
Happy Reading...
Risa memutuskan untuk pergi ke rumah sakit setelah ia di sadarkan oleh Hanar. Ia termenung sepanjang perjalanan membuatnya berkali-kali gagal fokus bahkan hampir nyungsep ke got, nyungsep ke sawah, nyungsep ke kali, nabrak tiang, nerobos lampu merah, nabrak mobil dan masih banyak lagi kejadian yang hampir membuat dirinya terjerat masalah.
"Fokus kak... kalau nggak mau jadi arwah nggak tenang kaya aku, mati gara-gara nabrak tiang listrik, terus jadi arwah minta tiang listrik nya dipindahin" celetuk Hanar.
"Emang kamu mati karena nabrak tiang listrik?" tanya Risa.
"Bukan, tapi karena asma".
"Owh..."
"Hati-hati kak bawa motornya, kakak masih pengin hidup kan? Aku juga nggak mau mati dua kali".
"Iya..."
Di rumah sakit... Ais telah dibawa ke ruang UGD. Yang lain menunggu di kursi tunggu. Kekhawatiran lagi-lagi melanda. Sungguh! Apa hari ini adalah hari khawatir team Indigo, batin mereka semua.
Cukup lama mereka menunggu, hingga Risa datang menghampiri mereka dan menanyakan kondisi Ais.
"Belum ada kabar" Risa langsung menunduk lesu. Ia ikut duduk di kursi tunggu, tepatnya di samping Glen. Ia usap pundaknya untuk menenangkan gadis itu. Risa tahu, bahwa apa yang terjadi pada Ais saat ini adalah pukulan yang amat besar baginya. Secara, mereka adalah sahabat karib, lebih dulu bersahabat sebelum adanya team Indigo.
"Kemana Rey?" tanya Chalis.
"Dia tadi pamit pulang" Chalis mengangguk.
"Nggak sadar diri kah dia? Orang yang dia buat celaka di bawa ke rumah sakit, dia malah pulang" ucap Glen.
"Mungkin dia masih mengontrol emosinya dan memikirkan apa yang terbaik untuk dilakukan saat ini" timpal Zara.
"Memikirkan? Apa dia berfikir? Jika dia berfikir, maka dia akan datang kesini" Glen mendengus.
Pintu ruang UGD terbuka, semua yang menunggu di kursi tunggu langsung berdiri dan menanyakan kondisi Ais.
"Luka nya cukup parah, kami melakukan beberapa jahitan untuk mencegah keluarnya darah lagi. Pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Kalau begitu saya pamit pergi dulu" ujar sang dokter.
"Terima kasih dok" ucap Glen disahuti Risa, Chalis dan Reza.
Setelah Ais dipindahkan ke ruang perawatan. Mereka bertujuh menuju kesana dan berdiri memandang Ais yang masih terlelap, sedangkan Gle duduk dikursi samping bed seraya menggenggam tangan Ais.
Mata Ais tiba-tiba bergerak mengerjap beberapa kali. Semuanya memperhatikan pergerakannya.
"Re.. Za" Reza yang merasa namanya diucapkan oleh Ais menunjuk dirinya sendiri sambil celingak-celinguk.
"Gue Ai?" Ais mengangguk lemah. Reza menghampiri Ais dan berdiri disampingnya.
"Ai..." panggil Glen. Ais menoleh ke arah Glen lalu mengernyit.
"Lo inget gue?".
"Kamu siapa?" mata Glen terbelalak lebar.
Aku pun mencoba bertanya hal yang sama pada Ais, namun hasilnya pun sama juga. Ia bertanya kami siapa. Aku pun segera memanggil dokter.
Dokter yang bername tag Nugroho, mengecek kondisi Ais.
"Sepertinya pasien mengalami Amnesia Traumatis, amnesia ini terjadi karena adanya benturan keras ke kepala. Jenis amnesia ini umumnya bersifat sementara, namun tergantung pada seberapa parah cedera yang terjadi" jelas dokter Nugroho.
"Waduh... amnesia... gimana cara ngebalikin ingatannya dok?" tanya Glen.
"Salah satunya dengan melakukan terapi okupasi. Terapi jenis ini mengajarkan pasien untuk mengenalkan informasi baru dengan ingatan yang masih ada".
"Owh... begitu, terima kasih dok".
"Ya, kalau begitu saya pamit pergi dulu" mereka bertujuh mengangguk memberi tanda bahwa dokter Nugroho sudah diperbolehkan pergi.
"Cari tempat yang menyediakan layanan terapi okupasi dong" titah Glen, Risa segera menyalakan hp nya dan mulai berselancar mencari tempat yang menyediakan layanan terapi okupasi terbaik.
Setelah lama mencari, akhirnya ia menemukan salah satu tempat di kota tetangga yang menyediakan layanan terapi okupasi.
"Sayang... aku pengin pulang" ucap Ais seraya memainkan jari-jari tangan Reza. Reza langsung menatap Glen dan melihat ekspresinya yang biasa-biasa saja.
"Ais..." panggilku lembut, ia menoleh kearahku.
"Kamu siapa si? Kamu juga? Kalian siapa sebenarnya?" Ais menunjuk kami semua, termasuk Glen kecuali Reza.
"Ais, kenalin.. nama aku Risa, aku temennya Reza, temen kamu juga?" Risa memperkenalkan diri.
"Wahhh kamu baik. Kenalin nama aku Aisyah Raina, panggil aku Ais ya.. sayang... kamu kok nggak pernah ngenalin temen kamu yang baik ini sama aku si?" Ais menatap Reza merajuk setelah memperkenalkan dirinya pada Risa.
"Sayang... kamu kok diem aja sih?" Wisnu memberi isyarat pada Reza untuk bersikap seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih.
"Sayang ngapain kenalin diri sih? Tanpa itu pun aku udah tahu kalau kamu itu Reza Rakana, ya kan sayang... pacar aku".
"Aduh... Ais, kayaknya kita ganggu kalian pacaran deh, kita keluar dulu ya.. mau makan juga" ucapku berbohong.
"Owh... iya, makasih ya.. kamu perhatian deh" Risa mengangguk kaku seraya tersenyum kecut, ia lalu mengajak yang lain untuk keluar.
"Sayang... kamu ngapain ikut keluar sih? Temenin aku disini" Ais menarik tangan Reza dan menyuruhnya duduk.
"Aduh... bahaya nih, harus ngomong apa gue sama orang tua nya" Glen menggaruk tengkuknya, menggigit kukunya dan mondar-mandi kesana-kesini.
"Ihhhh.... diem dong Glen, gue juga lagi mikir nih" Chalis ikut frustasi. Ia akhirnya menarik tangan Glen hingga ia jatuh terduduk disampingnya.
"Mana sampai ngira Reza pacarnya lagi" gumam Risa.
"Ngomong apa adanya aja" ujar Zara.
"Masa iya mau ngomong 'tante, om, kek, Ais tadi kepalanya kena meja kayu sampai berdarah karena dihempas Rey, saat dibawa ke rumah sakit, dokter bilang mungkin Ais terkena Amnesia Traumatis terus dia ngira Reza pacarnya' masa gitu, ya kali.. nggak mungkin lah, bisa-bisa gue langsung di gampar sama mereka" cerocos Glen.
"Gimana ya.. gue takutnya kalau sampai Ais nggak inget orang tua sama kakeknya" ucap Chalis.
"Nggak usah dibawa pulang aja gimana?" usul Zara.
"Ide lo itu unreasonable banget si" Adam menoyor kepala Zara hingga Zara sedikit oleng.
"Apaan tuh urea sunabel?" tanyaku.
"Tidak masuk akal" sahut Adam.
"Ya udah, ngomong aja apa adanya" ucap Zara.
"Aku yang ngomong deh" lanjutnya.
"Ihhh... serem" ucap Chalis dan Glen bersamaan.
Didalan ruangan, dimana Ais dan Reza berada. Reza masih kaku akan tindakan Ais yang benar-benar memperlakukannya bagaikan sepasang kekasih.
"Gue harus ngomong sama glen nih" batin Reza.
"Ihhhh... sayang nyebelin banget sih" Ais menghentakkan tangannya melepaskan genggamannya pada jari-jari tangan Reza hingga mengenai sisi bed yang terbuat dari besi.
"Auhhhh.... sakit Ai".
"Sejak kapan kamu panggil aku Ai, biasanya juga panggil bi".
"Aduhhh... mana mungkin gue panggil lo bi, Ai.. dasar Rey sialan, kalo aja dia nggak emosi waktu itu, nggak bakal kayak gini jadinya. Ah udahlah..! Nyesel pun nggak bakal ada gunanya" batin Reza lagi.
"Kamu harus panggil aku bi! Titik nggak pake koma!".
"Bi apa? Babi?" Ais makin merengut dibuatnya.
"Tau ah! Kita putus aja!"
"Ya bagus!".
"Kok gitu sih..."
"Lah kan aku nggak cinta sama kamu"
"Huaaaa... Reza jahat! Dulu kamu bilang kalau kamu cinta mati sama aku, sehidup semati bakal cinta terus sama aku, tapi kenapa disaat-saat aku lagi dirumah sakit, kamu malah bilang nggak cinta sama aku, kamu jahat!!" gerutu Ais.
"Aduhhh.. nggak usah nangis dong".
"Iya.. iya gue minta maaf bi, gue salah.. jangan marah dong".
Tanpa Reza sadari, ia mengucapkan kata bi dan meraih tangan Ais lalu mengecupnya.
"Jangan marah ya.." Ais diam.
"Kita nggak putus kan..?" Reza mengangguk.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
***Thank You All...
❣️❣️❣️❣️***