
Setelah pembicaraan panjang dengan mama Awo dan Awo. Aku dan Adam pamit pergi karena harus segera pergi ke rumah bu Nem. Takutnya, bu Nem sudah lama menunggu.
"Tante tadi namanya siapa?" tanya Awo saat aku hendak berdiri.
"Risa".
"Tante Risa ya?" aku mengangguk sambil tersenyum.
"Sering-sering main kesini ya tante Risa" ujar Awo senang.
"Tante usahain".
Akhirnya aku mengalah untuk dipanggil tante. Saat aku hendak mengingatkan Awo untuk memanggilku kakak, ia kembali menangis. Daripada terus-terusan membuat anak genderuwo menangis ya mending dipanggil tante aja.
"Ya udah, tante pergi dulu ya.. mama Awo, saya pergi dulu ya" mereka berdua mengangguk. Aku dan Adam memasuki mobil yang sudah ada di luar halaman.
"Eh.. bentar-bentar, gerbang nya belum ditutup" aku turun dari mobil dan menutup gerbang. Setelah itu aku masuk lagi ke mobil.
"Ternyata semudah itu ya Awo berubah, tadi nya ngatain aku jahat, setelah mainan cukup lama, langsung bilang aku baik, sampe ngomong buat sering-sering main ke rumah kamu lagi" aku terkekeh dengan kelakuan Awo tadi.
"Namanya juga anak kecil".
"Oh iya, rumah kamu besar banget, itu rumah kamu sendiri?" tanyaku penasaran. Adam menoleh sekilas kearahku dan kembali fokus menatap lurus kedepan.
"Ya, itu rumahku, dulu itu rumah bunda, tapi sekarang sudah menjadi rumahku".
"Warisan?" Adam mengangguk.
"Berarti kakak kamu numpang dong?".
"Hahahaha enggak, dia cuma lagi main, dia punya rumah sendiri kok, rumah yang ia bangun dengan uang nya sendiri, bukan warisan. Kalau warisan.. kebun kopi sama kebun buah anggur milik ayah yang sekarang jadi miliknya. Kalau aku rumah, dan sebuah perusahaan" aku tercengang mendengarnya.
"Mobil ini?" tanyaku lagi.
"Ini hadiah.. dari ayah".
"Waw.... kaya banget kamu, pernah nggak si ada wanita yang deket sama kamu cuma karena pengin harta kamu doang?".
"Enggak ada, enggak ada wanita yang deket sama aku karena itu".
"Kenapa?".
"Mereka sudah takut terlebih dahulu dengan tatapan mata dan sikap dinginku. Dulu... bunda dan ayah juga salah satu orang yang berpengaruh di kota".
"Hanya Gisa, Anel, Glen, Ais, Zara, Chalis, dan.. kamu San. Yang dekat denganku bukan karena apapun dan tidak takut dengan tatapan mata serta sikap dinginku" ucapnya.
"Owh..." aku manggut-manggut mendengarnya. Perjalanan memakan waktu tidak terlalu lama karena memakai kendaraan. Kami berdua turun dari mobil setelah mobil diparkirkan di depan rumah bu Nem.
Tok..! Tok..! Tok..!
"Assalamualaikum, bu Nem...!!" teriakku.
Terdengar sahutan salamku bersamaan dengan pintu yang terbuka. Bu Nem berdiri seraya menggendong anaknya. Di kedua tangannya, memegang masing-masing satu tas besar. Di pundaknya juga terdapat tas selempang berukuran sedang.
"Sini bu, biar anaknya saya yang bawa" bu Nem mengangguk. Aku lalu menarik anak bu Nem dari gendongan ibunya lalu aku gendong.
"Mari masuk mobil, kedua tas nya biar saya yang bawa" ujar Adam.
Bu Nem melepaskan genggaman tangannya pada tali kedua tas tersebut lalu diam.
"Say tidak enak den, aden masuk duluan saja sama enon, nanti saya nyusul" kekeh bu Nem seraya menunjukku dan juga Adam dengan ibu jarinya.
"Mari bu" aku menggandeng tangan bu Nem tanpa menunggu aba-aba Adam. Aku buka pintu mobil tengah dan menyuruh bu Nem masuk. Setelah dipastikan bu Nem duduk dengan benar, aku menutup pintu mobil dan duduk di samping kemudi masih dengan menggendong anak bu Nem. Tak lama, Adam pun masuk mobil dan mulai menyalakan mesin.
"Ke pasar dulu ya bu, San, beli bahan-bahan masakan" ujar Adam keceplosan. Iya! Keceplosan! Keceplosan nyebutin nama panggilan khusus kami berdua. Mana ada bu Nem lagi. Bagaimana jika dia menanyakan itu. Tadi kan aku dipanggil sebagai Risa oleh suaminya bu Nem, terus sekarang dipanggil sama Adam San. Kacau..!!.
"Iya den, maaf den kalau saya lancang.. tadi aden panggil non Risa, San? Bukannya namanya non Risa, Risa ya den? Maaf den".
Aku menatap kesal Adam, sedangkan ia hanya tersenyum simpul. Aku cabut kata-kata ku tadi bahwa Adam keceplosan menyebutkan panggilan khususku. Jika dilihat dari senyumnya... ia memang sengaja melakukannya... huaaaa!!.
"Panggilan khusus bu.." sahut Adam menoleh sekilas ke belakang dimana bu Nem duduk.
"Panggilan khusus? Apa kalian sepasang kekasih? Oh tidak! Jika benar kalian sepasang kekasih! Berarti kehadiran saya sangat mengganggu, anak saya.. anak saya juga. Aduh den, non, maafin saya ya.. saya nggak tahu. Aduh... bagaimana ini?".
Bu Nem gelisah sendiri di kursi tengah. Aku lihat dia sampai menggigit kuku jarinya dan meremas pakaiannya. Aku menghela nafas berat. Apa Adam sedang meniatkan sesuatu?.
"Bu..".
Ucapanku membuat bu Nem menyahut dan diam.
"Ada apa non?".
"Saya dan Adam bukan sepasang kekasih. Kami hanya sahabat. Kami hanya iseng membuat panggilan khusus" ucapku pelan.
"Jadi kalian buk-.."
"Belum bu, saya sedang berusaha pdkt sama Risa" sergah Adam memotong.
"Owh... ibu do'a in ya kalian bisa cepat menjadi sepasang kekasih dan sampai ke pelaminan. Di suatu hubungan itu, yang terpenting adalah percaya. Kepercayaan bisa menimbulkan rasa cinta, karena kalian jujur. Kejujuran adalah sifat yang baik, orang yang baik pasti akan memilih yang baik pula. Itu adalah salah satu cara harmonisnya suatu hubungan" ujar bu Nem bijak.
"Iya bu" sahut Adam sedangkan aku hanya terdiam di sepanjang perjalanan menuju pasar. Sesampainya dipasar aku mengikuti bu Nem dan Adam yang sibuk memilih bahan-bahan masakan. Aku masih menggendong anak bu Nem yang belum aku ketahui namanya. Dia sangat lucu, pipinya seperti bapao. Dia juga tidak rewel di gendonganku.
"Sudah selesai" ujar bu Nem yang membuatku mengangkat kepala.
"Sudah?" bu Nem mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu, mari pulang" ucap Adam. Kami ber empat memasuki mobil kembali, dan mobil mulai melaju menuju rumah mewah milik Adam.
"Bu Nem.. anak ibu namanya siapa ya?" tanyaku seraya menarik pipi anak ini.
"Riskha" aku mengangguk kecil.
Setelah mobil diparkirkan digarasi mobil Adam. Kami berempat turun dan masuk lewat pintu belakang.
"Bu, belanjaannya ditaruh diatas meja dapur aja ya" ujar Adam. Bu Nem mengangguk paham lalu melanjalankan tugasnya. Riskha aku bawa ke kamar art yang sudah disediakan oleh Adam.
Aku baringkan tubuhnya yang lemas karena tertidur. Aku terbaring miring seraya menyangga kepala dengan tangan kiri. Menatap wajah Riskha yang cantik walaupun masih kecil. Adam ikut berbaring dihadapanku. Ada jarak diantara kami karena Riskha ditengah.
"Bayangin... kalau Riskha anak kita San, hasil dari keringat kita berdua" aku spontan menjitak kening Adam cukup keras. Hingga jari yang aku gunakan untuk menjitak pun terasa lumayan sakit.
"Nggak usah ngawur! Nikah aja belum".
"Kan bayangin dulu".
"Nggak usah bayangin-bayangin, nanti kalau nggak sesuai ekspetasi, ambyar lhoh".
"Iya juga si".
"Oh iya kakakmu dimana?" tanyaku sambil menatap pintu keluar kamar.
"Di alam sana, lagi dilatih kan kata mas gege" sahut Adam santai.
"Bukan kakakmu yang itu, tapi kak Rasya"
"Perhatian banget kamu sama dia, pake tanya-tanya dia dimana".
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Terima kasih.