INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Pecahan kaca (Season 2)



Happy Reading...


Seorang lelaki bertubuh tinggi berlari tergopoh-gopoh seraya tangannya terjulur seolah hendak menggapai sesuatu, tangan kanannya memegang sebuah botol minum.


"Arjana! Lo jalannya cepet banget sih!" seru lelaki tersebut.


"Kak Ang?" seru Risa yang sontak membuat lelaki tersebut menoleh ke arahnya.


"Risa? Ngapain kamu disini?" tanyanya. Sudah pasti dia Ang, kakak angkat Risa.


"Harusnya aku yang tanya gitu sama Kakak, kan ini di depan sekolahku, aku baru selesai sekolah".


"Owh iya yah, ini Kakak ngejar Arjana, tadi botol minumnya jatuh".


"Botol minumku?" lelaki yang merasa namanya disebut mengecek tasnya, tempat di mana ia biasa menaruh botol minumnya tak lagi terisi botol minum tersebut.


"Ini punyamu, 'kan?" Ang menyerahkan botol minum yang ia pegang pada Arjana, ia menerimanya lalu memasukkannya ke dalam tas dan berterima kasih.


"Maaf ya, Dek. Ini kenapa ya tangan saya dipegang-pegang? Saya ada perlu, mau ke rumah sakit, saudara saya kecelakaan" ujar Ar seraya menatap Chalis penuh tanda tanya.


"A-anu.. Anu itu lhoh.. Aduhh.. Gimana jelasinnya yah? Bantuin dong Ris kasih paham ke dia!" Chalis menyolek lengan Risa meminta bantuan.


"Maafin sikap teman saya sebelumnya, Kak. Ada hantu ganjen minta pasangan, karena teman saya takut dia dijadiin pasangannya hantu ganjen itu, jadi tanpa dia sadar.. Dia narik tangan Kakak niatnya buat jadi pasangan pura-pura dia. Begitu Chalis?" sergah Zara. Chalis mengangguk saja mengiyakan, ia juga melepas pegangannya pada lengan Arjana.


"Hantu ganjen? Ah-oh iya-iya, tapi maaf yah.. Saya jadi pasangan pura-puranya sampai sini saja, saya harus segera ke rumah sakit lihat kondisi saudara saya" Chalis menunduk malu.


"Iya, Kak. Hati-hati di jalan, Kak!" sahut Zara.


Arjana kemudian berlari meninggalkan mereka menuju rumah sakit dengan angkutan umum yang kebetulan lewat.


"Dia... Arjana?" gumam Risa, namun masih bisa didengar oleh orang disekitarnya.


"Iya" sahut Ang.


"Kenapa, Ris?" tanya Ais. Risa menoleh lalu menggeleng.


"Arjana yang ganteng mirip saya keponakan saya itu" celetuk pak Rizki.


"Ganteng dari mana? Muka aja udah lecet begitu, mana darahnya ngeces terus. Gantengan juga Adam, Wisnu, Rey, Reza, Kak Ang, sama Arjana tadi" sahut Zara yang langsung mendapatkan bekapan oleh Ais.


"Ngawur kalau ngomong! Dia bisa broken heart tahu!" sentak Ais kesal dengan sedikit menekankan bekapannya.


"Ahu hihit hoh hahiha, hehas hakk?! (Aku gigit loh jarinya, lepas gak?!)" kesal Zara. Chalis melepas bekapannya dan meminta penjelasan atas ucapan Zara tadi.


"Keponakan? Jadi, Pak Rizki ini saudara yang kata Kak Arjana kecelakaan?" sahut Rey.


"Mungkin".


"Pak Rizki mau ngikut kita?" tanya Risa.


"Iya, mau numpang di rumah kalian kalau boleh. Mau ngekos bingung bayarnya gimana, kerja aja enggak, uang ada di dompet yang sekarang udah enggak tahu ke mana".


"Kalau enggak dibolehin?" sahut Reza.


"Yaa... Kalian tega sama saya? Saya sudah bapak-bapak lhoh, mana udah jadi hantu pula".


"Tuh nyadar" seloroh Zara dengan suara lirih.


"Bapak tinggal di markas 'IT' saja ya untuk sementara" ujar Wisnu.


"IT itu apa?".


"Indigo Team".


"Kayak apa tempatnya? Ada waffle-nya?".


"Wastafel kali, Pak!" koreksi Ais.


"Nggak lucu deh beneran ngelawaknya" gumam Zara.


"Kita ke tempat yang katanya ada hantu angkotnya dulu baru ke markas, sekarang kita langsung let's go, kelamaan disini makin banyak katanya, buang-buang jatah" seru Risa.


Merekapun langsung pergi menuju lokasi tujuan, sesampainya disana mereka melihat seorang lelaki yang memakai celana jeans robek-robek beserta jaket tanpa lengan dengan kaos berwarna hitam berlogo burung hantu, lehernya juga terkalungi beberapa kalung perak dan rambutnya nampak acak-acakan sedang berlari dan dibelakangnya diikuti banyak orang yang berseru jambret.


Reza langsung tengak-tengok dan meraih sebuah kain panjang yang sedang dijajakan di salah satu warung kecil disekitarnya.


"Saya ambil dulu, Bu! Nanti saya bayar" Reza kemudian melemparkannya pada Rey salah satu ujungnya dan memberikan kode dengan kerlingan satu matanya. Mereka berdua kemudian berdiri melintang dengan saling memegang kain yang Reza raih, di jalan yang hendak jambret itu lewati, saat jambret tersebut sudah menyentuh kain yang Reza dan Rey pegang, mereka berdua langsung berlari ke belakang dan berputar beberapa kali untuk mengikat tangan dan tubuh jambret tersebut.


"Ngapain njambret, Bang? Nggak ada kerjaan atau kurang kerjaan? Atau pengin kepuasan?" tanya Rey seraya meraih sebuah dompet berwarna coklat yang jambret tersebut pegang.


"Kurang ajar lo! Awas lo!" sahut jambret tersebut.


"Gue tanyain baik-baik malah ngegas".


"Dompet saya? Dompet saya mana?" seru seorang ibu.


"Ini dompetnya, Bu?" sahut Rey seraya menunjukkan dompet yang dipegangnya.


"Iya benar, terima kasih" ibu tersebut menerima kembali dompetnya dan membukanya.


"Ada yang hilang, Bu?" tanya Reza.


"Oh, nggak ada, terima kasih sekali lagi. Ini buat kalian" ibu tersebut menyerahkan sekiranya dua lembar uang ratusan.


"Eh? Tidak usah, Bu, saya ikhlas nolongnya" tolak Rey.


"Nggak apa-apa, saya juga ikhlas kok".


"Beneran, Bu, tidak usah".


"Kalau kamu nggak mau nerima ini, kamu harus nerima ini" ibu tersebut menyimpan kembali uangnya dan memberikan kartu namanya.


"Simpen ya? Kalau ada apa-apa, kamu telfon saya saja? Saya pergi dulu, terima kasih sekali lagi" ibu tersebut kemudian juga berterima kasih pada orang yang membantu mengejar jambret dompetnya dan menyerahkan beberapa lembar uang ratusan sebelum akhirnya ia pergi.


"Simpen aja" ujar Reza saat melihat Rey justru melamunkan kartu nama yang ia terima.


"Beneran?".


"Ya masa boongan" Rey kemudian menyimpan kartu nama tersebut.


"Terima kasih Adek-Adek sudah membantu kami menangkap jambret ini, dia memang sangat meresahkan dan suka menjambret di kawasan sini. Selanjutnya kami yang yang akan mengurus" ujar salah seorang bapak.


"Oh iya, Pak, terima kasih, mohon untuk dibawa ke kantor polisi saja ya? Biar kepolisian yang mengurus hukumannya, jangan main hakim sendiri" bapak tersebut kemudian pergi bersama yang lain seraya membawa jambret tersebut.


"Gue belum bayar tuh kain yang gue ambil dari warung sana, siapa yang bawa uang lebih? Gue pinjem dulu?" tanya Reza.


"Nih, pakai aja uang aku, ikhlas kok ngasihnya, nggak usah dikembaliin" ujar Ais seraya menyerahkan selembar uang ratusan.


"Makasih" Reza kemudian menghampiri warung yang ia ambil kainnya dan menyerahkan uang yang ia terima dari Ais.


"Ini kembaliannya, terima kasih ya sudah menangkap jambret tersebut" ujar ibu warung.


"Iya, Bu, sama-sama" setelah menerima uang tersebut, Reza kembali menghampiri temannya, namun saat ia akan berjalan. Ibu warung justru memanggilnya.


"Tunggu, Dek! Adek ada perlu apa ke sini?".


"Saya... Saya mau... Cari tahu tentang hantu angkot? Apa ibu tahu?".


"Hantu angkot? Oh iyah! Saya pernah denger, katanya jadi hantu karena kecelakaan selesai dirampok, 'ya?".


"Yang saya dengar juga begitu, Bu".


"Apa Ibu tahu perampoknya?".


"Sedikit sih, ciri-cirinya itu rada mirip sama jambret tadi, tapi sedikit lebih rapih. Dia.. Kalau saya lihat waktu dia lari, di tangannya apa yah kalau nggak salah ada tato burung hantu nya" papar Ibu warung.


"Tato burung hantu? Di tangan?" Ibu warung mengangguk.


"Hati-hati, 'ya, Dek" ujar Ibu warung.


"Iya, Bu, terima kasih kalau gitu, saya pergi dulu. Assalamu'alaikum".


"Waalaikumsalam".


"Kamu kok lama banget? Tukeran nomer hp dulu ya sama Ibu warungnya?" tanya Ais.


"Enggak, gue tadi dapet info sedikit dari Ibu warungnya. Katanya si perampok itu punya tato burung hantu di tangannya, ada yang pernah lihat orang punya tato burung hantu di tangan?" ucap Reza.


"Saya pernah lihat!" sahut pak Rizki.


"Di mana?!" seru semuanya.


"Di bank, waktu saya ngambil uang buat beli boneka. Oh iyah! Boneka buat anak saya di mana?!" pak Rizki kalang kabut mencari boneka miliknya.


"Di kantor polisi lah, Pak" sahut Zara santai.


"Ya elah, Pak. Ribet amat si, nanti tinggal minta aja ke kantor polisi" ujar Chalis.


"Kalian mau ngomong apa ke polisinya? Mau ngomong kalau orang yang kecelakaan itu minta bonekanya dikasih ke anaknya di desa Aman?" team Indigo menjawabnya dengan anggukan serempak.


"Bapaknya udah lancar ya, Lis ngomongnya, nggak buat aku sesak nafas" ujar Ais.


"Bapak sabar dulu, nanti pasti kita bantu, kok. Kita juga ada tugas lain, selain bantu Bapak" ucap Zara.


"Aduh!".


Tiba-tiba terdengar rintihan dari sisi kanan mereka semua, saat dilihat ternyata ada anak kecil yang sudah terduduk seraya memegangi area telapak kakinya yang terdapat pecahan kaca dan mengeluarkan darah.


"Adek kenapa?" tanya Risa setelah menghampiri anak tersebut.


"Ketusuk pecahan kaca, Kak. Kacanya aja ini masih nyangkut di telapak kaki aku".


"Kamu nggak bisa jalan ya?" anak tersebut menggeleng.


"Kaki aku yang satunya gemeteran, jadi lemes".


"Eumm... Glen telepon ambulans ya?" Glen pun mengangguk lalu bergegas menjalankan perintah, setelah ambulans datang Risa meminta Rey untuk membopong anak tersebut menuju ambulans.


"Aku, Glen, sama Zara ikut ambulans ya? Kalian cari info disini, ok?" Chalis dan yang lain mengangguk setuju.


"Bareng Kakak, yuk" ujar Ang.


"Yuk" sahut Risa.


Mereka berempat pun menuju rumah sakit yang akan menangani anak tadi.


Kruyukk... Kruyuk...


"Aduhhh... Aku laper nih, makan dulu, ya?" rengek Ais.


"Lo mah gampang laper" ujar Chalis.


"Lihat deh sekarang jam berapa? Waktunya kita makan, 'kan?" Chalis melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua siang.


"Eh iyah, yuk" mereka bergegas pergi dari lokasi untuk mencari tempat makan.


...----------------...


Di rumah sakit tempat anak yang Risa dan kawan-kawan temui. Setelah melakukan pengangkatan pecahan kaca di kaki anak tersebut, ia dibawa menuju ruang perawatan.


"Adek ada nomor orang tua?" anak tersebut mengangguk saat ditanyai oleh Risa.


"Kakak telepon, 'ya?" anak tersebut kembali mengangguk lalu memberikan hp-nya.


"Kontak orang tua aku yang dipaku, 'ya, Kak" Risa mengangguk lalu menelpon orang tua anak tersebut.


"Nama kamu siapa, Dek?" tanya Glen.


"Nauval".


"Owh... Kelas berapa?".


"Sembilan".


"Smp mana?".


"Jatilawang".


"Kamu laper nggak?" Nauval menggeleng.


"Tapi gue laper, beli makan yuk, Ra" ajak Glen penuh semangat. Zara menggeleng.


"Pecahan kaca tadi di mana, 'ya?" tanya Zara seraya celingak-celinguk.


"Di ruang operasi, Kak" sahut Nauval.


"Owh.. Okh, makasih. Temenin aku yuk, Glen. Ris, kita keluar dulu, 'ya sebentar?".


"Mau ke mana, hey?".


"Ada lah, nanti dijelasin".


"Ya udah".


"Kamu beneran enggak laper?" tanya Risa seraya memberikan hp Nauval dan duduk di kursi sisi bed.


"Enggak, Kak. Kalau Kakak laper pengin makan di luar, makan aja, Nouval sendiri disini enggak apa-apa".


"Enggak deh, nanti tunggu ada suster yang ke sini aja, Kakak nggak berani tinggal kamu sendiri disini".


"Emang kenapa, Kak?".


"Takut hantu nggak?" Nouval menggeleng.


"Seriusan?" Noval menggeleng kembali.


"Tergantun hantunya si, Kak. Kalau hantunya cakep kaya Kakak si siapa yang takut".


"Dih kamu, bisa aja".


"Ada hantu disini, Kak? Kakak bisa lihat hantu, 'ya, Kak? Aku pengin liat juga dong? Bisa nggak?" Nouval mulai merengak dan mencecar Risa dengan pertanyaanya dan permintaannya.


"Jangan teriak tapi nanti, 'ya?" Risa nampak ragu.


"Enggak janji, tapi akan berusaha".


"Ya udah" Risa tersenyum jahil dan menyuruh salah satu hantu di ruangan tersebut untuk pindah ke sisinya, sedangkan yang lain pergi dengan bahasa isyarat.


"Kok nggak ada, Kak?" tanya Nauval.


"Masa sih? Coba lihat baik-baik? Samping Kakak mungkin? Coba liat" setelah Nauval melakukan apa yang Risa suruh, Nauval seketika berteriak dan reflek melempar bantal yang ia jadikan penumpu kepalanya.


"Setan!!".


"Udah, Kak! Nouval takut!" Risa terkikik dan melepaskan tangannya dari tangan Risa.


"Jangan dilepas, Kak. Tangan Kakak enak soalnya buat digenggam, lembut soalnya, skincare-an kah?" Risa menggeleng.


"Eh, pohon pisang! Ngapain pegang-pegang tangan cewek orang! Masih kecil aja ganjen banget" tiba-tiba Reza datang dan berseru dengan ekspresi kesal, disusul temannya yang lain yang mulai memasuki ruangan seraya membawa beberapa kantong plastik.


Nouval sontak melepas pegangannya dan menatap Reza ketakutan.


"Pacaranya Kakak? Kok galak banget?" bisik Nouval bertanya.


"Dia bukan pacar Kakak".


"Serius?" Risa mengangguk.


"Syukurlah, Nouval nggak bisa bayangin kalau sampai perempuan secantik, selembut, dan sebaik Kakak jadi pacarnya harimau kaya dia".


"Apa lo bilang? Heh pohon pisang! Denger ya! Walaupun gue kaya harimau, tapi setidaknya gue nggak ganjen kaya lo!".


"Udah-udah, berisik" lerai Wisnu.


"Dari mana, Ra?" tanya Wisnu yang kebetulan melihat Zara dan Glen memasuki ruangan.


"Gue juga ada kali, kenapa nggak lo tanyain juga?!" kesal Glen.


"Dari mana, Glen?" tanya Wisnu.


"Ruang operasi" sahut Glen santai kemudian merampas kantong plastik digenggaman Adam dan Reza lalu duduk di sofa.


"Lo dari ruang operasi juga, Ra?" Wisnu menatap Zara penuh tanda tanya.


"Iya".


"Ngapain?".


"Ngambil ini" Zara menunjukkan pecahan kaca di tangannya.


"Aku mau coba lihat ada masalalu apa yang terekam dalam pecahan kaca ini, kalian diem, 'ya?" semuanya mengangguk. Zara kemudian mencoba fokus dengan apa yang dilakukannya.


"Di mana ini?".


Bersambung...


Jangan lupa dukungannya yah? Like! Komen! Hadiah! Vote! Utamakan ikhlas.


Thank You All...