INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Patuhi pantangan (Season 2)



Happy Reading...


Aler hanya menatapnya datar.


"Ma-maaf" ujar Chalis.


"Ini, Dek, ban serep sama peralatannya" kata supir Chalis seraya memberikan apa yang dia bawa. Aler pun segera mengganti kedua ban mobil Chalis yang bocor, setelah bannya selesai diganti, Aler memberikan ban bocor beserta peralatannya pada supir Chalis untuk disimpan.


"Pak, di jembatan ini ada pantangan yang harus dipatuhi. Setidaknya memencet klakson atau memainkan lampu motor selama beberapa kali sebelum melewati jembatan ini" kata Aler seraya menatap jembatan yang dibawahnya dilalui aliran air deras yang juga dihuni banyak bebatuan bermacam-macam ukuran dan bentuk.


"Baik, Dek, terima kasih sebanyak-banyaknya karena sudah membantu saya juga untuk informasinya. Setelah ini saya usahakan untuk mematuhi pantangan tersebut".


"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak" Aler menatap Chalis sejenak lalu pergi bersama kawannya.


"Nona kenal lelaki baik itu?" tanya supir Chalis padanya.


"Kenal, sudah, Pak. Ayo buruan ke rumah sakit" supir Chalis mengangguk dan memasuki mobil diikuti Chalis, mobil pun kembali dinyalakan dan melaju menuju rumah sakit. Sementara itu, sosok-sosok berbagai macam wujud, ukuran, dan aura mulai muncul memenuhi jembatan menatap kepergian mobil Chalis.


Tak lama setelah itu, ada sebuah mobil sedan hitam yang melaju, sang supir memencet klakson selama beberapa kali sebelum melewati jembatan. Para sosok yang semulanya berkumpul menghindar serentak, setelah mobil itu melalui jembatan, sebuah tulisan muncul.


"PATUHI PANTANGAN YANG BERLAKU".


...----------------...


Di lobi rumah sakit.


"Pak! Pak satpam! Tolong istri saya! Dia mau melahirkan!" teriak seorang lelaki seraya membopong istrinya yang sudah banjir keringat.


Satpam yang sedang berjaga di lobi segera menghampiri lelaki tersebut dan membantunya membawa istrinya, sesampainya di lobi, satpam tersebut bergegas mengambil kursi roda dan lelaki tadi mendudukan istrinya disana.


"Suster! Tolong wanita ini, dia akan melahirkan" kata satpam pada suster yang kebetulan melintas. Suster tersebut bergegas menuju ruang bersalin seraya mendorong kursi roda bersama satpam. Suster itu segera memanggil dokter bersalin dan meminta lelaki tadi untuk menunggu di kursi tunggu.


"Terima kasih banyak, ya, Pak, atas bantuannya" satpam itu mengangguk dan kembali berjaga di lobi.


Disaat lelaki tadi menunggu, tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka, seorang Dokter keluar dan menghampiri lelaki tersebut.


"Dengan keluarga pasien?" tanya Dokter tersebut.


"Ya! Saya suaminya" sahut lelaki tersebut seraya mengangguk.


"Pasien perlu melakukan operasi caesar. Kami memerlukan persetujuan anda".


"Ya, saya setuju".


"Kami akan berusaha sebisa mungkin, kami akan segera membawa pasien ke ruang operasi" suami wanita itu hanya mengangguk seraya mengantar istrinya ke ruang operasi. Ia menguatkan istrinya dengan menggeggam tangannya dan sesekali mengusap rambutnya.


"Kamu kuat, kamu bisa, Sayang".


***


Kembali di lobi, sebuah mobil berhenti di parkiran. Chalis turun bersama supirnya.


"Bapak jangan pulang dulu, ya. Nanti tungguin saya aja, ini uang buat beli makanan atau minuman seandainya bapak lapar atau pengin ngemil karena bosen nunggu saya. Biar ga bolak-balik pulang-pergi" kata Chalis seraya memberikan sejumlah uang.


"Iya, Non, saya tunggu. Enggak usah ngasih uang, soalnya udah gajian, itu uangnya buat, Non, aja".


"Yee... Pak Supri sombong nih yeee abis gajian ga mau nerima uang dari saya, alkhamdulillah uang saya masih cukup kok untuk yang lain, rezeki jangan ditolak!".


"Aduhhh.. Non, bukannya sombong, tapi, kan-".


"Kalau gini ga ada selesainya, ini uang pokoknya terima aja, terserah mau diapain, asal diapainnya buat yang baik-baik. Saya masuk dulu, assalamu'alaikum" Chalis bergegas pergi meninggalkan pak Supri setelah ia menerima uang tersebut.


"Alkhamdulillah, dapat majikan baik banget, semoga rezekinya makin lancar, ya, Non Lala sekeluarga" gumam pak Supri kemudian pergi ke warung depan.


***


"Selamat malam, Pak" sapa Chalis pada pak Satpam di lobi.


"Selamat malam, Nona".


Ketika Chalis berjalan menuju meja resepsionis, ia melihat seorang suster seksi yang diikuti banyak sekali hantu laki-laki berbagai macam wujud, Chalis sempat terpaku menatap suster tersebut. Ia kemudian sadar ketika dipanggil oleh penjaga meja resepsionis.


"Mba! Mba naksir sama suster Era?" Chalis dengan cepat menggeleng.


"Dia tuh emang cantik banget, bikin siapa aja terpaku lihat tubuhnya. Saya aja sempet iri, tapi katanya dia itu pakai hal-hal yang berbau klenik buat bisa cantik aduhay gitu. Katanya siapa aja yang jadi pacarnya, bakal mati, dan jiwanya itu akan ditumbalkan ke sosok gaib yang buat Suster Era jadi cantik kayak gitu" tutur wanita yang memanggilnya tadi, ia terlihat mengenakan seragam seperti seragam suster, namun lengannya lebih panjang. Name tag nya bertuliskan "Anita Dwi".


"Ish kamu, Ta! Jangan suka nyebar berita yang gak pasti betul enggaknya, nanti kalau berita itu salah, kamu berdosa loh karena udah suudzon" ingat temannya seraya menepuk pundak Anita.


"Iya sih, berita itu belum ada kebenarannya, ya udah, Dek, cerita saya tadi gak usah dibawa pikiran".


Chalis hanya mengangguk kaku seraya tersenyum.


"Jika berita itu benar, kasihan lelaki yang menjadi korbannya. Harus dihentikan juga kelakuanya i**tu" pikir Chalis kembali terpaku. Anita pun kembali memanggil Chalis untuk menyadarkannya.


"Adeknya lesbi, ya? Liatin Suster Era sampai segitunya? Adek cantik lohh, pasti banyak cowok yang suka sama Adek, jangan suka sama sesama perempuan lah... Saya yakin cantiknya kamu itu alami" seloroh Anita, ia pun langsung mendapatkan cubitan dari temannya di pinggangnya.


"Ngomong ceplas-ceplos sekali lagi! Aku getak kamu!" bentak temannya kesal.


"Maap, Ning, kamu, 'kan tahu mulutku suka nggak terkendali. Adek maaf, ya" Chalis kembali mengangguk.


"Mba, saya mau tanya, disini ada pasien yang bernama Glenca?"


"Pasien atas nama Glenca ada dua, Glenca yang mana?" sahut teman Anita, Keninga.


"Glenca Virana. Ruangannya ada di mana?".


"Lantai dua, berhadapan dengan lift".


"Baik, Mba, terima kasih" Keninga bersama Anita mengangguk.


Disaat Chalis berjalan menuju lift, ia melihat seorang lelaki di kursi tunggu, ia melihat papan nama di pintu samping lelaki tersebut.


"Ruang operasi?".


"Wahhhh... Kuyang! Bagaimana cara gue menghadapinya! Biasanya kuyang datang untuk mencari makanannya, bayi! Bayi! Pasti di dalam ruang operasi itu ada bayi! Apa gue biarin aja? Tapi-" kaki Chalis terasa langsung lemas seketika, apalagi waktu kuyang tersebut menoleh ke arahnya, kuyang tersebut terseyum lebar dan kembali mengarahkan pandangannya ke ruang operasi.


"Gue nggak tahu cara ini berhasil atau enggak! Tapi, gue bakal coba!" Chalis mengambil tasbih di tasnya dan membacakan surah-surah al-qur'an seraya mendekati kuyang tersebut.


"Akhhhhh!!" tiba-tiba kuyang tersebut melarikan diri, Chalis langsung jatuh terduduk dengan air mata yang mengalir. Lelaki yang sedang menunggu istrinya di operasi itu bingung akan melakukan apa, ia hanya bisa mengusap-usap pundak Chalis untuk menenangkannya.


"Dek.. Kamu kenapa kok tiba-tiba nangis?" tanya lelaki itu lembut, namun Chalis hanya menggeleng. Setelah merasa agak tenang, ia menatap lelaki disampingnya.


"Keputusan gue salah, apa gue masih bisa tutup mata batin gue?" Chalis segera berlari menuju kamar Glen.


"Lis? Kenapa nangis?" tanya Glen.


"Assalamu'alaikum".


"Wa'alaikumsalam".


Chalis dengan lemas duduk di sofa dekat Risa.


"Gue... Gue pengin tutup mata batin gue. Gue... Nggak kuat".


"Katanya udah bulet pengin jadi indigo?" tanya Zara.


"Hati gue udah balik, pikiran gue udah berubah. Gue mau jadi manusia biasa tanpa kekangan dari mata batin gue".


"Ya udah, besok coba ngomong sama Adam, kan saudaranya dia yang bukain mata batin kamu" kata Risa, Chalis pun mengangguk setuju.


"Gimana kondisi kamu, Glen?".


"Udah membaik, tapi belum boleh pulang".


"Gue laper, pengin makan roti yang luarnya crispy, tapi dalemnya lembut. Beliin dong yang baik? Pakai uang yang beliin, ya cantik? Siapa yang mau dengan ikhlas membelikan roti sesuai keinginan Glen dengan bukan uang Glen?".


"Pakai uang gue aja nih, tapi jangan gue yang beli. Waktu di depan ruang operasi, gue ketemu kuyang, terus waktu mau masuk ke sini, di jendela gue lihat hantu kayak manusia gendut, tubuhnya penuh kaca. Batin sama mental gue capek" kata Chalis seraya mengipasi wajahnya dengan tasnya.


"Ya udah sini aku aja yang beli" sahut Zara. Chalis pun menyerahkan sejumlah uang pada Zara.


"Assalamu'alaikum".


"Wa'alaikumsalam".


Chalis tiba-tiba beranjak menghampiri Risa dan membisikan sesuatu.


"Oh iya! Kakak, 'kan ga di rumah!".


"Kontak siapa yang bisa jaga rumah lo sampai lo pulang".


"Kenapa sih?" tanya Glen penasaran.


"Kontak Adam sama Wisnu kali, ya?" tanya Risa meminta persetujuan.


"Kalau mereka berdua aja, nanti ga adil, mending kontak Rey sama Reza juga, semakin banyak semakin kuat?" Risa mengangguk dan mengontak empat teman lelakinya itu untuk menjaga rumahnya, atau lebih tepatnya, menjaga buku dan batu suci.


"Ada apa sih? Hah? Kok gue ga dikasih tahu?" kesal Glen.


Chalis lalu membisikkan apa yang dia bisikkan pada Risa.


"Owhhh... Iya-iya".


...----------------...


Di posisi Zara.


"Bagus juga nih, di seberang rumah sakit ada toko roti kecil yang jual roti sesuai kemauan Glen. Beli roti bakar juga lahh" gumam Zara seraya menghampiri toko roti kecil yang berada tidak jauh darinya.


"Mba-" Zara tercengang kala secara tidak sengaja matanya menatap banyak hantu yang antri menuju sebuah gang tanpa cahaya sedikitpun, tak lama setelah itu, kepala harimau muncul dan memakan satu persatu hantu tersebut.


"Wa-wahhh... Me-mereka di makan".


"Dek! Kenapa?" tanya penjual roti.


Zara menoleh dengan ekspresi ambigu.


"Tidak apa-apa, saya mau beli roti ini sama roti bakar rasa melon, coklat, sama stroberi" kata Zara.


"Baik, silakan ditunggu" penjual roti tadi mengarahkan Zara untuk duduk di kursi tunggu.


Setengah jam kemudian, pesanan Zara siap. Saat ia akan membayar, ia melihat seorang preman yang memalak seorang perempuan yang baru saja turun dari motornya.


"Apakah ini akan lebih mengerikan dari apa yang kulihat di gang itu?" Zara melihat perempuan yang dipalak.


"Kasihan juga... Semoga ilmu karateku berguna" Zara menyerahkan selembar uang ratusan dan menghampiri preman tersebut.


"Bang! Pengin duit atau pengin masuk rumah sakit?".


"Apa lo cil?! Berisik lo! Pergi sana, kalau enggak, gue minta duit lo!".


"Enak banget sih hidupmu, Bang! Pengin duit tinggal minta. Mbak, minggir, Mbak, perlu dikasih pelajaran ilmu karate kayaknya ni orang. Kalau pengin duit, ya kerja! Bukan malak!" preman tersebut tiba-tiba menyerang Zara, tapi ia sudah memasang kuda-kuda terlebih dahulu. Ia menyerang area vital sesuai apa yang diajarkan pembina karatenya sewaktu smp. Perkelahian hanya terjadi beberapa menit, preman tersebut langsung melarikan diri setelah wajahnya babak belur.


"Aduhh.... kulit jari gue lecet gara-gara baju tuh orang!" gumam Zara kesal, ia kemudian menghampiri Mbak yang tadi sempat dipalak dan menanyakan kondisinya.


"Saya enggak apa-apa".


"Kayak kenal suaranya" pikir Zara.


"Ada apa?" tanya perempuan itu.


Zara menatap leher wanita itu, nampak sebuah liontin yang melingkar disana.


"Liontin itu... Kayak punyanya Raihan".


"Ada apa dengan leher saya?" perempuan itu lalu meraba lehernya "Liontin ini? Ini dari pacar saya, tapi dia sudah meninggal, dia ngasihnya lewat bantuan beberapa teman-temannya, salah satu temannya namanya Risa, pacar saya waktu itu ngomong 'Risa'".


"Ana?".


"Sebentar-".


"Eummm... Za-Za-Za siapa, yah? Iyah! Zara!" Zara mengangguk.


"Kamu ngapain disini?" Zara menunjuk toko roti.


"Owhh... Sama aku juga mau beli roti" Zara mengangguk lagi.


"Mbak! Ini kembaliannya" panggil penjual roti pada Zara, Zara pun menerima kembalian tersebut dan pamit pada Ana.


Bersambung...