menghampiri kami berdua, pelayan tadi sudah pamit pergi karena ada pesanan yang harus di antar.


"Lo siapa ya?" tanyaku.


"Gw Andre, temennya Rasdan. Pemilik baru mobilnya" ucapnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


"Owh, gw Glen" sahutku menerima uluran tangannya.


"Kamu nggak tanya aku juga?" tanya Ais.


"Siapa nama lo?" tanya Andre sambil mengulurkan tangannya pada Ais yang langsung menyambutnya dengan senang.


"Aku Aisyah" Andre mengangguk. Aku mengajaknya duduk. Ais dengan setia nya mengikuti kemana aku pergi.


Aku menceritakan semuanya, saat cinta di tabrak hingga meninggal oleh pengemudi mobil a*anza hitam dengan plat mobil R453AN. Aku juga menceritakan cinta yang menjadi arwah penasaran karena pengemudi mobil a*anza tersebut belum bertanggung jawab. Ia baru bisa tenang saat pelakunya tertangkap dan bertanggung jawab. Andre sempat tidak percaya dan menganggapku aneh, karena kesal penjelasanku di tertawakan setelah tiga kali menjelaskan dengan perlahan. Akhirnya aku menyuruh salah satu makhluk halus di cafe ini untuk menumpahkan minuman yang berada di depan Andre.


Andre terkejut dan tidak percaya. Ia segera memberitahukan keberadaan Rasdan saat aku mengancamnya akan menampakan wujud makhluk yang menumpahkan minumannya.


"Deket sini itu?" tanyaku memastikan.


"Iya" Andre mengangguk yakin.


Aku memutuskan untuk mencoba. Siapa tahu berhasil. Alamat sudah aku dapatkan, pemilik baru mobil tersangka juga sudah di hadapan mata. Tinggal menjalankan rencana dan menjebloskan Rasdan ke penjara dan membuat Cinta tenang.


"Ikut gw" ucapku sambil menarik tangan Andre dan Ais keluar. Taksi pesananku sudah datang. Sepuluh menit berkendara, akhirnya taksi ini berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan terasnya yang berantakan. Jika di lihat sekilas, tempat ini memang mengerikan dan akan langsung di cap rumah tidak berpenghuni. Aku turun diikuti Ais dan Andre setelah membayar ongkos. Kami berdiri berjejer dijalan tempat kami turun dari mobil. Memandang rumah yang suram menurutku.


"Bismilah" aku melangkahkan kaki dengan mantap dan mengetuk pintu berulang kali hingga terdengar jawaban.


"Siapa?".


"Gw Andre" sahut Andre. Aku menyuruhnya untuk menjawab pertanyaan orang di rumah, supaya dia mengira bahwa hanya Andre yang berkunjung kerumah nya. Tali yang aku temukan di tanah halaman, sudah aku pegang dengan kuat. Saat dia keluar, aku langsung membekuknya dan mengikat tangan serta kakinya supaya tidak memberontak.


Pintu terbuka. Andre aku suruh lagi untuk berpura-pura kangen dan memeluk temannya. Setelah mendengar ceritaku tentang Rasdan, Andre jadi lumayan takut dan kaku dengan temannya itu.


"Hai Rasdan, gimana kabar lo?" tanya Andre. Andre dan kawannya itu sepertinya seumuran dengan Adam dan Wisnu.


"Baik bro, masuk yok. Eh... siapa dua gadis cantik ini bro?" tanya Rasdan menatap aku dan Ais bergantian.


"Dia temen gw" aku langsung menyepak keras kaki Rasdan hingga dia terjatuh. Setelah itu aku mengikat tangannya ke belakang. Andre mendapat bagian untuk mengikat kaki Rasdan. Aku lalu memapah Rasdan untuk berdiri dan duduk di dalam ruang tamu yang hanya ada tiga kursi dan satu meja kecil di tengahnya. Aku mendudukan Rasdan di salah satu kursi.


"Lo ngerasa pernah nabrak orang nggak?" tanyaku berlagak seperti detektif yang mencari informasi.


"E-enggak, gw nggak pernah nabrak orang" sahut Rasdan. Dirinya bergerak tidak karuan dan meminta temannya untuk membantunya lepas dari ikatan tali tersebut.


"Benarkah?" Rasdan mengangguk yakin.


"Tapi sayangnya, gw nggak seyakin itu bod*h" ucapku.


"Hari ini juga, lo harus gw jeblosin ke penjara. Bersama saksi mata di tempat kejadian perkara" tambahku.


Aku menelpon bunda, bermaksud untuk meminta izin ingin meminjam salah satu mobil di dealer mobil bunda dan mengirimkannya pada lokasi yang nanti aku kirimkan. Setelah mendapat persetujuan, mobil pun sudah datang. Aku membawa masuk Rasdan dan menyuruh Andre untuk mengemudi ke rumah Risa. Aku akan membawa Cinta ikut serta.


.


.


Setelah Cinta masuk ke mobil dan duduk di samping Rasdan. Andre kembai melajukan mobil dealer bunda ke tempat di mana Cinta di tabrak. Semakin dekat jarak sampai, semakin gelisah juga Rasdan.


"Sudah sampai!" ucap Cinta. Sebuah rumah dengan cat berwarna hijau telur asin nampak di pandangan mata.


Bersambung...


Bagaimana aksi Glen, Ais dan Andre selanjutnya ya? Pantengin terus dan jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.