
Pak Jio kembali keluar, karena suaranya yang meninggi aku dapat mendengar bahwa pak Jio menyuruh Lala dan Glen memutari sekolah sebanyak sepuluh kali. Bayanginnya aja bisa bikin sesak nafas apalagi jalaninnya. Lala itu memang apinya masalah. Sehari saja sudah cari ribut sama dua orang.
Setelah urusannya di luar selesai, pak Jio kembali masuk ke kelas dan pelajaran di laksanakan kembali hingga tiba jam istirahat kedua. Semua murid di kelas langsung berhamburan keluar kecuali aku, Ais, Zara, Reza, Adam, dan Wisnu. Entah kemana perginya Reyyan.
Kami semua berkumpul, ada yang bersender pada meja dan duduk di kursi siswa siswi yang keluar.
"Reyyan kemana?" tanyaku.
"Kantin" sahut Adam.
"Hufttt....cape banget..."Lala dan Glen masuk bersamaan sambil berjalan mereka berdua mengatur nafasnya. Sudah berapa putaran yang mereka lakukan?? Biasanya tak sampai pada jumlah putaran yang ditentukan.
"Nih minum" ujar Zara sambil menyodorkan dua botol air mineral. Mereka berdua menerimanya lalu mencari tempat duduk yang dekat denganku dan menenggak air di botol hingga tersisa setengah dari yang mulanya penuh.
"Berapa putaran?" aku menilik ke wajah mereka satu persatu. Mereka saling tatap sebentar lalu kembali menatap wajahku.
"Hehe tujuh kali putaran" sahut Lala sambil cengengesan. Benar kan apa yang aku bilang.
"Kebiasaan" gumamku.
"Ehh...tadi gw ketemu sama pocong yang keluar bareng Risa dari ruang ganti tadi pagi tau" ujar Glen. Aku mengernyit. Oh....ya aku sampai melupakannya.
"Dimana?" tanyaku.
"Di taman belakang lagi belajar loncat" sahut Glen. Belajar loncat? Lah memangnya belum bisa??.
"Terus sekarang dianya kemana?" tanyaku lagi.
"Haiii" kami semua menengok ke sumber suara dan melihat pocong yang sedang dibicarakan sedang menggerakan badannya kekanan dan kekiri disamping Reyyan.
"Hai juga" sapaku sambil beranjak berdiri dan dengan reflek mengikuti gerakan pocong tersebut.
"Ris!" bisik Ais. Aku terkesiap dan cengengesan kemudian.
"Dari mana aja kamu?" tanyaku pada pocong tersebut.
"Dari taman belakang belajar loncat yang bener biar gak kesrimpet-srimpet" sahutnya lalu meloncat dan duduk di meja dekat Glen.
"Ngapain lo duduk disitu?!" seru Glen.
"Salahnya karena dekat-dekat sama kamu?, atau karena duduk di meja itu tidak diperbolehkan?" tanya poci tersebut.
"Dua-duanya" poci tersebut mengangguk lalu beranjak dan duduk disamping Zara.
"Dia mah baik gak kaya kamu!" ujar poci tersebut hingga Glen menatap tajam dirinya.
"Masih sereman mas-mas ini" balas poci dengan menggerakan ikatan atasnya kearah Wisnu dan Adam.
"Tau!" Glen lalu menendang kaki poci hingga tubuh poci oleng sementara waktu. Disaat tubuh poci sudah seimbang, poci lalu membalas tendangan Glen hingga terjadilan keributan saling tendang.
"Ris! Siapa si?" tanya Lala.
"Owh...itu ada poci yang diruang ganti sekarang lagi main tendang-tendangan sama Glen" sahutku. Lala lalu melihat kearah Glen yang dimatanya pasti Glen seolah sedang menendang angin.
"Gimana bentukannya?" tanya Lala. Haha penasaran juga dia.
"Bentuknya itu kaya lontong tapi banyak iketannya" sahutku membuat Lala langsung menaikan bola matanya keatas.
"Hehe" dia terkekeh kemudian. Kenapa terkekeh?.
"Kayaknya serem" ujarnya.
"Owh...ya serem lah emang kalau kamu bayanginnya poci yang biasanya ada di tv tv tapi kalau poci yang ini tuh enggak kaya gitu, kain putihnya masih bersih, mukanya pun masih rapih" sahutku. Lala mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kamu duluan yang mulai" sahut poci. Aku berjalan kearahnya dan duduk disamping Glen.
"Nama kamu siapa ci?" tanyaku sambil menatap wajahnya. Ia tampak berfikir dengan menaikan bola matanya keatas.
"Gak tahu lupa".
"Ya udahlah, masalah nama nanti aja, sekarang ceritain dong gimana cara kematian kamu secara detail" pintaku. Dia mengangguk, namun tak kunjung menceritakkan apa yang kupinta.
"Hei!...ceritakanlah!" sentakku membuatnya terkesiap dan menatapku kesal. Kenapa pula?.
"Sabarlah!. Aku lupa!" balasnya. Hah?? Lupa?? Meninggal aja baru beberapa jam, masa udah lupa. Kalau yang udah bertahun-tahun meninggal, lupa ya wajar, lah...ini??.
"Katanya lo baru mati, kok udah lupa?" tanya Glen menelisik.
"Kata siapa Glen kamu?" tanyaku membuatnya terkesiap sambil cengengesan.
"Hehe gak kata siapa-siapa...nebak aja" sahutnya sambil cengengesan pula.
"Dih".
"Oh ya...jadi begini..."
Flashback on.
Aku berbaring di hospital bed, bersiap untuk memulai operasi. Aku menderita kanker hati dan harus segera di operasi.
"Dok! Sakit nggak sih?" tanyaku sambil menatap punggung dokter tersebut. Dokter tersebut berbalik dan berjalan ke arahku.
"Tidak" ia lalu menyiapkan infus dengan di bantu beberapa suster yang juga berada di ruangan ini. Setelah infus siap, aku di minta untuk menutup mata. Aku menurutinya, operasi pun dimulai.
.
.
Aku terbangun dan langsung berposisi duduk. Seketika kepalaku terasa pening, mungkin karena tiba-tiba berubah posisi. Aku heran...kenapa tidak ada yang membantuku duduk ya??. Aku terkejut ketika melihat bahwa tubuhku sedang terbaring kaku di atas hospital bed setelah aku turun dari benda tersebut. Aku lalu melihat tubuhku dan....apa ini???!!. Aku arwah?? Aku meninggal dengan tidak tenang?? Aku menjadi arwah?? Aku menangis tersedu-sedu ketika menyadari aku meninggal dengan tidak tenang di tambah aku gagal operasi kanker hati yang menyebabkanku meninggal.
Aku hanya bisa pasrah, dan berjalan mengikuti keluargaku serta kerabat dan sahabat pulang ke rumah sambil membawa jenazahku. Kata ibu ia ingin hari ini juga jasadku di makamkan. Saat di pemakaman. Aku malah berjalan ke arah sebuah angkot yang di depan pintunya berdiri seseorang sambil meneriakan 'yo..ayo...rambutan...rambutan' aku menelisik. Di mana buah rambutannya??. Karena penasaran...aku kemudian meloncat menuju angkot yang terparkir di pinggir jalan tersebut.
Aku lalu masuk ke dalamnya dan berbaur dengan orang yang juga menumpangi angkot ini. Hingga angkot merah ini berhenti di depan sebuah sekolah besar. Aku lalu turun dan masuk menembus gerbang yang terkunci. Aku lalu berjalan-jalan dan memutuskan untuk masuk ke sebuah ruang ganti. Karena aku pikir...disini aku dapat berganti benda yang sedang membalut tubuhku dengan benda yang lebih mudah digunakan untuk berjalan.
Flashback off.
"Loho banget si lo! Mana bisa coba pocong ganti pakaian dari kain kafan ke baju layaknya manusia yang masih idup! Bisa-bisa orang pada pingsan liat baju ngambang!" ujar Glen ngegas. Mungkin dia terbawa suasana.
"Ya elah namanya juga ga ngotak" sahut poci.
"Oh... Gitu ceritanya, terus sekarang udah inget belum nama kamu siapa?" tanyaku.
"Raihan Siharto" sahut poci tersebut.
"Terus alasan kamu belum pergi ke alammu yang seharusnya apa?" tanyaku lagi.
"Ada hal yang harus di selesain dulu di dunia" sahutnya.
"Hal apa itu?" Tanya kami semua secara bersamaan.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.