INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Upacara (Season 1)



Happy Reading...!!!


Di kamar mandi aku dengan keras berusaha untuk merapihkan kembali rambut Lala yang sudah persis tante kunti di kamar mandi ini, dia sedang berdiri di samping kami malahan sambil memperhatikan kegiatanku, untungnya dia hanya berwajah dengan darah dan kelopak mata hitamnya saja jika lebih dari itu mungkin aku akan mengusirnya setelah berteriak dan berkeringat dingin.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya polos setelah lama memperhatikanku. Dia sudah memperhatikanku lama, tapi tidak tau apa yang aku lakukan? Apa di zamannya tidak ada kegiatan merapihkan rambut, hingga dia tidak tau? Atau karena sudah lama mati?.


"Tante sudah lama perhatiin aku, tapi kok nggak tau aku lagi ngapain?" tanyaku bingung.


"Kau ditanya malah tanya balik." sahutnya.


"Ini namanya rapihin rambut, ini alat-alat yang di gunain buat rapihin rambut." ujarku mengenalkan kegiatan yang kulakukan.


"Merapikan rambut? Tapi.. Setau saya kalo rapihin rambut ada air driver nya. Kok disini nggak ada?" tanyanya. Apa itu air driver?


"Air driver maksudnya gimana?"


"Itu loh wung.. Wung.. Wung ehh bunyinya gitu bukan ya? Tapi pokoknya gitulah, yang buat rambut, yang panas, yang biasanya ada di salon." jelasnya. Apa yang dia maksud itu hair dryer?


"Hair dryer maksud tante?" terkaku. Dia mengangguk cepat.


"Lha ini hair dryer." tunjukku.


"Owhh... Jadi begitu bentukannya."


"Terus yang tiga ini namanya apa?" tanyanya sambil menunjuk beberapa peralatan selain hair dyer yang di gunakan untuk merapikan rambut.


"Ini Essential Oil, salah satu kegunaannya adalah untuk menyuburkan dan menjaga rambut, karena Essential Oil ini sendiri memiliki banyak jenis. Kalau yang ini namanya Hair Brush, sisir juga tapi bentuknya agak beda kalau sisir yang biasanya bentuknya panjang kalo yang ini lebih kebulat atau elips. Nah yang terkahir namanya Hair Pins." terangku sambil mengangkat satu persatu barang yang kukenalkan.


"Owh.. Eumm apakah kau bisa merapikan rambutku setelah merapikan rambutnya?" aku melihat kepalanya yang penuh dengan belatung-belatung kecil, geli lahhhh. Tapi jika menolak tak enak takut diteror juga.


"Nanti istirahat pertama Risa kesini lagi coba rapihin rambut tante." ujarku setelah berfikir membuatnya berterima kasih berkali-kali dengan rasa senang yang membuncah.


"Ris! Gw merinding nih, ada siapa sih?" tanya Lala.


"Ada tante kunti, tadi dia merhatiin kita terus tanya aku lagi ngapain terus tanya barang yang digunain terus minta dirapihin rambutnya." jelasku santai.


"Lahh.. Ayo Ris buruan gw takut nih."


"Kan ada aku, ngapain takut."


Tiba-tiba aku mendengar pintu kamar mandi terbuka dan suara Ais serta Glen yang berteriak memanggil namaku.


"Ayo sini, aku disini!" pekikku membalas teriakan mereka berdua.


"Eh.. Ada tante juga disini, pagi tante." sapa Ais tidak dengan Glen. Aku menoleh kearah Glen.


"Nggak disapa juga?" tanyaku.


"Eh Lala bisa nggak sih lo itu nggak usah gangguin gengnya si Ghisel?" tanya Glen dengan nada lumayan tinggi, mungkin dia sudah geram dengan tingkah bocah ini.


"Nggak."


"Lo itu bisa buat seluruh siswa siswi sekolah ini kena masalah tau gak?"


"Ko bisa gitu?" tanya Lala sambil memiringkan matanya karena kepalanya sedang kupegangi.


"Lo tau, 'kan kalo Ghisel itu suka melakukan pelampiasan?" Lala mengangguk "Nah bisa aja, 'kan dia melakukan pelampiasan itu ke anak-anak yang bahkan nggak tahu sama sekali permasalahan lo."


"Iya juga si, tapi kalau dia sampai gitu, gue aja lagi dia berantem buat nyelesain masalah kita." Glen dengan geram lalu menarik keras sisir yang sedang berada di rambut Lala.


"Aa!!! Sakit Glen!" pekik Lala.


"Rasain."


"Iya.. Iya.. Temen aku juga pernah, dia nyoba jatuh dari lantai sepuluh apartemen tempatnya tinggal dan langsung jadi hantu. Tapi sekarang udah tenang kok dia." aku mendengar Ais sedang bercerita ria dengan tante kunti tadi. Tumben dia tak takut? Aku tidak memperdulikannya, aku hanya melanjutkan merapikan rambut Lala.


"Kasian banget temen kamu itu."


Setelah lama berusaha merapikan rambut Lala, akhirnya rambutnya kini sudah kembali seperti semula. Banyak rambut miliknya yang terbuang.


"La! Ini rambut kamu mau ditaruh mana?" tanyaku sambil memunguti rambutnya di lantai.


"Sini, biar aku bawa pulang takut nanti diambil orang buat hal yang gak baik." sahutnya, aku mengangguk dan memberikan rambutnya itu kepadanya.


"Lala, Risa, Ais, dan Glen ayo keaula out door, bentar lagi upacara mau dimulai." aku mendengar suara Zara yang memanggil kami berempat untuk segera pergi keaula out door karena upacara akan segera dilaksanakan. Kami berempat keluar dan meninggalkan tante kunti.


"Dadah tante nanti istirahat pertama kita main lagi yak." ucap Ais sambil kuseret dia keluar.


"Tentu."


"Siapa Ris?" tanya Zara sesampainya aku dan Lala serta Ais dan Glen diluar kamar mandi.


"Tante kunti."


"Putih atau merah?"


"Putih."


Kami berlima berjalan beriringan menuju aula out door sekolah untuk melaksanakan upacara. Sekolahku ini memang memiliki dua aula, aula outdoor dan aula indoor. Untuk aula outdoor biasanya digunakan untuk upacara, olahraga atau mengadakan lomba-lomba sedangkan aula indoor biasanya di gunakan untuk rapat.


Sesampainya diaula outdoor kami semua memasuki barisan dan upacara pun dimulai.


Bersambung...