
"Kalian lagi ngapain?" tanyaku saat melihat Zara, Glen, dan yang lain kecuali ayah, ibu kak Bay sedang duduk bergerombol. Mereka tersentak dan segera mengalihkan pandangannya, padaku dan juga Ais yang sedang berdiri.
"Apa kalian lagi ngomongin tentang kejadian pas aku kerasukan? Gisa adikku ya?" semuanya tersentak dan saling pandang saat mendengar pertanyaanku.
Aku ikut bergabung dan duduk disamping Adam begitupun Ais yang ikut duduk disamping Glen.
"Iya kan?" tidak ada yang menjawab. Semuanya diam, bahkan kak Bay dan kak Anji pun ikut diam.
"Kenapa diam?" masih sama. Tidak ada yang menjawab pertanyaanku.
"Sekarang aku mau tanya sama kak Ang" aku menatap kak Ang yang langsung terkesiap dan mengangkat alisnya.
"Aku ini anak kandung dari ibu Mawar dan ayah Zidan bukan? Dan aku itu adik kandung kak Ang atau bukan?" kak Ang nampak lebih terkesiap mendengar pertanyaanku. Dia menatap semuanya bahkan Ais pun ia tatap.
"Jelaskan saja" ujar Adam. Kak Ang menghela nafas dan terdiam sebentar.
"Bukan. Kamu bukan anak kandung dari ibu Mawar dan ayah Zidan ataupun adik kandung dari kak Ang" ujar kak Ang. Senyumku lantas sirna. Tubuhku terpaku tak berdaya.
"Bukan?" tegasku. Kak Ang mengangguk.
"Hikss.... te- terus sekarang di-dimana orang tua kandung aku?" tangisku pecah. Pertanyaan yang kulemparkan seketika menjadi pisah-pisah pada beberapa katanya.
"Saat ayah sama ibu ngadopsi kalian, tidak ada keterangan apapun tentang orang tua kalian" sahut kak Ang. Lagi-lagi air mataku keluar tanpa batas, mengalir begitu saja bagai air terjun yang belum kehabisan sumbernya.
"Aku punya adik?" tanyaku lagi. Aku menunduk, menatap sepatu putih yang aku kenakan.
"Punya, namanya Gisa Ayu Pratama. Saat ayah sama ibu ngadopsi kamu, ayah sama ibu juga ngadopsi Gisa. Tapi, Gisa hilang saat kita pergi ke pasar malam, waktu itu umur kamu sembilan tahun sedangkan Gisa delapan tahun. Pencarian sudah dilakukan bertahun-tahun, tapi hasilnya nihil, hingga polisi menyerah untuk melakukan pencarian" sahut kak Ang.
"Rumah besar diseberang rumah gw dulu sebelum pindah ke sini, dulu ngadopsi seorang anak yang ternyata adalah Gisa. Adik Risa yang sudah hilang bertahun-tahun lamanya. Gw sama Gisa dan juga Anel sahabatan karena sering main bareng dan juga orang tua kita adalah rekan kerja. Hingga suatu hari, keluarga yang mengadopsi Gisa bangkrut dan pindah untuk mencari tempat tinggal yang murah. Anel juga ikut pindah karena nggak mau jauh-jauh dari Gisa. Sedangkan gw, gw diboyong sama orang tua ke tempat tinggal yang sekarang..."
"Saat mereka pindah, gw masih tetap kontakan sama mereka. Sampai sebuah kabar buruk gw terima dari Anel, bahwa Gisa meninggal dibunuh. Jasadnya ditemukan disebuah gudang disekolahnya. Sejak saat itu, gw putus kontak sama Anel. Nomornya selalu nggak aktif saat gw hubungin" terang Adam.
"Jadi... foto yang kamu jadiin walpaper itu fotonya Gisa?" tanyaku.
"Iya" sahut Adam.
"Gisa dibunuh oleh siapa?" tanyaku dengan menahan gejolak api didada.
"Dia meninggal karena dibunuh oleh tiga orang yang tadi ribut sama Anel ditubuh Risa. Lo tahu wajahnya kan Syah?" tanya Adam sambil menatap Aisyah.
"Yoi".
"Untuk kenapa dia dibunuh, gw belum tahu"
"Sebaiknya kita bicarakan ini di markas nanti. Kita urus yang sekarang dulu" ucap Wisnu.
"Gw bingung sumpah" keluh kak Anji pada kak Ang.
"Ya udah gak usah ikutan" balas kak Ang.
Aku yang masih duduk, hanya terdiam memikirkan semua ini. Aku bukan anak kandung ibu Mawar dan ayah Zidan? Lalu kemana orang tua kandungku sekarang. Kenapa aku lupa ya dengan adikku sendiri? Sesampainya dirumah nanti. Aku harus tanyakan semua ini pada ayah dan juga ibu.
"Jangan nangis ya Ris. Gw ada sama lo" aku menoleh, menatap Adam yang jarang sekali berperilaku hangat denganku. Air mataku kembali menetes, semoga aku dan sahabat-sahabatku yang sekarang dapat bersahabat sampai ajal menjemput.
"Kok malah nangis sih?" Adam mengangkat tangannya, kemudian mengusap pipiku yang basah karena air mata.
Aku tersenyum kemudian berdiri ketika Adam menggandeng tanganku.
"Gw mau bareng Risa. Salah satu dari kalian, pindah ke mobil Indigo Team. Boleh?" aku tertegun mendengar ucapan Adam. Tangannya menggenggam erat tanganku, membuat rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku.
"Boleh. Gw aja ya. Gw pengen ngerasain duduk dibangku mobil abang ganteng" sergah Lala yang langsung berlari menuju mobil kak Ang.
Aku dan Adam berjalan ke mobil merah milik Zara. Disusul yang lain tentunya.
"Biar aku aja yang nyetir, nanti Glen duduk disampingku, Adam sama Risa duduk dikursi tengah sedangkan Ais duduk dibelakang bareng tiga pocong. Setuju?" ujar Zara.
"Setuju" sahut Ais kemudian berlari masuk ke mobil. Setelah Ais, Zara dan Glen masuk. Adam mengajakku masuk masih dengan menggenggam erat jemariku. Ada apa ya dengan hatiku? Kenapa seperti ada banyak kupu-kupu berterbangan didalamnya.
Setelah kami berdua masuk. Perjalanan kembali dimulai. Masih dengan mobil merah ini yang dibelakang.
"Arum manisnya kok belum dimakan?" aku menoleh kebelakang, melihat Ais yang sedang mengamati arum manis ditangannya.
"Gimana mau makan. Orang nggak bisa bukanya, mau minta tolong. Tapi waktunya nggak ada yang pas" keluh Cinta.
Kepalaku kini bersender pada kursi yang bagian atasnya diduduki dua pocong karena Cinta lebih memilih untuk duduk disamping Ais. Adam masih setia disisiku dengan jemarinya yang tak lepas dari jemariku. Kenapa dia tiba-tiba menjadi seperti ini padaku? Apa dia berfikir bahwa aku adalah pengganti Gisa?.
Mataku mulai tertutup. Sepertinya perjalanan masih lama, sebaiknya aku tidur terlebih dahulu.
.
.
"Ris mau makan nggak?" aku mengerjap. Aku menoleh pada jemariku yang sudah lepas dari genggaman Adam.
"Makan?" Adam mengangguk. Aku melihat ke dalam mobil hanya tersisa aku dan Adam. Mana yang lain? Apa mereka makan?.
"Ya udah ayuk" aku turun dari mobil dan langsung disuguhkan pemandangan sebuah tempat makan dari bambu yang dicat coklat dan juga berbagai macam pohon disekelilingnya. Ada juga sebuah pohon besar yang dibawahnya disediakan tempat duduk melingkari pohon tersebut. Tempat duduk tersebut terbuat dari cor-cor an semen.
Adam kembali menggenggam tanganku. Tapi sekarang lebih erat. Aku menatap sekeliling, ada seorang pria yang sepertinya seumuran dengan ayahnya kak Bay menatapku intens. Aku terkesiap ketika bertemu pandang dengannya, sontak saja aku langsung berperilaku manis dengan Adam untuk mengelabui pria tersebut. Kusenderkan kepalaku pada pundak Adam sambil membalas genggaman tangannya. Pria tersebut yang melihatku bertingkah manis pada Adam langsung mengalihkan pandangannya. Walaupun begitu, aku belum merubah posisi sambil terus berjalan.
Setelah masuk ke dalam rumah makan tersebut. Ais yang melihatku masuk dengan Adam, langsung melambai-lambaikan tangannya. Aku dan Adam menghampirinya dan ikut duduk bersama. Dimeja ini hanya ada anggota Indigo Team.
"Mau makan apa?" tanya Adam mengejutkanku ketika sedang berkeliling mencari sosok kak Ang dan yang lain.
"Sama kaya kamu" Adam mengangguk kemudian pergi memesan makanan.
Setengah jam aku menunggu Adam kembali. Lama juga ya. Setelah lama menunggu, akhirnya sosok yang kutunggu-tunggu datang sambil membawa nampan yang berisi banyak makanan. Dibelakangnya ada sekitar tiga pelayan yang membantunya.
"Silahkan dinikmati" ujar salah satu pelayan dengan senyum manisnya kemudian pergi setelah menaruh banyak makanan diatas meja. Ada ayam goreng sambal tomat, sayur kangkung, sup, gorengan tahu dan tempe, cumi pedas, serta ikan bakar. Masih ada beberapa menu lain yang tidak aku ketahui namanya.
"Khemm... khemmm... ada yang mulai lagi pdkt nih" seloroh Reza ketika Adam mulai memotong daging ayam, menusuknya kemudian menyuruhku untuk membuka mulut.
Adam langsung menatap Reza tajam tapi tidak menghentikkan aksinya. Ia tetap menyuruhku untuk membuka mulut. Beberapa menit berlalu, aku masih enggan membuka mulut hingga akhirnya sebuah ancaman melayang padaku.
"Kalo nggak mau buka mulut, gw cium lo"
Karena ancaman tersebut, dengan berat hati aku membuka mulut dan menerima suapan pertama dari Adam.
"Aku bisa makan sendiri!" keluhku sambil merampas garpu yang dipegang oleh Adam dan menyuapkan ikan bakar yang sudah aku tusuk dengan garpu yang aku rampas ke mulutku.
"Itu garpu bekas gw" celetuk Adam membuatku terbatuk dan gligapan mengambil minum.
"Mana minum?".
"Ini... ini" Glen mengambilkan segelas jus dan menyerahkannya padaku yang langsung aku minum hingga tersisa setengah.
"Makannya kalo mau ngapa-ngapain itu izin dulu" ujar Adam tanpa menoleh ke arahku.
"Tadi kan garpu itu juga bekas makan aku. Kenapa malah kamu gunain?" tanyaku kesal.
"Sekali-kali" aku mendengus kesal.
"Ada garpu lain nggak?" tanyaku sambil celingak-celinguk mencari garpu yang masih baru.
"Udah sih pakai itu aja. Orang udah lo gunain juga kan, gitu doang langsung diganti. Tadi gw makan pake garpu itu biasa aja tuh padahal bekas lo" ujar Adam.
"Tapi kan..."
"Nggak ada tapi-tapian. Lama banget si lo makan, sini gw bantuin" sergah Adam. Dia kemudian mengambil garpu tadi dan menyuapiku bertubi-tubi, dia juga makan menggunakan garpu tersebut.
"Udah... udah kenyang aku".
"Owh ya udah" sahut Adam kemudian kembali melanjutkan makanannya hingga habis.
"Wahhhh gak nyangka gw..." celetuk Reza.
"Nggak nyangka apa?" tanyaku.
"Nggak nyangka kalo Adam mau makan pake garpu bekas lo. Dia minum pake sedotan bekas gw aja nggak mau, masa pake garpu lo mau, hahahaha" tawa Reza seketika pecah mendengar ucapannya sendiri sedangkan aku menatap kesal Adam. Perilakunya aneh sekali hari ini.
Setelah selesai makan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Adam masih semobil denganku dan juga duduk disampingku, tapi sifatnya kembali dingin.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.