
"Aku mau tanya sama kalian" ujarku.
"Tanya aja" sahut Ais.
"Aku kenapa bisa ada di rumah sakit?" semua nya terdiam saling pandang.
"Kamu pingsan" singkat Ais setelah menghela nafas.
"Terus gimana setelah aku pingsan?" tanyaku lagi.
"Aisyah langsung telfon polisi untuk bawa tante Mikey dan juga ambulans untuk mengurus pemakaman Ayu. Pukul lima tadi, gw dapet info dari pembantu nya tante Mikey kalau Ayu sudah di makamkan. Niat nya kita akan ikut tahlilan dan pergi ke pemakaman Ayu besok" terang Glen.
"Aku nggak ikut dulu ya" ucap ku menunduk.
"Nggak papa, nggak usah di paksain. Kita tahu kalo kondisi lo belum sepenuhnya pulih" ujar Glen.
"Ya udah, kalo gitu kita pamit pulang dulu ya. Cepet sembuh Ris" aku mengangguk.
"Kamu nggak ikut pulang Nu?" tanyaku menatap Wisnu yang sedang asik memainkan ponselnya. Dia menatapku sekilas lalu kembali menatap layar ponselnya.
"Enggak, gw mau nemenin Adam kalo lo udah cape".
Akhirnya malam ini, teman-teman pamit pulang kecuali Wisnu.
"Nak...".
Sapa ibu sambil membuka pelan pintu ruangan. Ia langsung berjalan ke arahku dan memeluk tubuh ku.
"Ibu" aku membalas pelukan hangat ibu yang sudah berderai air mata.
"Gimana kondisi kamu?" tanya ibu setelah melepas pelukannya.
"Mendingan bu".
"Dia siapa?" tanyaku sambil menunjuk lelaki di samping kak Ang dengan pandangan mata.
"Dia kakaknya Adam" mataku membola tak percaya. Adam punya kakak? Sejak kapan?.
"Ke kamar kamu yuk nak, ini sudah malem. Kamu kan harus istirahat yang cukup biar cepet pulih" ajak ibu.
"Nggak mau bu, Risa mau temenin Adam di sini" sahutku sambil menatap Adam yang terbaring lemas di atas bed.
"Nanti biar gw aja sama Wisnu yang temenin Adam, lo istirahat aja Ris. Kondisi lo juga belum sepenuhnya pulih" ujar kakak Adam.
"Nggak kak, aku nggak mau. Aku mau nemenin Adam" tolakku tanpa melepas pandangan dari wajah Adam.
"Hufttt... ya udah kalo gitu" ucap ibu akhirnya.
"Ayah kok nggak ikut bu?".
"Ayah lembur kerja nak".
"Kamu jangan lupa makan nak, walaupun makanannya nggak enak, kamu harus tetep makan biar cepet sehat, ibu nggak bisa lama-lama di sini. Ibu juga ada pekerjaan, kak Ang nanti akan menemani kamu di sini" aku mengangguk. Setelah itu ibu pamit pergi meninggalkan aku dan kak Ang yang saling tatap.
"Kamu nggak yakin mau nemenin Adam Ris?" tegas kak Ang.
"Yakin kak! Udah lah aku cape denger kalimat semacam itu terus, aku yakin banget mau nemenin Adam di sini sampai dia sadar" ucapku yang lama-lama kesal karena satu jenis pertanyaan dengan berbagai macam versi.
"Ya udah".
.
.
.
.
.
Matahari belum muncul menampakan sinar indah nya. Jam dinding di ruangan ini menunjukan pukul lima pagi, aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk wudhu dan menunaikan sholat subuh.
Selesai sholat subuh, aku kembali duduk di kursi samping bed yang di tiduri oleh Adam sambil mengusap telapak tangannya.
"Kamu kapan sadar dam? Kok lama banget" gumamku lesu. Belum ada tanda-tanda sadar apapun sejak hari kemarin. Apa selama itu untuk pasien luka tusuk sadar?.
"Kamu cepet sadar ya... aku nungguin kamu lhoh, kamu nggak sedih apa lihat aku begini".
"Kak..." aku terkejut ketika Anel menyapaku.
Aku segera mengusap air mata yang masih menetes tiada henti.
"Ada apa Nel?" tanyaku dengan suara serak setelah menangis.
"Nel... tentang adik ku, Gisa. Dia di makamkan di mana Nel?" tanyaku.
"TPU kota sebelah kak, dia di makamkan oleh keluarga yang mengasuhnya. Aku mau minta tolong sama kakak, untuk makamkan jasad aku dengan layak dan sayangi Adam sepenuh hati. Adam berharga di mata adikmu kak" Anel mulai menangis, isak tangis nya membuat ku merinding bukan main.
"Tolong jelasin semua nya Nel, apa yang menyebabkan Gisa dan kamu meninggal" pintaku.
"Gisa meninggal karena di bunuh oleh tiga orang yang sempat berbisik-bisik beberapa hari yang lalu saat perjalanan menuju komplek Daun Ijo. Dia di bunuh karena bagi tiga orang tersebut, Gisa adalah tembok penghalang mereka untuk menjadi yang terbaik di sekolah. Jenazah Gisa di temukan dua hari setelah di bunuh. Sedangkan aku.... aku meninggal karena bunuh diri di rumah sakit tempatku di lahirkan. Aku bunuh diri karena aku ngerasa hidupku hampa setelah kematian Gisa. Pikiranku melayang tidak jelas saat itu" aku meringis mendengar cerita Anel.
"Siapa nama tiga orang yang sudah membunuh Gisa nel?".
"Nano, Tri dan Via".
"Orang tua yang mengasuh Gisa sampai saat ini masih melakukan pencarian tentang pelaku pembunuhan Gisa. Mereka belum terima kematian Gisa jika pembunuhnya belum tertangkap. Aku selalu mengintai kegiatan Nano, Tri dan Via selama ini. Mereka akan mendaftar di sekolah kakak sebagai murid tahun ajaran baru besok".
"Tolong aku ya kak, tolong jaga Adam dengan baik dan sayangi dia sepenuh hati. Setelah kakak menemukan jasadku, aku akan pergi dan menyerahkan pelaku pembunuhan Gisa untuk kakak hukum dengan cara kakak sendiri" aku mengangguk.
"Ya udah kak kalo gitu aku pergi dulu" Anel kemudian menghilang.
Pagi tidak lah terang. Hari ini seperti nya akan turun hujan karena mendung. Di ruang rawat kamar Adam, ada sebuah jendela besar dengan tirai ke emasan yang jika di buka akan langsung menyajikan pemandangan kota serta suasana langit. Aku melihat awan mulai tampak berwarna abu-abu dan petir mulai saling menyambar. Segelas coklat panas mungkin akan enak di nikmati dalam kondisi seperti ini.
Tak lama setelah suara petir yang beradu di atas sana, rintikan hujan mulai turun, semakin lama rintikan tersebut semakin bertambah hingga hujan deras mengguyur kota.
Suara hujan dicampur lebat nya angin berhembus menambah dingin suasana kota yang memang selalu dingin saat dipagi hari.
"Lo harus jaga kondisi, biar nanti kalo Adam sadar. Lo bisa temuin dia" aku memutar badan. Menatap Wisnu yang sudah segar sepagi ini. Dia memakaikan jaket berwarna hitam agar aku tidak kedinginan.
"Makasih" Wisnu mengangguk lalu berpindah tempat dan berdiri di sampingku. Ia termenung menatap ke luar jendala. Di mana air hujan sedang asik membasahi bangunan dan tanah serta tumbuhan yang di lewatinya.
"Dingin ya? Minum coklat panas pasti enak" ujar Wisnu.
"Ternyata kamu juga memikirkan apa yang aku pikirkan" kekeh ku.
"Emang lo mikirin apa? Adam ya?" aku menggeleng menatapnya.
"Tidak melulu tentang Adam kali Nu, aku lagi mikirin kalo minum coklat panas sambil ngemil kayaknya enak gitu".
"Owh. Gw kira lo lagi mikirin Adam, otak lo kan isinya cuma Adam" kekeh Wisnu meledekku.
"Kata siapa? Otak aku juga mikirin pelajaran sekolah sama kasus-kasus yang menumpuk. Oh ya masalah kasus-kasus itu bagaimana? Apa ada titik terang?" tanyaku penasaran.
"Kasus yang mana?".
"Tentang kamar mandi markas IT" Wisnu menggeleng.
"Belum ada ya?" Wisnu menggeleng lagi.
"Gw nggak tahu bukannya nggak ada, kalo di cari pasti ada. Tapi gw lagi males ngurusin itu, sekarang kan hujan" aku mengernyit. Dia dingin jika dengan orang lain. Tapi jika denganku, sifat dinginnya pasti akan langsung hilang digantikan dengan senyum hangat dan canda tawa.
"Kalo lagi hujan, gw lebih suka ngendon di kamar" aku tertawa kecil mendengarnya. Membayangkan Wisnu hanya mengenakan celana kolor dan kaos polos sedang meringkuk di bawah selimut bergambar berbie. Hahahaha itu lucu sekali menurutku.
"Mikirin apa si lo sampe ketawa begitu?" heran Wisnu. Sama, aku juga heran sama diri aku sendiri kenapa bisa sampai mikir kesitu.
"Aku lagi mikirin kamu yang hanya pakai celana kolor dan kaos polos sedang meringkuk di bawah selimut bergambar berbie" ucapku menjelaskan pikiran yang membuatku tertawa.
"Ha-ha-ha, gak lucu!" sarkas Wisnu yang sempat tertawa kaku. Aku malah tambah tertawa hingga membangunkan kedua kakakku. Kedua? Ya, kakaknya Adam sudah aku anggap seperti kakakku sendiri.
Bersambung...
Hujan-hujan emang paling pas males-malesan di kasur, apalagi di temenin segelas coklat panas. Beuhhh.... jiwa males nya langsung bergejolak, wkwk.
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Biar Risa sama Wisnu semangat menjalani pagi ini.
Terima kasih.