
"Adam.."
"Aku akan setia menemani kamu" ucap nya seraya tersenyum manis.
"Terima kasih" ucap ku.
"Sama-sama" sahut nya.
"Jangan terus bersedih Ris, itu membuatku juga ikut merasa sedih".
"Aku hanya tidak menyangka saja, aku belum bisa membahagiakan nenek. Tapi nenek sudah pergi terlebih dahulu" air mataku kembali menetes.
Adam tidak merespon perkataanku. Hari semakin siang, matahari mulai naik tinggi. Adam mengajakku pulang.
"Kita akan sering-sering kesini" ucap Adam akhirnya setelah aku diam tidak menyahuti ucapannya. Aku mendongak.
"Kamu akan menemaniku?" tanyaku penuh harap.
"Selagi aku masih bernafas, aku akan berusaha untuk selalu ada disisimu dan menemanimu" aku menunduk.
"Mari pulang" Adam menggandeng tanganku dan menariknya keluar pemakaman. Semakin jauh aku berjalan, semakin jauh pula makam nenek terlihat.
"Risa janji akan membahagiakan nenek" batinku seraya memandang makam nenek yang perlahan menghilang dari pandangan mata.
Sesampainya di rumah. Hanya teman-teman anggota team indigo, chalis dan beberapa ibu-ibu yang masih ada berada di rumahku. Mereka membantu ibu membuat makanan ringan untuk tahlilan malam ini. Bendera kuning terpasang dengan mantapnya di depan pagar. Melambai-lambai.
"Kamu sudah kasih tahu mbak Sekar tentang berita ini?" tanya Glen. Aku menggeleng lemah.
"Perlu aku beri tahu?" tawarnya. Aku menatapnya sendu, ia tersenyum lembut.
"Aku saja.. yang memberi tahu ini, kamu tolong.. ambilkan hp ku di kamar" ucapku lirih. Glen mengangguk dan masuk ke rumah. Ia kembali lagi dengan membawa benda pipih canggih milikku. Ia menyerahkan benda tersebut padaku. Setelah ku terima, aku langsung menghubungi mbak Sekar. Katanya, ia akan datang malam nanti.
Siang berganti sore, sore berganti malam. Tidak ada bulan ataupun bintang malam ini. Mereka seolah ikut merasakan sedihku hari ini. Terbayang, kenangan aku dan nenek yang tertawa bersama dan pertengkaran kecil yang kami alami.
Aku kini berada di kamar. Dibalkon tepatnya. Berdiri sendiri. Menatap langit yang gelap gulita tanpa secercah cahaya disana. Tiba-tiba, ada banyak kunang-kunang berterbangan dihadapanku, bersamaan dengan hembusan angin menyejukan dan juga menenangkan.
"Nek.. Risa janji.. Risa akan membahagiakan nenek" batinku.
Aku tatap dalam-dalam kunang-kunang yang berterbangan di udara. Hari ini ada yang terasa aneh bagiku. Kenapa... kenapa sedari memandikan nenek hingga saat ini.. aku tidak melihat 'mereka'. Biasanya makhluk-makhluk halus akan bersliweran menggangguku saat aku ada di balkon. Apalagi saat di pemakaman tadi. Kenapa mereka semua seolah lenyap begitu saja?. Ah! Sudahlah! Itu tidak penting!.
Tok.. tok.. tok..
Ketukan itu menyadarkanku dari lamunan malam. Pintu dibuka, nampak Adam berdiri disana dengan pakaian yang sudah rapih. Wangi nya juga sampai ke tempat aku berdiri. Apa dia mandi dan rapih-rapih saat aku di kamar?.
"Yuk.." aku mengangguk. Aku tutup pintu balkon dan menghampiri Adam. Kami berdua berjalan beriringan menuju ruang tamu, dimana sudah banyak orang mengumpul disana dengan surat yasin nya sendiri-sendiri. Ditengah-tengah mereka, makanan ringan seperti bolu, jenang, kacang dan semacamnya serta minuman aq*a tersanding. Aku duduk di samping Zara. Lantunan surat yasin yang dibaca bersamaan membuat hatiku bergetar.
Selesai tahlilan malam ini. Aku duduk di teras bersama mbak sekar, team indigo, dan chalis.
"Yang sabar ya Ris" mbak Sekar memelukku.
"Mbak pulang dulu sudah malam" mbak Sekar melepaskan pelukannya dan tersenyum padaku. Aku mengangguk lemah menjawab ucapannya. Ia kemudian pergi.
.
.
.
.
.
Hari demi hari berlalu. Sudah tujuh hari kematian nenek dan juga sudah tujuh hari tahlilan diadakan. Kini.. rumah ini sepi, tidak ada lagi lantunan surat yasin yang dibaca bersama-sama. Tapi, kawan-kawan selalu main ke rumah.
Tidak ada yang berbeda. Setelah kondisiku membaik, aku kembali bersekolah. Gangguan dari makhluk halus berbagai jenis dan wujud juga sudah mulai berdatangan kembali.
Suatu hari. Di hari minggu pagi. Adam datang kerumah. Kalian ingin tahu jam berapa sekarang? Jam lima. Ya! Sekarang jam lima pagi. Matahari saja masih enggan untuk muncul, tapi Adam dengan pakaian jogging nya duduk santai dikursi sofa ruang tamu.
"Kamu kok bisa masuk?".
"Bisa lah, kan ibu kamu yang bukain pintu".
"Ngapain kesini?" tanyaku masih berdiri.
"Jogging yuk".
"Males ah".
"Biar sehat".
"Tapi males".
"Ne-" ucapku terhenti tatkala aku menyadari bahwa wanita tua renta itu kini sudah pergi meninggalkan aku. Ia biasanya duduk di sofa ruang tamu sambil membaca al-qur'an. Air mataku kembali mengalir.
"Yah... kok malah nangis sih? Jangan nangis dong sayang, nenek udah tenang kok disana" ucap Adam menghampiriku lalu memelukku.
Aku melepaskan pelukannya.
"Apa maksud kamu panggil aku sayang-sayang begitu? Mau coba coklat rasa sandal jepit ya?" ancamku kesal.
"Jadi nggak nih jogging nya?" tanya Adam.
"Nggak! Kamu nakal!" ku palingkan muka sambil menutup kedua mata dan memanyunkan bibir
"Nakal apanya?".
"Kamu panggil aku sayang-sayang".
"Terus apa kalau bukan sayang? Beb? Ayang? Ayang beb? Grils? Embul? Kucing manis? Anjing galak? Barbie inggris? Cewekku? Tomboy? Aneh? Apa si? Maunya gimana?" cerocos Adam menyebutkan panggilan-panggilan yang sangat mengejutkan di indra pendengaranku.
"Santan" ucapku penuh dengan senyum sumringah.
"Kok santan?".
"Iya lah, kan Arisa Intan".
"Owh... ya udah, kalau gitu kamu panggil aku Dada" aku membuka mata dan mengernyit menatapnya.
"Dada?" Adam mengangguk.
"Adam Yananda".
"Entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak dengan panggilan Dada. Aku merasa panggilan tersebut, akan menjadi sebuah kata yang diucapkan saat perpisahan" batinku
"Baiklah" walaupun perasaanku mulai tak enak. Aku tetap menyetujui ucapannya. Akhirnya kami bersepakat untuk saling memanggil dengan panggilan yang sudah ditentukkan saat sedang berdua.
Aku pergi ke kamar sebentar untuk ganti baju. Lalu kembali lagi dan mulai jogging mengelilingi komplek.
Waktu di jam tanganku sudah menunjukkan pukul enam pagi. Aku dan Adam istirahat sebentar di bangku taman sambil menunggu matahari terbit.
"Da!" sapaku tanpa menatap Adam.
"Iya".
"Kamu bisa berjanji sama aku?" aku memposisikan tubuh menghadap Adam.
"Janji?".
"Iya" aku mengangguk cepat.
"Kamu bisa janji sama aku kalau kamu akan terus ada di sisi aku sampai ajal menjemput?" tanyaku penuh harap.
"Eumm... jujur saja San, aku merasa ragu untuk berjanji padamu akan hal itu" mataku membola, kerongkonganku tercekat.
"Ke-kenapa?" tanyaku gagap, bahkan keringat dingin mulai mengucur membahasai dahi dan pelipis.
"Entahlah.. aku hanya merasa.. hidupku tak akan lama lagi".
Pelupuk mataku lagi-lagi tergenangi air. Apa maksudnya dia mengucapkan kata-kata seperti itu?.
"A-apa maksudmu?".
"Aku tidak bisa berjanji padamu San.. tapi aku akan berusaha untuk selalu ada disisimu, melindungimu dari segala mara bahaya yang mengincar. Aku hanya.. aku hanya tidak mau menyakiti hati mu, saat aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk selalu ada disisimu. Aku tidak bisa melihatmu terluka San, aku menyayangimu. Tulus, bukan karena apapun. Aku tak mampu melihat wanita yang aku cintai terluka" ujar Adam seraya menatapku.
"Tapi, aku sudah terluka, karena kamu tidak mau memenuhi janji itu" air mataku seketika luluh.
"Maafkan aku.. aku hanya tidak ingin menyakitimu. Semua manusia yang bernyawa, pasti akan tiada pada waktunya. Itu yang aku takutkan, ketika aku mati, aku tidak ada lagi disisimu. Dan aku tidak bisa memenuhi janjiku" ujar nya lagi.
Kami berdua terdiam dalam jangka waktu yang cukup lama. Ku hela nafas, kemudian dengan perlahan mulai bicara.
"Aku kini tidak memaksamu untuk memenuhi janji itu, dan juga berjanji akan hal itu. Maafkan aku, tadi aku egois. Aku hanya takut, takut kehilanganmu. Seumur hidupku, baru pertama kali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda saat bersamamu. Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Bahkan saat bersama kak Ang, ayah, ibu ataupun almarhumah nenek. Aku tidak bisa merasakan perasaan itu. Maafkan aku, aku egois. Aku seharusnya tahu, bahwa semua manusia yang bernyawa pasti akan tiada. Dan aku termasuknya. Mungkin jika kau yang mengatakan janji itu, aku juga akan mengatakan hal yang sama denganmu".
"Kita jalani saja dulu, waktu akan memberi tahu jika sudah tepat saat nya" ucap Adam. Aku mengangguk lemah.
Adam menghadapkan tubuhnya, matanya menatapku dengan penuh rasa cinta dan sayang. Entah bagaimana aku bisa menangkap rasa itu di dalam matanya saat aku menatapnya.
"Jangan menangis. Jangan membuatku terluka. Kita jalani saja dulu bersama" Adam mengusap air mataku lalu memelukku. Perasaan tenang dan nyaman mulai menyeruak masuk ke dalam tubuh. Aku balas pelukan hangat tersebut. Kami berpelukan cukup lama. Aku sampai sesak nafas dibuatnya.
Adam mengendurkan pelukannya. Ia lalu menatapku masih dengan mengalungkan kedua tangannya di leherku. Tiba-tiba wajahnya maju, pipiku menjadi merah karena nya.
Cup
Awhhh... apa yang sedang terjadi?.
Adam...
Mencium pipiku?.
Adam melepaskan bibirnya dari pipiku lalu mengacak-acak rambutku.
"Hey! Main cium aja!" aku segera menjauh dari makhluk dihadapanku ini.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Terima kasih.