
Hingga akhirnya mobil ini mulai melaju di jalan tol dengan kecepatan sedang. Cahaya tamaram dari lampu yang di pasang di sisi jalan tol membuatku mulai merasakan sensasi aneh sekarang. Berbagai macam penampakan yang menyeramkan juga mulai berdatangan silih berganti.
"Hati-hati Ra! Fokus mengemudi" ingatku.
"Iya Sa. Kamu juga, jangan kosong pikirannya. Kamu itu kan gampang kerasukan" aku mengangguk.
Brak...
Brak...
Brak...
Brak...
Suara tabrakan terdengar memilukan di telinga. Bukan mobil ini ataupun mobil kak Ang yang mengalami tabrakan, tapi dari mobil yang akan menyalip tapi malah oleng dan menabrak pembatas jalan. Mobil tersebut dalam kondisi melaju cepat. Setelah mobil tersebut menabrak pembatas jalan hingga ringsek, tiga mobil lain yang juga melaju cepat ingin menyalip malah menabrak mobil tersebut. Akibatnya, mobil-mobil tersebut mengalami kerusakan berat. Apalagi mobil pertama.
Zara memutuskan untuk mundur menjauh sedangkan mobil kak Ang maju menjauh. Sepertinya, tiga mobil dalam kecelakaan akan meledak. Sedangkan mobil ke empat, berusaha mundur menjauh karena masih bisa di gerakan walaupun bagian depannya rusak parah.
Dan benar saja. Beberapa detik setelah mobil ke empat menjauh. Tiga mobil tersebut langsung meledak dengan hebatnya.
Duar....!
"Kaya adegan di film-film aja nih" gumamku.
Petugas polisi yang kebetulan sedang melintas langsung mengamankan lokasi dan lajur kendaraan. Jalanan langsung menjadi macet karena lajur ini sedang ramai kendaraan.
"Bahaya nih" seruku. Bahaya? Ya jika sampai arwah korban kecelakaan menghampiri kami. Aku tak akan kuat melihat penampakannya. Apalagi jika di mintai tolong.
Eaaaa.... eaaaaa....
"Hantu atau manusia itu?" tanyaku pada siapa saja yang mau menjawab.
"Yang nangis manusia, masih balita. Dia lihat arwah korban kecelakaan yang sekarang sedang berjalan menghampiri mobil ini. Banyak-banyak berdo'a dan berusaha senatural mungkin seperti manusia biasa" ujar Zara. Aku mengangguk kemudian menunduk sambil bergumam surat-surat pendek.
Dua jam berlalu. Kini mobil Zara sudah bisa melaju seperti semula. Aku juga sudah menengadahkan kepala.
"Ngeri" seru Ais yang mendapat anggukan setuju dariku.
.
.
.
.
.
Beberapa jam berlalu. Akhirnya kami semua sampai di rumah ibu sekitar pukul sebelas malam. Aku lalu turun di ikuti Adam.
"Ngapain kamu turun?" tanyaku ketus.
"Mau pindah ke mobil Indigo Team".
"Jangan ketus gitu dong Sa. Gw bakal buktiin ke elo kalo gw emang sayang sama lo bukan karena apapun" aku berdehem.
"Ya udah gw pergi dulu. Selamat malam, mimpi indah" ucap Adam kemudian mengusap pucuk kepalaku dan berlalu pergi.
Mobil Zara dan mobil Indigo Team kini sudah tidak terlihat pandangan mata. Aku dan kak Ang masuk ke rumah setelah mengamankan mobil, tak lupa mengunci semua jendala dan juga pintu sebagai rutinitas lain sebelum tidur.
"Selamat malam dek. Mimpi indah" kak Ang mengecup kedua pipiku.
"Ya" aku berjalan lebih dulu menuju kamarku. Kemudian melepas semua atribut yang aku kenakan hari ini dan berganti pakaian tidur lalu pergi ke kamar mandi untuk cuci kaki dan tangan, gosok gigi dan lain sebagainya. Setelah itu aku tidur dan membicarakan tentang keluargaku besok.
.
.
.
.
.
"Oh astaga... jam berapa ini??" aku terkesiap masih dengan posisi berbaring. Aku beranjak untuk mengumpulkan nyawa kemudian melihat jam di alarm.
"Jam setengah delapan? Wahhh gila sih ini" aku segera pergi ke kamar mandi setelah mengambil handuk di gantungan. Selesai mandi, aku segera memakai seragam abu putihku.
"Kalung ini.... semoga dia bisa menemaniku ketika Rey tidak ada" gumamku lalu mengenakan kalung pemberian Rey. Setelah itu, aku turun ke bawah untuk sarapan.
"Lhohh nak kok belum berangkat?" tanya ibu.
"Iya bu, semalem pulang sekitar jam sebelas. Baru bangun tadi jam setengah delapan. Aku berangkat dulu bu, yah, nek Assalamualaikum" aku dengan tergesa-gesa mengoleskan selai stroberi kesukaanku pada roti tawar yang sedang aku pegang lalu menyalami tangan ayah, ibu dan nenek sambil menggigit sarapanku pagi ini.
"Waalaikumsalam".
Setelah sampai di depan rumah. Aku berlari keluar komplek untuk mencari angkutan umum, jam segini. Bus jurusan sekolahku sudah berangkat dari tadi.
Aku melambaikan tanganku saat ada sebuah angkutan umun yang melaju ke arahku. Setelah angkutan umum tersebut berhenti, aku masuk ke dalamnya dan mengatakan tujuanku.
"Makasih" aku menyerahkan selembar uang sepuluh ribu kemudian berlari menuju pintu gerbang. Namun sayang, pintu gerbangnya sudah di tutup. Tanpa berlama-lama lagi aku kembali berlari ke tembok belakang dan memanjat tembok berlumut yang lumayan tinggi di sana. Untungnya aku mengenakan daleman panjang, jadi bisa dengan mudah memanjat dan melompat. Setelah itu, aku berlari ke kelas.
"Selamat" gumamku lega saat sudah duduk di bangku ku dan guru belum masuk kelas.
Tak berselang lama setelah kedatanganku. Ais, Glen, Zara, Reza dan Reyyan datang dengan tergopoh-gopoh seperti aku tadi dan pergi ke tempat duduknya masing-masing.
"Adam sama Wisnu, huh... capek banget, mana?" tanya Reza sambil mengeluh dan mencari udara segar sebanyak-banyaknya.
"Tidak tahu" sahutku.
"Kaki aku lecet nih hahaha tadi kena duri pohon mawar lagi pas lompat" ucap Ais sambil tertawa dan juga mengamati lukanya. Ada beberapa goresan di kakinya yang mengeluarkan banyak darah.
"Oh iya Ris, gimana lukamu?" tanya Ais.
"Masih perih".
"Kayaknya di uks ada hansaplast deh, kamu nggak mau ke sana?" aku menggeleng.
"Kaki aku masih pegal dan malas berjalan"
"Ya udah aku ke uks dulu ya, mau ngobatin ini kaki" aku mengangguk setelah itu Ais pergi keluar disusul Reza. Mau kemana itu anak?.
"Risaa!!!.... gimana kondisi lo?!" pekik Lala saat melihatku.
"Masih perih".
"Tidak sempat, tadi aku bangun jam setengah delapan. Takut telat, jadi tidak mentingin luka".
"Untung gw bawa plester, sini gw pakein" ucap Lala mengambil plaster miliknya dan memasangkannya pada luka di pipi dan leherku.
"Ais mana?" tanya Lala sambil tengok-tengok kesana kemari.
"Uks. Kakinya kegores duri mawar tadi".
"Owh...."
"Kamu masuk lewat mana?" tanyaku.
"Lewat pintu gerbang".
"Kok bisa?".
"Tentu, kan pake uang pelicin" bisiknya.
"Pantes aja".
Waktu terus berjalan. Aku sampai bosan menunggu, guru matematika yang tidak aku tahu siapa namanya belum juga datang sedari tadi. Jika tahu begini, tadi tidak usah terburu-buru berangkat sampai masuk lewat tembok belakang. Ngomong-ngomong, dimana tembok kulkas sama Wisnu? Apa mereka kecemplung sumur?.
Suara cempreng Ais menggema di seluruh sudut kelas. Manik matanya nampak berbinar. Ia menghampiriku dan duduk di bangku kosong di hadapanku.
"Kalian tahu nggak?" aku menyelah ceritanya dengan menggeleng dan menjawab 'tidak'. Ais menatap kesal ke arahku karena menyela ceritanya. Aku tahu bahwa dia akan bercerita karena biasanya ketika dia akan cerita. Dia akan mengawalinya dengan kalimat 'Kalian tahu nggak? / Tahu nggak?' dan nama panggilan jika bercerita pada satu orang.
"Jangan di sela!" aku mengangguk sambil terkekeh.
"Tadi lagi pas di uks, kan aku kesusahan buat ngobatin lukanya. Nah..... aaaaa... aku nggak kuat ceritanya" aku mendengus saat Ais berhenti bercerita dan malah cengengesan tidak jelas sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Lanjut!" seru Lala kesal.
"Oh ya, tadi.... aku ngobatinya di bantu Rezaa... aaaa, aku seneng banget" lanjutnya lalu cengengesan lagi dan montang-manting tidak jelas sambil menutupi wajahnya. Persis sudah gerakannya dengan cacing kepanasan. Tapi kalo Ais pasti lagi kehepian, bukan kepanasan.
"Oh... gitu" ucap Lala tak tertarik.
"Wahhhh.... seneng banget ya kamu?" seruku.
"Iya, seneng banget" sahutnya dengan memanjangkan kata 'senang'.
Karena bosan akan melakukan apa dan juga teringat akan Ayu dan kondisinya, akhirnya aku mengajak serta Ais, Glen dan Lala untuk ikut.
"Eh... Lala ku sayang" sapa Sella saat melihat Lala berjalan di sampingku. Yahhh... geng resah lagi.
"Mau apa lo?" sinis Lala.
"Yehhh bocah! Di sapa baik-baik malah sinis".
"Gw lagi nggak mau ada urusan sama lo, minggir! Gw mau lewat".
"Gw mau tanya kondisi lo, setelah kejadian di kolam renang" Lala tersentak mendengar ucapan Sella yang sepertinya tulus dari hati.
"Cih, sok peduli!" decih Lala.
"Lo kenapa sih La? Kok kaya nggak suka gitu gw khawatirin" heran Sella.
"Emang nggak suka, kenapa? Marah? Mending lo pergi deh sekarang, gw ada urusan sama Risa, Ais juga Glen yang lebih penting daripada ribut sama lo".
"Lo.... berubah La" Lala lagi-lagi tersentak.
"Berubah?" heran Lala kemudian meraba wajahnya.
"Bukan wajah lo, tapi sikap lo. Lo biasanya suka cari masalah sama gw, tapi sekarang kenapa malah kaya ngehindar" ucap Sella polos.
"Ehhh ketua geng Resah. Lo itu aneh banget ya sumpah, gw lagi berusaha buat akur sama lo, nggak cari masalah sama lo. Ehhhh.... malah lo nya yang cari masalah sama gw. Lo mau jambak-jambakan lagi sama gw?, tapi maaf ya.... gw nya ogah. Gw nggak mau rambut gw tambah rusak karena jambak-jambakan dengan seorang Ghisella dan juga, kamar mandi tuh serem, gw ogah kesana".
"Cemen banget lo ke kamar mandi aja takut" ucap Sella. Pasti ini... pasti, detik-detik terjadinya pertemuan yang entah berapa kali antara Lala dan Sella.
"Lo ngrendahin gw? Lo mau ribut lagi ya sama gw? Oh ayok, gw nggak takut" tantang Lala sambil bergerak memasang kuda-kuda dan mengibaskan rambut panjangnya. Katanya mau akur dan tidak ribut lagi dengan Sella. Tapi nyatanya...?. Aku menggeleng.
Aku harus gimana?.
Ah! Tiba-tiba sebuah lampu menyala hinggap di otakku. Bagaimana kalo aku perlihatkan saja penampakan-penampakan menyeramkan yang berlalu lalang di taman pada Lala dan juga Sella?. Iya Risa, udah gitu aja, bagus tuh idenya. Nantinya, bukan hanya mereka saja yang ketakutan tapi aku juga. Mantap sekali!.
"Owhhh.... nantang rupanya?" Sella menoleh ke arah kawan-kawannya sambil melipat lengan bajunya.
"Ada rencana?" tanya Ais.
"Otak ku baru saja di hinggapi sebuah lampu menyala Ai" sahutku sambil menyiapkan mental.
Satu....
Dua....
"Ribut sama mereka aja gimana?" tanyaku lembut pada Lala dan juga Sella yang aku pegang lengannya sambil menahan rasa takut melihat wujud mereka.
"Aaaaaaaaaa!!" pekik Lala dan juga Sella bersamaan kemudian terjatuh, setelah di cek. Ternyata mereka pingsan, tanganku kini sudah lepas dari lengan mereka.
"Nah.... jadi ribet deh" gumamku.
"Anak laki-laki yang baik hati, sungguh murni dan jeli sekali. Bolehkah beberapa dari kalian membantu Risa yang cantik ini dengan membawa dua manusia yang sedang tergeletak tak sadarkan diri ke uks?" seruku pada anak laki-laki di kelas. Beberapa dari mereka langsung dengan sigap membawa Lala dan juga Sella ke uks. Aku mengikuti mereka untuk memastikan keadaan Lala dan Sella. Setelah itu baru pergi ke kelas Ayu.
"Gitu aja pingsan" gumam Glen.
"Kamu mau liat juga Glen?" tawarku.
"Gw kan sama kaya elo, sama-sama indigo. Nggak usah lo pegang dan kasih liat, gw juga udah liat" aku terkekeh saat dirinya manyun.
"Mereka kayaknya baik-baik aja kalo aku tinggal" gumamku.
"Biar aku saja yang menjaga mereka?" ucap Ais. Wahhhhh.... apakah ini yang di namakan pucuk di cinta, ulam pun tiba?.
"Wahhh... thank you so much Ais" sahutku senang dengan sok-sok an menggunakan bahasa inggris.
"Ya, sayur baskom" aku mengernyit begitupun Glen dan Zara.
"Maksud aku. Yes, your welcome" aku manggut-manggut saja kemudian pergi dari uks dengan mengajak Glen dan Zara setelah berpesan pada Ais untuk menjaga Lala dan Sella dengan benar sampai aku kembali.
Bersambung...
Ayo.... dukung selalu Risa dan kawan-kawan dengan jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.
Terima kasih.