INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Ruang ganti (Season 1)



Happy Reading...!!!


Selesai upacara, kelasku memulai pelajaran pertama yaitu olahraga dan hari ini adalah jadwalnya olahraga praktek di kolam renang. Aku bergegas pergi keruang ganti setelah mengambil pakaian olahragaku di loker. Tentunya tak sendiri, aku pergi kekamar mandi bersama Ais, Glen, Zara serta Lala yang terus mengekori kami bertiga dari dimulainya upacara.


"Siapa dulu?" tanyaku sambil menatap wajah mereka satu persatu.


"Aku dan Glen dulu, ya?" sahut Ais, aku mengangguk. Mereka berdua lalu masuk kedalam ruang ganti. Di sekolah ini disediakan ruangan khusus untuk berganti pakaian, dalam satu bilik terdapat dua tempat yang masing-masing tempatnya memuat satu orang dengan pembatas yang meminimalkan dari salah satunya untuk melihat tempat di sampingnya.


"Lala! Nanti kamu sendiri, ya?" ucapku, dia menggeleng.


"Enggak mau! Nanti kalo tiba-tiba ada hantu di samping tempatku gimana?" tanyanya.


"Nanti gak kita tinggal kok."


"Pokoknya enggak mau!"


"Sudah lah Ris, tak apa. Biar nanti aku saja yang sendiri." sahut Zara dengan senyumnya.


"Benar tak apa?" tanyaku meyakinkan.


"Benar."


Beberapa menit kemudian Ais dan Glen keluar dari ruang ganti, digantikan aku dan Lala. Di ruang ganti Lala terus menanyakan apakah aku masih berada di sisi tempatnya atau tidak, dan apakah ada makhluk-makhluk yang mendekatinya.


"Ris! Lo masih di samping tempat gw, 'kan? Ada makhluk gak? Gw takut, jangan tinggalin gw, ya?!" ya ampun!! Ini sudah yang kesepuluh kalinya dia bertanya hal yang sama.


"Lala diamlah, nggak ada apa-apa kok. Lebih baik sekarang kamu selesaikan bergantinya dan keluar." ujarku.


"Aku udah selesai Ris, baru aja. Ris nggak ada apa-apa, 'kan?" aku menengok ke atas tempat Lala berganti. Aku sangat terkejut ketika melihat ada makhluk kerdil dengan telinganya yang lancip. Dua bola matanya bulat sempurna bagaikan bulan purnama. Senyumnya sungguh mengerikan, bagaimana tidak? Dia senyum hingga mengenai lubang telinganya. Makhluk apa itu?


.


"La! Kamu keluar, ya sekarang, nggak usah nungguin aku di dalem. Terus suruh Zara masuk." pintaku membuat makhluk kerdil yang sedang kutatap menatapku balik. Lala mengiyakannya dan menyuruh Zara masuk.


"Makhluk apa itu?!" gumam Zara dengan nada tertekan.


"Aku juga nggak tahu itu makhluk apa, kamu bisa baca do'a-do'a apa gitu pokoknya yang bisa usir dia, kakiku udah lemes banget ini."


"Iya." Zara lalu menyerukan berbagai suratan pendek hingga makhluk tersebut kepanasan dan pergi menghilang digantikan sosok pocong yang sedang duduk sambil menggoyang-goyangkan badannya kekanan dan kekiri.


"Ganti jenis, Za." gumamku.


"Iyaa." Zara terkekeh hambar.


Jika dilihat-lihat wajah pocong itu tidak menyeramkan sama sekali. Aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk bertanya pada sosok pocong tersebut.


"Hay!" dia menoleh.


"Panggil kamu, ya saya?" tanyanya tak jelas, aku mengernyit hingga ia terkesiap.


"Ada apa?" tanyanya.


"Kamu baru mati ya?" tanyaku, dia menatapku takjub.


"Kok tau?" tanyanya heran.


"Kain putih kamu masih bersih, muka kamu juga baik-baik aja."


"Owh... Eh, ya iya lah muka baik-baik aja orang matinya aja karena sakit hati." aku mengernyit. Bagaimana sakit hati bisa membuat orang meninggal?


"Sakit hati?" tegasku.


"Bukan sakit hati ditinggal orang yang dicintai ya, tapi karena gagal operasi kanker hati. Nih kain depan dada kalau dibuka akan memperlihatkan dadaku yang bolong, ga tahu juga si kenapa bisa gitu." jelasnya. Aku meringis mendengar ucapannya.


"Sa! Aku udah, keluar, yuk." ajak Zara.


"Iya." sahutku. Aku lalu mengambil baju putih abu-abuku dan segala perlengkapannya.


"Kamu mau kemana?" tanya pocong tersebut.


"Olahraga."


"Ikut, boleh tak?" Aku mengangguk mengiyakan.


"Wuaaaaaaaa pocong!! Pocong!! Pocong!!" pekik Ais hingga membuat kebanyakan murid-murid yang sedang berganti pakaian atau yang sekedar melewati dan menunggu temannya pergi menjauh. Mereka pasti ketakutan ketika mendengar teriakan Ais.


"Hempppp." aku bergegas membekap mulut Ais kuat-kuat. Aku menoleh kesekeliling dan meminta maaf.


"Buahhhhhh jambu air, mangga muda, bengkoang, timun!" Ais menyerukan beberapa macam buah-buahan ketika aku melepaskan bekapanku.


"Wah enah tuh buahnya buat jadi rujak." kata Zara. Ais menyelis kesal.


"Kenceng banget kamu bekapnya Ris, untung aku gak mati. Btw, tangan kamu rasanya asin!" protes Ais.


"Ko bisa asin?" tanyaku heran sambil menjilat telapak tanganku sendiri.


"Iya asin." ucapku terperangah.


"Habis makan gesek asin kali." sahut Ais.


"Ngaco!" sahutku sambil menoyor kepalanya.


"Woii!! Udah mau dimulai olahraganya, buru kekolam!" pekik Reyyan. Kami semua lalu pergi kekolam yang tidak jauh dari lapangan basket diikuti poci tiren yang bertemu di ruang ganti.


Bersambung...