INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Konsekuensi (Season 2)



Happy Reading...


"Tidak, ini perintah dari raja. Katanya mobil ini ketempelan" jelas Vinula.


"Ketempelan apa?" tanya Risa


"Arwah".


"Apa mungkin dia" Risa menarik maju Hanar dan menunjuknya.


"Sepertinya".


"Apa dia jahat?".


Risa menggeleng.


"Eummm.... apa... itu teman nyai Risa?".


Risa mengangguk.


"Apa dia boleh tinggal disini? Di vila ini?".


"Saya akan mengatakan pada raja terlebih dahulu perihal ini. Jika dibolehkan, maka akan saya biarkan dia tinggal disini. Jika tidak, saya akan membawanya dan menempat tinggalkannya di rumah khusus para arwah.


"Baiklah" sahut Risa.


"Ini sudah malam, sebaiknya nyai dan prabu sekalian pergi tidur" ujar Vinula seraya tersenyum. Satu gigi gingsul disebelah kanan, membuatnya bertambah manis saat tersenyum.


"Kenapa kamu panggil kita nyai dan prabu?" tanya Chalis.


"Saya hanya menjalankan peraturan, saya tidak tahu alasannya".


"Owh... baiklah".


"Mari saya antar ke kamar" Vinula berjalan mendahului mereka. Tak lama, mereka bersembilan menyusul Vinula saat sebuah panggilan darinya terdengar.


Dikamar masing-masing, mereka bersembilan memainkan hp-nya dengan tujuan yang sama. Yaitu, saling berkirim pesan lewat wa.


**Grup Indigo


Risa : Aku takut, jika kita akan terkurung selamanya disini


Zara : Bukankah kakek tidak bermata sudah bilang, bahwa kita bisa keluar jika urusan kita sudah selesai. Kita hanya perlu tahu lalu menyelesaikan urusan apa yang kita punya disini.


Adam : Gue nggak ngerasa punya masalah sama penghuni desa ini.


Zara : Entah benar atau tidak perasaanku, tapi aku merasa urusan kita bukan permasalahan dengan penghuni desa ini. Tapi, yang lain. Ada hal yang harus kita selesaikan, untuk keselamatan banyak orang.


Terdiam sejenak. Jam sudah menuding pada pukul sebelas malam. Belum ada kantuk yang menerjang, walaupun sudah larut malam dan perjalanan yang sangat memakan waktu dan menguras energi tadi. Hanya ada rasa gelisah yang menyerang secara berkala. Dikondisi tertentu. Ketakutan akan tidak bisa lagi kembali ke rumah, karena tidak bisa menyelesaikan urusan mereka disini. Mereka saja tidak tahu, urusan apa yang mereka punya.


Jari-jari tangan mereka berlima mengetik tanpa dikendalikan oleh mereka sendiri. Mengetik sebuah kalimat yang membuat merenung secara bersamaan.


Yang lain tertegun membacanya. Sebuah kunci dengan ukiran bunga teratai? Begitulah yang ada dibenak mereka.


Dikamar Adam. Terbaring dengan bersender bantal yang juga disenderkan ke headboard, menatap layar hp dengan kondisi kamar terang benderang. Cahaya bulan yang memasuki kamar, membuat bayangan tersendiri karena menabrak pepohonan dan juga bentuk jendelanya.


Sebuah pesan terkirim dari kakak kandungnya. Ligo.


Ligo : Kecil, namun berguna. Dapat membuka. Dan perannya sangat penting untuk suatu kepentingan. Terbelah menjadi dua, karena melahirkan anak berbeda jenis kelamin. Mengapung di air. Dan seindah mawar dipandangan banyak orang.


"Maksudnya apa?" gumam Adam. Ia kemudian menyalin pesan tersebut dan mengirimkannya ke grup.


dikamarnya masing-masing. Mereka yang belum paham dengan kalimat tersebut, hanya menatapnya seraya terdiam berfikir. Merenungi setiap katanya dan mencoba mencari jawaban yang masuk akal.


Diluar vila. Tepatnya dijalan utama masuk desa yang sekarang dihuni oleh Risa dkk. Seorang gadis dengan parasnya yang cantik namun make up nya tidak ketinggalan. Berdiri mematung saat seorang kakek tanpa mata dan gigi dengan tubuhnya yang sangat kurus hingga menampakkan tulang-tulangnya dan sebuah kayu yang menyangga tubuhnya muncul tiba-tiba dihadapannya. Membuatnya terbelalak seketika.


"Si-siapa kakek?" tanya gadis itu. Gadis itu bernama Sedah. Gadis yang seusia dengan Glen itu sampai didesa Mati. Saat mengikuti mobil Adam pergi.


"Patuhi peraturan dan pantangan didesa ini. Malam ini malam tumbal" ucap kakek tersebut. Ya, dia adalah kakek yang tadi dijumpai oleh Risa dkk.


Kakek tersebut lalu menjelaskan peraturan dan pantangan didesa ini. Sedah mengangguk kaku. Dihatinya tak ia pedulikan sama sekali peraturan dan pantangan itu. Ia mengangguk karena respon dari ketakutannya terhadap kondisi fisik kakek tersebut. Ia kemudian menghilang, bersamaan dengan itu. Lelaki muda dengan parasnya yang tampan namun bergaya ala berandalan kekinian melintas didepan gapura jalan masuk utama desa Mati. Dilihatnya wanita dengan paras ayu make up-nya. Ia kemudian menghampiri gadis tersebut.


"Kamu mau ke mana?" sapanya.


Sedah menoleh, ya.. wanita yang dimaksud lelaki tersebut adalah Sedah.


"Mau nyusul temen".


"Mau saya antar, malam ini malam keramat lhoh. Nggak baik, perempuan jalan sendiri" tawarnya.


"Nggak ngrepotin?" lelaki tersebut menggeleng. Ia kemudian menggandeng tangan Sedah dan membawanya ke suatu tempat. Bukan menuju vila yang sekarang sedang dihuni oleh Risa dkk. Tapi, disebuah rumah yang masih apik walaupun tidak terpakai.


...----------------...


Mayat berisimbah darah tanpa pakaian terlihat dikerumuni arwah setempat. Mereka menduga-duga, bahwa sang raja murka karena kelakuan mayat tersebut sebelum meninggal dan menghukum mereka.


Ya, mayat tersebut adalah jasad Sedah dan lelaki yang bertemu dengannya kemarin. Kematiannya mengenaskan.


Risa dkk yang melihat kerumunan, menghampirinya. Membelah kerumunan tersebut dan mencoba melihat apa yang sedang mereka lihat. Mereka bersembilan terkejut bukan kepalang, temannya yang sangat ia kenal sudah terbujur kaku dengan kondisi mengenaskan.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.


Thank You All...


❣️❣️❣️❣️