
Happy Reading...
Risa mendongak mendengar pertanyaan ibu. Ia mengernyit tak paham.
"Ngunci pintu gimana?".
"Ya ngunci pintu, pintu kamar kamu, kamu tumben tidur ngunci pintu" Risa menelan makanannya dan berfikir. Ia tidak merasa mengunci pintu kamarnya.
"Enggak kok".
"Jangan bohong".
"Serius enggak".
"Terus kenapa tadi susah dibuka?".
"Ya nggak tahu".
"Kakak sampai coba buka pake obeng flathead tahu" ucap kak Ang.
"Sampe segitunya? Emang nggak ada kunci cadangan?".
"Ibu kamu tu, lupa naruh dimana" sergah ayah.
"Udah ketemu bu kunci cadangannya?" Risa menoleh pada ibunya
"Udah, tadi pas masuk kamar kamu, ibu inget kalau ibu naruh kunci cadangan pintumu dibawah karpet kamarmu".
"Kalau kamu nggak ngunci, terus siapa yang ngunci pintunya? Hantu kah?" terka kak Ang.
"Kak.." panggil Hanar membuat Risa segera menoleh kearahnya.
"Maafin aku kak.. yang ngunci kamar kakak itu aku" Hanar menunduk penuh rasa bersalah.
"Nggak papa" sahut Risa, membuat ayah, ibu, dan kak menoleh serempak kearahnya.
"Nggak papa apanya?" tanya mereka bertiga bersamaan.
"Cieee.... kompak. Ini lhoh, ada hantu laki-laki sekitar umur tiga belas tahunan, ternyata dia yang ngunci kamar pintu aku terus dia minta maaf" ketiganya ber oh ria.
"Namanya siapa?" tanya kak Ang.
"Hanar".
"Hanar... Hanar..." gumam ibu bergaya seperti orang yang sedang mengingat-ingat.
"Hanar kenapa bu?" tanya ayah heran.
"Sebentar, ibu lagi mikir".
"Oh iyah!!" ucap ibu akhirnya dengan volume suara yang sangat keras membuat Risa, kak Ang dan Ayah termasuk Gege dan Hanar terjengkit kaget. Bahkan, Gege sampau terjatuh dari kursi dapur saking kagetnya. Ya.. dia memang genderuwo kagetan.
"Apa si bu?!" tanya ayah, kak Ang, dan Risa bersamaan dengan ekspresi kesal. Hal itu, justru membuat ibu terkekeh-kekeh.
"Hanar itu anaknya temen ibu, yang meninggal karena penyakit asma" ibu lalu menceritakkan tentang temannya dan Hanar serta penyakitnya. Risa menatap Hanar sedih. Ia akan berusaha membuat Hanar tertawa lepas sangat bahagia.
"Ibu kakak namanya tante Mawar ya?" tanya Hanar.
"Iya" sahut Risa.
"Dia tante yang baik, suka kasih jajanan ke aku, uang juga" tutur Hanar singkat. Menceritakkan kebaikan ibu angkat Risa terhadapnya.
"Wahhh.... iya kah?" Hanar mengangguk.
"Main" Risa menepuk jidatnya. Ia lupa akan membawa Hanar main.
"Bawa ke markas aja kali ya, kalo dibawa ke taman bermain, bisa-bisa anak-anak disana lari ketakutan kalo liat wahana nya gerak sendiri sama akunya yang ketawa-ketawa" batin Risa.
Ia akhirnya memutuskan untuk membawa Hanar ke markas. Baru-baru ini, markas 'Indigo Team' menambahkan beberapa wahana permainan mini seperti perosotan, ayunan, mandi bola, dan semacamnya.
Sedangkan dimarkas. Glen, Ais, Zara, Chalis, Reza, Rey, Wisnu, dan Adam sedang berkumpul membahas jalan-jalan. Glen, Ais, dan Chalis mengusulkan jalan-jalan ke pantai saat sore hari nanti untuk menikmati sunset. Reza dan Rey mengusulkan jalan-jalan keliling kota dan ke salah satu pusat permainan yang letaknya ada dikota tetangga. Sedangkan Zara, Wisnu, dan Adam tidak mengusulkan karena mereka bertiga tidak ada ide jalan-jalan kemana.
"Keliling kota aja sih terus pergi ke pusat permainan" sahut Reza.
"Gue barusan muncul ide baru nih, gimana kalo kita jalan-jalan ke pusat perbelanjaan aja?" usul Glen.
"Gue juga barusan ada ide baru" timpal Ais.
"Ngikut aja lu" Glen menoyor kepala Ais hingga yang ditoyor oleng.
"Ihhhh... kamu apa-apa an si! Aku kan emang ada ide baru, gimana kalo kita jalan-jalan ke puncak aja?" usul Ais seraya mengusap kepalanya yang ditoyor.
"Jalan-jalan ke yogya aja"
"Ke pantai aja"
"Nanti sore, sambil nikmatin sunset"
"Keliling kota aja, terus ke pusat permainan"
"Ke puncak bagus tahu"
"Ke puncak dingin, jalannya juga pasti macet!"
"Ya nggak apa-apa lah!"
"Udah.. jalan-jalan aja"
Riuh suara-suara Chalis, Ais, Glen, Reza, dan Rey yang saling mengusulkan kemana mereka akan pergi jalan-jalan sangat memekakan telinga. Jika ada yang usulannya kiranya tak terdengar, maka ia akan meninggikan volume suaranya. Usulan-usulan baru muncul bertubi-tubi. Paling banyak datang dari Ais dan Chalis. Mereka bahkan sampai adu fisik walaupun hanya jambak-jambakan rambut seperti Sella dan Chalis dulu.
"Mandi bola aja dihalaman markas" ucap datar Zara membuat keributan yang kelima temannya ciptakan mereda.
"Nggak seru!" jawab mereka berlima ngegas membuat Zara terkekeh.
Mereka berlima kemudian berunding dengan cara damai. Membentuk sebuah formasi lingkaran yang tangannya saling berkaitan dipunggung temannya. Mereka berlima kemudian merunduk dan membicarakan jalan-jalan kemana yang paling tepat.
Sedangkan kini, Risa yang membonceng Hanar masih melaju dijalanan yang padat kendaraan. Hari-hari liburan akhir semester setelah pengambilan raport seperti ini memang waktu yang sangat pas untuk jalan-jalan dan menghabiskan waktu.
"Kakak berhenti...!" teriak Hanar kencang membuat Risa menghentikan laju sepeda motornya secara mendadak. Risa menyelis lalu bertanya.
"Ada apa, Han?".
"Ada kecelakaan kak, ada kecelakaan" Risa mengernyit tak paham melihat arah yang ditunjuk Hanar. Tidak ada kecelakaan didepan sana. Kini, mereka berhenti tepat diperempatan jalan. Risa menepikan motornya sampai menyentuh rumput dipinggiran jalan.
"Ngga-"
Jder... duar... bruk.. srak... aaaaa...
Risa menyelis ke belakang seraya menyangkal ucapan Hanar. Tapi, ucapannya terhenti tatkala tiba-tiba terdengar suara benda yang bertabrakan, ledakan, seretan, dan rintihan yang terus menerus. Risa menoleh dengan wajah melongo.
Dari arah kiri, tadi datang sebuah truk besar yang berjumlah sekitar lima truk bermuatan kayu jati. Mereka melaju cukup pelan karena beban yang dibawa. Saat melaju ditengah perempatan, sebuah mobil yang sedang melaju lurus tiba-tiba mengeluarkan cairan bensin tanpa diketahui pemiliknya dan kendaraan lain. Kantung bensin mobil tersebut mengalami kebocoran hingga isinya tumpah berceceran. Semakin lama mobil tersebut melaju, semakin banyak pula bensin yang melintang panjang, berceceran kemana-mana.
Truk yang berjalan paling depan langsung oleng saat ban truk menginjak bensin tersebut hingga oleng. Sang supir tak dapat lagi mengendalikan laju truknya. Akhirnya, truk tersebut jatuh menabrak mobil lain dan kayu yang dibawa menggelinding keluar dari tempatnya. Keempat truk dibelakang truk tersebut, yang membawa angkutan yang sama pun mengalami kejadian serupa. Kayu-kayu kini melintang tidak jelas arahnya. Bahkan, sampai ada kayu yang merusak mobil hingga pengemudi dan penumpangnya meninggal dilokasi akibat tertimpa kayu tersebut.
Tak lama setelah itu, dua truk bermuatan tangki bensin dan pasir melaju dari arah berlawanan datangnya lima truk bermuatan kayu. Truk bermuatan tangki bensin melaju oleng. Diduga karena rem blong, sedangkan truk yang mengangkut pasir dibelakangnya oleng-olengan mengikuti trend. Saat kedua truk berbeda jenis angkutan itu melewati jalan yang sedang mengalami kekacauan dan ceceran bensin dari mobil putih tadi. Keduanya langsung saling bertubrukan. Tangki bensin tersebut pecah dan tumpah membasahi jalan, dan bersamaan dengan itu, seorang lelaki dua puluh tahunan yang sedang duduk diatas jok motornya membuang puntung rokok tepat diatas ceceran bensin.
Akibatnya, ledakan tak dapat terhindarkan. Darah berceceran dimana-mana. Sungguh mengerikan pemandangan diperempatan jalan itum Suara tangis bayi dan orang dewasa saling bersahutan menambah mencekam suasana. Apalagi suara rintihan orang yang ikut menjadi korban dikecelakaan tersebut. Sedangkan dari kejauhan, nampak dimata Risa, Hanar, dan orang-orang yang selamat dari kecelakaan itu, mobil putih yang bensinnya jatuh berceceran meledak hebat.
Risa duduk termangu. Tak percaya, bahwa apa yang diucapkan Hanar benar adanya. Jika saja tadi Hanar tidak berteriak untuk berhenti, mungkin ia sekarang menjadi salah satu korban kecelakaan tersebut. Atau lebih parahnya, ia sedang meregang nyawa.
"Kecelakaan" gumam Risa.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
***Thank You All...
❣️❣️❣️❣️***