INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Pergi Ke markas (Season 1)



Happy Reading...!!!


Pov Anggres.


Hari yang indah untuk memulai semangat pagi, setelah siap dengan segala keperluan pergi ke rumah teman, aku pergi ke ruang makan. Aku lalu duduk di kursi samping ayah lalu melepaskan sementara headset bluetoothku itu dan menunggu sampai Risa turun baru sarapan bisa dimulai. Kemana dia? Jangan-jangan dia tidur di kamar mandi? Lama sekali, huh. Aku menunggu Risa datang sembari meniupkan udara dari mulutku keatas hingga mengenaiku rambut hitamku yang terjurai kedepan. Dia terbang sesaat ketika hembusan udara dari mulutku mengenainya dan kembali keposisi semula ketika hembusan udara tadi hilang. Aku melakukan hal tersebut berkali-kali, hingga Ibu mengomentari tingkahku.


"Kamu kenapa si? Niup-niup rambutmu gitu? Kurang kerjaan banget." Ibu nampak greget lalu kembali menatap layar hp-nya.


"Bosen... Lama banget si Risa keluar." sahutku membuat ibu geleng-geleng kepala. Tiba-tiba terlintas ide di otakku ketika menatap semangkuk sereal yang belum di siram susu berada di atas meja.


"Bu! Ini susunya mana?." tanyaku menatap ibu yang mengangkatkan satu alisnya ketika menatap layar hp-nya. Ia lalu mendongakan kepalanya dan menatapku.


"Oh iya lupa, ada di dapur." sahutnya hendak berdiri. Aku dengan cepat menyegah Ibu dan berkata bahwa aku saja yang akan mengambilnya.


"Ok deh, hati-hati, ya bawanya, biasanya kalau kamu yang bawa tuh ga bener." aku hanya mengangguk dan bergegas pergi ke dapur.


Aku berniat untuk mencoba mengetes alergi Risa. Apakah dia akan tetap muntah dan batuk-batuk ketika meminum susu putih yang merendam sereal di mangkuk serealnya atau tidak.


Aku pun mengambil wadah susu putih. Mengambil beberapa sendok, menaruhnya ke dalam gelas, menyiramnya dengan air hangat dan mengaduknya hingga rata. Sedangkan susu coklat yang tadinya untuk Risa, karena kebetulan sudah lumayan dingin aku masukkan ke dalam kulkas. Setelah semuanya siap, aku melangkahkan kaki menuju ruang makan dengan membawa nampan berisi minuman susu. Sesampainya di meja makan, aku menaruh nampan tersebut dan duduk kembali.


Tak lama terlihat Risa berjalan menuruni tangga.


...----------------...


Karena kejadian tadi, aku di suruh untuk meminta maaf secara langsung pada Risa dan menjelaskan semuanya. Sesampainya didepan pintu kamar Risa, aku mengetuk pintunya. Membuat risa bertanya siapa yang datang.


"Kakak dek." sahutku.


Risa menyahut dari dalam menyuruhku masuk. Aku pun membuka pintu dan melihat Risa tengah bersandar seraya menikmati makanan di sampingnya. Aku duduk di kursi belajarnya yang aku tarik supaya lebih dekat lagi dengan Risa.


"Kakak..." aku ragu. Ingin meminta maaf, namun terasa begitu sulit untuk diucapkan. Bukan karna tak niat tapi malu dengan apa yang telah aku lakukan tadi. Rasanya sikapku tadi benar-benar tidak mencerminkan sosok Kakak. Aku lalu menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya perlahan.


"Kakak minta....maaf." akhirnya tiga kata yang sangat ingin aku ucapkan terucap juga.


"Risa maafin." sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya membuatku membulatkan mataku, tertegun tak percaya. Semudah itu? Bukan berarti aku tak ingin dimaafkan, tapi biasanya Risa sangat sulit untuk memaafkan segala tingkah laku konyolku.


Ia lalu berbalik dan menatapku, cukup lama sebelum akhirnya menghamburkan diri untuk memelukku. Aku langsung membalas pelukannya. Ia berucap di sela-sela pelukannya "Risa tahu, kenapa kakak ngelakuin ini."


"Udah baikan, nih?"


"Udah dong."


Pov End Anggres.


...----------------...


Aku berjalan menuju halaman belakang. Disana aku bertemu dengan ibu yang sedang menyirami tanaman. Aku menyapanya, membuatnya menengok kearahku.


"Bu." panggilku pelan.


"Iya, kenapa nak?" Ibu langsung mematikkan kran air dan menghampiriku yang sudah duduk dibangku bambu panjang.


"Tadi aku liat Ibu pake baju rapih, mau kemana?"


"Niatnya mau kumpulan Ibu-Ibu, tapi jadwalnya diganti jadi ntar sore." sahutnya. Kumpulan ibu-ibu? kira-kira apa ya yang mereka bahas?.


"Gara-gara kejadian tadi pagi, ya, Bu? Makanya jadwalnya di ganti?" Ibu menggeleng.


"Bukan sepenuhnya gegara itu, kok, Ibu-Ibu yang lain juga lagi ada keperluan dan kesibukan, waktu lenggangnya sorean." aku menganguk lagi.


Ting! Ting!


Notif hpku tiba-tiba berbunyi membuatku menilik kearahnya. Kulihat nama Adam tertera di layar.


Aku membuka chatnya dan membaca pesan yang ia kirimkan.


"Ke markas sekarang!"


Aku tidak membalas pesannya, toh dia tak akan marah hanya karna pesannya tidak dibalas. Aku lalu izin pergi ke markas kepada ibuku. Setelah mendapat izin aku baru pergi ke kamar untuk bersiap-siap. Setelah selesai bersiap-siap aku menyalakan motor scupy hitam kesayanganku menuju markas yang letaknya tak begitu jauh dari rumah.


Bersambung...


Nahhh... Gitu dong, kalau ada masalah di bicarakan baik-baik terus minta maaf, biar ga makin panjang dan makin ribet urusannya. Marahan sampai lebih dari tiga hari nggak baik loh.. Katanya, mwheehehe.