
Happy Reading...
Malam itu, Risa terbangun untuk kesekian kalinya karena mimpi itu. Teringat lagi dalam pikirannya akan cerita warga setempat.
..."Saya pernah dengar dari tetangga, katanya kuali di gudang pengolahan kentang itu berhantu. Beberapa pekerja di gudang pengolahan kentang itu juga sempet dikasih liat, entah di dunia fana ataupun di dunia mimpi. Dulu, ada anak kecil tercebur ke dalam kuali tersebut saat kuali tersebut sedang mode on. Akhirnya dia meninggal dan menjadi arwah penasaran karena kematiannya nggak wajar. Sampai saat ini, belum ada yang tahu dengan pasti kejelasan kenapa ia bisa meninggal, ada yang bilang kalau dia kepleset, didorong, atau mau ngambil sesuatu"...
Kalimat panjang yang sempat diutarakan oleh salah seorang ibu petani kentang itu berputar kembali di kepala Risa. Ia menjadi gelisah tak karuan. Tiba-tiba ia merasa haus, hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar mengambil minum di dapur. Saat sedang berjalan menuju dapur, sebuah benda menggelinding dan mengenai kakinya. Ia berhenti lalu mengamati benda tersebut. Sebuah kentang.
"Kentang?".
Ia membawa kentang tersebut ke dapur lalu menaruhnya di atas meja, sedangkan ia mengambil minum. Risa minum sambil mengamati gudang pengolahan kentang yang nampak dari kaca jendela dapur.
Lampu gudang tiba-tiba menyala membuat Risa tersentak, ia menghentikkan minumnya dan menaruh gelasnya di meja. Ia berdiri dan berjalan perlahan menghampiri jendela untuk memastikan apa yang dia lihat. Kini, bukan hanya lampu gudang yang menyala tiba-tiba saja yang membuat Risa tersentak, tapi sesosok anak kecil yang memegang kentang di tangan kanannya. Wajah dan tubuhnya melepuh, nanah dan darah keluar dari sela-sela luka tersebut.
"Dia... Mirip kayak yang di mimpi aku" gumam Risa.
Puk!
Risa tersentak dan reflek menengok ke belakang saat merasa ada yang menepuk pundaknya. Chalis berdiri dibelakang Risa seraya mengucek matanya.
"Kamu yang nepuk pundak aku?" Chalis mengangguk, ia menatap ke arah jendela. Risa pun mengikuti arah tatapannya.
"Liatin apa?" tanya Chalis saat melihat tidak ada hal yang menarik perhatian, tapi membuat Risa terpaku di depan jendela.
"Tadi, lampu gudang nyala sendiri, terus ada anak kecil kayak yang di mimpi aku".
"Serius?" Chalis mengamati lebih dalam gudang tersebut walaupun dari jarak yang lumayan jauh.
"Lampunya udah mati" ujar Chalis.
"Iya, anak kecil itu juga udah hilang, mungkin karena kamu dateng".
Chalis mengangguk paham, ia menatap jam dinding di ruangan tersebut yang meunjukkan pukul satu lebih lima belas dini hari.
"Kamu ngapain bangun?" tanya Chalis.
"Laper, lo sendiri ngapain bangun?".
"Minum".
"Udah?" Risa mengangguk.
"Kalau gitu aku ke kamar dulu ya?" Chalis mengangguk melepas kepergian Risa. Saat matanya tak sengaja melihat gudang, lampu gudang tiba-tiba menyala dan sosok anak kecil yang berada di mimpinya muncuk disana. Ia tersentak hingga mundur beberapa langkah.
...----------------...
Keesokan paginya, Risa menceritakkan apa yang dilihatnya diikuti Chalis.
"Kita ke gudang itu nanti malam" ujar Adam.
"Mau ngapain?" tanya Risa.
"Kita cari informasi".
"Tapi, apa ini akan baik-baik aja? Aku takut" ujar Ais.
"Bismillah".
...----------------...
Tak terasa, waktu berdetik begitu cepat hingga jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Team Indigo sudah berdiri di depan pintu gudang pengolahan kentang dengan beberapa lentera yang menjadi penerang seadanya. Karena di gudang lampu sedang rusak, baru besok akan dibenari.
Do'a mereka panjatkan sebelum memasuki gudang tersebut. Pintu pun terbuka, mereka masuk perlahan sambil mengamati kondisi gudang. Mereka sudah sering memasuki gudang pengolahan kentang walaupun belum lama berada di daerah ini, jadi mereka sudah lumayan hapal dengan letak barang-barangnya. Namun, malam ini sedikit berbeda. Barang-barang pindah posisi dan kuali pun nampak dalam mode on.
Tangan melepuh penuh nanah dan darah perlahan muncul dari dalam kuali tersebut, memegang bibir kuali sebagai alat untuk ia berdiri, lalu disusul kepala dan tubuhnya. Ia merangkak keluar dengan postur yang sangat mengerikan, sikap siaga team Indigo kini dalam mode on.
"Siapa kalian?" tanya anak kecil tersebut.
"Kami.. Kami pengunjung Villa Kebun Kentang. Kami minta tolong, jangan ganggu kami" ujar Risa.
"Saya tidak mengganggu kalian, saya hanya ingin meminta bantuan kalian".
"Apa? Apa yang harus kami bantu?" sergah Glen.
"Carikan pembunuhku!!!!!!!" karena energi yang begitu kuat, mereka bersembilan terpelanting ke belakang hingga keluar dari gudang, pintu gudang kemudian tertutup dengan sangat kencang.
Jbreet...!!
...----------------...
Sore ini, mereka bersembilan duduk di taman villa sembari membicarakan kejadian semalam. Selepas pintu gudang yang tertutup kencang setan itu, mereka berjalan terhuyung-huyung menuju villa lalu bergegas tidur.
"Dia dibunuh, pantas saja sangat marah, energinya kuat banget" ujar Zara.
"Kamu kemarin belum sempet nyentuh benda disana ya, Ra?" tanya Risa dijawab gelengan oleh Zara.
"Permisi...!! Kek Subroto...!!" suara itu terdengar di depan pintu masuk villa, kebetulan jarak antara villa dengan tamannya tidak terlalu jauh, hingga mereka bersembilan dapat mendengarnya. Mereka pun menghampiri suara tersebut dan melihat seorang wanita berdiri menenteng satu koper berwarna hitam. Ia tampak mengenakan gamis dan juga jilbab. Umurnya mungkin sekitar dua puluh lima tahunan.
"Kalian siapa?" tanya wanita tersebut.
"Kami yang menyewa villa ini sementara, kak" sahut Glen.
"Owh... Gitu... Oh iyah, kalian lihat kakek Subroto? Yang punya jenggot putih, tubuhnya agak bungkuk itu?".
"Tadi saya lihat, kak. Dia di halaman belakang villa, mau kami antar, kak?" sahut Zara.
"Ngrepotin nggak nih?" Zara menggeleng.
"Okh, makasih" Zara bersama yang lain mengantar wanita tersebut menuju halaman belakang villa. Disana ada kakek Subroto yang tengah mengatur tata letak bonsai kecil.
"Kek..." wanita tersebut berlari setelah melepaskan pegangannya pada kopernya ke arah kakek Subroto. Ia peluk laki-laki itu penuh sayang dan penuh rindu.
"Kamu, Lin.. Apa kabar? Kesini kok nggak bilang-bilang si?" wanita yang berada di depan kakek Subroto hanya terkekeh kecil seraya berbisik 'kejutan'.
"Kamu tahu kakek disini, dianter mereka ya?" kakek Subroto menunjuk Risa dkk. Wanita di depannya mengangguk, kakek Subroto mengangguk juga lalu mengajak wanita tersebut masuk bersama Risa dkk.
Risa dkk wanitanya memasak makanan sederhana berdasarkan kentang untuk makan siang hari ini. Setelah selesai memasak, makanan pun dihidangkan di atas meja. Wanita tadi nampak kurang berselera dengan makanan dihadapannya.
"Kak? Apa masakan kami nggak enak ya?" tanya Risa ragu.
"Enggak.. Enggak kok, masakan kalian pasti enak. Kakak... Cuma... Kakak ke kamar dulu ya.." wanita tersebut bergegas menuju kamarnya.
Risa dkk mengernyit heran, tak ingin menunjukkan rasa penasaran di depak kakek Subroto, mereka melanjutkan makan dan bergegas pergi ke kamar masing-masing.
Grup Chat Indigo Team.
Risa : "Kalian ngerasa ada yang aneh nggak sih sama kakak Vlin?".
Kakak Vlin, adalah wanita berhijab yang memeluk kakek Subroto di halaman belakang villa tadi, ia adalah cucunya.
Zara : "Iya, aku merasa"
Teman-temannya yang lain mengirimkan emot jempol.
...----------------...
Pagi hari ini, Risa dkk dan Vlin isi dengan jogging sekalian nostalgia untuk Vlin. Ia pergi ke gudang pengolahan kentang dan menatap dalam kuali yang sedang dalam mode on. Bukan kuali utama, tapi kuali yang khusus digunakan untuk memasak. Ia tak berani menatap kuali utama, takut jika ia akan menangis disaat posisi seperti ini.
"Eh... Nona Vlin? Kapan dateng, non? Kok nggak ada kabar mau dateng?" seorang wanita tua sedengan menghampiri Vlin dengan mata berkaca-kaca.
"Bi Mi? Vlin kangen banget sama bi Mi, Vlin dateng kemarin sore, bi. Sengaja nggak kasih kabar, biar kejutan" Vlin terkekeh karena mendapatkan tatapan dari bi Mi yang jika diartikan seperti 'kebiasaanmu itu, non kalau pulang'.
Mereka menghabiskan waktu bersama, sedangkan Risa dkk masih berusaha mengusut kematian anak kecil di gudang pengolahan kentang sambil bermain di air terjun.
"Hei..."
Bersambung...
Baca cerpen author yuk, 'Dia Idolaku'.
Thank You All...
❣️❣️❣️❣️