
Aku berangkat sekolah tepat pukul setengah tujuh pagi tentu nya setelah berpamitan pada ayah, ibu dan nenek. Kak Ang akan menjadi supirku pagi ini, yang akan mengantarkanku menuju sekolah. Setelah mobil berhenti di depan pagar sekolah, aku berpamitan pada kak Ang dan turun dari mobil lalu masuk.
Pagi ini aku merasa begitu semangat. Kenapa? Karena hari ini adalah hari sabtu, dimana hanya ada satu mata pelajaran. Di sekolahku hari sabtu masih tetap berangkat, hanya saja mata pelajaran dikurangi.
Selesainya pelajaran pertama. Aku pulang. Teman-teman akan main ke rumah nanti siang katanya.
"Assalamualaikum!" seru ku lantang setelah melepas sepatu dan menaruh nya di rak samping pintu.
"Waalaikumsalam" sahut ibu sambil berjalan menghampiriku.
"Kenapa tangan kirinya kotor gitu bu?" tanyaku seraya bergerak mengambil tangan kanan ibu dan mencium punggung tangannya.
"Iya, lagi nanam sayur mayur dan buah-buahan di kebun soalnya. Tumben pulang cepet?".
"Ini kan hari sabtu bu. Nanti temen-temen mau kesini bu, oh iya.. jadi tidak kita pergi ke pemakamannya Gisa?" tanyaku memastikan sebelum lanjut jalan menuju kamar.
"Owh.. ya, Insyaallah jadi nak" aku mengangguk paham lalu pamit pergi ke kamar. Ku lepas seragam coklat hari ini dan menaruhnya di ember pakaian kotor lalu makan siang. Selesai makan siang aku pergi ke kebun belakang rumah untuk membantu ayah, nenek dan ibu menanam segala macam jenis sayur dan buah.
"Nggak ada sawi bu?" tanyaku setelah celingak-celinguk mencari keberadaan salah satu sayuran kesukaanku.
"Enggak ada nak, stok di toko lagi habis" sahut ibu menatapku sekilas lalu fokus lagi pada tanaman tomatnya.
Pagi berganti siang. Siang terik lebih tepatnya. Matahari sudah tepat berada di atas kepala. Aku memutuskan untuk beristirahat dan bersih-bersih. Ku sentuh pucuk kepalaku yang terasa begitu panas. Segelas air putih dingin sudah mampu meredakan dahaga di kerongkongan.
"Assalamualaikum.. Risa!!".
Suara Chalis terdengar lebih keras dari yang lain. Oh, teman-teman sudah datang. Aku berjalan menuju pintu dan membuka nya. Chalis berdiri paling depan, di tangannya memegang sebuah keranjang dari anyaman bambu dengan hiasan pita dan sebagainya yang berisi buah-buahan.
"Kamu mau jenguk orang sakit atau main ke rumah temen?" tanyaku heran.
"Yee... emang nya keranjang buah kaya gini cuma jadi bawa tangan jenguk orang sakit! Jadi bawa tangan main ke rumah temen juga bisa kali. Ngomong-ngomong kita nggak diajak masuk nih? Panas tahu!" cerocos Chalis.
"Oh iya lupa, masuk gih".
Setelah teman-teman masuk semua. Aku menutup pintu dan menghampiri mereka di ruang tamu.
"Anggana di bawa juga?" aku melihat Anggana sedang tertidur pulas di pangkuan Zara.
"Iya di bawa, kasian soalnya. Di rumah nggak ada temennya" sahut Chalis.
"Dia tidur, pingsan atau mati si?".
"Tidur lah".
"Kayaknya dijampi-jampi sama Zara makannya si Anggana bisa tidur sepules itu, mana kaya tentrem banget, damai banget gitu" sahut Ais.
"Sembarangan!" sentak Zara.
"Zara memang punya aura yang memikat para kucing. Zara kan sifat nya keibuan, siapa tahu kucing-kucing yang dekat dengannya adalah anak kucing yang butuh kasih sayang ibu, makannya si kucing jadi lulut sama Zara" celetuk Reza dengan santai nya.
"Bener juga" sahut ku, Chalis, Glen, Ais, Rey, Wisnu, dan Adam bersama. Kami tergelak kemudian sedangkan Zara merengut.
"Beli kucing lagi aja buat jadi temen Anggana Lis" usulku.
"Di tempat yang waktu itu?" aku mengangguk.
"Eh.. udah pada dateng, udah pada makan siang belum?" tanya ibu yang datang entah dari mana sambil membawa sebilah pisau yang mengarah pada kami semua.
"Kami semua sudah makan tante" sahut Glen.
"Bu, pisau nya ini lhoh. Ibu lagi ngapain si?" tanyaku seraya bergerak menurunkan pisau tersebut.
"Owh, hehe maaf maaf, ibu lagi metik tomat".
"Tante metik tomat pakai pisau? Kan pakai tangan aja bisa tan" ujar Chalis.
"Eh.. buat motong tomat ding bukan buat metik tomat, salah ngomong tante, hehe" kekeh ibu.
"Ya udah silakan dilanjut kegiatannya, anggap aja rumah sendiri, camilannya ada di meja ruang keluarga ya" ibu kemudian berlalu.
"Ambil camilannya gih Ris, gigi gw udah gatel pengen ngunyah" titah Chalis.
"Ambil aja sendiri" sahutku lalu berjalan menuju tempat Zara duduk dan mengambil Anggana dipangkuan Zara. Saat aku mengangkatnya, kucing hitam berjenis anggora ini meregangkan tubuhnya sesaat lalu kembali tidur di pangkuan.
"Uuuuu lucu banget, emesh deh jadinya" ku cubit pipi Anggana yang tidak terasa dagingnya. Ralat!. Maksudku lebat bulunya. Yang tepat itu pipi Anggana memiliki bulu yang lebat membuat dagingnya tidak terasa. Ah sudahlah, tidak jelas aku ini.
"Oh ya gaisss... nanti aku, ayah, nenek sama ibu insyaallah mau ke pemakamannya Gisa. Ada yang mau ikut?".
"Nak! Mandi gih" ujar ibu yang lagi-lagi datang entah dari mana. Aku menyahut lalu meremas tubuh Anggana sekilas dan pergi ke kamar.
"Tunggu bentar ya".
Selesai mandi, aku berpakaian layaknya orang yang akan pergi berziarah. Jilbab berwarna hitam juga menutupi kepalaku. Setelah dirasa siap semuanya, aku turun ke bawah menemui ayah, ibu dan kawan-kawan.
"Nenek jadi ikut nggak bu?" tanyaku.
"Jadi nak".
"Sebentar ya tungguin kakak kamu" aku mengangguk lalu pergi duduk disamping Anggana yang masih tertidur.
"Ris, kita kan mau ke makan, masa pakaian kita warna nya cerah-cerah begini, kita pulang dulu buat ganti baju ya?" bisik Glen.
"Aku pakaiannya warna hitam semua lhoh" sahut Zara.
Aku menatapnya yang memakai pakaian dan celana berwarna hitam. Rambut cokelatnya ia gerai.
"Bu! Kalau temen-temen pulang dulu buat ganti baju bisa nggak ya?" seruku.
"Bisa, nggak apa-apa. Kak Ang juga kayaknya baru melakukan perjalanan, baru selesai kuliah soalnya" aku mengangguk.
"Ya udah kalau gitu, aku sama yang lain pulang dulu, nanti diusahain datang cepet" aku mengangguk lagi.
"Yuk pulang, ganti baju" ajak Glen seraya berdiri.
"Kenapa harus ganti baju?" tanya Ais.
"Biar kerasa ziarah nya, udah.. ayo buruan" Glen menarik tangan Ais dan yang lain.
"Kita pamit dulu tante, Ris" aku dan ibu mengangguk.
"Hati-hati di jalan" seruku dan ibu bersamaan.
"Iya tante".
"Kamu tumben outfit nya hitam semua?" tanyaku heran.
"Kenapa hayo....??".
"Karena kamu... pakai outfit hitam" sahutku tak jelas.
"Apaan sih gak jelas, pertanyaan kamu itu aneh ya.. bukannya aku sering pakai pakaian atau celana atau barang-barang warna hitam? Kamu tanya begitu kaya baru pertama kali lihat aku pakai pakaian hitam".
"Kamu kenapa nggak pakai baju, celana atau barang-barang yang warna nya cerah-cerah si? Kan lebih bagus".
"Kesannya jadi kaya pembunuh, intel, mau ziarah, dan juga... kaya nggak punya baju warna lain di rumah" tambahku.
"Pembunuh tidak selalu mengenakan pakaian warna hitam, bahkan ada pembunuh yang hanya diam di sebuah ruangan khusus dengan bau kemenyan dan bunga nya yang tajam".
"Itu namanya dukun santet" sergahku.
"Nah itu kamu tahu, terus intel? Justru jika intel memakai pakaian yang serba hitam, ia akan menjadi mencolok dan mencurigakan. Setahu aku kalau intel kan mata-mata kepolisian yang mengemban tugas mengamati target atau sasaran, dan pakaiannya malah yang berwarna-warni supaya bisa berbaur dengan warga sekitar dan tidak memberikan rasa curiga pada penglihatnya".
"Terus apa tadi? Mau ziarah? Bukannya kita emang mau ziarah?" aku mengangguk.
"Kalau nggak punya pakaian warna lain dirumah, emang nyatanya enggak ada sih. Cuma seragam sekolah aja yang warna nya beda sendiri, di lemari baju aku hanya pakaian berwarna hitam. Kalau seragam sekolah aku gantung di lemari sebelahnya".
"Pinter njawab kamu" celetuk ku.
"Pinter lah, kan belajar. Oh iya nanti kalau kita pergi, Anggana di rumah sendiri dong? Kalau dia buat kacau gimana?" tanya Zara.
"Betul juga kata kamu, tapi aku ngerasa Anggana nggak bakal begitu".
"Ok deh".
Bersambung...
Author beberapa hari yang lalu bikin cerpen, cerpennya author ikut serta kan ke lomba cerpen baru-bari ini di desa berkabut. Buat yang minat, silahkan mampir. Pencet hati dan tulis komentar nya jangan lupa ya...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Terima kasih.