INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Tusukan pisau (Season 1)



Saat kami berdua sudah siap akan melemparkan guci ini pada hitungan ke tiga. Kalung tersebut tiba-tiba terangkat dan di pegang oleh makhluk yang menyerupai Ayu tadi.


"Gagal ya? Kasian, makannya.... jangan main-main" ucap makhluk tersebut. Kecantikannya aku bilang luar biasa, bahkan melebihi Ayu dan aku sendiri. Adam sampai melongo karenanya.


"Hishhh... apa-apaan si kamu" ujarku kesal sambil mengusap wajah Adam untuk menyadarkannya. Cemburu? Tidak! Bukan cemburu, tapi takut saja jika kecantikannya itu dia gunakan untuk mengambil alih pikiran Adam. Jika memang benar kalung tersebut hanya bisa di hancurkan oleh aku dan Adam, lalu bagaimana jadinya jika sampai makhluk di depanku mengambil alih pikirannya. Aku tidak bisa membayangkannya.


"Cantik banget dia" gumam Adam. Aku spontan menginjak kakinya.


"Awww.... ngapain si lo nginjek-nginjek kaki gw?" kesal Adam sambil mengusap kakinya yang di injak olehku.


"Fokus dong! Jangan liatin cewek cantik mulu".


"Iya... gw fokus"


Aku mengangguk senang.


"Fokus liatin tuh cewek" sambung Adam lalu tertawa. Aku berdecak kesal karena ulahnya.


"Sini in kalung nya. Kamu nggak berhak buat pegang kalung itu" pinta ku.


"Enggak mau, kalung ini kan punya majikan saya. Saya berhak melindunginya".


"Hishhhh, majikan kamu tuh jahat. Kamu jangan jadi jahat juga dong, sini in nggak kalung nya?".


"Kalau nggak mau gimana?".


"Aku akan merampasnya dengan cara kasar".


"Kamu mana bisa nyentuh aku" sombong makhluk tersebut.


"Kita buktikan nanti" sahutku tersenyum smirk.


Aku berjalan mendekat ke arahnya kemudian memegang kedua tangannya.


"Bagaimana?" makhluk tersebut nampak terkesiap karena aku bisa menyentuhnya. Syukur aku bisa menyentuhnya, dengan begitu akan mudah bagiku untuk merampas kalung ini. Hahahaha, niatnya pengin ketawa jahat tapi nggak bisa.


"Kok bisa?" gumam makhluk tersebut.


"Ya bisa lah, aku saja bisa merampas kalung ini darimu" ucapku yang sudah memegang kalung yang di rampas oleh nya. Kalung ini berbentuk seperti elips yang lebih besar di bagian bawahnya, dia di lapisi sebuah tali berwarna coklat redup di sisinya.


Aku menarik pelan-pelan kalung itu dari genggamannya saat makhluk tersebut sedang sibuk memperhatikan peganganku pada tangan pucatnya.


"Glen!" pekikku. Glen langsung berlari ke arahku dan bertanya kenapa.


"Kamu bisa sentuh dia?" tanyaku.


"Gw coba dulu" Glen mendekati makhluk tersebut dan memegangnya. Ternyata bisa.


"Kamu pegangi dia, dia rusuh sekali. Aku dan Adam akan mencoba menghancurkan kalung ini" ucapku bersiap dengan menaruh kalung yang aku pegang di lantai dan memegang guci yang juga di pegang oleh Adam.


Pyar....


Tak...


Suara pecahnya kalung dan guci tersebut menjadi satu. Kalung tersebut pecah menjadi beberapa bagian.


"Aaaaaa.... sakit" pekik makhluk yang sedang di pegang oleh Glen. Suara pekikan yang sama juga terdengar dari dalam altar dan tante Mikey.


"Ini belum selesai, kalung dan cermin tadi harus di do'akan oleh ustadz supaya pengaruh jahatnya hilang" ucap Anel di pikiranku.


Aku mengambil pecahan kalung tersebut tanpa bersisa kemudian pergi ke altar dan mengambil kaca berukuran besar di sana.


"Sini gw bantu" ujar Wisnu kemudian mengangkat bagian belakang kaca yang sudah aku pegang bagian depannya.


"Mau di bawa kemana?" tanya Zara.


"Kata Anel, kalung dan kaca ini harus di do'a in sama ustadz biar pengaruh jahatnya benar-benar hilang" sahutku.


"Dimana ada ustadz?" tanya Ais.


"Assalamualaikum" seruan salam yang terdengar begitu merdu menggelegar di semua sudut ruang bawah tanah ini. Kami semua menoleh. Tampak seorang lelaki dengan sorban yang melilit kepalanya dan pakaian putih bersih nya. Tasbih berwarna coklat juga nampak di pegang oleh nya. Bersama seorang anak kecil dan seorang perempuan.


Anak kecil tadi langsung berlari menghampiri Glen dan memeluknya.


"Hai Ndita" sapa Glen.


"Hai kak Glen, kak... aku takut" rengek anak kecil tersebut.


"Nggak papa, kak Glen ada di sini. Sini gendong" Glen langsung menggendong anak kecil di hadapannya saat anak tersebut mengulurkan kedua tangan kecilnya.


"Pak ustadz, tolong saya pak" lelaki yang aku yakini sebagai ustadz ini menghampiriku dan menyuruhku untuk menaruh dua benda yang aku pegang. Aku menurut, setelah kedua benda tersebut aku taruh di lantai. Pak ustadz langsung menggerakan mulutnya hingga beberapa menit.


"Alhamdulillah, insya allah dua benda ini sudah terbebas dari pengaruh jin jahat" ucap pak ustadz.


"Kalung... kalung ku!!!" teriak tante Mikey.


"Tante" sapaku lembut.


Tante mikey menoleh.


"Apa kamu!? Kamu yang sudah menghancurkan kalung ku. Kamu sudah menggagalkan impian ku, kamu harus mati untuk mempertanggung jawabkan semuanya!" tante Mikey berjalan cepat mengambil sebuah benda di dalam altar kemudian menghampiriku dengan sebilah pisau tajam.


"Berisik!" pekik tante Mikey saat pak ustadz kembali membacakan do'a. Ia bahkan sampai mendorong pak ustadz hingga terjatuh. Reza dan Reyyan bergegas untuk menolong pak ustadz.


"Jangan.... jangan tante. Sadar tante!" pekikku mencoba untuk menyadarkannya. Aku berjalan mundur untuk menghindari tante Mikey. Saat aku berjalan, tiba-tiba aku tersandung sesuatu hingga terjatuh. Jadilah aku berjalan mundur dengan mengesot.


"Kamu harus mati!! Kamu sudah menghancurkan impianku".


Saat tante Mikey akan melayangkan pisau tersebut untuk menusukku. Wisnu bergerak menarik tanganku dan Adam berdiri di depan kami berdua.


"Akhhh..."


"Hah?" tante Mikey terkejut dan menjatuhkan pisau tersebut dari genggamannya.


Pak ustadz yang sudah berdiri, memegang pundak tante Mikey dan kembali berdo'a sedangkan aku menghampiri Adam dan meraung di sampingnya.


"Jangan tutup mata kamu, jangan di tutup! Ais, Glen, siapapun tolong telfon ambulans! Adam jangan tutup mata kamu!! Huhuhu" tangisku langsung pecah saat melihat Adam memegangi perutnya yang tertusuk pisau. Aku merinding sekaligus ngeri melihatnya.


"Ri-sa" Adam mengusap pipiku yang basah karena air mata, membuat darah yang berceceran di tangan kanannya juga mengenai pipiku. Setelah mengusap pipi dan mengucapkan nama ku, mata Adam lantas tertutup dengan sebuah senyum tipis yang terukir di wajah tampannya.


"Adam!".


Semuanya gelap, setelah aku meneriakan nama mu, Adam.


Bersambung...


Waduh.... gimana tuh Adam sama Risa? Apa yang akan terjadi pada mereka berdua?


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.


Terima kasih.