INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Menunggu untuk meminta maaf (Season 1)



Setelah membereskan taman. Aku pamit pulang, karena waktu juga sudah mulai berganti sore. Ibu akan memarahiku jika sampai pulang saat maghrib atau menjelang malam.


"Assalamualaikum! Risa pulang!" teriakku menggema disudut ruangan. Aku melihat ibu dan ayah sedang duduk di sofa ruang keluarga. Ini adalah waktu yang pas untuk aku berbicara dengan ibu dan ayah.


"Bu! Yah!" seruku pelan, menghampiri mereka dan duduk disofa yang tidak ada senderannya


"Kamu mau bahas tentang kamu yang anak angkat ya Ris?" terka ibu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tv.


"Iya bu".


"Maafin ibu ya Ris, kamu tahu hal ini dari orang lain" ucap ibu sambil menatapku penuh rasa bersalah. Ia menghampiriku dan memeluk tubuhku yang basah karena keringat setelah membereskan taman markas tadi.


"Aku sudah tahu biodataku yang sebenarnya bu" ucapku yang membuat ayah dan ibu terkejut. Ibu melepaskan pelukannya dan menatapku tanda tanya.


"Iya bu, Risa sudah tahu ibu kandung Risa walaupun Risa belum melihatnya" aku mulai menceritakkan bagian per bagian dimana aku dan Adam bertemu dengan mas Gege dan saat mas Gege memberitahukan semuanya, kecuali... tentang Nano, Tri dan Via yang akan menjadi musuhku nanti.


"Ya Allah nak... kenapa nasib kamu jadi seperti ini" ibu memelukku sambil menangis sesegukan.


"Ibu nggak usah nangis, ini sudah jadi takdir Risa. Ibu cukup memberi Risa semangat dan kasih sayang sebagai ibu" ucapku membalas pelukan ibu.


"Tadi kamu bilang kalau adikmu sudah meninggal?" aku mengangguk.


"Apa kita bisa datang ke pemakamannya?" tanya ibu.


"Entahlah bu, Anel tidak memberi tahu dimana Gisa dimakamkan, ia hanya memberitahu bahwa Gisa dimakamkan di kota sebelah".


"Bagaimana kalau setelah ayah dan ibu selesai mengurus pekerjaan di luar kota kita ke kota sebelah untuk mencari dimana Gisa dimakamkan" usul Ayah.


"Boleh" sahutku.


"Siapa Anel nak?" tanya ibu. Lagi-lagi aku menceritakan semuanya, tentang pertemuan pertamaku dengan Anel hingga tahu bahwa Gisa adikku, lagi-lagi untuk yang kedua kalinya, aku tidak menceritakan tentang hubungan Nano, Tri dan Via yang menjadi pelaku meninggalnya Gisa.


"Kenapa aku bisa lupa tentang Gisa bu?" tanyaku.


"Beberapa minggu setelah Gisa hilang, kamu kecelakaan hingga koma dan lupa ingatan sampai kelas dua SMP baru sembuh. Tapi kamu hanya melupakan semuanya tentang Gisa, selebihnya kamu masih dapat mengingatnya" jelas ibu.


"Owh iya Ris, besok ayah sama ibu ada urusan pekerjaan di luar kota beberapa hari. Kamu jaga nenek baik-baik ya, kalau bosen panggil aja temen-temen buat dateng. Terus... kalau kak Ang lagi belajar jangan diganggu yah" ibu menoel hidungku yang berkeringat.


"Kamu keringeten Ris?" tanya ibu.


"Iya bu, tadi habis rapihin taman belakang markas. Ya udah bu, Risa mandi dulu" aku naik ke lantai dua dimana kamarku berada dan bergegas mandi. Selesai mandi aku memutuskan untuk tidur karena mataku tiba-tiba diserang lem.


.


.


.


.


.


"Risa! Bangun nak, maghrib" ibu menepuk pipiku hingga mataku terbuka sempurna.


"Sholat" aku mengangguk. Ibu keluar dari kamar sedangkan aku pergi wudhu untuk menunaikan sholat maghrib.


Selesai sholat aku pergi ke kamar kak Ang lalu masuk tanpa mengetuk pintunya terlebih dulu sambil membawa beberapa buku tugas yang berisi PR.


"Ajarin pr kak" pintaku lalu duduk diatas kasur kak Ang dengan sprei, sarung bantal dan guling, serta selimutnya yang bercorak senada. Yaitu hitam dengan garis-garis putih.


"Bawah aja!" ucap kak Ang tanpa melepas pandangannya dari layar komputer.


"Atas aja, di kasur lebih enak, empuk" aku berdiri dan melompat-lompat diatas kasur.


"Kalo rusak tanggung jawab" aku seketika berhenti melompat-lompat diatas kasur.


"Buruan ajarin kak, aku pengin cepet tidur. Hoamm... ngantuk nih" pintaku memelas.


"Ngepantun dulu coba" ujar kak Ang. Aku berdehem.


"Buah Nangka, buah Naga


Dimakan disamping kompor gas


Wahai, kak Anggres Teya Pratama


Ajarkanlah Risa yang cantik ini mengerjakan tugas"


"Bagus juga tuh pantun" kak Ang menghampiriku yang sudah merambang ingin menangis. Aku memang sering menangis atau marah-marah sendiri saat tidak bisa mengerjakan tugas.


"Ululululu, nggak bisa malah nangis. Sini kakak ajarin" aku tersenyum senang. Setidaknya lima puluh soal ini akan aku lewati dengan mudah. Tapi ekspetasi memang jarang ada yang sesuai dengan harapan, aku kira kak Ang akan langsung mengerjakannya, tapi yang ada malah...


"Kerjain sendiri, kakak kan udah kasih rumus sama penjelasannya".


"Kakak!!" teriakku kesal hingga ayah, ibu dan nenek datang.


"Ada apa Ris?" tanya ibu panik.


"Kakak nggak mau ajarin Risa nylesain tugas ini bu" ucapku dengan suara serak menangis.


"Ang!" kecam ibu.


"Lhah bu? Ang udah kasih rumus sama penjelasannya kok, tapi dia malah minta Ang yang ngerjain. Kan itu tugas dia, Ang juga ada tugas bu" sahut kak Ang.


"Mana? Mana? Soal hitung-hitungan yah? Coba mana? Apa ayah bisa" ayah mendekat dan mulai membaca soal-soal tugas matematika tadi pagi.


"Ini nomor tiga puluh lima sampai lima puluh ayah nggak paham. Ang, kamu paham nggak?" tanya Ayah.


"Males yah, Risa maunya aku yang ngerjain, nanti dia mainan mobil balap di komputerku".


"Ang!" bentak Ayah.


"Males yah! Kalo aku ajarin Risa, Risa nggak pernah perhatiin apa yang aku ajarin. Dia sibuk mainan game sedangkan aku pusing mikirin soal dan jawaban. Ang males yah! Ayah saja sana yang bantu Risa mengerjakan tugasnya" kak Ang mengambil kunci mobil dan keluar kamar. Aku yang baru pertama kali melihat kak Ang marah padaku bahkan sampai berbicara dengan nada tinggi pada Ayah langsung menangis. Aku langsung turun dari kasur dan mengejar kak Ang.


"Kak! Kak! Tungguin Risa kak! Risa minta maaf! Kak!" aku berusaha untuk menyusul kak Ang, tapi usahaku tidak berbuah manis. Kak Ang sudah melajukan mobilnya pergi keluar halaman.


"Kak!!" aku menangis dihalaman menatap tempat biasanya diparkirkan mobil kak Ang. Aku berlari masuk kerumah dan pergi ke kamarku untuk mengambil hp. Aku mengirim pesan pada kak Ang berharap dia akan menjawabnya, aku sudah mencoba menelfonnya dan juga melakukan panggilan video call. Pesan yang aku kirim hanya centang satu.


"Kak! Maafin Risa! Risa ngaku, Risa salah! Risa minta maaf" gumamku masih terus menangis memandang hampa banyaknya pesan dariku yang tidak terbaca.


"Udah nggak papa Ris, kakak kamu mungkin lagi capek aja, makannya dia jadi gampang marah dan emosi" ucap ibu.


"Nggak bu! Ini emang salah Risa, ibu jangan belain Risa".


"Mulai saat ini ibu jangan terlalu banyak membela Risa, bersikaplah adil seperti keadilan ibu membagi rasa sayang pada aku dan juga kak Ang. Atau... apa kehadiranku membuat kak Ang merasa tidak nyaman ya bu? Apa sebenarnya kak Ang nggak sayang sama aku bu? Bu..."


"Kakak sayang sama kamu Ris, dia sayang banget malah sama kamu. Dia marah seperti ini supaya kamu sadar bahwa ketika kamu meminta diajari mengerjakan tugas sekolah, kamu harus memperhatikan apa yang kakak kamu ajarkan. Dia juga masih kuliah, otaknya juga harus berputar untuk menjawab soal-soal di tugas kuliahnya. Saat ia lelah, ia masih menyempatkan diri untuk mengajari kamu mengerjakan tugas. Tapi ketika kamu tidak memperhatikan penjelasan yang diberikan olehnya, itu sama saja seperti kamu tidak menghargai waktu yang diberikan olehnya untukmu. Dia rela menahan kantuk demi bisa mengajarimu supaya kamu bisa dapat nilai bagus. Setelah kakak pulang nanti, kamu minta maaf sama dia" nasihat ibu panjang lebar.


"Iya bu" aku mengambil bantal, guling dan selimut lalu membawanya keruang keluarga. Aku akan berusaha mengerjakan tugas sendiri disana sambil menunggu kak Ang pulang.


Nenek memutuskan untuk pergi tidur lagi, sedangkan ayah dan ibu menemani aku sampai pukul sembilan malam. Setiap detik aku menanti pintu akan terbuka dan nampak kak Ang yang pulang menyapaku. Pesan dariku pun belum dibaca olehnya, jangankan dibaca, centang dua pun tidak.


"Ibu sama Ayah pergi tidur dulu ya Ris, jangan dipaksain. Kakak kamu pasti akan membaik dengan sendirinya" ucap ibu kemudian pergi bersama Ayah ke kamarnya. Tinggallah aku sendiri di ruang keluarga dengan tv yang masih menyala. Entah benar atau tidak aku menjawab soal demi soal.


"Dor!!" aku tidak terkejut membuat Raihan menatapku heran.


"Ada apa Ris?" tanya nya


"Kak Ang marah sama aku" aku mulai menceritakan kejadian awal sebelum kak Ang marah dan pergi.


"Hayooo Ris..."


"Berisik kamu, diamlah!".


"Baiklah... baiklah, aku akan menemanimu".


Kesepian ini hilang, tapi rasa bersalah dan sedih di dalam hatiku belum hilang. Sampai pukul sebelas malam, aku belum tertidur. Masih menunggu kak Ang berharap dia akan segera pulang.


"Tidur Ris, ini udah jam sebelas malam lhoh" ucap Raihan.


"Tugas pun belum selesai aku kerjakan" gumamku menatap sendu kolom jawaban nomor empat puluh sampai lima puluh yang masih kosong. Andai saja aku selalu memperhatikan kak Ang saat dia mengajariku, pasti semua ini tidak akan terjadi dan aku bisa mengerjakan semua tugas ini sampai selesai.


Aku naik ke sofa dan membaringkan tubuhku. Tak butuh waktu lama, aku terlelap.


Bersambung...


Kira-kira permintaan maaf si Risa bakal dimaafin nggak yah sama kak Ang? Heumm... kita lihat nanti.


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.


Terima kasih.