INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Cerita Kematian Cinta (Season 1)



Flashback.


Pov Cinta.


Hari minggu ini aku bangun pagi karena ikut Ibu ke pasar. Ibuku biasanya pergi ke pasar pukul lima pagi, jika sudah melebihi jam lima pasar akan menjadi lebih ramai dan segala macam sayur mayur serta buah-buahan yang di jajakan ludes terjual. Ibuku membuka toko sembako kecil-kecilan di depan rumah, banyak ibu-ibu warga desa Wangi yang berbelanja kewarung sembako Ibuku jika malas pergi kepasar, sembako yang di jual Ibukupun terbilang murah. Hal itulah yang membuat para ibu-ibu suka berbelanja di warung ibuku.


Aku mencuci muka dan memakai kardigan serta rok plisket berwarna hitam, tak lupa jepit rambut kesayanganku yang kuselipkan di atas kedua telingaku. Aku siap mengikuti kegiatan Ibu hari ini!


Aku bergegas keluar kamar dan menemui Ibu yang sedang menungguku di halaman rumah. Aku memang sudah mengatakan pada ibu malam kemarin, bahwa pagi ini aku akan ikut Ibu ke pasar.


"Bu!" sapaku, ia menoleh kearahku dan tersenyum.


"Pakai jilbab, ya Sayang." ucapnya. Aku menepuk jidatku sambil meringis malu. Aku belum terbiasa mengenakan jilbab, makannya aku suka lupa dengan hal itu. Aku kembali ke kamar dengan sedikit berlari lalu melepaskan terlebih dahulu jepit rambut yang kupakai dan memakai jilbab yang sama warnanya dengan kardigan dan rok plisket yang kukenakan. Aku kembali menemui Ibu dan mengatakan bahwa aku sudah siap.


"Bagus, ayo berangkat keburu siang." ajaknya, aku mengangguk dan mengikuti langkahnya. Kami berdua berjalan beriringan menuju jalan raya yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumahku. Kami menunggu angkot yang biasanya lewat pagi-pagi. Lima menit menunggu, akhirnya angkot yang kami tunggu sedari tadi muncul juga. Ibu menghentikkan angkot tersebut dengan melambai-lambaikan tangannya, setelah dipastikan bahwa angkot tersebut berhenti, aku dan ibu secara bergantian masuk keangkot.


Angkot kembali melaju menuju pasar. Sesampainya di pasar, ternyata kondisi di sini sudah ramai dengan lalu lalang pembeli dan para penjual serta suara-suara tawar-menawar yang dilakukan antar pembeli dan penjual. Entah kenapa, bukannya aku membenci hal ini justru aku sangat menyukainya. Rasanya ini bagaikan momen terakhir atau kunjungan terkahirku kepasar Gladih ini.


"Ayo, Nak." Ibuku berucap sambil menatapku sekilas lalu berjalan menuju satu tempat ketempat yang lain untuk mendapatkan harga yang sesuai.


"Ahh.. Mahal banget si bu, kemarin aja masih dua puluh ribu setengah kilo. Masa sekarang naik dua kali lipatnya." omel ibu.


"Iya bu, soalnya sekarang lagi banyak hama yang menyerang pohon cabai jadi hasil panennya menurun." sahut ibu penjual berbadan gemuk itu.


Inilah yang paling membuatku bosan, terkadang ibu menawar sampai tiga menit lamanya dan ketika harganya memang sudah tidak dapat dinego, ia akan pergi ketempat yang lain. Berharap tempat yang didatanginya dapat memberikan harga yang cocok baginya.


"Saya cari tempat jual cabai yang lain aja deh, nanti kalo emang yang lain sama aja gak bisa dinego dan harganya lebih tinggi dari di sini, saya balik lagi ke sini." ucapnya lalu berjalan pergi. Ibu penjual cabai di pembuka pasar ini terlihat mengangguk. Aku terdiam sambil menatapi tumpukan cabai diatas tampah.


"Ayo, Nak!!" seru ibu, aku menoleh dan mengikutinya kemanapun ia pergi. Sesekali aku mencoba merayu ibu untuk membelikanku sate telur puyuh ataupun susu cokelat kesukaanku, namun sayang hasilnya nihil katanya beli barang yang penting dulu baru membelikanku permintaanku.


"Yahhhh Ibu mahh, ayolah, buuuu... Lima tusuk aja sama satu botol susu. Gak bakal kurang banyak itu uang." rengekku terus menerus hingga akhirnya ia mengalah dan membelikanku lima tusuk sate telur puyuh dan sebotol susu cokelat mil*u.


Setelah di belikan, aku langsung melahapnya secara perlahan sambil terus mengikuti langkah kemana ibu pergi.


"Aduh..." rintihku ketika tak sengaja menabrak punggung Ibu. Ia tiba-tiba berhenti dan berlari kesalah satu kedai. Aku menghampirinya dengan sedikit berlari. Sate telur puyuh yang sedang kupegang pun jadi ikut goyang-goyang.


"Saya beli satu kilo." pesannya. Benda apa ini? Tidak terlalu bulat dan tidak terlalu lonjong, warnanya coklat dan ketika dibuka ada beberapa biji di dalamnya yang berwarna hitam.


"Bu! Ini apa?" tanyaku sambil menepuk pundak Ibu.


"Sawo." sahutnya. Wowo? Aku tak begitu jelas mendengar sahutannya karena riuhnya suasana di sini, hingga akhirnya kuputuskan untuk menanyakannya lagi.


"Apa bu?" tegasku.


Kami berdua melanjutkan kegiatan pagi ini untuk membeli segala keperluan di pasar Gladih. Setelah selesai aku kembali merengek meminta ice cream yang ada diseberang jalan.


"Bu! Ice cream." pintaku sambil menunjuk penjual ice cream.


"Udah gede, masih suka aja sama ice cream." sahutnya sambil mengambil uang didalam dompetnya.


"Umur tidak mempengaruhi kesukaanku terhadap ice cream." aku menerima uang yang diberikan oleh ibu dan berlari menuju penjual ice cream setelah tengok kanan dan kiri. Umurku kini sudah menginjak lima belas tahun, namun kecintaanku terhadap ice cream tak dapat dengan mudah kuhilangkan. Lagian apa juga gunanya menghilangkan kecintaanku pada ice cream.


Aku berjalan perlahan menyebrang jalan, namun tiba-tiba aku mendengar suara Ibu yang berteriak kencang. Aku menengok kearahnya dan berteriak bertanya.


"Kenapa, Bu?!" aku berjalan menuju kearahnya tapi di saat aku akan menghampirinya dan Ibu yang berlari kearahku, aku merasakan tubuhku di hantam oleh benda berat yang melaju kencang. Tubuhku terasa terpental lumayan jauh, darah segar langsung mengalir keluar dari telinga, hidung serta mulutku. Aku merasakan aliran darah tersebut. Aku juga merasakan pening yang sangat di kepalaku dan saat kusentuh aku merasa sesuatu yang kental disana dan ketika aku melihatnya ternyata darahku juga keluar dari sana, membasahi jilbab yang kukenakan. Sebanyak ini? Aku merintih kesakitan.


Aku melihat Ibu berlari kearahku dan orang-orang yang mungkin penasaran. Aku melihat mobil av*nz* berwarna hitam sempat berhenti namun pengemudinya tidak keluar. Aku menatap plat mobil yang digunakan, setelah itu mobil tersebut melaju kencang. Aku korban tabrak lari?


Karena rasa sakit yang sudah tak dapat lagi kutahan, aku perlahan menutup mataku. Sebelum itu aku merasakan kepalaku di pangku oleh Ibu yang menangis sesegukan dan menyuruh beberapa orang untuk memanggil ambulans.


"Nak!.. Bertahan, Nak! Sebentar lagi ambulas datang." ujar ibuku sambil mengusap darah yang terus keluar dari hidung dan mulutku. Aku tersenyum menatapnya lalu menutup mataku. Perlahan semuanya menjadi gelap, kesadaranku pun ikut hilang.


Pov End Cinta.


Flashback off.


"Setelah itu aku merasakan aku bangkit dan melihat tubuhku berbaring di bed rumah sakit yang sedang di dorong oleh empat suster. Aku melihat tubuhku dimandikan, di sholatkan, dan dimakamkan. Aku lalu pergi entah kemana hingga akhirnya bertemu dengan keluarga Kak Risa yang sedang berwisata." ujar Cinta.


"Hikss.. Hiks.. Kasian kamu Cin." aku mengganti fokusku pada Ais yang ternyata sudah berlinang air mata.


"Sudah jangan nangis." ucap Glen berusaha untuk menenangkan Ais yang menangis sesegukan.


"Hahaha kamu nangisnya sama kaya Ibu aku lagi pas liat kondisiku." tawa Cinta.


"Kamu nggak sedih, kah Cin?" Cinta menoleh pada Glen, ia menggeleng.


"Bukan waktunya untuk sedih, sekarang tujuanku adalah mengungkap siapa orang yang sudah menabrakku hingga meninggal dan menjebloskannya kepenjara." sahut Cinta. Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Aku, Ais, Glen, serta temen-temen indigo team yang lain bakal berusaha buat ngebantuin kamu Cin." ucap Ais.


"Ehh tadi lo sempet cerita kalo lo liat plat mobilnya, terus plat mobilnya apa?" tanya Glen.


"R 453 AN" sahut Cinta.


Bersambung...